Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
21. Kehidupan Dunia Hanyalah Permainan


__ADS_3

Akhirnya malam itu juga Hani diperbolehkan pulang setelah memastikan keadaan Hani dan kandungannya baik-baik saja. Hani mendapatkan izin untuk istirahat total di rumah selama seminggu dari Rumah Sakit tempat ia bekerja itu.


Hani akan dibawa pulang malam itu juga ke Desa, mereka berniat singgah sebentar di rumah kontrakan Hani untuk mengambil beberapa barang yang dibutuhkan Hani sementara waktu.


Sampai di rumah kontrakan itu, Hani melihat mobil yang Hani beli untuk suaminya itu, sedang terparkir di garasi.


"Pa, Bang Alfian sepertinya ada di dalam." Ucap Hani pada Papanya dengan raut wajah yang tiba-tiba khawatir. Hani sebenarnya ingin bertemu dengan Alfian untuk meminta penjelasan dari mulut suaminya itu. Hani masih berharap, Alfian menolak tawaran dari Ibunya yang menyuruh ia menikah lagi. Namun Hani seperti hilang kekuatan menghadapi suaminya itu. Ia seolah tak sanggup walau hanya sekedar bertanya. Karena ia tahu bagaimana temperamen nya suaminya itu.


"Kamu jangan khawatir nak, kita akan sama-sama masuk ke dalam." Ucap Pak Martias yang melihat kekhawatiran putrinya. Pak Martias sebenarnya sudah tak sabar ingin memukul wajah Alfian. Tapi ia sadar, Alfian seperti itu karena dibawah kendali orang tuanya juga, bagaimana pun juga yang lebih patut mendapatkan ganjaran disini adalah orang tua Alfian.


"Assalamu'alaikum." Ucap Hani ketika memasuki rumah, dibelakang Hani ada Pak Martias, Bu Mala dan Darma.


"Dasar istri tak tau diri kamu, sudah berani pulang malam saat aku nggak di rumah, dasar perempuan nggak bener." Ucap Alfian lantang yang ternyata sudah berdiri di balik pintu.


"Plaaak" sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kiri Hani. Alfian sudah tidak bisa mengendalikan emosinya karena ia sudah menunggu Hani di ruang tamu itu dari tadi sore. Tamparan kedua kalinya hampir saja mengenai pipi kanan Hani, beruntung Pak Martias sigap menahan tangan Alfian.


"Hentikan Alfian! Kamu yang nggak tau diri, kamu laki-laki yang nggak benar jadi Imam anakku." Ucap Papa Hani marah sambil menahan tangan Alfian.


"Buugh" Sebuah pukulan tepat mengenai perut Alfian.


"Hei kak, mulutmu itu tolong dijaga." Ucap Darma yang tidak terima kakaknya disebut perempuan yang nggak benar setelah mendaratkan sebuah pukulan di perut kakak iparnya itu.


"Buggh" sebuah pukulan kembali mendarat di perut Alfian.


"Ini untuk mu yang suka main kasar pada kakakku." Ucap Darma kembali.


"Darma, cukup nak, jangan kau kotori tanganmu lagi pada laki-laki yang tak berguna itu." Sahut Bu Mala menahan tangan Darma, ia khawatir Darma bisa kena masalah nantinya karena ia baru saja selesai melakukan pendidikan bintara kepolisian itu.


"Dia istriku, kalian nggak boleh ikut campur?" Ucap Alfian sambil menarik tangan Hani.

__ADS_1


Hani seperti tak memiliki tenaga lagi, ia dengan mudah diseret suaminya itu.


"Istrimu itu bukannya keluar malam tak jelas Alfian, tapi ia baru saja keluar dari rumah sakit." Ujar Mama Hani memberi tahu Alfian agar tak kelewatan memarahi putrinya.


"Lepaskan ia Alfian! Aku benar benar tak bisa mengampuni mu." Ucap Pak Martias benar benar murka.


"Buggh." Sekarang Papa Alfian yang mendaratkan pukulan keras di perut Alfian, hingga membuat Alfian jatuh tersungkur dilantai.


"Malam ini kami akan membawa Hani pulang ke Desa. Kamu siap-siap saja, Hani akan mengirim surat cerai untuk mu." Ucap Pak Martias lantang dengan suara bass nya sambil membimbing Hani.


Hani tak bisa lagi berharap banyak dari Alfian, ia semakin takut dengan suaminya karena Alfian masih saja tega melukai hati dan fisiknya. Janji Alfian dulu tak benar-benar ia tepati. Hani tak mau di kelabui janji manis suaminya lagi.


Alfian hanya bisa terdiam membisu, Ia memang belum memberi tahu Hani bahwa ia memang berniat untuk menikah lagi. Lalu apa alasan yang membuat mereka berani membawa Hani pulang ke Desa bahkan meminta cerai darinya? Apa karena ia yang tidak pulang selama dua malam? Apa karena kesalahan dirinya yang tak tahu kondisi istrinya yang ternyata di rawat di rumah sakit? Atau karena ia sudah lancang menyakiti hati dan fisik Hani di depan mereka? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Alfian.


