
Adit memandangi pemandangan kota Jakarta yang padat akan kendaraan umum di ruas jalan besar, terlihat kendaraan tersebut begitu kecil di manik hitam legam Adit. Ribuan kendaraan berbaris sambil berjalan tersendat, meski hari tengah pukul 1 siang namun ruas jalan tidak pernah terlihat sepi. Selalu padat merayap.
Sambil menikmati pemandangan tersebut, pikiran Adit kembali terlintas akan percakapannya dengan El di Bali 3 hari yang lalu. Dimana sahabatnya mulai jengah akan sikapnya yang mengalami sister-complex.
Ia tahu akan hal itu, Adit akui kalau ia begitu over-protektif dengan Milly. Di depan Milly, Adit selalu berusaha untuk tenang dan percaya dengan adik kesayangannya. Namun dibalik itu, Adit berusaha mati-matian untuk tidak menunjukan kecemasan akut. Adit cukup pintar akan menyembunyikan perasaannya.
Memasang gps di ponsel Milly, mengetahui semua jadwal sekolah dan tempat khursus Milly di setiap minggunya, mengenal dengan semua orang yang dekat dengan Milly baik di sekolah, tempat khursus, juga rekan kerjanya yang turut kena imbas ketika mereka mengenal Milly. Siapapun itu, bahkan para tetangga sampai tukang sayur yang menegur Milly akan Adit amati secara seksama.
Adit lakukan itu semua di belakang Milly, tanpa gadis itu ketahui sedikitpun.
Hanya El, Karmila, Edwin dan Wahyu lah yang mengetahui sisi Adit yang tak terlihat ini. Adit tidak peduli jika orang lain tahu tentang sisi kelemahannya akan menjauhinya, Adit tidak akan ambil pusing.
Karena hidupnya hanya untuk membahagiakan Milly seorang, satu-satunya keluarga kandung yang ia punya sekarang.
Kehilangan Ayah dan Ibunya membuat hati Adit berteguh keras. Semua pesan mendiang untuk menjaga Milly dijadikan pedoman hidup Adit, dan terus akan ia jalankan meski Adit dan Milly sudah berkeluarga.
Dan Adit juga tidak segan untuk menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidup Milly nanti, Adit harus tahu latar belakang pria itu sampai ke akar yang merambat.
Kalau bisa pria yang akan menjadi pedamping hidup Milly harus sama gila nya dengan Adit. Dan Adit temukan itu dari El ketika pria itu mengungkapkan perasaannya kalau El menyukai Milly.
Awalnya Adit tidak mempermasalahkan setelah El mengungkapkan perasaannya. Namun Adit melayangkan beberapa peringatan : beberapa diantaranya menjaga jarak dari Milly dan tidak menunjukan rasa sukanya pada gadis itu.
Perdebatan terus terjadi ketika El masih belum terima dengan peraturan Adit yang tidak masuk akal. Namun pada akhirnya, mau tidak mau El melakukan peraturan itu sampai ketika mereka berdua mengetahui jika Milly menyukai El secara tidak langsung.
Adit ketar ketir, dan dari situlah awal mula kesepakatan dibuat oleh mereka berdua.
Mereka membuat kesepakatan tersebut di selembar kertas dan ditanda tangani oleh kedua belah pihak. Isi dari kesepakatan secara singkatnya : setelah Milly berusia 18 tahun El baru bisa mendekati Milly dan menunjukkan perasaannya.
Juga memasukan sebuah peraturan keuntungan sepihak di dalam kesepakatan itu, dimana Adit bisa membatalkan kesepakatan dengan sesuka hati. Jika Adit merasa El tidak pantas untuk Milly, Adit bisa memutuskan kesepakatan sewaktu-waktu dan dianggap kesepakatan telah disetujui oleh kedua belah pihak, dan dianggap kesepakatan tidak pernah terjadi dan dibuat oleh mereka.
Dan El menyetujuinya.
