Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
46. POV Dila dan Alfian


__ADS_3

Semenjak ditinggal Hani dan sahabat nya kabur dari rumahnya, Dokter Dila benar-benar frustasi. Ia merutuki Aina sahabatnya itu.


"Aina... kau benar-benar tak tahu terimakasih..." Gumam Dila penuh kemarahan.


"Aaaaaaah." Dila melempar segala benda yang ada di depannya.


"Hani... kenapa kau mau diajak kabur Aina? Apa kau tak percaya padaku? Aku hanya ingin membantu mu Hani." Monolog Dila dengan suara lantang sambil menatap foto Hani yang ada dalam ponsel Hani, yang berhasil ia ambil saat Hani terlelap dalam mobilnya saat mereka menuju rumah malam itu. Dila dengan mudah membuka ponsel Hani karena Hani memang tak mengunci ponsel tersebut.


Dila menyangka Aina lah yang merayu Hani buat kabur.


Alfian yang baru keluar dari kamarnya, penasaran atas apa yang terjadi dalam kamar istrinya itu saat ia mendengar suara benda-benda yang dibanting.


"Ada apa dengannya? Kenapa ia seperti orang yang lagi frustasi? Gumam Alfian yang mendengar Dila berteriak-teriak di dalam kamarnya.


Alfian mendekati kamar itu lalu ia menempelkan telinganya di daun pintu sehingga ia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Dila.


"Aina, Hani? Bagaimana mungkin?" Alfian memutar otaknya berpikir ketika ia mendengar nama Aina dan Hani disebut Dila. Ia menyambungkan dengan kejadian semalam saat ia pulang tak sengaja bertemu Hani, Trio Baby beserta Aina di jalan.


"Oooh aku tahu... Aina itu pasti nama Tante itu? Tapi kenapa tante itu membawa lari Hani dan anak-anaknya dari Dila. Dan semenjak kapan Dila dekat dengan Hani?" Alfian menerka-nerka, apa yang sebenarnya telah terjadi diantara mereka dan menghubung-hubungkan dengan pertemuannya dengan Hani. lalu Alfian beranjak dari situ. Ia kembali dalam kamarnya. Pagi ini, Alfian malas untuk membuka dagangannya karena begitu banyak kejadian yang menguras emosi dan pikirannya. Hingga ia menelpon Aldi untuk mengurus sendiri. Alfian yang awalnya juga frustasi karena kegagalannya semalam, setelah mendengar perkataan Dila ia seperti mendapatkan angin segar.

__ADS_1


Alfian sibuk dengan pemikirannya sendiri di dalam kamarnya. Sementara di dalam kamar Dila, Dila juga terus bermonolog sendirian. Ia tampak begitu kacau.


"Hani sayang... Kau pasti benci namanya laki-laki bukan? Aku tulus ingin membantumu Hani... Aku akan menggantikan posisi laki-laki untukmu hingga kau tak akan kecewa lagi dengan namanya laki-laki sayang..." Ucap Dila sambil senyum-senyum.


"Kau pasti bahagia denganku, aku punya segalanya... Aku juga nggak akan main kasar padamu, percayalah. Dan kita juga sudah punya Trio Baby, jadi kita pasti akan hidup bahagia selamanya Han, percayalah padaku..." Ucapnya dengan suara lembut sambil tersenyum mengelus-elus foto Hani, tangannya mengitari setiap lekuk wajah Hani.


"Tapi Hani... kenapa kau lebih memilih bersama Aina, sedangkan Aina itu tak punya apa-apa, haaaa, kenapa...?" Dila kembali meninggikan suaranya.


"Kenapa Han, kenapa...? Hik hik hik, hu hu hu hu huuuu." Walau Dila mengaku ia bisa jadi laki-kaki untuk Hani, namun tetap saja sisi perempuannya akan keluar. Dila menangis meraung-raung. Logika nya tetap tak bisa berjalan seperti layaknya laki-laki. Karena bagaimanapun ia adalah seorang perempuan yang tentunya lebih mengutamakan perasaan daripada logikanya. Dan air mata adalah langganannya disaat hati terluka. Dila hanya mampu mengancam namun ternyata ia lemah dalam memperjuangkannya.


("Dila sadar lah, kita ini udah salah jalan, kita telah melawan kodrat kita sebagai wanita. Kita ini butuh laki-laki Dila, karena Allah telah menciptakan manusia hidup berpasang-pasangan.")


