Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
16. Perubahan El (1)


__ADS_3

Mulai hari ini para siswa kelas 3 SMA Sawarna diliburkan pihak sekolah selama 1 minggu. Para siswa diminta untuk beristirahat di rumah, agar mereka dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi try-out terakhir yang akan dilaksanakan minggu depan.


Setelah try-out berakhir, selanjutnya mengikuti ujian praktek untuk mata pelajaran tertentu. Lalu mengikuti ujian sekolah dan yang terakhir ujian akhir nasional.


Tentu para siswa harus mempersiapkan diri mereka, hasil ujian nanti yang akan menentukan kelulusan mereka. Begitu pula dengan Milly dan teman-temannya sekarang ini, mengingat rentetan ujian yang akan mereka hadapi ke depan, ingin rasanya cepat-cepat melewati ujian tersebut sampai tuntas. Beban seorang siswa kelas tingkat akhir memang begitu berat, sudah terima surat keterangan lulus saja sudah bersyukur banget.


Walau bagaimana pun para siswa tetaplah manusia biasa. Mendapatkan libur 1 minggu penuh sebelum ujian adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.


Latihan soal Matematika sudah Milly selesaikan. Penuhnya dengan huruf dan angka yang baru dia tulis di buku tulis, membayangkan bagaimana nanti Milly akan menjawab soal Matematika di ujian praktek, ujian sekolah dan ujian akhir nasional. Bagi Milly nilai mata pelajaran Matematika ini adalah jantungnya di sebuah buku raport.


Milly kompeten dalam akademik, tapi mau bagaimanapun Milly tetaplah gadis biasa. Nilai nya nggak sepenuhnya berangka cantik, meski Adit tidak mempermasalahkan hal itu tapi justru Milly lebih khawatir. Kan nggak lucu saja kalau Milly lemah dalam pelajaran Matematika, padahal Adit kebalikan dari itu. Adit adalah rajanya angka dan rumus, maka dari itu kepribadian Adit sangat absolut, disiplin, dan teliti banget.


Nggak heran kalau Adit ditempatkan di posisi Head Accounting Office. Selisih seratus perak saja pasti dicari sampai ketemu.


Kemudian Milly meraih buku lain setelah dia menjauhkan buku Matematikanya ke samping meja, tak lama Bi Ana membawakan Jus Mangga segar lalu ditaruh ke atas meja ruang tengah. Karena Milly sedang libur dan rumah sepi, Milly mengerjakan semua latihan soal di ruang tengah.


Kalau di kamar bawaannya ngantuk, bukannya ngerjain soal yang ada Milly akan tidur.


Tak terasa waktu menunjukan pukul 6 sore. Milly menyenderkan punggungnya di kaki sofa, dia telah selelsai mengerjakan soal latihan Geografisnya. Milly meneguk Jus Mangga yang masih tersisa sedikit.


"Mil,"


Gadis itu menoleh ke sumber suara, tapi dia langsung memalingkan wajahnya ketika pandangannya ke Adit beralih pada El yang juga memandanginya seperti biasa. Datar.


Gerak Milly menjadi canggung, terakhir kali dia dan El saling bersitatap pada malam itu, dan pria itu mengembangkan senyumannya. Mengingat itu Milly benar berharap kalau Milly salah lihat. Tapi melihat El memasang wajah datar ke arah Milly, sepertinya dugaan dia salah lihat benar adanya.


Demi menutupi rasa canggungnya, dia kembali membuka buku Geografis dan pura-pura membaca buku itu. Pandangan Milly hanya berfokus pada kalimat yang tertulis di buku, bahkan Milly tidak mendongak jika diajak mengobrol sama Adit.


Melalui ekor mata, Milly melirik gerak gerik El. Pria itu sedang tiduran dan memejamkan mata di sofa panjang yang berada di samping Milly, wajah pria itu jelas lelah karena aktifitas pekerjaannya. Bahkan pria itu tak sempat membuka jas hitamnya yang masih terbalut, dasi longgar berwarna biru laut masih betah melingkar di lehernya.


Lagi-lagi Milly terpesona dengan paras El. Rasanya dia ingin mengelus rambut El dengan lembut, agar rasa lelahnya segera hilang. Wajah dingin yang tertidur itu menyejukan hati Milly.


Tiba-tiba El membuka mata dan menatap Milly. Spontan gadis itu memalingkan wajahnya ke buku Geografis yang masih terbuka. Matanya memaksa untuk membaca isi buku itu, sambil mengatur detak jantungnya yang nggak karuan.


Sial, lagi-lagi ketangkap basah.


Milly membalikan lembaran berikutnya, masih memaksa matanya untuk membaca buku. Entah hanya sebuah firasat atau gimana, Milly masih merasakan jika pria itu masih memandanginya, Milly tidak berani melirik El melalui ekor mata nya, tapi dia juga tidak tahan untuk terus berpura-pura membaca buku.


El yang masih betah di posisi nyamannya. Memperhatikan Milly yang membaca buku, pandangan pria itu tidak terputus melihat Milly. El tahu kalau Milly sedang berpura-pura dengan kegiatannya. Terbukti gadis itu salah tingkah. El tak kuasa untuk tersenyum.


Tak lama Adit duduk di depan Milly. Milly mulai bernafas lega.


