
Hai readers,
Chapter ini sebagian penggalan kata ada kata kasar, kemungkinan pihak ketiga bakal sensor.
Happy reading ..
************************************
elum ada beberapa menit El menenangkan diri, sekarang ia harus kembali merasakan luapan amarah. Kali ini dengan Adit, sahabatnya.
Tatapan nyalang dilayangkan diantara mereka, baik El dan Adit tidak ada yang memutuskan pandangan. Kepalan tangan juga sudah mereka siapkan, tinggal waktu yang pas untuk melayangkan pukulan.
Pikiran mereka benar-benar stuck, kesadaran bahwa mereka bersahabat hanya sehelai kertas, karena sekarang mereka sudah saling menganggap sebagai rival tangguh. Melihat Milly menangis di mobil menjadikan alasan mereka saling diam berhadapan sambil bersitatap tajam.
"lo ngomong apa sama Milly sampe dia nangis ?" sinis Adit dengan wajah mengetat. Setelah mengintip Milly menangis sesegukan di dalam mobil sendirian sukses membangunkan singa yang tertidur di dalam diri Adit.
Adit tidak akan biarkan seseorang menyakiti Milly dan membuatnya menangis. Tidak ada kata maaf untuknya, meski orang itu adalah El.
El menyunggingkan smirk andalan, namun kali ini terkesan gelap.
"gue bilang dia gadis penggoda." aku El datar dan langsung dihadiahi jap dari Adit. El gontai namun berusaha untuk tidak terjatuh, namun pukulan Adit berhasil merobek sudut bibir El. El berdarah, lalu ia membuang saliva darahnya kemudian menyunggingkan senyum lagi.
Mendapati El tersenyum Adit menarik kerah kaos polo El dengan kuat dengan wajah murka, membuat mereka kembali berhadapan lagi, nafas mereka mulai memburu dan menerpa wajah satu sama lain.
"lo udah bikin adik gue nangis, dan lo senang ?!"
El menaikan sebelah alisnya, lalu mendengus sinis. "senang ? Lo pikir gue senang ?! Lo liat gue senang darimana Dit ?!"
Adit tergelak sinis mendengar ucapan El.
"lo bikin adik gue nangis, dan lo tadi tersenyum ******* !"
"tersenyum ?" El mengulang ucapan Adit, lalu El tersenyum sambil berdecak berkali-kali, melakukan apa yang Adit katakan. Beberapa detik kemudian ekspresi wajah El berubah lagi, begitu dingin sembari menatap Adit begitu tajam, seolah ia ingin menembus kepala Adit.
"gue emang udah bikin Milly menangis Dit. Tapi mudah buat gue bikin Milly tersenyum lagi. Lo nggak usah kuatir,"
"yang gue pikirin sekarang adalah kenapa lo biarin pria brengsek itu peluk Milly seenaknya ?"
Adit mengerjap gelisah, wajah bersalahnya mulai terpampang, "gue.."
"sibuk sama Karmila ? Iya gue tau itu. Untuk itu harusnya lo berterima kasih sama gue, bukan lo pukul gue kayak tadi."
"gue....."
"apa ? Merasa bersalah ? Telat. Tapi okelah, gue terima permohonan maaf lo. Tapi ada syaratnya," senyuman miring kembali dilayangkan di wajah El, tidak peduli dengan rasa sakit yang terus berdenyut di bibirnya.
Ada jeda sejenak sebelum Adit menggeleng kepalanya pelan, Adit tahu maksud dari arah pembicaraan El, "lo emang udah nyelamatin Milly, El. Tapi lo nggak bisa buat gue narik aturan yang kita buat diawal. Gue belum bisa,"
__ADS_1
"bisa Dit. Belum terlambat." ujar El tegas.
"nggak El. Lo.."
"dan seharusnya disini gue yang marah sama lo. Lo udah melanggar kesepakatan kita, lo lengah jagain Milly, kalo pria itu berhasil bawa Milly kabur dan Milly diapa-apain siapa yang salah disini, gue atau lo ?"
Adit merenung, membenarkan kalimat terakhir El. Adit menghela nafas.
"make it simple, man. Lo tinggal tarik semua aturan lo, selesai. Gue nggak minta macem-macem. Dari dulu permintaan gue ke lo selalu sama, nggak berubah."
Adit buru-buru menggeleng kepala, "gue masih belum bisa El. Gue.."
