
Harapan yang hilang. Dia lemah dalam keterpurukan. Dia menangis layak seorang wanita yang ditinggalkan Hatinya rapuh kehilangan cinta. Dia lelaki yang menyedihkan. Pikiran kosong terbawa kesedihan. Dia selalu mencari jejakku. Aku yang selalu hilang dari pandangan. Dia selalu ingin bertemu denganku. Aku yang selalu menghindar darinya. Kami benar-benar terpisahkan oleh sikapku. Aku yang dulu mengejar kini hilang dalam ruang hampa. Dia yang selalu menunggu hadirku hanya terdiam dalam luka.
Malam itu dia sadar betapa berarti diriku. Malamlah yang menyaksikan betapa remuk hatinya. Air mata seorang lelaki mengalir deras membasahi tubuh. Dia memegang erat letak yang sakit. Dia amat terluka dalam kerinduan. Di sisi lain aku tak tau perasaan apa yang menimpanya. Aku yang kini tak memperdulikan, merasa amat bersalah. Dia masih berharap. Aku tau dia baru merasakan itu. Aku cinta pertama dan luka baginya. Aku berharap dia mencari seseorang yang bisa menemani kisah cinta dan perjuangan.
__ADS_1
Tiga hari berlalu, dia masih sama. Dia masih mengharapkan balasan yang tak kunjung datang. Aku yang mencampakkan hanya bisa diam dan menghindar. Aku takut melihat matanya yang bengkak. Aku takut memberikan harapan palsu kepada dia. Saat itu, ketika jam istrahat. Aku lewat di belakang kelasnya dengan menunduk, aku takut dia melihatku dan menimbulkan luka di dada. Aku tau dia sekilas melihatku dari jauh apapun usaha yang kulakukan untuk menghindar dia tetap kokoh pada pendirian hatinya.
Dia menahan segala rasa yang ada dan menyimpan jauh di dalam lubuk hati. Dia terkesan kuat tapi tidak dengan hati. Hati yang begitu rapuh susah untuk sembuh kecuali aku obatnya. Menurutku lelaki yang benar-benar mencintai pasangan susah ditemukan malah aku mencampakkan. Aku memang bodoh meninggalkan orang seperti itu demi pemikiran yang tak jelas. Hatiku memang menuntun seperti itu. Jangan salahkan aku tapi salahkan keadaan yang tidak baik untuk hubungan ini. Aku yang tak bisa menjalani hubungan jarak jauh yang membuat semua berakhir dengan begitu singkat. Inilah dosaku yang selalu terbayang. Mungkin dilain waktu aku akan bertemu denganmu lagi.
__ADS_1
Kulangkahkan kaki menuju keluar ruangan. Aku melihatnya duduk di samping tiang, mencoba mengatur napas dan menghilangkan gugup. Ini bukan hal biasa bagiku untuk bertemu dengan dia. Aku lalu menghampiri dengan duduk tepat di samping dengan sedikit jarak. Dia hanya tersenyum padaku lalu berkata “Apa kabar kau?”, aku diam sejenak lalu membalas “Aku baik, kau?”, “Aku juga baik” ucapnya dengan tersenyum. Aku gelisah berada didekatnya. “Aku balik dulu ke kelas ya!” ucapku dengan beranjak dari tempat itu.
Dia hanya bisa diam dan melihatku dari jauh. Aku tak tau ingin bicara apa. Lagi lagi aku menghindar dengan memalingkan wajah. Ketika sampai di kelas, aku melihat dia duduk di tempat yang sama tidak bergerak. Aku kasihan melihatnya. Dia mencoba menunggu tapi aku tidak.
__ADS_1