Takdir Mempertemukan Kita

Takdir Mempertemukan Kita
29. Trio Baby


__ADS_3

Hani, mengernyitkan keningnya ketika membaca balasan status yang ia pajang dari Dokter Dila.


("Hana, Hafshah, Humaira. Nama-nama yang sungguh indah, aku sangat menyukainya. Oh ya hari ini kalian keluar dari RS kan?")


"Ya Allah, ini orang maksudnya apa ya? Kok aku ngerasa ia nggak ada rasa malunya." Hani bermonolog dalam hatinya seakan bingung dengan beberapa perhatian yang telah diberikan Dokter Dila pada mereka.


Hani memang menyibukkan dirinya melihat ponselnya sambil menunggu kedatangan orang tuanya untuk menjemput mereka. Sedangkan Anas dan ibunya sedang asyik menggoda para bayi dipangkuan mereka. Ibunya memangku satu bayi dan dua bayi di pangkuan Anas.


"Han, sudah siap semua kan?" Ucap Papa Hani yang baru saja masuk ke dalam ruangan diikuti Bu Mala. Pak Martias dan Bu Mala terpana melihat pemandangan yang ada disana. Anas begitu tampak bahagia dengan dua bayi dipangkuan nya itu. Sesekali Anas juga menggoda bayi yg ada di pangkuan ibunya.


Berat badan trio baby pun mengalami peningkatan dalam lima hari. Berat rata-ratanya sudah mencapai 2 kg. Selain Hani rutin memberi mereka Asi dengan metode kangguru, mereka juga terpaksa dibantu dengan susu formula. Karena tiga bayi membuat Hani cukup kewalahan, karena menggunakan metode kangguru tidak boleh kurang dari satu jam.


Trio baby juga terlihat sehat, matanya sudah terbuka dan sudah bisa merespon terhadap seseorang yang mengajaknya bicara. Seperti yang dilakukan Anas siang itu. Anas sibuk mengajak para bayi itu berbicara.


"Ehem, ehem," Pak Martias berdehem seolah memberi tahu Anas bahwa ia udah ada disana karena Anas begitu fokus dengan trio baby.


"Abang, udah sampai bang?" Sapa Anas pada Martias.


"Iya nih, kamu sejak kapan disini Nas?" Tanya Martias heran kenapa Anas bisa ada disitu.


"Lima belas menit yang lalu bang. Kebetulan acara di kantor udah selesai jadi aku mampir disini." Jawab Anas seadanya.


"Ok kalau gitu, mari kita pulang."


"Oh ya pa, bagaimana dengan administrasi nya pa?" Tanya Hani sambil mengemas barang-barang yang masih tercecer.


"Beres Han, sepertinya ada seseorang yang ikut andil, tadi Mama Papa tak ada menambah biaya apapun. Padahal ini kita minta kamar diluar tanggungan biaya BPJS kamu Han." Terang Papa Hani. Ruang rawat Hani itu memang Papa Hani yang minta agar Hani ditempatkan di ruang VIP, agar putri dan cucu-cucunya merasa nyaman karena tidak bergabung dengan orang lain.


"Siapa ya orang itu?" Tanya Hani tampak berpikir, lalu ia bertekad dalam hatinya bahwa ia akan mencari tahu siapa yang telah berbuat baik padanya.


"Nggak tahu Han, yuk kita pulang! Siapapun ia semoga Allah memberi pahala yang banyak buat orang itu." Sahut Mama Hani.

__ADS_1


"Aamiin.."


"Ini barang ternyata lumayan banyak juga." Ujar Martias yang keteteran membawa barang-barang yang ada.


"Bang sini saya bantu." Sahut Anas.


"Trio baby disini dulu ya, yang anteng ok! kita akan pulang." Ucap Anas sambil memasukkan Trio Baby satu persatu ke dalam kereta bayi yang ia lihat ada disana dibantu ibu Anas dan ibu Mala. Lalu Anas segera membantu Martias membawa barang-barang tersebut.


"Nas, maaf ya kami sudah banyak merepotkan kamu dan ibumu." Ucap Martias pada Anas disaat mereka berhasil menenteng semua barang-barang Hani dan Trio Baby. Hani, ibu Mala dan ibu Anas beserta Trio Baby sudah duluan keluar dari ruangan itu. Kereta dorong hadiah dari Dokter Dila begitu bermanfaat karena memudahkan mereka dalam membawa Trio Baby.