"ijinin gue deketin Milly mulai sekarang, Dit. Apa susahnya sih ? Kurangin *sister-complex lo. Nggak usah kuatir karena gue masih tau batasan. Gue udah nggak tahan sama semua kesalahpahaman yang Milly pikirkan terhadap gue. Gue nggak mau perasaan Milly beneran menghilang buat gue, Dit." erang El frustasi. Sekilas ia menarik rambutnya sendiri, El menahan geram.
Tidak. Adit belum siap jika perhatian Milly akan bercondong pada El sepenuhnya. Adit belum siap melihat El bersama Milly.
Belum siap, belum sanggup. Apalagi El sudah berhasil buat Milly menangis secara langsung. Adit belum sanggup lepasin Milly ke pelukan El.
"tapi gue masih nggak terima lihat Milly nangis karena lo, El.."
"gue emosi, gue kepalang cemburu *******!" bentak El. Sejenak ia memijit keningnya, pening mulai merambat jika sedang beradu mulut dengan Adit.
Rasa cemburunya sudah nggak bisa diajak kompromi. El tahu jika Milly tidak ada dan tidak akan pernah menggoda pria manapun, termasuk dengan pria bule yang menjadi sasaran empuk kemarahan El tadi.
Tapi tetap saja El tidak bisa menahan emosinya.
Adit yang mendengar jawaban El mendengus sinis, "cemburu ? Nggak pantes lo bilang cemburu. Lo nggak suka Milly dipeluk orang tapi lo malah dipeluk sama Paulette."
Iya. Adit tahu itu. El harus melobi seorang Business Woman cantik asal Meksiko bernama Paulette Steele. Sebelumnya El dan Paulette bertemu di pertemuan Meeting tadi siang. Dan atasan El ingin Paulette menyetujui kontrak kerja sama yang perusahaan mereka buat. Apalagi perusahaan yang Paulette naungi sedang berkembang pesat, cocok untuk berkolaborasi dengan Orang Muda Group, ditambah ketika mereka tahu jika Paulette menyukai El, sehingga atasan tersebut meminta El untuk melobi gadis seksi itu.
Untuk itulah El terpaksa menemani Paulette ketika mereka tak sengaja bertemu di Finns tadi. Bisa dibilang El memakai peluang nakal demi sebuah kontrak kerja sialan itu: mengajak minum dan menemani gadis itu sembari sedikit membahas pekerjaan.
Namun peluang tersebut memaksa El untuk bekerja lebih keras untuk menahan godaan yang dilayangkan Paulette yang juga berusaha terus merayunya. Bagaimanapun kodrat lelaki jika dirayu kaum hawa pasti akan terpancing juga. El pun salah satunya, pikiran kotornya terhasut dengan pemandangan indah itu, secara naluriah lengannya merangkul lekuk pinggang itu.
Bahkan tubuh indah Paulette berhasil meningkatkan libido gairahnya, hampir menggoyahkan benteng pertahanan El.
Shit!
Itulah lika-liku di dalam dunia pekerjaannya. Loyalitas dan dedikasi dibutuhkan dalam sebuah pekerjaan.
Meski konsekuensinya akan seperti ini.
Pada akhirnya momen pelukannya bersama Paulette langsung berakhir ketika El menangkap Milly sedang dipeluk paksa oleh pria bule brengsek tadi, tidak berfikir panjang El langsung melepaskan pelukannya dari Paulette dan segera menghampiri posisi Milly dengan nafas menggebu-gebu karena luapan emosi.
El tidak akan pernah terima jika kepunyaannya disentuh orang.
Dan yang membuat El kembali menunjukan smirk nya saat ini ketika dimana kegiatannya bersama Paulette dilihat oleh Milly, dan Milly mengatakan hal itu dengan nada amarah yang tersegelintir rasa cemburu.
__ADS_1
El suka Milly cemburu. Tandanya Milly masih suka padanya.
"iya gue tau itu, tapi gue geli ngeliat Paulette lenjeh sama lo. Milly aja nggak suka." Adit lihat jika Milly mencuri pandang ke arah El saat itu. Kemudian pria itu menyugarkan rambutnya, lalu ia tarik nafas dan membuanganya berkali-kali, berusaha menyegarkan pikirannya dari luapan emosi.
Adit akui jika ia lengah memantau Milly. Tidak menyangka jika kejadian ini dialami oleh adiknya sendiri.
