Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
08. Pensi SMA Sawarna (1)


__ADS_3

Tibalah di hari Sabtu.


Dimana acara pensi SMA Sawarna akan segera dimulai. Sejak jam 6 pagi semua panitia acara telah tiba di sekolah untuk kembali melakukan persiapan, meski persiapan tersebut sudah selesai sejak kemarin. Mereka kembali sibuk dengan tugas masing-masing, supaya tidak ada yang terlewatkan.


Saat ini Milly sedang berada di area panggung bersama temannya bernama Hendra, gadis itu mulai mengecek dari jalur kabel, tes vokal mic, hingga tata letak alat musik. Sedangkan Hendra mengecek volume sound di belakang panggung agar nanti tidak terlalu bising. Setelah selesai, Milly dan Hendra memberi centang di selembar kertas yang telah dibagikan oleh ketua panitia.


Tak terasa 1 jam lagi acara akan segera dimulai, sekarang Milly beralih ke ruangan pengisi acara untuk mengulang apa saja susunan rundown acara. Sesi pertama akan diisi oleh beberapa kata sambutan dan pidato dari kepala sekolah, kemudian acara potong tumpeng dan terakhir diisi dengan pertunjukan bakat siswa siswi SMA Sawarna serta musisi terkenal yang telah diundang oleh pihak sekolah.


Setelah itu mereka langsung berkumpul bersama para panitia. Mereka mulai awali dengan berdoa terlebuh dahulu yang dipimpin oleh Nathan sebagai ketua panitia, lalu bersama- sama mereka saling mengulurkan tangan dan menyoraki yel-yel sekolah SMA Sawarna, membuat semangat mereka semakin berkobar.


Dari jendela ruangan pengisi acara, Milly melihat posisi stand minuman yang akan disinggahi oleh El. Stand tersebut sudah didatangi oleh beberapa orang, sudah sibuk mendirikan Banner dan menyusun rak minuman diletakkan di sudut dan di atas meja yang tersedia di sana. Terlihat juga ada 3 orang wanita cantik berdiri disana sebagai SPG, sudah mulai menawari minuman kepada para pengunjung acara.


Acara tersebut bisa dibilang terbuka untuk umum. Siapapun bisa datang menyaksikan acara yang memang sengaja dibuat heboh oleh pihak sekolah. Apalagi mereka tak sungkan mengundang musisi terkenal yang sedang booming di masyarakat luas, meski seperti itu pihak sekolah meminta para penjaga untuk berjaga ketat dan teliti memeriksa bawaan para pengunjung jika mereka membawa barang dan peralatan yang dihindari masuk ke lingkungan sekolah.


Milly mendesah lega karena seseorang yang ingin dia hindari belum menunjukan batang hidungnya. Namun berbeda dengan alunan detak jantungnya, alunan tersebut berirama kencang memenuhi rongga dada. Entah dia tak sabar ingin melihat El atau sebaliknya. Milly masih dibuat bingung oleh kemauannya sendiri, tekadnya sudah terkumpul akan menjauhi El, namun hatinya menggoyahkan tekad itu.


Lamunan Milly buyar ketika Hendra memanggilnya, meminta Milly untuk untuk berada di sisi panggung agar menginfokan MC memulai acara.


Acara sudah dimulai. 2 orang MC yang berasal dari kelas 3 jurusan IPA membuka acara dengan sapaan hangat. Acara dimulai dengan kata sambutan dari kepala sekolah SMA Sawarna, Bapak Antoni Herlambang. Setelah itu disusul dengan sesi kata sambutan dari Walikota yang sudah hadir untuk naik ke atas panggung. Walikota memberikan kata ucapan selamat atas perayaan ulang tahun sekolah yang ke 17 tahun, dan juga turut memberikan semangat teruntuk murid kelas 3 yang akan menghadapi ujian nasional nanti.


Sementara di stand berwarna biru seterang lautan sudah terlihat ramai dikunjungi beberapa pengunjung. Selain membeli minuman yang terpajang diatas meja dengan paket harga murah, pengunjung yang rata-rata siswi SMA Sawarna begitu antusias membeli minuman disana demi melihat seorang pria tampan yang sedang melayani para pengunjung dengan senyuman simpul.


Karmila sedikit kewalahan dengan para pembeli yang notabene membeli minuman hanya untuk melihat El dan berharap bisa berkenalan dengannya. Dan terkadang Karmila kesal sendiri dengan tingkah histeris mereka seolah melihat dewa surga turun dari langit. Tak tanggung-tanggung beberapa pembeli tidak malu mengatakan ingin dilayani dengan El seorang, dan mereka nekat memberikan selembar kertas kecil kepada El berisi digit nomor ponsel agar El dapat menghubunginya.


Dengan hati yang berusaha keras dilapangkan seluas samudera, Karmila menahan diri agar tidak mencibir dan mendengus sinis ke para pembeli. Bagaimana pun dia dan teman-teman diberi target tinggi untuk menjual produk mereka.


Acara baru dimulai 1 jam yang lalu tetapi persediaan minuman mereka hampir sisa setengah dari mereka bawa sebelumnya.

