
Hari pun beranjak siang, Disaat para pegawai mengambil istirahat siangnya. Hani masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Sampai ia lupa bahwa tubuhnya juga butuh istirahat.
Bila di saat-saat tubuh merasakan ingin saja bergerak dan bekerja, atau lebih rajin dari biasanya seperti yang dirasakan Hani saat ini. Itu biasanya pertanda tamu bulanan Hani akan datang tak lama lagi. Benarkah? (Soalnya author begitu, kalian gimana?)
Hani hanya keluar sebentar untuk sholat Zuhur sedangkan makan siang yang ia bawa dari rumah, ia makan sambil duduk di depan layar komputernya memeriksa pekerjaannya. Apalagi sudah di akhir bulan seperti ini, jadi banyak laporan yang harus diselesaikannya.
"Huuuft, Hana, Hafshah dan Humaira maafin Bunda ya nak, bunda jadi nggak bisa menyusui kalian siang ini." Gumam Hani sambil menghembuskan napasnya kasar. Biasanya tiap siang seperti itu Hani akan izin sebentar untuk menyusui anak-anaknya. Ia akan izin dua kali, pertama jam 10 pagi, yang kedua setelah sholat Zuhur. Namun Hani merasakan produksi ASI nya juga berkurang saat ini. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak datang menyusui Trio Baby.
"Ya Allah... maafin aku jika aku sudah Dzalim pada mereka." Hani memohon ampun pada Rabb nya. Hani merasa ia telah menyia-nyiakan anaknya demi sebuh pekerjaan.
Dokter Dila yang sepertinya sengaja mencari Hani, ketika melihat Hani di ruangannya, ia langsung saja masuk. Ia memperhatikan raut wajah Hani yang tampak sedih.
"Kenapa Han?" Tanya Dokter Dila begitu ia sampai di dekat Hani sambil memegang bahu Hani.
"Dokter, kebetulan Dokter ada disini." Ucap Hani yang kaget melihat kedatangan Dokter Dila yang tiba-tiba sudah ada saja disampingnya. Hani kemudian langsung saja mengambil kesempatan untuk bicara dengan Dokter Dila.
"Yaaa, aku memang sengaja mencarimu."
"Iya kah Dok?"
"Bagaimana? Kamu sudah memikirkan tawaran saya kan Hani."
"Iya Dok, setelah saya pikir-pikir saya akan terima tawaran Dokter tersebut. Saya juga stress bila harus berulang dari Desa ke Kota tiap hari membawa Trio Baby." Ucap Hani dengan raut wajah lelah.
Dokter Dila seperti mendapatkan Jackpot, ia tersenyum lebar mendengar penuturan Hani.
"Syukurlah Hani, kamu bisa langsung pindah hari ini juga."
"Maksud Dokter? Apa mungkin saya bisa pindah hari ini sementara barang-barang kami...?" Ucap Hani menggantung, langsung disela oleh Dokter Dila.
"Kamu tenang aja Han, saya sudah menyiapkan segalanya untuk kalian. Kalian hanya perlu bawa pakaian ganti saja, Nanti saat jam pulang saya tunggu di parkiran ya, kamu tahu kan mobil saya yang mana. Saya akan antar kalian ke Desa untuk menjemput pakaianmu dan Trio Baby."
"I-iya Dok, saya tahu." Hani tergagap, ia masih bingung atas apa yang disampaikan Dokter Dila barusan.
__ADS_1
"Kalau gitu saya permisi dulu Hani, I am very happy to hear that. I will waiting for you." Ucap Dila sambil tersenyum dengan begitu manis. Ia menatap mata Hani sejenak, lalu ia keluar dari ruangan Hani dengan perasaan penuh kemenangan. Sebentar lagi Hani akan masuk ke dunianya. Dunia yang ia ciptakan sendiri untuk memenuhi nafsu yang belakangan ini membuat ia kehilangan akal sehatnya. Ia begitu tergila-gila pada Hani.
"Terimakasih banyak Dokter." Sahut Hani masih dengan raut wajah tak percaya nya.
Hani pun tersadar ia harus segera memberi tahu Mamanya. Hani pun sebenarnya sudah membicarakan nya sebelumnya dengan Mamanya mengenai tawaran Dokter Dila tersebut. Hani menceritakan segala kebaikan dan maksud baik Dokter Dila itu pada Mamanya. Awalnya Mama Hani tampak keberatan dan khawatir. Namun pada akhirnya Bu Mala menyerahkan semua keputusannya pada putrinya tersebut. Bu Mala juga kasihan pada Hani yang selalu saja kerepotan tiap pagi dan malamnya Hani tampak begitu kelelahan.
Hani menjangkau ponselnya lalu mulai menghubungi nomor Bu Mala. Ia berencana memang mencoba melihat lihat dulu rumah yang ditawarkan Dokter Dila, tapi Dokter Dila malah mengajaknya langsung menginap malam itu juga. Hani tak bisa mengelak lagi, ia memang membutuhkan tempat tinggal yang dekat dari tempat kerjanya, apalagi ia sudah bertekad tak akan merepotkan kedua orang tuanya lagi.
