
Di saat jam pulang di depan Rumah Sakit tempat Hani bekerja.
Hani baru saja mau menuju tempat parkiran, dimana ia akan menemui Dokter Dila yang menunggunya di dalam mobil sesuai janji Dokter Dila tadi siang.
"Hani, kamu udah selesai kan, kita pulang ya?" Ucap seorang laki-laki yang sedikit berlari mendekati Hani.
"Bang Anas, mmmh itu bang, Hani... Hani.." Ucap Hani terbata sambil jarinya menunjuk ke arah mobil Dokter Dila. Hani jadi serba salah, ia yang sampai lupa akan janji Anas untuk menjemput nya.
"Han, kamu kenapa? Apa kamu masih punya urusan?" Tanya Anas penasaran melihat wajah Hani seperti orang yang sedang panik.
"I-iya bang, maaf ya, Hani masih ada urusan bang." Jawab Hani sekenanya, ia melanjutkan saja apa yang ditanyakan Anas itu. Dalam hatinya ia berkata, "Aku nggak bohong juga kan, toh aku memang ada urusan sama Dokter Dila."
"Urusannya lama nggak? Aku bersedia kok menunggu." Ucap Anas mantap, karena ia ingin sekali bisa pulang bareng Hani kemudian mengutarakan isi hatinya itu.
Anas berhasil membuat Hani tambah panik karena Hani tak tahu mau menjawab apa. Hani jadi bimbang apakah ia akan mengatakan yang sebenarnya atau tidak pada Anas. Tapi Anas juga nggak berhak untuk tahu, begitu pikiran Hani sehingga ia memilih tidak memberi tahu Anas bahwa urusannya itu adalah mengenai kepindahannya ke Ibukota.
"Ma-maaf bang Anas, bang Anas duluan aja ya.. Hani... Hani bisa pulang dengan teman Hani nanti. Hani benar-benar minta maaf ya bang.." Ucap Hani dengan wajah bersalah.
Anas pun akhirnya menyerah, ia pun tak mungkin memaksa Hani untuk pulang dengannya. Walau rasa kecewa tentu dirasakan Anas. Tapi rasa yang ingin segera ia ungkapkan itu pun keluar begitu saja dari mulut Anas.
"Hani... Maukah kamu menjadi makmum ku?" Ucap Anas dengan lancar dan lantang sambil menatap mata Hani. Anas pun shock sendiri. Ia tak menyangka kata-kata itu meluncur saja keluar dari mulutnya. Beberapa pegawai yang kebetulan lewat mengarahkan pandangannya pada Anas. Mereka seketika berhenti dan penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Riana yang baru keluar pun turut menyaksikannya.
"Han, maafkan aku.. aku sudah tak kuat menahan rasa ini lagi. Kamu boleh marah padaku karena sikapku yang tak sopan ini." Ucap Anas kembali, sambil menundukkan kepalanya. Ia tak kuasa melihat wajah Hani yang tentunya juga shock mendengarnya.
Dokter Dila yang ternyata sudah berada dibelakang Hani, tiba-tiba merasakan cemburu yang luar biasa setelah mendengar penuturan Anas itu pada Hani. Dila sangat khawatir bila Hani menerima dan menjadi milik laki-laki itu.
"Aku tak ingin kau merebut kebahagiaan ku untuk kedua kalinya Nas." Gumamnya dalam hati, ternyata Dila sangat mengenali Anas.
Dokter Dila tak menyadari bahwa prilaku yang dulunya sudah berhasil ia hilangkan sekarang secara tak sengaja prilaku itu kembali menggerogoti jiwanya. Ia jauh lebih agresif dari dulu.
Dokter Dila segera menarik tangan Hani menuju mobilnya.
__ADS_1
"Han, yuk kita berangkat!" Ujarnya saat meraih tangan Hani.
"Hani.." Panggil Anas yang kaget mengetahui Hani berjalan menjauh darinya. Tapi Hani tak menoleh sedikitpun, ia hanya pasrah tangannya ditarik Dokter Dila. Ia begitu canggung menghadapi situasi seperti itu. Hani tak menyangka ternyata Anas benar-benar menginginkan ia jadi istrinya. Walau Hani tak memiliki perasaan apa-apa pada Anas, namun Hani seperti tak tega melihat raut wajah kecewa Anas bila ia langsung menolaknya.
"Bukankah ia sahabat Aina?" Batin Anas ketika sekilas melihat wajah Dila.
***
Dokter Dila begitu bahagia, ia benar-benar menikmati perjalanannya mengantar Hani menuju rumah orang tuanya menjemput Pakaian Hani dan Trio Baby kemudian kembali lagi ke Kota. Ia dengan rela menutup jadwal praktek nya untuk malam ini demi keinginannya tercapai. Jadwal operasi yang harus ia handel malam ini pun ia berikan pada Dokter lainnya.
