
"ni dek Milly minumannya,"
Bi Ana meletakan gelas yang berisi es sirup diatas meja ruang tengah. Milly mengucapkan terima kasih pada Bi Ana dan kembali membaca buku Ekonomi lalu menulis di buku tulis nya.
Milly merebahkan punggungnya ke senderan sofa, lalu mengibaskan tangan kanannya yang terasa kebas akibat menulis di beberapa lembar buku.
Ponsel Milly berdering, tertera nama Ruby di layar ponselnya. Milly meraih ponselnya di atas meja dan menjawab panggilan video itu.
"Mil, baru selesai ngerjain PR yah ?"
"hmm.." singkat Milly.
"Mil, besok temenin gue ke Mall ya buat beli baju baru. Pas pensi nanti penampilan gue harus kece, hehe"
Milly menaikan alisnya, tertegun sesaat, "bukannya belum lama kita ke Mall ya nemenin lo beli baju baru ?"
"itu kan bajunya beda Milly. Kemarin kan bajunya buat acara kondangan keluarga gue, bukan buat pensi."
"lah kan nanti lo modern dance ada baju kostumnya ?" tambah Milly sedikit heran.
"iya, tapi pas udah selesai kan gue harus pakai baju yang beda Mil. Apalagi nanti ada musisi terkenal,"
Milly menghela napas nya, mau berdebat pun ia akan kalah dengan Ruby. Sebelum Milly mengiyakan permintaannya Ruby akan selalu berusaha membuat Milly berkata "iya" padanya. Ruby memang tipe orang yang ingin penampilannya selalu terlihat berbeda, tak heran jika Ruby terkenal modis di sekolah SMA Sawarna.
"ya sudah," jawab Milly pasrah mengiyakan permintaan sahabatnya.
Ruby bersorak girang. Seolah dia memenangkan undian.
"oh iya, Kak Adit mana ? Kayanya rumah lo sepi banget ?" Ruby melirik ke kanan dan ke kiri dari layar ponsel Milly. Mencari sosok yang ia cari.
"Kak Adit pergi, belum pulang."
Ruby mengangguk, "oh gitu,"
Ruby kembali membuka pertanyaan.
"Kak El belum pulang dari Jogja ?"
Ada jeda sebelum Milly menjawab.
"belum."
Ruby menghela napas.
"besok lo ajak Nathan nonton bioskop gih. Gue udah beliin kalian tiket nontonnya, besok lo senggang kan ?"
__ADS_1
"kok lo tiba-tiba beliin tiket ? Kalau Nathan nggak mau gimana ? Kan sayang tiketnya," Milly sedikit terkejut mendengar Ruby telah membelikannya tiket nonton tanpa persetujuannya. Sahabatnya satu ini memang getol bantuin Milly buat move on.
"kalau lo ajakin dia pasti dia nggak bakal nolak lah. Apalagi nonton berduaan sama lo, dia kan udah lama pengen ngajak lo nonton tapi dia sungkan."
Milly menimbang ajakan Ruby. Nggak ada salahnya juga jika ia pergi menonton dengan Nathan. Hanya sekedar nonton saja.
"ayolah Mil. Ini saatnya lo move on dari Kak El, dan mulai berani PDKT dengan Nathan. Mau sampai kapan lo gantungin Nathan terus ?"
"gue nggak gantungin Nathan, Rub. Lo dan orang-orang aja anggap gue begitu," elak Milly.
"ya anggap aja Nathan kaya lo. Dia udah suka sama lo sejak lama seperti lo suka sama Kak El, tapi terang-terangan Tuhan udah kasih petunjuk ke lo kalau Kak El malah sukanya sama Kak Karmila. Dan mungkin itu juga petunjuk Tuhan buat lo biar lo liat keberadaan Nathan."
"jadi.. Bukalah sedikit hati lo buat Nathan. Liat usaha dia yang selalu berusaha buat nyenengin lo Mil. Jangan kelamaan butanya, kasian hati lo." Ruby mulai menunjukan rasa kesalnya sendiri. Sudah jelas ada laki laki bernama Nathan suka sama Milly tapi Milly malah suka sama pria yang tidak suka dengannya.
Kan dedek Ruby jadi gemes.
"Rub, gue ngga mau kalau Nathan mikirnya gue deketin dia karena terpaksa. Apalagi dia udah tau kalau gue suka sama Kak El, dan gue lagi mau move on. Gue ngga mau jadiin Nathan pelampiasan, dan gue ngga mau Nathan beranggapan kayak gitu."
