Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
27. Kebaikan Nathan


__ADS_3

"Milly.."


Terlihat wajah Adit dan El terkesiap sempurna melihat kehadiran Milly yang berdiri di anak tangga bersama Ruby. Sebelum Adit menaiki anak tangga mendekati Milly, gadis itu buru-buru menuruni anak tangga, melesat pergi begitu saja dan meninggalkan mereka yang masih terpaku memandangi Milly.


Namun pikiran El mulai berprasangka buruk, mendengar Bi Ana menyeru nama Milly sedang duduk di anak tangga.


El panik, pria itu langsung melangkah cepat menyusul Milly menuju pintu untuk keluardari rumah. Pria itu berhasil menarik tangan Milly cukup kuat sehingga gadis itu berhenti melangkah sembari mendesis sakit.


"sakit kak, lepas !"


"Mau pergi kemana ?" hardik El menyiutkan nyali Milly. Namun gadis itu hanya menundukkan kepalnya, enggan menatap wajah El. Milly takut jika rasa sakitnya akan bertambah jika menatap El. Apalagi El terus menarik lengan Milly agar Milly terus berhadapan dengannya.


"kamu udah dengar apa aja tadi, Mil ?" tanya El pelan namun penuh penekanan.


Milly tidak langsung menjawab, justru ia mencoba untuk kabur dari pria itu lagi. Tahu akan pergerakan Milly, lekas El menyerobot ke posisi depan, menghalau jalan Milly. Kembali ia menarik satu tangan Milly supaya gadis itu tidak lagi mengelaknya.


"tolong lepasin kak. Sakit !"


"nggak ! Jawab dulu pertanyaan ku. Kamu dengar apa aja tadi pas kamu duduk disana ?" hardiknya lagi.


"a-aku nggak dengar apapun kok. Aku tuh mau pergi."


"jangan bohong, Mil!"


"aku beneran nggak dengar apapun kak. Aku cuma mau pergi. Aku udah janjian sama teman sekolah Milly pergi nonton. Mereka udah nungguin lama di sana." meski alibi tapi Milly jujur akan pernyataan terakhir, sedari tadi ponselnya berdering menandakan ada telepon masuk di dalam clutch gantungnya. Milly yakin itu pasti Nathan yang terus meneleponnya.


"kalo kamu beneran nggak dengar apapun disana, tatap aku Mil.”


Milly tidak mengikuti arahan El, justru wajahnya semakin menunduk. El tahu jika Milly tidak akan berani menatapnya, jika gadis itu jujur Milly akan mengangkat wajah sambil menatap mata lawan bicaranya.


"lepasin aku kak. aku buru-buru udah ada janji sama teman ku kak. Tolong," lirihnya lagi, kembali berusaha melepaskan tangannya dari cengraman El. Namun pria itu bertahan untuk tidak melepaskannya. Bahkan cengkramannya semakin kuat.


"batalin janji kamu, kamu pergi sama aku sekarang. Ada yang harus diomongin,"


Milly masih berusaha keras untuk melepaskan cekalan El, ia sedang tidak mau berbicara dengan pria berumur 25 tahun itu. "nggak kak. Aku mau pergi. Lepasin tangan Milly."


Tak lama Adit datang menyusul mereka, ia ikut mencengkram tangan Milly serta tangan El cukup kuat.


"lepasin El. Biar gue aja yang ngomong sama Milly."


"nggak. Milly akan pergi sama gue. Biar gue yang ngomong," elak El tajam.


"nggak El, biar gue yang ngomong. Lo tenangin diri dulu, tunggu gue aja,"


"Milly, ikut aku !" titah El tegas masih berusaha memperkuat cekalannya di tangan Milly. El tidak peduli jika tangan Milly memerah akibat perbuatannya, yang ia pikirkan sekarang bagaimana ia dan Milly bisa pergi dari sana dan bisa menjelaskan semuanya.


Sudah El yakini kalau Milly telah mendengar semua percakapannya, yang telah El katakan bahwa ia tidak menyukai Milly dan membiarkan teman kerjanya mendekati Milly.


Itu salah besar. Itu bukan keinginan El pribadi. Justru El ingin memukul pria itu dan ingin mengatakan jika El sangat menyukai Milly, Milly adalah miliknya seorang, tidak ada yang boleh berani mendekatinya.


Kalau bisa El akan membongkar semua rahasianya bersama Adit. Persetan dengan kesepakatan omong kosong, hal itu membuat posisinya semakin terancam untuk mendapatkan Milly.


Namun Milly menggeleng kuat, Milly sungguh tidak mau pergi bersama El, Milly ingin menjauhi El.


