
Sudah tak terhitung lagi berapa kali Karmila menghela nafas lelah setelah berdebat sengit. Sejak kemarin hingga saat ini Karmila sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk berbicara dengan Adit -- si kepala batu -- kerasnya melebihi Batu peninggalan Prasasti bersejarah yang ia pelajari saat duduk di bangku sekolah dasar. Kokoh dan tak mudah goyah.
Dimulai dari uraian kata sopan, lembut, manis, lalu mulai ngegas hingga tajam bagaikan pisau, Adit masih belum bisa Karmila taklukan. Seolah semua apa yang Karmila katakan tidak ada satupun yang berhasil menyerap masuk ke dalam sel-sel saraf berselubung di dalam otak. Membal kayak trampolin.
Mencoba mencari cara supaya pikiran Adit terbuka perihal hubungan El dan Milly, Adit tidak bisa terus memperlakukan mereka seperti apa yang dia mau. El dan Milly saling suka, saling sayang dan saling mencintai. Karmila pikir hanya karena Adit tidak merestui hubungan mereka sebab Milly belum genap berusia 18 tahun, di jaman modern tahun 2020 itu sudah basi menurut pandangan orang.
Padahal tinggal 3 hari lagi Milly menuju bertambahnya usia. Namun Adit masih memperlakukan Milly layaknya anak bocah SD yang masih dilarang keras hanya untuk bermain di area komplek. Lebih lucunya lagi Adit melarang Milly untuk mendekati El lagi padahal Adit sendiri yang berkeinginan menjadikan El sebagai pendamping Milly kelak.
Aneh nggak sih?
"mau sampai kapan kamu pisahin mereka, Dit? Apa kebiasaan baru mu itu suka bikin orang menderita?" ucap Karmila dengan bawaan emosi. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana untuk membelek kepala Adit.
Kisah cinta mereka itu tidak termasuk dalam kisah cinta menye-menye seperti telenovela atau drama ftv di televisi. Ataupun kisah romantis jaman dahulu, Romeo dan Juliet misalnya. Dibicarakan dengan baik-baik seharusnya masalah kelar.
Karmila tahu semua kelakuan Adit hanyalah alibi, inti dalam segala hal Adit masih belum bisa merelakan Milly bersama pria lain. Semakin kesini Karmila semakin merinding sejak ia mengetahui sisi sindrom sister-complex yang Adit alami.
Jangan sampai sindrom tersebut terlalu mempengaruhi Adit sehingga secara tidak sadar ia sendiri memperkeruh situasi.
"ini salah El. Dia tidak bisa memenuhi semua kesepakatan yang kami buat." Balas Adit ketus. Ia kembali menatap layar ponsel, mengecek beberapa pesan masuk setelah ia mendongak menatap dingin pada Karmila.
"kenapa harus selalu berpusat pada kesepakatan itu? Jadi mau kamu apa setelah mereka berdua benar-benar berpisah? Kamu mau mereka putus lalu menjodohkan Milly bersama pria yang belum tentu mencintai Milly sama seperti El saat ini?"
Adit tidak menanggapi ucapan Karmila namun ia tampak berpikir dalam diam.
"apa sih untungnya kesepakatan yang kalian buat itu? Aku heran dengan kalian berdua, dan El kenapa bodoh banget sih menjalankan kesepakatan konyol itu? Aku jamin, jika Milly tau akan hal ini dia akan jauh lebih marah. Nanti Milly akan menghapusmu dalam nama kartu keluarga kalian," ancamnya sinis, gaya ucapannya sengaja dilebih-lebihkan Karmila.
Tampak guratan cemas terpancar di wajah Adit. Karmila tersenyum sinis, baru menyadari bahwa Milly adalah kelemahan Adit, kenapa sedari tadi ia tidak menggunakan nama Milly sebagai senjata?
"pikirkan baik-baik, Dit. Sebentar lagi Milly juga akan berangkat ke Prancis. Jika kedok kalian ketahuan lalu Milly marah dan memutuskan untuk menetap disana, ia lebih memilih meninggalkan kalian berdua bagaimana, kamu mau Milly melakukan itu?"
Bungkam. Manik hitam Adit bergerak gelisah membuat Karmila tersenyum puas. Akhirnya ia mulai bisa menaklukan Adit.
__ADS_1
Tapi kesenangan Karmila hanya sesaat saja.
"aku tinggal menggagalkan rencana Milly untuk pergi ke Prancis."
Mendadak kepala Karmila sakit seolah terhantam batu Prasasti.
***********************************
Waktu sudah mendekati senja.