"Mil, jumat malam kakak mau ke Bali sampai minggu. Minggu malam kakak pulang," Adit meminta ijin pada Milly, sontak gadis itu bertanya.

__ADS_1


"kakak ke Bali mau ngapain ?"


"nemanin El kerja,"


Milly menaikan alisnya, nemenin El kerja ? Serius ?


"iya, abis itu kami jalan-jalan. Nanti kamu mau dibawain oleh-oleh apa ?"


"Milly ikut dong kak," pinta gadis itu, sedikit bernada protes.


"loh, kan kamu mau ujian praktek minggu depan."


"kan minggu depan, bukan minggu ini kak. Kakak tega ninggalin aku pergi ke Bali, aku disini stres sendirian menjawab soal-soal. Jahat banget sih kak,"


Adit terenyuh mendengar nada sendu Milly. Adit jadi tidak enak hati kalau adiknya sendirian di rumah. Lagi-lagi Adit merutuk dirinya.


"ya sudah. Kamu ikut sama kakak."


Senyuman indah tercipta dari wajah manis Milly. Milly bersorak senang.


"ajak Ruby ya kak. Pasti dia juga mau ikut,"


"jangan deh dek. Nggak enak sama orang tua nya bawa anaknya pergi ke luar kota."


"Karmila ikut kok,"


Milly terkejut. Semakin hari nama Karmila jadi sering berada di sekitar hidupnya. Entah kenapa Milly mulai jengah.


"ajak Ruby ya ka. Kalau Ruby ikut, aku minta dia pakai uang pribadinya deh, nanti Milly ijin ke orang tua nya." pintanya lagi. Kalau ternyata Adit tidak mengijinkan, lebih baik Milly tetap berada di rumah saja. Dia tidak mau berada di tengah-tengah antara Adit, El dan Karmila.


"ya sudah ajak aja. Biaya akomodasi Ruby kakak yang tanggung."


"kakak serius kan ?" tanya Milly memastikan.


"iya serius. Nggak apa-apa kan El ?"


Adit menoleh ke arah El, membuat Milly juga menoleh namun Milly langsung terpaku. El memandangi Milly dengan sorot mata yang lembut.


"iya, nggak apa-apa. Bagus kalau kita pergi ramai-ramai."


Badump..


Aneh. Biasanya pria itu cuek, biasanya pria itu tidak peduli, dan biasanya pria itu jarang memandangi Milly lebih dari 5 detik.

__ADS_1


Tapi sekarang pria itu tak berhenti menatapnya, lalu pria itu berkata bahwa dia senang jika Milly ikut liburan ke Bali, dan sekarang pria itu sedang tersenyum kepada Milly.


Apa diluar rumah lagi ada badai salju ?


*********************************


Mie kuah rasa Ayam Spesial ditambah telor dan irisan cabai merah siap disantap.


Asap yang menguar di mangkok mie itu menggugah selera makan Milly. Segera ia menyendokkan mie itu, ia tiup dulu secara perlahan kemudian mie berhasil masuk ke mulut Milly.


Udara dingin karena turunnya hujan mendukung suasana Milly menikmati makanan instan itu. Kembali ia meniup mie itu lalu dilahapnya sampai habis.


Asiknya Milly melahap makanan nya sampai ia tidak sadar jika El memperhatikan Milly di meja makan. El menemukan Milly sedang asik makan disana ketika dia berjalan menuju dapur, rencana awal yang ingin menyeduh kopi di dapur sempat terhenti karena ada Milly dusuk disana.


Melihat El berdiri menatapnya sambil menyenderkan punggung di dinding batas ruang makan, Milly segera meneguk air minumnya karena tersedak makanan sendiri.


El berjalan menuju dapur, membiarkan Milly memandangi kegiatannya menyeduh kopi kemasan. Milly langsung buru-buru melihat mangkoknya ketika badan El berbalik seraya tangannya mengaduk kopi menggunakan sendok.


Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya mata yang bekerja untuk saling melirik dan saling memandang.


Tak lama El berjalan menuju meja makan, ia tarik kursi lalu duduk bersebrangan dengan Milly. Beberapa kali Milly melirik ke arah El mulai menyesap kopi nya. Gerakannya yang tenang berbeda dengan Milly bergerak gelisah sekarang ini.


Kemudian El mengeluarkan ponselnya, ia mengetik sesuatu dan mengirim pesan ke seseorang. Ponsel Milly bergetar, menandakan ada sebuah pesan masuk. Milly mengambil ponselnya di samping mangkok lalu membuka pesan itu.


Kak El :


Habiskan mie kamu, mie nya akan mengembang.


Milly menatap layar ponselnya tidak percaya. Takut-takut ia melirik El lagi yang masih sibuk menyesap kopi. Milly menggigit bibirnya, ia bingung apa pesan itu harus dibalas atau tidak.


Ponsel Milly bergetar lagi. Milly kembali membuka pesan baru.


Kak El :


Jangan gigit bibirmu.


Kedua mata nya melebar sempurna, reflek Milly langsung melepaskan bibir dari gigitannya.


Melihat Milly diam terpaku menatap ponselnya, El kembali memberikan pesan pada gadis itu. Ia menyesap sisa kopi lalu pergi meninggalkan Milly yang kembali tersentak melihat pesan berikutnya.


Kak El :


Ternyata memandangi kamu jauh lebih nikmat dari secangkir kopi.

__ADS_1


***********************************


__ADS_2