"Tidak Ai, kau cuma bohong... buktinya kamu gagal dua kali dalam pernikahan mu itu, buktinya Hani juga gagal dalam pernikahannya. Kamu hanya bohong Aina... aaaaargh." Dila mengacak-acak alas kasurnya. Perkataan Aina yang mengingatkan ia agar sadar kembali berputar putar dibenaknya. Perkataan tersebut dilontarkan Aina dulu pada Dila saat Aina menerima lamaran Anas.


"Apa mungkin Dila mau Hani kembali padaku, hingga ia mendekati Hani? Bisa saja ia lelah ditanyakan terus terusan oleh ibunya kapan punya anak. Sedangkan ia sendiri tak mau aku sentuh. Lalu ia menginginkan Hani dan anak-anaknya tinggal bersama kita disini sebagai alasan untuk menutupi dirinya itu dari ibunya. Bahwa ia juga ternyata ingin punya anak. Aaarrgh, tapi apakah benar seperti itu?" Ucap Alfian menerka-nerka.


"Jika memang benar, aku akan sangat berterima kasih padamu Dil. Ok, aku akan menemuinya." Gumam Alfian sambil tersenyum.


Tok tok tok

__ADS_1


"Dil, aku masuk ya.." Ucap Alfian yang menerobos begitu saja masuk ke dalam kamar Dila. Alfian memberanikan dirinya untuk masuk karena ia tiba-tiba khawatir mendengar suara jeritan istrinya itu.


"Dila, hentikan! Kamu jangan bodoh." Ucap Alfian sambil memegang tangan Dila dengan kuat sehingga pisau kecil yang berada di tangan Dila jatuh kelantai. Dila hampir saja menorehkan pisau itu ke nadi tangannya.


"Lepaskan Alfian, kau hanya laki-laki tak berguna, kenapa kau melarangku?" Ucap Dila sambil mencoba melepaskan tangannya dari Alfian. Tapi Alfian malah memeluknya dari belakang dengan sangat erat.


"Benar Dila, aku memang laki-laki tak berguna, tapi aku tak bodoh seperti mu, apa yang membuat mu hingga mau melukai dirimu sendiri?" Bisik Alfian di telinga Dila. Jarak yang tercipta diantara mereka begitu dekat. Jiwa Dila yang sedang rapuh tiba-tiba merasakan kehangatan disaat dirinya dapat sentuhan serta pelukan dari suaminya itu. Namun egonya masih mengalahkan segalanya.


"Nggak usah ikut campur Alfian, keluar kau dari sini. hik hik hik." Ucap Dila sambil menangis.


"Tidak Dila, kau nggak boleh gegabah. Kau bisa cerita padaku. Aku janji aku akan jadi pendengar yang baik, aku janji... aku akan membantumu." Ucap Alfian dengan lembut di telinga Dila sambil terus memeluknya. Hatinya bergetar, jantungnya terpompa lebih cepat. Alfian seperti tak mengenali dirinya sendiri. Kenapa ia sekarang bisa begitu peduli pada Dila yang hampir bunuh diri, sedangkan dulu saat ia bersama Hani, ia tak memiliki rasa peduli itu sedikit pun malah ia sering menyakiti hati dan fisik Hani. Namun sekarang kenapa tiba-tiba hatinya seperti begitu iba dengan Dila.


Tubuh Dila pun luruh dalam pelukan suaminya itu. Ia tak mampu memijakkan kakinya di lantai lagi, Alfian mengikuti pergerakan Dila sehingga mereka sama-sama terduduk di lantai. Lalu Alfian mengubah posisinya duduk didepan Dila.


"Dila, maafkan aku... Aku memang suami yang tak kau anggap, tapi izinkan aku sekarang jadi teman curhatmu.." Ucap Alfian dengan suara bergetar karena menahan tangis. Alfian tak menyangka ternyata ia juga bisa menangis. Air matanya pun akhirnya meleleh di pipinya. Ia ikut larut dengan kesedihan istrinya itu. Jiwanya seolah terpanggil untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk istrinya itu. Alfian mengelus-ngelus pipi Dila. lalu menghapus air mata Dila yang terus-terusan mengalir itu.


"Alfian... a- aku... aku..." Sahut Dila terbata-bata..


Lanjut Next Part Ya... Jangan lupa dukungannya terus ya sobat readers. Author berencana mau menamatkan novel ini dalam waktu dekat. Mohon kritik dan sarannya ya... Terimakasih..🙏🤗🥰

__ADS_1


***


"Hidup adalah perjalanan. Jika tak memiliki bekal maka akan kesulitan. Jika terlalu terbuai dengan tempat singgah maka kita akan tertinggal." (Tausiyah Cinta)


__ADS_2