Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
11. Jemput Milly


__ADS_3

Milly menatap layar ponsel, berharap pesannya dikirim ke Adit dari tanda centang 1 itu berubah menjadi centang 2, dan segera berubah warna menjadi warna biru. Sampai saat ini Adit belum menunjukan dirinya untuk menjemput Milly di halaman sekolah. Milly mendengus kesal.


Hari sudah malam menunjukan pukul 7, satu jam yang lalu Adit mengabari Milly bahwa ia akan menjemput gadis itu, namun sampai sekarang Milly masih menunggu kakaknya tiba, dan gadis itu tambah kesal karena pesan Milly belum berhasil terkirim ke ponsel Adit. Milly mencoba untuk meneleponnya, namun nada sambungnya mengatakan bila nomor Adit sedang tidak aktif.


Gadis itu bergerak gelisah, menatap layar ponselnya dengan wajah tertekuk. Milly sedikit menyesal, harusnya dia bisa pulang bersama Nathan, atau nebeng mobil Ruby. Pasti Milly sudah sampai di rumah sedari tadi.


Dinginnya malam semakin menusuk kulit, sweather yang Milly kenakan tak bisa melawan hiruk dingin yang berusaha membekukannya. Beberapa kali tubuhnya menggigil, bibirnya berkomat kamit berharap Adit segera muncul sebelum dia membeku ditempat.


Tak lama kemudian sebuah mobil masuk ke halaman sekolah. Milly menyipitkan pandangannya agar mobil itu terlihat jelas, silau akan cahaya lampu mobil membuat penglihatan Milly buram. Saat lampu redup, seketika Milly mengernyit. Mobil tersebut bukanlah mobil Adit.


Gadis itu melotot ditempat, memandangi seseorang yang keluar dari mobil itu berjalan mendekati Milly.


Seperti kesambar petir tanpa adanya hujan lebat, pandangannya sama sekali tidak buyar atau bukan berhalusinasi. Saat ini Milly benar benar sedang menatap El yang sudah berdiri di depannya.


"Adit lembur di kantor jadi nggak bisa jemput. Ayo pulang."


Antara gagap atau bisu, Milly susah menggerakkan atau mengeluarkan sepatah katapun melalui bibirnya. El terdiam memandangi Milly, terlihat gadis itu tidak ada pergerakan sedikitpun selain berkedip, El jadi sedikit khawatir.


"kamu, baik-baik aja kan ?" El mulai menyentuh bahu Milly, memastikan bahwa Milly cepat sadar agar tidak kesambet, dia melambaikan tangannya di depan wajah Milly, dan akhirnya Milly berkedip berkali-kali. El bernafas lega.


"ayo pulang, udah malam." titah El lagi.


El melangkah duluan, menghiraukan Milly yang masih bertahan di tempat. Merasa langkahnya tidak diikuti El membalikan badan lagi, melihat Milly masih diam mematung di tempat. Wajah nya turun menatap aspal jalan.


Mau tidak mau El kembali mendekati Milly.


"Milly,"


Gadis itu mendongak, kedua matanya kembali melebar. Akhirnya sekian lama Milly berfikir ia mulai percaya bahwa apa yang dilihat saat ini benaran El, bukan hantu ganteng ataupun mimpi kosong yang akan menjatuhkannya ke dasar jurang yang dalam.


"ini.. Beneran kak El ?" akhirnya Milly bertanya untuk memastikan kalau penglihatannya masih bagus. Tapi suaranya dipelankan, takut apa yang dia lihat sekarang salah orang atau hanya bayangan semu. Atau mungkin hantu ganteng.


Emang ada hantu ganteng ?

__ADS_1


"iya Mil," sahut El mematahkan dugaan konyol Milly.


Milly menggigit bibir bawahnya sembari memilin jemari, ia jadi gugup bersitatap langsung. Karena untuk pertama kalinya lagi mereka saling berbicara lebih dari 1 menit.


"ayo pulang." ajak El lagi. Kali ini dia tidak sabar untuk kembali ke mobil. Kalau nggak segera masuk ke mobil yang ada mereka akan sakit akibat cuaca malam.


Milly mengangguk dan berjalan di belakang El.