__ADS_1


"kita hubungi orang gudang buat nganter minumannya lagi nggak, El ? Sisa 20 dus lagi nih," salah satu rekan bertanya pada El, melihat sisa dus yang berada di belakang stand sudah menipis dari 50 dus yang mereka bawa diawal. Antusias pengunjung membeli minuman hanya ingin melihat El memang luar biasa.


"iya, kabari pak Mun aja buat kirim lagi 30 dus." sahut El kemudian setelah melayani pembeli yang mengajaknya kenalan. El kewalahan, ia duduk di kursi yang sudah disediakan lalu meminum minumannya.


Tak terelakan bila El memang dikagumi, termasuk di lingkungan kantornya. Banyak karyawan wanita muda diam-diam menyukai El, tidak hanya tampan tapi El juga berprestasi dalam bekerja. Jadi tidak heran Senior Head Marketing Suvervisor menunjuk El sebagai Junior nya.


"udah liat Milly, El ? Aku belum ada liat dia dari tadi," Karmila celingak celinguk di sekitar sekolah, mencari Milly di kerumunan orang, berharap apa yang ia cari menunjukan diri.


El masih diam, meneguk minumannya hingga habis tak tersisa. Ia dengar jika Karmila mencari Milly, tapi dia tidak menjawab apa yang Karmila katakan.


***********************************


Milly memanggil nama regu yang akan mengisi acara selanjutnya setelah pertunjukan paduan suara.


"The Diamonds, siap-siap yah!"


Ruby dan teman grupnya berdiri dari posisi duduk mereka memandangi Milly. Mereka berteriak OK pada Milly, gadis itu membalasnya dengan anggukan.


Milly mencentang di selembar kertas yang berisi susunan rundown. Kemudian bibirnya berbicara dengan walky-talky kepada rekan panitia untuk mempersiapkan sesi acara selanjutnya.


Dari sisi panggung Milly melirik kearah kanan, dimana stand sponsor sudah mulai aktif berdiri di sana. Pandangan Milly ke arah stand berwarna biru laut, dari jauh ia melihat sosok yang tidak ingin ia lihat hari ini.


Pria itu berpakaian sama persis dengan para rekan nya, kaos polo berwarna biru laut senada dengan warna stand, dengan celana jeans hitam panjang dan spatu kets berwarna hitam. Rambut memanjang sudah ia pangkas menjadi rapih, memakai asesoris jam tangan hitam dipergelangan tangan kirinya sangat pas di diri pria itu.


Penampilan El berhasil memikat siswi SMA dan beberapa pengunjung perempuan agar mendekati stand minumannya. Bahkan El tak segan menyapa dan senyum ke para perempuan tersebut. Milly hanya tersenyum getir dan segera kembali menyibukan dirinya.


**********************************

__ADS_1


Acara sudah mendekati jam makan siang. Nathan dan beberapa rekan panitia sudah sibuk membawa kardus coklat besar berisi kotak makan untuk dibagikan ke para pengisi acara.


Saat membagikan kotak makanan, Nathan melihat Milly sedang berargumen dengan teman sekelasnya. Nathan meminta temannya untuk melanjutkan membagi makanan, sedangkan dia menghampiri Milly yang terlihat kelimpungan.


"ada apa Mil ?" Nathan menepuk bahu Milly. Wajah Milly tertekuk lesu memandangi wajah Nathan.


"ada apa Dion ?" tanya ulang Nathan kepada temannya yang menjadi teman argumen Milly. Wajah Dion justru terlihat panik.


"bentar lagi Band gue manggung Nat. Sampai sekarang Caesar nggak dateng, dan mungkin nggak bakal dateng. Mendadak penyakit nyokap nya kambuh jadi harus nemenin nyokapnya berobat ke RS." jelas Dion panik dan ada sedikit nada kecewa. Bukan karena temannya tidak bertanggung jawab, mengingat waktu manggung mereka begitu mepet, setelah jam makan siang selesai. Harusnya tadi pagi Dion dan kawan-kawan sudah bergerak cepat untuk mencari pengganti Caesar.


"nggak ada yang bisa gantiin Caesar ?" tanya Nathan.


"kalau ada, kita nggak bakal kelimpungan gini Nat. Gue sama Milly juga bingung siapa yang bisa gantin Caesar."


Dion dan Milly mendesah. Milly sendiri bingung, jika Dion batal manggung ia bingung untuk mengatur ulang susunan rundown. Nggak mungkin dia bisa majukan susunan tersebut. Jika dipercepat atau diganti, Milly sendiri tidak tahu dengan sesi acara apa untuk mengganti sesi Band Dion.


"temen sekelas nggak ada yang bisa main Drum selain Caesar ?" tanya Nathan lagi. Memastikan jika semua pertanyaan di pikirannya tidak bisa diharapkan.


"ya saat ini cuma Caesar yang bisa. Tau nya mendadak nggak dateng."


Mereka terdiam sejenak.


"nanti lo bawain lagu apa Yon ?" tanya Nathan lagi.


"gue mau bawain lagu bertema pop-rock. 3 lagu aja padahal."


"hmmmmm..."

__ADS_1


Nathan berpikir. Sepertinya Nathan harus bekerja ekstra keras dalam beberapa menit lagi.


*****************************


__ADS_2