Katakanlah mereka bertindak gila dan bodoh. Mereka tidak memikirkan dampak buruknya jika Milly mengetahui semua kesepakatan itu, bahkan sengaja untuk tidak dipikirkan. Mereka akan memikirkan hal itu jika memang telah terjadi. Karena mereka tahu dampak buruknya, untuk itulah mereka menutup rapat tentang kesepakatan ini. Dan rekan mereka hanya sekedar mengetahui jika El diminta untuk menjaga jarak karena Milly masih kecil. Belum siap untuk pacaran dulu.
Namun mau bagaimana pun El selalu berusaha menjalankan peraturan konyol itu. Jika El berhasil lolos, otomatis Adit hanya akan memberikan Milly kepada El seorang. Hanya El, karena sejak awal Adit hanya mempercayai pria itu.
Bisa dibilang di satu sisi sudut pandang Milly terlihat seperti piala penghargaan, yang akan diberikan ke seorang pemenang. Namun piala ini begitu berharga melebihi sebuah berlian pada umumnya, dan akan berakhir di tangan seseorang yang tepat. Yaitu Elkana Bramawan.
Itulah kesepakatannya yang telah Adit buat bersama El. Namun jika El melanggar aturannya, sudah dipastikan El tidak akan bisa memiliki Milly. Ijin melihat dari kejauhan saja tidak akan Adit biarkan.
"melamun lagi ?"
Karmila datang mendekati Adit yang masih menatap kosong ke arah luar. Pria itu menoleh, lalu menyunggingkan seulas senyum.
Sudah 3 hari ini Karmila menangkap Adit melamun sendirian di lorong koridor kantor lantai 15, dimana lorong tersebut dijadikan para karyawan sebagai tempat nongkrong untuk menikmati pemandangan kota.
"Mil,"
Karmila menoleh lalu berdeham. Ia menatap wajah Adit yang sedikit sendu. Entah apa yang dipikirkan pria itu, tapi Karmila yakin jika Adit sedang memikirkan masalah yang selalu menjadi konsumsinya sehari-hari.
Milly dan El.
"menurutmu, apa gue terlalu mengekang mereka berdua ?" tanya Adit lirih, sedikit parau. Terusik perasaan bersalah karena telah menyiksa 2 orang saling menyukai. Tapi jika dibiarkan, Adit lebih tidak suka. Adit masih tidak rela kasih sayang Milly pada Adit akan berkurang dan akan dibagi kepada El.
Karmila terdiam sejenak. Perlahan ia menghembuskan nafas, mengalihkan pandangannya ke arah luar. Ikut memandangi ramainya ruas jalan.
__ADS_1
"menurut mu ?" Karmila mempertanyakan ulang.
Kalau dijawab sejujur-jujurnya, Adit memang bertindak salah. Tapi Karmila tahu kenapa Adit bisa seperti ini.
Mereka kembali terdiam, menikmati pemikiran mereka masing-masing.
"gue... Masih belum rela El sama Milly. Gue masih berat,"
"Milly berarti banget buat gue.. Gue nggak kebayang kalau Milly akan lebih sayang El ketimbang gue. Dan sewaktu-waktu El akan bawa Milly ninggalin gue.."
Karmila kembali menghela nafas.
"El nggak akan bawa Milly kemana-mana. El tahu lo nggak bisa jauh sama Milly. El selalu mikirin lo kok, Dit. Dia ngertiin lo banget."
Adit memejamkan matanya, berusaha menepis kecemasan dan frustasinya. Apa yang dikatakan Karmila benar, namun tetap saja hatinya masih belum bisa terima.
Adit tidak menyangka sister-complexnya bisa mempengaruhinya sebegitu besar.
"lo percaya kan sama El ?"
Karmila menggerakan badannya untuk berhadapan dengan Adit. Pria itu terdiam cukup lama, kemudian ia menoleh ke arah Karmila yang menunggu jawaban darinya. Sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"kalo gue nggak percaya, gue nggak akan mungkin ijinin El menatap Milly." sergah Adit.
"kalo gitu, ijinin El deketin Milly mulai sekarang. El nggak akan mungkin langsung ngajakin Milly pacaran atau nikahin dadakan. El juga mikir kalo Milly masih kecil,"
Adit tersenyum kecut. Ucapan Karmila memang benar.
"temen lo juga lagi pusing tuh, dia uring-uringan di ruangannya. 3 hari ini dia nggak bisa ke rumah lo buat liat Milly. Gegara dia berhasil merayu Paulette jadi ditugaskan untuk menyelesaikan prosedur kerja sama dan tata cara kinerja."