Mau bagaimana pun Adit tahu tata krama, beruntung karena El terus memperhatikan Milly. Adit berterima kasih padanya.
"Gue beneran nyesel buat dia nangis tadi. Besok gue akan minta maaf sama Milly." ujar El yang sudah merasa tenang. Melihat Milly menangis karena ulahnya bukan hal yang diinginkan El.
"iya, itu harus." Adit menyetujuinya.
"berarti gue boleh melanggar kesepakatan kita dong ?"
Adit kembali meradang, ia kembali menarik kuat kerah baju El yang sedang tergelak sinis. Jelas Adit tidak suka jika El jadikan momen ini untuk melanggar "kesepakatan" mereka.
Tak lama Wahyu, Edwin dan Karmila menghampiri mereka berdua, lalu melerai mereka.
Wahyu dan Edwin langsung menarik El dan Adit sebelum pertumpahan darah kembali terjadi. Mereka mengerang frustasi, kenapa malam minggu pertama mereka di Bali malah sibuk menghalangi orang yang sedang berajang adu kekuatan.
Karmila mulai meradang dengan kata-kata menohok.
"kalian kenapa lagi sih ? Seneng banget berantem. Dan lo, El. Lo belum puas juga setelah lo babak belurin orang ? Kalo mau berantem, sana di arena tinju, bukan disini. Kita tuh kesini buat happy-happy bukan mau melerai orang berantem. Kalian nggak kasian sama kita yang ribet urus masalah kalian berdua ?"
Sebelum datang menyusul, mereka bertiga sibuk mengurusi nasib pria bule yang seharusnya menjadi tanggung jawab El. Entahlah, mungkin hati mereka begitu mulia seperti malaikat atau bodoh karena terlalu baik.
Untung.. Ulah El nggak perlu diurus aparat penegak hukum. Bukti CCTV menerangkan bahwa bule itu benar bersalah, sehingga mereka memutuskan untuk menyelesai masalah secara baik-baik saja. Mereka hanya malas berurusan dengan aparat.
"kalian berantem karena Milly lagi ?" tanya Edwin sedikit mengerang karena emosi. Keterdiaman El dan Adit menjawab pertanyaan itu.
Hal ini sudah menjadi konsumsi Wahyu, Edwin dan Karmila sehari-hari. Baik di kantor maupun luar kantor. Dibalik kedekatan El dan Adit, mereka seperti rival yang ingin mendapatkan Milly. Sister-complex yang Adit miliki dan rasa suka El yang menggebu-gebu pada Milly selalu berakhir dengan peperangan mulut, terkadang berakhir adu pukul, sulit menekan egoisme 2 pria itu.
Namun karena El masih berfikir logika, mau nggak mau El lebih sering mengalah setelah melewati perang dengan Adit. Contohnya seperti sekarang.
Bagaimanapun Adit lah yang memegang kuasa dalam hubungan El bersama Milly nantinya. Dalam artian restu.
El masih harus berjuang keras. Sesuai kesepakatan sampai Milly sudah berada dipelukannya. El bukan tipe orang yang suka melanggar janji atau kesepakatan yang ia buat. Kembali menjalankan aturan yang Adit pinta diawal.
Yang diucapkan El untuk melanggar kesepakatan tadi hanya alibi. Tapi kalau Adit mengijinkan, El akan terima dengan senang hati.
"ayo kita pulang. Tatap-tatapannya lanjutin besok. Nanti kalian jatuh cinta, tambah susah pas pisahin kalian nanti." sindir Edwin sambil mengeluarkan kunci mobilnya di saku celana kemudian berlalu. Disusul Wahyu mengikuti langkah Edwin.
Sejenak El dan Adit memandangi punggung Edwin sambil menggerutu kesal, sedikit merinding dengan ucapan Edwin pada mereka. Namun tak lama El dan Adit melakukan tos ala pria, tanda menyudahi pertengkaran.
Kemudian Karmila berjalan dan mendorong mereka untuk berjalan menuju mobil, dimana Ruby sudah berada di dalam sana menemani Milly menangis sendirian. Sekarang Milly sudah tertidur karena kelelahan menangis.
Lalu mobil mereka berjalan keluar meninggalkan Finns.
__ADS_1
*sister-complex : suatu kondisi dimana sang kakak over-protektif kepada sang adik perempuan. Namun tidak termasuk ke dalam gangguan kejiwaan. Sumber by Google.
***********************************