Sudah beberapa hari kegiatan Milly hanya berkutat di dalam kamar tidur. Namun beberapa hari ini juga ia ingin hari cepat berlalu, sebab ketika malam tiba seseorang yang sangat ia cintai akan menemuinya disini.
Sudah beberapa malam terlewati, El akan mengendap dan memanjat ke jendela kamar Milly. Lalu menghabiskan waktu dengan saling bertukar cerita, saling berpelukan untuk menyalurkan rasa rindunya dan berakhir dengan berciuman sampai mereka berdua terlelap di tempat tidur.
Hanya berciuman saja, tidak lebih.
Bila fajar tiba, dengan cara yang sama El akan kembali mengendap keluar.
Bila dipikir-pikir, kisah mereka bagaikan sebuah cerita dongeng anak-anak, dimana seorang putri yang terkurung di dalam puncak menara kastil ditemukan keberadaannya oleh seorang pangeran tampan. Melihat sang putri terkurung sendirian serta memiliki rambut yanh terurai panjang, sang pangeran meminta sang putri mengulurkan rambutnya keluar dari jendela, lalu sang pangeran mengikat dirinya diantara rambut tersebut lalu meminta sang putri menariknya dari atas. Setelah sang pangeran berhasil memasuki puncak kastil, ia membawa sang putri untuk keluar dari persembunyiannya dan mereka berdua hidup bahagia.
Dalam situasi ini bedanya Milly tidak memiliki rambut panjang. Dan El menemui Milly dengan memanjat pagar. Pun El tidak membawa Milly pergi, hanya menghabiskan waktu malam mereka disana.
Sejak itulah El semakin gencar berolahraga jika ia memiliki waktu senggang meski hanya 10 menit. Akan ia pakai untuk melatih ototnya supaya tubuhnya terasa ringan saat El memanjat sampai balkon.
Demi bertemu Milly, El rela melakukan apapun.
Tinggal beberapa jam lagi mereka akan bertemu. Milly sudah tidak sabar.
Milly menoleh ke arah pintu ketika pintu terbuka, menampilkan sosok Adit yang masih mengenakan pakaian kantor.
"ada teman mu dek,"
__ADS_1
Selama Milly dikurung di dalam kamar, malam ini Adit sudah memberika ijin untuk bertemu dengan orang lain. Kecuali El.
Kemudian muncul seseorang di belakang Adit, menyapa Milly dengan lembut -- seperti biasanya orang itu lakukan -- namun wajahnya terlihat ada guratan cemas ketika menatap Milly.
Milly beranjak dari kasur dan menyapa seseorang tersebut, "oh, ada Nathan."
Nathan keluar dari balik punggung Adit, tak lupa ia memberikan senyuman teduhnya.
***********************************
Pukul 9 malam, waktunya El pergi menemui sang kekasih.
Pakaiannya sudah mengenakan serba hitam: topi, hoddie, masker, memakai kacamata bening biasa, celana jeans serta sepatu kets. Langkah kakinya begitu mantap memasuki pintu lift.
Pintu lift Apartemen terbuka dan El bergegas keluar. Ketika langkahnya sampai di lobby Apartemen, seorang resepsionis yang El kenali -- Didit -- mendapatkan giliran shift malam berjaga menyapa El ketika mereka saling berpapasan. Lalu ia mengatakan,
"mas El. Itu... Ada orang nyariin mas El, nanyain nomor kamar mas El. Tapi nggak saya kasih kok, saya suruh tunggu biar saya hubungi mas. Eh taunya mas muncul," jelasnya sambil menunjuk ke arah luar lobby. El mengikuti arahan Didit, melihat punggung seorang wanita berdiri di halaman depan mengenakan pakaian terusan berwarna biru bermotif bunga dan kepalanya tertutup kain selendang berwarna senada.
Manik El meneliti sosok tersebut dari atas sampai bawah. Mengingat-ngingat bila ia tidak memiliki agenda untuk bertemu dengan seseorang, kalaupun ada El tidak akan mau bertemu seseorang pukul 9 malam ini.
Sibuk memperhatikan sosok tersebut, kedua mata El membulat sempurna ketika sosok tersebut membalikkan badannya.
Tenggorokan El tercekat ketika pandangan mereka bertemu. Sosok tersebut melangkah memasuki lobby dengan wajah berseri haru.
"El..."
Panggilan wanita tersebut membuyarkan pandangan El yang ia anggap ilusi, atau fatamorgana. Wanita yang tidak ingin lagi ia temui tanpa ragu menunjukkan senyuman teduhnya, menunjukkan bahwa ia begitu senang bertemu dengan El saat ini.
Namun sebaliknya, El bertambah muak ketika wanita tersebut telah memberanikan diri untuk berdiri berhadapan dengannya.
***********************************
__ADS_1