Kali ini Adit mendengus geli. Iya, El sedang pusing mengurus kontrak kerja sama, yang dimana klien dari Meksiko itu menyetujui kontrak kerja sama dengan syarat El dijadikan sebagai pengurusnya sampai selesai.
Kemudian Adit menoleh, menghadapkan dirinya di deoan Karmila yang masih berdiri menghadapnya. Sorot mata Adit yang tajam padanya membuat Karmila gelagapan lalu mengubah posisi berdirinya ke depan jendela.
"yang di Bali kita belum selesaikan, Mil.."
Karmila mematung mendengar ucapan Adit, suaranya berubah menjadi serak dan dalam. Karmila bertahan untuk tidak menatap mata Adit, dan tidak mencoba untuk melirik.
Karena dia tahu Adit sedang mengincarnya.
"ap-apa ?"
Adit menarik sudut bibirnya, gerakan salah tingkah Karmila terbaca jelas. Gadis itu sedang gugup.
"gue tahu kamu belum lupa, dan mungkin sama sekali nggak lupa."
Perlahan Adit berjalan mendekati Karmila, spontan Karmila ikut melangkah untuk menjauhi Adit. Selangkah demi selangkah Karmila menabrak Pilar besar disana, membuat langkahnya terhenti dan Adit langsung mengunci Karmila dengan kedua tangan direntangkan di sisi Karmila. Agar Karmila tidak bisa kabur lagi.
Posisi Karmila sudah berhadapan lagi dengan Adit, namun pandangannya mengitari koridor, bukan karena takut ketahuan orang lain yang melihat posisi mereka. Kondisi koridor sangat sepi karena karyawan sudah balik ke ruang kerja masing-masing. Namun Karmila lakukan itu agar tidak menatap mata Adit. Karena dia tahu jika Adit tidak akan melepaskannya lagi.
"gue mau lanjutin apa yang hampir kita lakukan malam itu, Mil."
Suara serak Adit semakin dalam. Membuat degup jantung Karmila bertalu kuat.
Adit sangat suka dengan reaksi wajah Karmila saat ini, merah merona di pipinya membuat Adit gemas untuk segera mencecap bibir ranum Karmila.
__ADS_1
Sebelum kejadian El menghajar pria bule di Finns, Adit juga melakukan hal ini dengan Karmila. Mereka berdua terlalu asik dengan dunianya, hingga Adit mendekatkan bibirnya ke bibir Karmila. Namun setelah mendengar teriakan di kerumunan orang Adit menoleh dan menangkap El sedang memukul seseorang sehingga acara ciuman mereka gagal dilakukan.
Karmila memejamkan matanya, ketika wajah Adit mulai mendekat ke wajahnya. Secara tak sadar Karmila menahan nafasnya, karena nafas Adit mulai terasa di wajah Karmila, menerpa kulit wajahnya. Hangat dan-
"hmmm pantes gue telepon nggak diangkat. Lagi pacaran toh."
Adit dan Karmila spontan menoleh ke sumber suara. Melihat El sedang berdiri di belakang mereka sambil menyilangkan tangan. Wajahnya terlihat datar, terlihat tidak tertarik dengan pemandangannya saat ini.
Adit berdecak kesal lalu melepaskan kurungannya. Sementara Karmila masih berdiri di tempat, tapi sekujur tubuhnya lemas, namun ia berusaha untuk tetap berdiri. Nggak mungkin dia jatuh tergelatak begitu saja, yang ada El malah menertawakannya.
"ganggu lo," sungut Adit kesal. El hanya tertawa remeh.
"gue pinjem cewek lo sampe sore. Abis itu terserah dah mau lanjut ******* lagi atau gimana,"
Semburat merah makin terpampang jelas di wajah Karmila, sedangkan Adit hanya menatap El kesal. El kembali tertawa karena berhasil menggangu aksi nakal Adit.
Tak lama Karmila berjalan menyusul El yang sudah melangkah dulu. Adit hanya diam menatap punggung Karmila dan El meninggalkannya. Adit menghembuskan nafas lelah, lalu teringat lagi kegagalannya untuk merebut ciuman pertama Karmila.