"Bodoh, bodoh, bodoh..." Umpat Alfian pada dirinya sendiri sambil menarik rambutnya. Ia pun terduduk di lantai.


Darma prihatin sebenarnya melihat kakak iparnya itu. Darma tahu Alfian sebenarnya sangat mencintai kakaknya, hanya saja Alfian memang tak pantas lagi untuk kakaknya, apalagi setelah ia melihat dan mendengar sendiri perlakuan Alfian terhadap Hani kakaknya. Darma sangat mendukung keputusan Papanya agar kakaknya Hani terbebas dari Alfian maupun keluarga nya itu.


Setelah semua barang yang dianggap perlu selesai di kemas, Hani dibimbing kembali oleh Papa nya keluar dari rumah itu. Meninggalkan Alfian yang terduduk dilantai dalam keadaan yang kacau.


***


Sudah dua hari Hani berada di rumah tempat ia dibesarkan itu. Bu Mala sengaja meminta izin tidak mengajar selama tiga hari. Esok adalah hari terakhir Bu Mala di rumah menemani putrinya itu. Sedangkan Darma sudah kembali untuk melaksanakan masa dinas pertamanya sebagai Polisi Forensik yang bertugas di Ibukota.


Saat sore hari, Pak Martias dan Bu Mala sedang duduk santai berdua di ruang keluarga rumah mereka. Sedangkan Hani berada di dalam kamar, ia sudah tampak lebih tegar dari sebelumnya, namun masih butuh waktu bagi Hani untuk bangkit kembali. Ia lebih sering menyendiri di dalam kamarnya.


"Oya Pa, Mama masih belum dapatin seseorang yang mau temenin Hani di rumah Pa. Gimana ya, lusa kan Mama udah masuk ngajar lagi." Lapor Bu Mala pada suaminya.


Mereka memang sedang mencari seseorang yang bisa menemani Putrinya selama mereka bekerja. Mereka tidak mau terjadi apa-apa pada Putrinya lagi dan kandungannya bila sendirian di rumah. Kondisi kejiwaan Hani pun sedang tidak baik. Tentunya ia butuh teman yang bisa menghibur dirinya sekaligus menjaganya.

__ADS_1


"Oya bentar, Papa coba hubungi Anas dulu, siapa tahu ia bisa membantu. Sekalian Papa mau tanya tentang proses perceraian Hani padanya, lebih cepat lebih baik." Ucap Pak Martias sambil melangkah ke ruang tamu.


"Iya pa." Ucap Bu Mala singkat, ia melihat ada telpon masuk di HP nya yang berada di atas meja, ternyata telpon itu dari sahabat putrinya.


"Halo, Assalamu'alaikum Riana.." Sapa Bu Mala pada sahabat Hani itu. Bu Mala memang sengaja menyimpan nomor beberapa orang teman Hani, dan Bu Mala tahu Riana adalah teman yang paling dekat dengan Hani.


"Wa'alaikumussalam tante, maaf tante Riana mengganggu, Riana telpon Hani tapi HP Hani tidak aktif."


"Iya Riana, Hani memang sengaja menonaktifkan HP nya, Riana apa kabar?"


"Alhamdulillah Riana baik, Tante, bagaimana kabar Hani Tan? Riana baru tahu kalau Hani kemarin itu masuk RS, karena Riana lagi cuti, hari ini Riana baru masuk, teman-teman disini pada heboh cerita tentang Hani dan Dokter Dila."


"Alhamdulillah.. Hani udah baikan Riana, namun memang Hani harus bed rest dulu."


"Tante, apa benar yang dikatakan orang-orang bahwa Hani sakit karena ada hubungannya dengan Dokter Dila Tan?


"Maksud nak Riana apa ya? Dokter Dila? Dokter yang baik hati itu?"


"Iya Tante, Dokter Dila memang baik, tapi apakah bisa tetap dikatakan baik kalau Dokter Dila lah yang akan merebut kebahagiaan Hani Tan?" Ucap Riana dengan emosi.


"Ya Allah, nak Riana coba bicara nya dengan tenang ya, kalau dengan emosi gini yang ada Tante jadi tambah bingung.."


"Iya Tante, maaf, Riana terbawa emosi mendengar cerita teman-teman disini Tan, mereka bilang Dokter Dila akan menikah dengan Alfian suaminya Hani 10 hari lagi."


"Apa?" Bu Mala seketika shock mendengar ucapan Riana, Bu Mala tak menyangka sama sekali. Ia seakan tak percaya, dunia memang sebuah tempat permainan, yang bebas sesuka hati penghuni nya mempermainkannya sendiri.


Pak Martias yang tadinya sedang menelpon Anas di ruang tamu, ingin segera memberi tahu berita baik pada istrinya itu namun seketika diurungkannya ketika ia melihat istrinya terduduk lemas di sofa ruang keluarga tersebut. Pak Martias melihat sambungan telpon masih berlangsung dari HP istrinya itu. Ia mendengar suara perempuan memanggil Tante. Namun Pak Martias tak menghiraukan, ia lebih mengkhawatirkan keadaan istrinya itu. Hingga sambungan telpon itu terpaksa ditutup Riana.


***

__ADS_1


"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui." (Q.S Al-Ankabut:64)


__ADS_2