Sepanjang perjalanan Dokter Dila tak henti-hentinya tersenyum. Seperti kata pepatah "Pucuk dicinta Ulam pun Tiba", kedua orang tua Hani terkhususnya Mama Hani menitipkan Hani dan anak-anaknya padanya. Itulah yang ia harapkan mendapatkan kepercayaan dari orang tua Hani tanpa usaha yang berarti.
Sedangkan Hani, jiwanya seperti tidak ada di sana, matanya terus menatap mengarah jauh ke arah luar jendela, bertemankan dengan kerlipnya cahaya bintang. Sesekali ia melirik ke belakang, melihat Trio Baby nya yang sudah tertidur pulas.
Hani tiba-tiba merasakan kantuk yang luar biasa, matanya pun terpejam. Membiarkan Dokter Dila sibuk dengan kehaluannya sendiri sambil menyetir.
Dokter Dila mengambil kesempatan mengelus pipi mulus Hani disaat Hani terlelap.
Hani menggeliat, Dokter Dila langsung menjauhkan tangannya dari pipi Hani. Ia melirik Hani sekilas khawatir Hani terbangun dan merasa risih atas perlakuannya barusan. Dokter Dila menghela napasnya lega karena Hani masih dalam keadaan tidur.
Mobil Sport yang dikendarai Dokter Dila itu pun akhirnya sampai di rumahnya yang berada di sebuah Perumahan elite itu.
Setelah mobil berhenti sempurna, ia menatap wajah Hani sesaat, lalu kemudian membangunkan Hani.
"Han, kita udah sampai nih." Ucap Dokter Dila sambil mengusap-usap bahu Hani dengan lembut.
Hani pun membuka matanya lalu meregangkan punggungnya yang terasa pegal. Ia melirik ke arah depan. Mata Hani membulat sempurna, ketika melihat sebuah rumah yang begitu besar dengan desain modern.
"Dok, yakin ini rumah yang akan saya tempati bersama anak-anak?"
"Iya Han, kamu suka kan?"
__ADS_1
"Maaf Dok, saya jadi segan, tak pantas saja rasanya."
"Kamu nggak usah khawatir Han, ini rumah dari pada dibiarkan kosong kan lebih bagus ditempati."
"Tapi Dok..."
"Nggak usah tapi tapian, ayu turun! Udah malam juga kasihan Trio Baby, saya harap kamu dan anak-anak betah disini."
Hani pun turun dari mobil sport mewah itu. Dari dalam rumah keluar seorang wanita seumuran dengan Dokter Dila. Ia langsung membantu membawakan barang-barang Hani masuk ke dalam rumah. Dokter Dila membantu Hani menurunkan Trio Baby. Hani tak sempat melihat wajah wanita itu. Hani berpikir ia adalah seseorang yang diperbantukan oleh Dokter Dila untuk menjaga dan membersihkan rumahnya.
Hani tak berani masuk ke dalam rumah mewah itu, namun Dokter Dila terus berjalan sambil mendorong kereta bayi Trio Baby masuk ke dalam rumah lalu masuk ke dalam kamar yang disiapkan untuk Hani dan anak-anaknya tersebut. Mau tak mau Hani akhirnya mengikuti langkah Dokter Dila dari belakang sambil melirik ke setiap sudut rumah itu. Rumah itu memang satu lantai namun sangat luas.
"Maaf Dok, apakah ini nggak terlalu berlebihan?" Ucap Hani kembali ragu akan keputusannya tinggal di rumah Dokter Dila itu setelah melihat isi dalam rumah yang sudah lengkap dengan segala perabotan Rumah Tangga itu.
"Nggak kok, anggap saja ini rumahmu sendiri. Oh ya, kamu mau mengitari seisi rumah dulu atau mau langsung istirahat?" Ucap Dokter Dila setelah meletakkan Trio Baby di kasur khusus bayi berukuran jumbo berdampingan di sebelah kasur yang berukuran maxi juga.
"Saya langsung istirahat saja Dok, saya benar-benar lelah, mungkin karena tamu bulanan saya juga baru datang."
"Okey... silahkan istirahat ya Han. Kalau perlu apa-apa saya ada di kamar sebelah."
"Iya Dok, terimakasih banyak."
Dokter Dila keluar dari kamar itu lalu menutup pintunya. Ia menghampiri wanita yang tadinya dianggap Hani pekerja di rumah itu yang ternyata sedang duduk di sofa ruang tamu tepat didepan kamar yang dihuni Hani.
"Ai, tolong kamu jaga mereka baik-baik disaat saya tak ada. Ingat Ai, jangan sampai kamu menyakitinya karena ia adalah segalanya bagi saya. Malam ini saya akan bersenang-senang dengannya."
"Astaghfirullah... Dila, aku pikir kamu sudah bertaubat, apalagi disaat kamu akhirnya mau menikah juga." Ucap Aina geram.
Bersambung...
***
__ADS_1
"Akan tiba saatnya dimana kamu merasa lelah dengan dunia. Lalu ingin berpaling mengejar akhirat. Yuk Hijrah!" (Tausiyah Cinta)