"tolong lepasin Milly, kak.." pinta Milly lagi. Wajahnya terlihat mulai memerah, bersiap akan ada deraian air mata.


Melihat El terus memaksa Milly membuat Adit turun tangan, ia tidak tega mendengar Milly memohon minta dilepaskan oleh El. Tapi Adit juga tidak bisa biarkan Milly pergi, Adit juga ingin meluruskan perihal hubungannya. Perasaan Adit mulai ketar-ketir, takut Milly akan kecewa padanya.


Ruby dan Karmila hanya bisa menyaksikan kedua pria itu melarang Milly pergi. Sempat Ruby ingin mendekati Milly untuk membantu temannya terlepas dari 2 pria itu, namun niatnya juga dihalangi oleh Karmila.


Dalam benaknya gadis seksi itu merasa bersalah terhadap Milly. Hubungan Adit dan Karmila serta perasaan El terhadap Milly, Ruby sudah tahu akan hal itu. Rahasia itu dibocorkan oleh Karmila, bukan karena Karmila sengaja bermulut ember, Karmila ingin Ruby mendukung El dalam hal menyemangati Milly agar tidak menyerah dengan perasaannya. Karena El pun sedang berjuang untuk menjalankan kesepakatan yang El dan Adit buat sejak lama. 


Ruby juga sempat syok saat mengetahui bahwa Adit memiliki sindrom sister-complex.


Teman-teman El dan Adit hanya ikut menyaksikan perseteruan 3 orang dengan raut penasaran.

__ADS_1


"Milly, dengar ! Ikut aku atau aku gendong paksa !" desis El mulai mengancam, membuat Milly semakin ingin menjauhinya.


"El, udah El lepasin Milly, El. Cukup-"


"nggak ada Dit. Gue nggak mau lepasin dia lagi !"


"Tapi El.."


"KAK EL, KAK ADIT, CUKUP !!"


Adit dan El membelalak mendengar bentakan Milly barusan. Jika Milly sudah membentak seperti itu, berarti kemarahan Milly sudah diluar ambang batas.


"lepasin tangan Milly. Aku nggak mau ikut kak El atau kak Adit. Tolong lepasin tangan ku.."


"nggak Mil. Aku.."


"lepas atau Milly gigit tangan kakak ?!"


"dek, kita ngomong baik-baik di dalam sama kakak ya," pelan-pelan Adit membujuk Milly, namun usahanya sia-sianya.


Milly menggeleng lagi. Saat ini dia tidak ingin melihat wajah 2 pria itu. Dengan sekuat tenaga Milly mendorong paksa kedua tangan pria itu agar berhenti mencengkram tangannya, bahkan ia turut memukul dan benar menggigit di lengan El hingga berbekas. Setelah Milly terbebas dari cekalan 2 pria itu ia buru-buru berlari menuju mobil Ruby.


Ruby langsung menyusul setelah melihat Milly berhasil terlepas dari 2 pria itu dan berlari menuju mobilnya. Lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan mereka yang terdiam menatap kepergian mereka.


***********************************


Milly tak berhenti menangis di sebuah rumah mewah bernuansa krem. Milly dan Ruby juga membatalkan janjiannya bersama teman teman sekolah untuk pergi nonton bersama di Mall ternama, dan Ruby segera membawa Milly ke rumah Nathan. Bukan ke rumah Ruby sendiri.


Setelah dihubungi oleh Ruby tentang keadaan Milly, terpaksa Nathan juga membatalkan acara mereka dan bergegas pulang ke rumah. Tampak Nathan kaget melihat Milly dipenuhi oleh air mata membasahi wajahnya. Wajahnya ikut memerah dan nafasnya naik turun. Nathan membawa Milly dan Ruby masuk ke dalam rumahnya.


Ada alasan kenapa Ruby membawa Milly ke rumah Nathan. Adit dan El sudah tahu alamat rumah Ruby, pasti mereka akan datang dan menunggu di depan rumahnya sehingga gadis berparas seksi itu memutuskan untuk membawa Milly ke rumah Nathan, dimana 2 pria itu masih belum tahu dimana lokasi rumah Nathan. Ruby paham jika sahabatnya ini tidak ingin ditemui oleh mereka dahulu.


Milly dan Ruby diajak masuk ke ruang tengah, mereka duduk disana sembari Nathan meminta ART nya untuk dibawakan beberapa minuman dan snack ringan. Nathan menatap Milly dengan tatapan iba saat ini, wajahnya begitu berantakan oleh deraian air mata.


Lalu Nathan memberanikan diri menarik bahu Milly agar bersender ke dalam dekapannya. Milly menurut, dekapan Nathan begitu hangat membuat tangisan Milly mulai mereda perlahan.