Ruby menghela napasnya, berusaha menyadarkan pikiran sahabatnya untuk bisa bergerak maju. Sudah saatnya gadis itu meluapkan perasaannya yang tidak akan ada hasilnya. Mau nunggu El sampai kapan ?
"*gue tau memang secara kasarnya lo kaya gunain Nathan buat lo cepet move on. Tapi hasilnya lo akan bisa lupain perasaan lo sama Kak El, dan lo akan suka dengan Nathan."
"percaya deh sama gue. Bakal berhasil kok. Jadi sekarang lo ajak Nathan pergi nonton ya. Gue tunggu kabar dari lo*."
Milly menghela napas setelah sambungan video call terputus. Setelah terdiam beberapa menit, Milly meraih ponselnya dan memberikan sebuah pesan, mengajak Nathan untuk pergi nonton bersamanya esok hari.
Sebuah mobil terparkir di halaman rumah berbentuk minimalis berlantai 2. Dari pintu kiri mobil keluarlah Milly dengan pakaian feminim, gadis manis itu memakai baju dres berenda selutut berwarna pink, memakai asesoris berwarna putih dan rambut panjangnya tergerai indah. Disusul Nathan yang berpakaian modis ikut turun dari pintu kanan lalu berjalan dibelakang Milly.
Lalu langkah mereka terhenti di depan pintu.
"makasih ya Nathan, udah mau nemenin gue nonton." ucap Milly setelah menghadap ke posisi Nathan, tinggi Milly yang hanya sampai ke leher Nathan membuat laki-laki itu sedikit menunduk memandangi wajah Milly.
Nathan tentu sangat senang karena wanita pujaannya sendiri mengajaknya nonton bioskop, bahkan film tersebut bergenre romantis. Yang Nathan tahu, Milly nggak begitu suka pergi menonton bioskop. Namun saat mereka menonton Milly terlihat menikmati film tersebut, menikmati waktu berdua mereka.
Nathan mengembangkan senyuman khasnya, "justru gue yang makasih Mil karena udah diajak nonton. Filmnya seru banget."
"makasih Mil."
Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Seperti yang dikatakan Ruby, akan menyenangkan pergi jalan berdua saja dengan Nathan. Untuk pertama kalinya mereka pergi berdua seperti ini, meski mereka sering jalan berdua namun ini pertama kali mereka pergi dengan tujuan berkencan.
Nathan langsung pamit pulang dan bergegas membawa mobilnya keluar dari pekarangan rumah Milly. Milly masuk ke dalam rumah dan melangkah menaiki anak tangga.
"Mil,"
Milly menoleh ke arah bawah, melihat Adit berdiri di sisi tangga. Pria itu sudah memakai piyama dengan gelas berisi susu coklat di genggamannya.
__ADS_1
"baru pulang ?"
"iya kak." Milly mengangguk.
"kakak mau tidur ?" tanya Milly, melihat Adit selesai meneguk susu nya sampai habis. Adit mengiyakan ucapan Milly.
"iya,"
"kamu abis jalan-jalan kemana aja sama Nathan ?" tanya Adit.
"kami hanya nonton dan beli crepes aja kak."
Adit ber-oh ria sambil mengangguk paham.
"oh iya, hari Sabtu kamu dateng ke pensi sekolah kamu dek ?"
"dateng lah kak. Aku kan panitia acara disana," balas Milly.
Adit mengangguk lagi.
"kemungkinan kakak juga bakal dateng kesana Mil, sekalian liat penampilan kamu."
"loh kakak emang nggak kerja ?" tanya Milly sambil mengerutkan dahi.
"kerja, tapi kakak udah ijin buat mampir kesana dan dibolehin sama atasan."
Milly mengangguk paham.
"aku nggak manggung kak, aku cuma jadi panitia aja. Tapi Ruby manggung kok, dia nanti nari modern."
"loh, kok kamu nggak manggung ? Kenapa ?" tanya Adit.
"nggak apa apa, aku pengen jadi panitia aja."
"oh gitu," balas Adit.
"nanti El dan Karmila ke sekolah kamu duluan. El diminta ikut jaga stand sponsor soalnya, bareng teman-teman lain."
Kali ini Milly hanya tersenyum getir. Sudah hampir 2 minggu ia belum menampaki wajah tampan El. Pria itu extend di Jogja karena masih ada pekerjaan yang belum ia selesaikan.
Bersama Karmila tentunya.
"aku ke kamar ya kak. Ngantuk."
Milly kembali beranjak menuju kamarnya, meninggalkan Adit yang masih terpaku berdiri menatap punggung Milly dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
***********************************