"sial, gue kena karma gegera si El.."
**********************************
Lampu Apartemen dinyalakan menampilkan ruangan minimalis didominasi cat putih dan minim perabot. El berjalan menuju kamar sembari melonggarkan dasinya dan membuka 2 kancing kemeja.
Setelah ia melepaskan semua pakaiannya dan diletakkan di keranjang pakaian kotor, ia bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri. Ia diam menikmati cucuran air hangat mengguyur tubuh atletisnya, seolah air itu sedang membersihkan rasa lelahnya sehabis bekerja seharian.
Lalu El keluar dengan lilitan handuk di pinggang, sekilas ia mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu menggunakan hair-dryer untuk membantu lebih cepat proses mengering di rambutnya.
Lalu El membuka lemari pakaian, mengambil celana pendek dan kaos berwarna putih. Sebenarnya El lebih suka memakai celana boxer dan bertelanjang dada jika ia sedang berada di Apartemen.
Sebelum ia rebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, El mempunyai kebiasaan baru, yaitu menyibukan diri untuk membaca buku. Sejak ia memiliki buku yang ia temukan, El tidak akan bisa tidur jika ia belum membaca bukunya. Seperti anak kecil yang diharuskan dibacakan buku dongeng sebelum tidur.
Manik coklatnya mencari sebuah buku di dalam laci meja kerjanya. Lalu ia letakkan di atas meja dan ia buka buku itu berdasarkan tanda pembatas baca yang El sisipkan disana.
Manik coklatnya mulai sibuk membaca, disana tertulis hari, tanggal dan tahun di bagian pojok kanan atas. Lalu turun ke tulisan selanjutnya. Menceritakan sesosok pria bersama sahabatnya terlihat lelah sehabis latihan kick-boxing, setelah mereka membersihkan diri mereka kembali melakukan ritual mereka, bermain PlayStation sampai tengah malam.
Sekilas sudut bibir El tertarik ke atas. Lalu jemarinya membuka lembaran berikutnya. Tertanggal 2 hari setelahnya, dimana diceritakan si pria kembali datang ke rumah bersama teman-temannya sambil menenteng beberapa plastik dan kotak makanan. Merayakan naiknya posisi jabatan sebagai Junior Marketing Suvervisor.
El tak kuasa tersenyum. Setelah selesai ia tutup buku bersampul hologram itu dan diletakkan kembali ke dalam lacinya.
Lalu El bangkit, ia berjalan menuju meja nakas. Kemudian ia mengangkat kalender duduk dan melihat bulatan merah yang sudah El buat jauh-jauh hari disana.
Tanggal 18 bulan Juni, dimana Milly akan berulang tahun yang ke 18. Hari yang El tunggu-tunggu.
Tersisa 2 bulan lagi, dan El tidak perlu lagi menutup topengnya di hadapan gadis itu.
Ia kembali teringat dimana ia mulai mengenal gadis kecil itu, dan tak disangka ia menyukainya yang terpaut usia 7 tahun lebih muda dari El.
Peraturan dan kesepakatan antara El dan Adit selama beberapa tahun ini berhasil menguras emosinya. Tapi itu tidak akan lama lagi, sebab akhir dalam kesepakatan tersebut akan dimenangkan oleh El.
Iya, El pun sama gila nya dengan Adit. El tidak peduli jika saat itu El dianggap sebagai Pedofil, tidak peduli dengan apapun. El begitu menyukai Milly, dan percaya bahwa ia akan berhasil merebut Milly dari Adit.
Sister-complex Adit membuat El terus uring-uringan. Beberapa kali ia menyolong kesempatan untuk memberikan tanda pada Milly. Terang-terangan memandangi Milly hingga tertangkap oleh gadis itu, menggenggam tangan Milly di pesawat, dan terakhir momen di Bali. Dimana rasa cemburunya sudah tidak bisa terkontrol.
Namun El harus kembali bersabar. Hanya 2 bulan lagi El tidak perlu lagi menahan gejolaknya pada Milly.
__ADS_1
Milly benar akan menjadi miliknya, Milly-nya Elkana.
***********************************