Dengan berat hati, Milly mulai menceritakan permasalahan yang terjadi antara Milly, El dan Adit. Nathan sempat tertegun mendengar semua cerita Milly, namun laki-laki itu kembali mengelus punggung Milly yang kembali gemetaran. Berusaha agar gadis itu merasa tenang di dalam dekapannya, menunjukan bahwa Nathan akan berada disisinya.


"Nat ?" panggil Milly dengan suara begitu serak, namun masih terdengar jelas oleh Nathan.


Nathan berdeham, menyahut panggilan Milly.


"ijinin gue nginap disini, boleh ?"


Nathan dan Ruby mendongak terkejut. Mereka memandangi Milly yang masih menunduk di dekapan Nathan.


Perasaan Milly kacau balau, ia tidak mau menemui Adit dan El dulu.


Kalau bisa untuk beberapa hari ke depan.


Untuk itu Milly meminta ijin pada Nathan untuk tinggal di rumahnya.


"hmm..hmm.. Lo serius Mil ? Nanti kak Adit cemas nyariin lo,"


"please Nathan, semalam aja. Kalo nginep di rumah Ruby yang ada gue dibawa paksa sama kak Adit dan kak El."


"pleasee Nathan, cuma semalam, abis itu gue bakal pindah ke tempat Ruby. Gue janji nggak bakal ngerepotin lo. Tidur di sofa cukup kok buat gue, gue juga bawa uang kok. Kalo gue harus bayar buat makan disini gue nggak masalah," tambah Milly terus memohon pada Nathan.


Nathan menggeleng pelan, "gue nggak mungkin berfikiran seperti itu sama lo, lo nggak merepotkan kok. Lo boleh nginap disini Mil, makan disini, tidur disini, lo bebas mau ngapain aja di rumah gue. Gue cuma nggak enak aja sama kak Adit,"


"jangan kasih tau kak Adit kalo gue disini. Kalo kak Adit nanyain ke lo, bilang aja lo nggak tau gue dimana. Please Nathan, cuma lo yang bisa bantuin gue." pinta Milly sekali lagi sambil menangkup kedua tangannya di depan dadanya.


Nathan menghela nafas, lalu ia mengangguk. Milly juga meminta Ruby untuk menginap di rumah Nathan. Karena Milly tahu jika Adit akan terus berusaha mencecar Ruby kemana Milly berada, karena Ruby yang membawa Milly pergi.


***********************************

__ADS_1


Semakin malam udara dingin mampu menusuk kulit, walau demikian Milly tak gentar untuk duduk sendirian di tepi kolam renang. Dalam hati Milly berdecak kagum akan kemewahan rumah Nathan. Luas dan besar, dan memiliki kolam renang yang cukup besar berada di samping rumahnya.


Milly sulit tidur, sedari tadi ia sudah memejamkan matanya namun bunga tidur tak kunjung datang untuk melelapkannya. Yang ada kejadian sore terus berputar semaunya di dalam kepalanya, membuat gadis berambut panjang itu mengeluh pusing.


Adit berpacaran dengan Karmila tanpa sepengetahuan Milly serta ungkapan perasaan El terhadapnya berhasil meremukkan hatinya. Mungkin Milly masih bisa memaklumi jika hatinya perih akan ulah El, sudah biasa selalu dikecewakan oleh harapan kosongnya. Yang Milly tidak habis pikir bahwa Milly tidak tahu tentang Adit telah berpacaran dengan Karmila, dan Milly mengetahui hal itu bukan dari Adit sendiri melainkan dari orang lain.


Milly teringat akan semua pesan yang Adit ajarkan padanya; saling terbuka, saling percaya, dan saling mendukung satu sama lain. Tapi saat ini Milly merasa bahwa Adit yang mematahkan prinsionya sendiri, sengaja menutupi sesuatu hal darinya, dia tidak tahu apa alasan Adit sehingga Adit tidak menceritakan hubungan pribadinya pada Milly.


Mungkin ada alasan penting dan khusus kenapa Adit belum menceritakan hal pribadinya pada Milly. Pikiran positifnya mengatakan jika Adit masih belum siap, Adit takut jika Milly tidak akan menyetujui hubungan mereka. Atau mungkin karena hubungan mereka belum terjalin cukup lama, atau bisa juga karena Adit belum yakin dengan Karmila. Alasan tersebut memang masuk di akal logika Milly.


Namun mungkin juga hal ini adalah dampak dari sebab-akibat yang Milly tabur. Karena sampai sekarang pun Milly masih menyembunyikan perasaannya terhadap El dari sang kakak selama ini, dan juga menyembunyikan kejadian semalam yang dimana El dan Milly berciuman di kamarnya.


