Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
17. Perubahan El (2)


__ADS_3

Bandara Soekarno Hatta.


Siapa yang tidak mengenal bandara internasional tersebut, Bandara besar nan luas selalu ramai dipadati pengunjung. Semakin bertambahnya tahun Bandara ini tak pernah sepi pengunjung, bangunan serta fasilitas yang sudah terlihat modern siapapun bisa menikmatinya.


Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, Milly dan Ruby telah tiba di Terminal 2 Bandara. Theo, kekasih Ruby mendorong troli yang berisi 4 koper menuju tempat cetak tiket bersama Milly dan Ruby. Setelah tiket dicetak, mereka menunggu Adit DKK tiba di Bandara. Waktu keberangkatan pukul 21.15, masih ada sisa 3 jam lagi untuk check-in.


Sambil menunggu mereka memutuskan untuk makan malam dahulu di sebuah restoran ternama disana.


Setelah makan malam mereka kembali menunggu di tempat duduk lorong terminal, berdekatan dengan pintu masuk check-in, masih menunggu kehadiran mereka yang belum kunjung tiba. Waktu tersisa 1 jam lagi untuk check-in, namun Adit DKK belum datang juga. Milly kembali menelepon Adit yang diangkat oleh Karmila, mengatakan bila mereka sedang terjebak macet.


Setengah jam kemudian mereka tiba di Bandara dan berjalan cepat menghampiri Milly, Ruby dan Theo.


"maaf lama. Macet banget tadi di jalan," jelas Adit dengan nafas sedikit memburu. Perjalanan di jam sibuk Ibukota memang sebuah cobaan untuk setiap orang yang ingin segera mengundurkan diri dari keruhnya aktifitas.


Tak heran jika mereka akan terjebak macet, meski berusaha pulang tepat waktu. Itu sudah menjadi konsumsi sehari-hari penduduk Ibukota.


Dengan segera Adit menggantikan posisi Theo membawa troli, tak lupa pria itu mengucapkan terima kasih atas kebaikan pria itu karena sudah mengantar 2 gadis kecil nya ke Bandara dan menemaninya.


"aku pulang dulu ya, kabari aku kalau kamu sudah sampai di Villa."


Ruby mengangguk seraya tersenyum, "iya, kamu hati-hati bawa mobilnya. Kabarin juga kalau kamu udah di rumah."


Aktifiktas kecup mengecup Theo dan Ruby berhasil membuat orang lain tersipu malu menyaksikan mereka. Bahkan Wahyu dan Edwin tak sungkan bersiul menggoda. Sementara Adit dan Karmila hanya membelalak melihat perlakuan manis Theo.


"duh enak banget yang punya pacar. Kita kapan ni, Yu ?" goda Edwin menatap temannya sedang menggeleng kepala. Wahyu menenggerkan sebelah tangan ke pundak Edwin.


"kita nanti cari di Bali. Inget, Bule Eropa. Mereka lebih aduhai,"


Edwin mengacungkan ibu jarinya, tanda setuju. Kemudian mereka cekikikan sendiri.


Milly yang melihat kelakuan 2 teman Adit hanya menggeleng kasian. Dampak kelamaan jomblo begitu. Dalam hati Milly berharap semoga dia tidak akan seperti itu sangking lamanya dia sendiri, atau dampak dari ketidakjelasan El padanya.


"kalian sudah makan belum ? Aku bawain snack nih," tawar Karmila kepada Milly dan Ruby. Mereka spontan menggeleng kepala,


"kita udah makan kok kak," terang Milly. Karmila mengangguk paham sambil tersenyum.

__ADS_1


"Dit, telepon El dong. Dia ke toiletnya lama banget," pinta Karmila pada Adit, mengingat mereka harus segera check in, takut terlambat. Apalagi bawaan mereka cukup banyak, akan susah jika mereka harus berlari mengejar jadwal keberangkatan pesawat.


Sebelum Adit menelpon El, El sudah tiba menghampiri mereka. Munculnya El membuat Milly dan Ruby menatap pria itu tanpa berkedip.


Masih berpakaian 1 set jas berwarna biru dengan kemeja putih. Tanpa lilitan dasi saja kharisma El terpancar jelas, membuat beberapa pengunjung yang berlalu lalang menatap dengan tatapan terkesima.