"Nggak apa bang, kami malah senang diizinkan bisa ikut membantu seperti ini." Ucap Anas sambil membetulkan barang bawaannya yang hampir saja jatuh dari tangannya yang penuh dengan kantong kresek. Mereka pun berbicara sambil terus berjalan menuju parkiran.


"Makasih ya Nas, kalau nggak ada kamu saya pasti kewalahan sendiri."


"Sama-sama bang, ini berkat bantuan dari Allah juga bang buat Hani dan anak-anaknya."


"Iya Nas, Allah memang benar-benar baik. Di saat kami membutuhkan bantuan disitu Allah kirimkan bala bantuannya."


"Aamiin, insyaallah bang asalkan kita selalu percaya akan pertolongan Allah itu bang."


"Bang semua barang di mobil saya saja ditaruh bang."


"Baik kalau gitu Nas."


Martias memperhatikan Anas yang begitu telaten dan sabar memasukkan serta menyusun semua barang itu ke dalam mobilnya.


"Nas, jika aku boleh meminta pada-Nya, aku ingin kau yang jadi Imam putriku." Gumam Martias yang tanpa sengaja ternyata didengar oleh Anas. Anas kaget mendengar gumaman Martias, namun ia seolah berpura-pura tak mendengar gumaman Martias sahabatnya itu.


"Han, sepertinya Anas sangat cocok ya jadi Ayah nya Trio baby." Ujar Bu Mala menggoda putrinya itu sambil masuk ke dalam mobil Martias di bagian penumpang depan.


"Mmmh, Kak Hana dipangku sama Oma ya.." Sahut Hani mengalihkan pembicaraannya sambil menaruh Hana, yang ia panggil dengan sebutan kakak itu karena Hana yang pertama kali lahir. Hani menaruh Hana dipangkuan sang nenek.

__ADS_1


"Sini Han, Hafshah atau Humaira sama ibu sini." Ujar Ibu Anas yang udah duduk di bangku bagian tengah.


"Baik nenek, bentar ya... Hafshah sayang sama nenek ya..." Hani mengangkat tubuh mungil Hafshah yang terbalut kain bedungan berwana lilac itu dari kereta nya dengan hati-hati.


"Dan dedek Humaira sama bundanya.. Bundanya masuk dulu gih." Ucap Anas yang tiba-tiba sudah berada di belakang Hani sambil mengangkat tubuh Humaira yang terbalut kain bedongan berwana merah muda itu. Ia memerintahkan Hani agar masuk ke dalam mobil duluan lalu ia yang akan membantu menaruh Humaira ke pangkuan Hani.


Hani pun tak bisa menolak perintah Anas tersebut, ia pun naik ke dalam mobil, lalu menyambut Humaira dari tangan Anas.


"Makasih bang." Sahut Hani dengan singkat. Hani agak canggung dengan situasi tersebut.


Anas hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu membantu menutup pintu mobil.


"Terimakasih ya Nas." Sahut Martias yang sudah duduk di bangku kemudi, lalu ia membunyikan klakson mobilnya.


Anas pun masuk ke dalam mobilnya, kereta bayi triple itu ia taruh di bagian tengah. Lalu Anas mengemudikan mobilnya mengikuti mobil Martias dengan perasaan tak karuan.


"Han, apakah aku masih pantas menjadi pendamping mu?"


"Jarak usia kita sungguh membuatku minder untuk mengutarakan rasa."


"Aku tak sanggup bila nanti yang aku dapat hanyalah sebuah kata penolakan."


"Karena aku sudah merasakan betapa beratnya menanggung rasa kecewa itu, aku seperti tak sanggup merasakan untuk kedua kalinya."


"Cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan, itulah yang aku rasakan selama ini."


"Cintaku yang tulus pernah dikhianati oleh cinta palsu darinya."


"Aku tak mau jatuh untuk yang kedua kalinya Han."


Anas pun jadi bermonolog sendiri sambil tetap fokus melihat ke arah jalan. Ia tiba-tiba merasa minder ketika mengingat gumaman sahabatnya Martias itu. Apakah mungkin Hani mau menerima dirinya yang usianya beda jauh darinya. Dari rasa sakit karena dikecewakan itulah Anas tak mau berharap banyak dan berusaha sekuat mungkin menolak segala rasa suka atau cintanya pada Hani.

__ADS_1


***


"Saat kamu menitipkan harapan di tangan manusia, maka bersiaplah untuk kecewa." (Tausiyah Cinta)


__ADS_2