Mungkin bisa dibilang Milly sedang mendapati karma dari sang kakak.


Ditambah pernyataan El secara gamblang mengatakan jika ia tidak menyukai Milly. Seperti hati yang sudah tersayat ditambah taburan garam diatas sayatan tersebut.


"Milly.."


Milly menoleh ke belakang, melihat Nathan mengenakan piyama biru berjalan mendekati Milly yang duduk di bangku tepi kolam. Nathan duduk disamping Milly, lalu ia mengamati kegiatan gadis itu yang tertunduk sembari memilin jemarinya.


"belum tidur ?" tanya Nathan. Milly menggeleng pelan sebagai jawaban pertanyaan Nathan.


"tadi kak Adit telepon gue, nanyain lo."


Milly langsung mendongakkan wajahnya, memohon agar Nathan tidak memberitahukan posisinya sedang berada di sini. Milly tidak tahu lagi jika Adit dan El muncul dan berhasil menyeretnya pulang. Milly masih belum siap berhadapan dengan 2 pria itu.


"tenang, gue belum bilang kalo lo ada disini. Jangan kuatir,"


Milly menghela nafasnya lega. Dalam hati Milly memuji kebaikan Nathan padanya. Milly sempat berfikir kenapa bukan Nathan saja orang yang Milly sukai. Jadi dia tidak perlu kabur ke rumah orang lain, tidak merasa dipermainkan, dan tidak akan merana seperti ini.


"maaf sudah ngerepotin lo Nat, gue berterima kasih sama lo. Lo baik banget sama gue, makasih banget Nat."


Nathan menyeringai, satu tangannya mengelus puncak kepala Milly. Lalu mereka tersenyum bersama.


"tidur gih. Lo nggak boleh lama-lama disini, udaranya dingin. Nanti lo sakit,"


Milly mengangguk patuh, ia berdiri dan mengucapkan selamat malam pada Nathan. Lalu meninggalkan Nathan yang masih duduk di tepi kolam renang sembari menatap punggung Milly menuju kamarnya.


Nathan menghela nafas sambil menatap langit gelap dihiasi dengan kilauan bintang di atas sana.


Sebenarnya Adit sama sekali tidak menelepon Nathan, justru Nathan lah yang menelepon Adit, memberi kabar tentang keadaan Milly bahwa gadis itu baik-baik saja dan sekarang sedang menginap di rumahnya, dan juga Nathan meminta ijin pada Adit agar Milly menginap disini beberapa hari.


Sudah pasti Adit tidak akan mengijinkan Milly menginap disana, apalagi menginap di rumah seorang laki-laki. Meski Adit cukup mengenal Nathan namun tetap saja rasa kuatir timbul di dalam benaknya. Namun Nathan berusaha untuk membujuk Adit secara perlahan, berbicara sopan serta menggunakan kata rayuan sehingga Nathan berhasil mendapatkan ijin dari Adit.


Bagi Nathan, tipikal Adit memang cukup sulit untuk ditaklukan. Mengingat Nathan sudah paham dengan sisi lain Adit yang memiliki sister-complex, Nathan cukup mengerti akan posisi Adit.


Dibalik itu semua Nathan melakukan ini bukan karena ia peduli dengan Adit, tapi ia ingin pria yang melukai hati Milly tahu dimana posisi gadisnya. Bisa dikatakan Nathan ingin sedikit bermain api dengan pria bernama El itu, Nathan percaya jika Adit akan memberitahukan El jika Milly berada di rumahnya. Membayangkan El sedang gusar memikirkan Milly yang sedang asik menginap di rumahnya membuat perut Nathan tergelitik.


Nathan menyeringai, ia tidak akan tinggal diam melihat gadisnya menangis hanya karena seorang pria bernama Elkana Bramawan. Milly tidak pantas menyukai pria seperti itu, Nathan akan berusaha menunjukan dirinya bahwa ia lebih layak mendapatkan hati Milly ketimbang El.


**********************************


Hi readers,


Aku ingin menyampaikan rasa terima kasih ku atas antusias kalian membaca cerita ini.


Maaf jika aku suka telat upload, sejak wfh pekerjaan ku malah makin menumpuk hehehe


Dan jujur, sejak aku upload cerita disini aku jadi sangat suka membaca semua komen yang kalian kirimkan di setiap chapternya, walau aku jarang bales komen kalian hehe


Tapi aku sangat berterima kasih sebab kalian mendukung cerita ini dengan memberikan like dan comment di cerita ku.


Baik, sudah cukup footnote nya dari aku. Semoga kita selalu dalam keadaan sehat. Aamiin


Ditunggu untuk next chapter nya 😊

__ADS_1


__ADS_2