Bahkan jambul panjang El telah dipangkas rapih, terlihat messy. Bukan hanya Milly saja meneguk ludah susah payah, Ruby melakukan hal yang sama. Sedinginnya El seperti es batu, sampai kapanpun Ruby tidak akan menampik jika pesona El melebihi Theo. Itu adalah sebuah fakta, bukan sikap pengkhianatan terhadap Theo.


Yaelah nih orang kenapa ganteng banget sih ! Batin 2 gadis itu serempak tak mengerti. Seolah Tuhan bertindak tidak adil ketika menciptakan makhluk hidupnya, El diciptakan dengan rupawan seperti dewa.


"sorry lama. Tadi ngantre," El memberikan alasannya ketika mendapati wajah suntuk dari teman-temannya.


Dengan segera Ruby membagikan tiket pesawat sesuai nama masing-masing, lalu mereka mulai melangkah masuk untuk segera check-in.


**********************************


Langkah Milly tersendat, menunggu orang-orang di depannya bergantian mencari nomor kursi kabin. Hingga dia tiba di nomor 32c, nomor tempat duduknya yang tercetak di lembar tiket. Posisi duduknya berada di pinggir bersama 2 orang sepasang telah duduk di kursi mereka, perlahan Milly duduk disana dengan perasaan gelisah.


"Mil, kamu duduk disini ?" tanya Adit saat di samping Milly. Ketika Milly mengangguk, Adit langsung meminta Wahyu untuk berpindah posisi dengan Milly, agar Milly bisa duduk bersebelahan dengannya. Wahyu bangkit bersama dengan Milly untuk berganti tempat, kemudian gadis itu duduk di kursi tengah, bersama Adit yang duduk di dekat jendela pesawat dan El duduk di kursi pinggir.


Speaker pesawat berbunyi, suara serak sang pilot menginformasikan bila pesawat akan lepas landas beberapa menit lagi. Milly segera memasang sabuk lalu earphone di telinga, kemudian tangan kanannya meraih tangan kiri Adit untuk dia genggam.


Adit berucap lirih pada Milly, mengatakan semua akan baik-baik saja. Genggaman Adit menenangkan Milly yang takut naik pesawat, untuk itulah Adit meminta Wahyu menukar posisi duduk mereka, agar Adit bisa menggengam tangan Milly yang sudah terasa panas dingin.


Sebelum lampu kabin dipadamkan, para pramugari cantik memberikan gerakan instruksi tentang prosedur penerbangan di pesawat, tata cara memakai sabuk, tata cara menggunakan pelampung, dan memberi arahan bila pesawat dalam keadaan darurat.


Sambil memperhatikan para pramugari menginstruksi, Milly mengatur nafasnya sebisa mungkin, juga mengatur emosinya setenang mungkin, terus memberikan sugesti positif bahwa perjalanan mereka hanya sebentar, akan menyenangkan dan tiba di Bandara Ngurah Rai dengan selamat. 


Roda pesawat mulai berjalan lambat, Milly masih mengatur nafasnya sebaik mungkin. Detak jantungnya semakin terpacu ketika roda telah berhenti di tempat, menandakan pesawat sedang berancang-ancang untuk segera lepas landas.


Lampu dipadamkan, sebagaimana prosedur pesawat berjalan, para penumpang langsung mematikan ponselnya dan menikmati perjalanan mereka yang akan ditempuh selama 1 jam lebih. Entah untuk membaca buku, bermain games, mendengarkan lagu atau sejenak menutup mata hingga mereka tiba.


Roda berjalan cepat membuat Milly mengeratkan genggamannya pada Adit. Adit membalas genggaman itu, ibu jarinya mengelus punggung tangan Milly agar gadis itu sedikit tenang. Milly kembali mengatur nafas dan detakan jantung, terasa sebentar lagi pesawat akan terbang ke udara.


Roda pesawat naik dan berhasil mengudara dengan stabil, posisi pesawat terus menukik naik, berusaha menggapai awan.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian posisi pesawat sudah lurus sejajar, lampu telah dihidupkan lagi dan terdengar lagi suara rekaman pilot mengijinkan para penumpang untuk melonggarkan sabuk pengaman. Kedua mata Milly kembali terbuka setelah terpejam beberapa menit dan perasaannya sedikit tenang karena posisi pesawat sudah sejajar.