Telpon pun terhubung, tak lama panggilan Hani diangkat oleh Bu Mala.
"Halo, assalamu'alaikum Ma.."
"Wa'alaikumussalam, iya Han. Tumben menelpon siang-siang begini, kalian baik-baik saja kan?" Jawab salam Mamanya Hani sekaligus melempar pertanyaan pada Hani, ia tampak khawatir karena nggak biasanya Hani menelpon siang begitu.
"Iya Ma, Alhamdulillah kami baik. Ma, Hani mau bicara sebentar, Mama nggak lagi ada jadwal ngajar kan?"
"Kebetulan kosong ini Han, ada apa Han?"
"Apa Han? Secepat itu kah? Pindah rumah butuh banyak persiapan lo nak.."
"Iya Ma, awalnya Hani mau lihat-lihat dulu, tapi barusan Dokter Dila katanya kami bisa langsung pindah malam ini, dan kami cukup membawa pakaian saja."
"Begitu ya... Ya sudah Mama pun nggak bisa menghalanginya. Dokter Dila memang baik, tapi kamu harus tetap berhati-hati ya nak disana."
"Iya Ma, bagaimana dengan Papa ya Ma? Hani belum sempat bicara soalnya. Hani takut Papa marah dan tak mengizinkan kami."
"Insyaallah Papa nanti Mama yang coba jelaskan."
"Terimakasih Ma, Hani nanti pulang diantar Dokter Dila ya ma untuk menjemput pakaian kami." Ucap Hani, ia sampai tak ingat akan janji Anas yang juga mau menjemput mereka.
"Iya Han, kebetulan Mama juga mau mengucapkan terimakasih pada Dokter Dila sekaligus Mama mau nitip kalian."
"Baik Ma, Hani mau lanjut kerja dulu, Assalamu'alaikum." Ujar Hani sambil menutup telpon.
__ADS_1
***
Di sudut kantor lain,
Anas tampak begitu semangat menyelesaikan pekerjaannya. Ia sudah tak sabar menunggu waktu jam pulang tiba.
"Aku harus segera mengutarakan isi hatiku pada Hani, ya secepatnya... Jangan sampai ditikung duluan oleh Beni, ataupun Alfian mantan suaminya itu." Gumam Anas dalam hatinya.
"Apapun jawaban Hani nanti, aku tak peduli karena aku sudah tak kuat memendam rasa ini." Anas terus bermonolog sendiri dalam hatinya.
"Ya Allah, bantulah hamba... Jika Hani memang jodoh yang kau takdirkan untuk hamba, maka permudahlah segalanya... Dan bukakanlah pintu hati Hani hanya untuk ku ya Rabb." Anas pun mengadu pada Rabb nya. Karena Anas tahu tiada daya dan upaya kecuali semua atas pertolongan Allah.
Sore pun menyapa, di rumah Martias Bu Mala tampak sedang memberi pengertian pada suaminya tentang rencana Hani yang terkesan mendadak itu.
"Papa kok malah merasakan tak enak seperti ini ya Ma. Bagaimana mungkin Dokter Dila begitu baik pada Hani dan anak-anaknya seperti itu, jika tak ada maksud tertentu."
"Pa, kita nggak boleh berprasangka buruk dulu Pa, siapa tahu kan Dokter Dila begitu karena ia mau menebus kesalahannya. Lagian rumah itu kosong Pa, Dokter Dila dan Alfian tinggal dirumahnya yang satu lagi." Ucap Bu Mala meyakinkan Pak Martias. Bu Mala pun tak tahu kalau ternyata Dokter Dila sebenarnya tak menyukai Alfian bahkan mereka tak pernah berhubungan layaknya suami istri sekalipun, karena Hani tak menceritakannya. Hani akan menyimpannya rapat-rapat karena itu menyangkut sebuah aib seseorang.
"Tapi, Papa masih khawatir Ma.. bila Hani di sana nggak ada yang jagain, apalagi itu nanti Alfian bisa dengan mudah menemui Hani."
"Pa, Hani itu sudah besar Pa, ia pasti tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri, begitu juga untuk anak-anak nya. Kalau dekat begitu ia kan nggak terlalu lelah lagi bila dibanding harus bolak balik dari sini ke Ibukota."
"Ya Allah, Papa jadi nggak sabar ini Ma, Anas datang melamar Hani segera, dan Hani menerimanya. Karena Papa bisa lebih tenang bila Hani menikah dengan Anas."
"Kita cuma bisa berdoa Pa, semoga Allah menghendaki hal demikian juga." Ucap Mala yang terlihat pasrah. Ia tak tahu bagaimana kerasnya usaha suaminya demi menyatukan Anas dengan putrinya lewat bantuan Beni.
"Iya Ma, Aamiin."
Bersambung...
***
"Allah tahu yang terbaik buat kamu dan kapan waktu yang tepat untuk kamu memilikinya." (Tausiyah Cinta)
__ADS_1