
Mencari tempat baru untuk singgah. Ini sudah hal biasa untuk pergi dan meninggalkan tapi dia spesial bagiku. Aku akan mencarinya lagi saat semua pembalasan telah terwujud. Boleh dikata aku mulai menyukai seseorang saat kecil itu biasa disebut cinta monyet bagi kami yang berusia puluhan tahun. Aku hanya memandang fisik dan wajah seseorang. Perasaan tumbuh sebab kami selalu bersama dalam sebuah permainan. Hingga aku mulai dewasa, mengerti semua jalan dalam kehidupan. Aku berpikir ini tak mungkin aku dapatkan hingga semua menjadi bayangan lalu.
Saat aku di sekolah dasar semua terasa berbeda dari teman, orang-orang terdekat bahkan keluarga seakan harus mengetahui sesuatu yang lebih dari yang pernah diketahui. Secara perlahan pikiranku terbuka sudah mengenal baik dan buruk suatu hal yang dimana itu dapat berdampak bagi kehidupan masa depan. Semua terjadi secara alami begitu menyenangkan hingga melupakan kegelisan hati. Masa itu sangat berarti bagi semua orang, tak perlu berpikir keras mencari uang, belajar mati-matian bahkan mengenal yang namanya cinta.
__ADS_1
Aku tau betapa menyenangkan bermain bersama teman apalagi saat hujan datang. Saat kecil tak perlu berpikir keras untuk menanggung beban yang berat karena ada orangtua yang menjamin semua itu. Kami sangat bergantung kepada orangtua dari uang jajan sehari-hari, makan, bahkan bermain jika diperbolehkan. Aku dan keluarga hidup sederhana asal bisa makan dan tidur di tempat yang nyaman dapat membuat kami bahagia.
Aku tak seperti anak lain yang dibelikan permainan seperti boneka ataupun alat memasak untuk bermain tapi aku sudah bisa berpikir untuk apa membeli hal yang tidak perlu hanya menghabiskan uang orangtua. Aku anak pertama dan harus lebih kuat dalam hal batin dan fisik. Aku pernah menangis melihat teman sebaya memiliki permainan baru bahkan lebih banyak dibanding aku yang tak memiliki apa-apa sama sekali tapi di sisi lain aku senang karena makanan yang selalu aku suka pasti dibelikan.
__ADS_1
Ketika sekolah menengah pertama, aku mulai di jauhi teman perempuan mungkin sikapku yang terlalu menunjukkan sisi lelaki tapi aku tidak lesbian. Aku masih waras menyukai seorang lelaki. Aku hanya jijik dengan sikap seorang perempuan yang lemah lembut bahkan lebay di depan umum apalagi pakaian yang mereka gunakan tampak seorang ibu-ibu, tidak sama dengan pakaian yang kugunakan tampak seorang lelaki apalagi gaya berjalan seperti minta dilawan. Aku pernah memukuli salah satu teman kelas karena sikapnya yang berlebihan hingga aku tak pernah diganggu sama siapapun.
Saat kelas satu, aku kembali menyukai seseorang. Orang itu sangat tampan bahkan ke mana pun aku ikuti layaknya mengintai mangsa. Dia hanya belum tau bahkan tak mengenalku sama sekali. Aku mencari informasi tentangnya dan mendapatkan nomor telepon. Ketika itu malam hari, aku mengirimkan pesan padanya dengan kata “Aku menyukaimu dari penggemar” kata yang membuatku malu sebab aku yang memulai bukan dia. Lalu tiba-tiba ada balasan “Maaf aku tidak menyukaimu”. Cinta bertepuk sebelah tangan itulah hal yang paling sakit aku rasa tapi tidak untuk menangis.
__ADS_1