Saat Milly melihat kedua tangannya, nafasnya kembali tersendat, dia terkejut melihat tangan kirinya juga digenggam oleh tangan kanan El. Milly berfikir keras, sejak kapan pria itu menggengam tangannya, bahkan genggamannya terkepal erat padahal pria itu tertidur.


Milly memastikan itu dengan menatap wajah El secara dekat, kedua mata El benar terpejam, nafasnya mendera teratur, terlihat pria ini memang sedang tidur.


Berniat ingin melonggarkan genggaman pria itu tapi Milly tak sanggup. Antara takut membangunkan pria itu atau dia sendiri tidak ingin genggaman ini terlepas. Milly kembali dibuat bingung dengan sikap El yang sekarang.


Mengalihkan degup jantung tak kunjung reda, Milly melirik ke arah samping, dimana posisi duduk Ruby bersebalahan dengan Karmila dan Edwin.


Terlihat Ruby dan Karmila sedang asik mengobrol serius, membiarkan Edwin yang tertidur sendirian di dekat jendela. Agak sedikit aneh melihat Ruby langsung akrab dengan Karmila, karena Milly tahu jika sahabatnya ini kurang suka dengan Karmila, apalagi saat gadis itu tahu kalau Karmila adalah wanita yang El sukai.


Tapi saat ini Ruby sangat fokus memandangi Karmila menceritakan sesuatu, Milly tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi Milly tahu pembahasan mereka sangat serius. Terlihat dari mimik wajah Karmila.


Melihat Milly yang memandangi mereka berdua, Karmila melambaikan tangan kepada Milly, membuat Ruby menoleh ke arah Milly dan ikut melambaikan tangan sambil tersenyum.


Milly hanya membalas dengan sekilas senyuman, karena saat ini badannya lemas tak bertenaga, dimana tangannya masih digenggam kuat oleh 2 pria ini.


***********************************


Beberapa menit yang lalu.


El membuka matanya saat lampu kabin dipadamkan. Dia menoleh pada Milly yang sibuk memaksakan matanya untuk terpejam, lalu manik coklat El melihat tangan kanan Milly digenggam kuat oleh Adit. Lalu El melihat ke arah Adit, melihat sahabatnya sibuk memperhatikan Milly yang sedang gelisah.


Kemudian tatapan El berpindah ke tangan kiri Milly, meski gelap El masih bisa melihat tangan itu bergerak gemetar. Tanpa berpikir panjang El menautkan telapak tangan kanannya ke telapak tangan Milly, lalu menyatukan jemari nya. Tanpa diduga Milly mengeratkan genggamannya saat pesawat mulai melayang ke udara, El ikut mengeratkan genggamannya lalu memandangi reaksi wajah Milly.


Antara senang dan bingung, El berpikir apakah Milly sadar jika tangan mereka saling bertautan, atau gadis ini masih nggak sadar karena rasa takutnya lebih besar. El memang sudah tahu sejak awal jika Milly memiliki rasa takut ketika naik pesawat.


Tapi siapa yang peduli, El menikmati kesempatan ini dengan sebaik mungkin. Walau gelap namun El masih bisa menangkap jelas wajah manis Milly, terdengar juga suara nafas yang sedang diatur sedemikian rupa, dan sesekali gadis itu menggigit bibirnya untuk meredam rasa takut yang menerpa. Namun El jadi merasa gemas sendiri, hingga bibirnya ikutan dikulum ketika gadis itu kembali menggigit bibirnya.


Merasa posisi pesawat sudah stabil, El membenarkan posisi duduknya lalu memejamkan matanya tanpa melonggarkan genggamannya sedikitpun. Tak lama lampu kabin dihidupkan kembali.


Dibalik terpejamnya El yakin jika Milly sedang menatapnya secara dekat, memastikan jika El benar sedang tertidur. Pria itu mengatur nafasnya setenang mungkin, namun tangannya masih bertahan untuk tidak dilonggarkan.


Dalam hati El menyeringai puas, dia akan menikmati kesempatan langka ini selama beberapa menit kedepan.

__ADS_1


***********************************


__ADS_2