****************************


Apa kalian pernah naik roller coaster ? Atau pernah melakukan hal yang menegangkan hingga pacu jantung mu berdetak cepat ? Jika iya, kalian bisa membayangkan bagaimana perasaan Milly saat ini. Milly tidak sedang bermain wahana menegangkan, atau melakukan hal ekstrim yang dapat memacu detak jantung sampai berdetak cepat. Hal itu adalah dampak perlakuan El pada Milly, efeknya sungguh diluar bayangannya.


Tangannya meraba dada yang masih berdetak tak normal, kembali membayangkan kejadian dimana El menjemput Milly di sekolah adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh gadis itu. Bahkan El juga berinisiatif membelikan Milly makanan di retoran siap saji melalui drive thru, dan tak terduganya lagi El memesankan makanan yang biasa Milly pesan, 1 paket fried chicken crispy dengan lemon tea dan tambahan kentang goreng ukuran large.


Sampai saat ini Milly masih tidak percaya, dia merasa bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi belaka. Milly tidak tahu apakah dia harus senang atau harus sedih, tapi sudut bibirnya tak berhenti untuk melengkung ke atas.


Namun wajah Milly berubah menjadi sedih, mengingat El adalah pacarnya Karmila. Milly langsung merasa bersalah dan memaksa hatinya untuk menerima dugaan jika El seperti itu atas suruhan Adit, bukan atas keinginan El sendiri. El mengatakan bila Adit sedang lembur di kantor, sudah pasti Adit yang meminta El menjemput Milly ke sekolah.


"kenapa sih gue harus suka sama pria yang sukanya sama orang lain ?"


"ayo Mil, katanya mau move on."


"gue harus konsultasi ke Ruby, dia tahu gimana caranya biar gue bisa move on."


"gue harus bisa lupain perasaan ini. Iya, gue harus coba suka sama Nathan, dia ganteng kok, pintar dan dia tulus sama gue."


"tapi tetep gantengan kak El.."


"tapi kak El sukanya sama kak Karmila, Milly.. Bukan lo !"


"aaahhhh.. Pusing !"


Setelah meluapkan rasa frustasinya ke diri sendiri, ia menenggelamkan wajahnya dibalik bantal. Tubuhnya tengkurap di atas tempat tidur, kedua tangan sengaja didekap di dadanya. Alunan detak jantung yang selalu membuatnya sesak ini selalu berhasil membuat Milly bingung sendiri.

__ADS_1


Perlakuan El terakhir berhasil menarik ulur hati Milly. Sekarang gadis itu jadi harus berpikir ulang, apa dia benar harus mundur, diam di tempat atau kembali bergerak maju ?


Lagi-lagi Milly membiarkan bunga tidur melelapkannya meninggalkan perasaan melankolis itu.


**********************************


Kunci mobil terlempar di meja nakas, lampu kamar sengaja tidak dinyalakan membiarkan sinar Bulan masuk menerangi sebuah kamar Apartemen luas melalui jendela yang sengaja tidak ditutup.


Tubuh lelahnya dijatuhkan di atas tempat tidur empuk, sejenak ia menikmati rasa nyaman yang menghinggap ke badannya.


Sedari perjalanan menuju SMA Sawarna hingga saat ini detak jantungnya masih terus berpacu kencang di rongga dada, membuat El berusaha menghirup oksigen semaksimal mungkin.


Ponsel bergetar di atas kasur, membangunkan El untuk melirik. Dengan malas pria itu membuka layar dan melihat notifikasi, ternyata Adit memberikannya sebuah pesan.


Aditya Andreansyah :


Makasih udah mau jemput Milly.


El melihat Adit sedang typing, ia menunggu Adit kembali memberinya pesan baru.


Aditya Andreansyah :


Milly langsung masuk kamar, kayaknya dia udah tidur.


Sudut bibirnya tertarik ke atas setelah membaca pesan itu. Adit kembali typing.


Aditya Andreansyah :


Besok lo ke ruangan kerja gue ya, ada yang mau gue bahas sama lo.


Aditya Andreansyah :


Penting !

__ADS_1


El menyeringai setelah membaca pesan Adit. Dengan cepat 2 ibu jarinya membalas pesan tersebut. Setelah terkirim El meletakkan ponselnya di atas meja nakas, lalu kembali membaringkan badannya ke kasur dan mulai memejamkan matanya.


*********************************


__ADS_2