
"Nat, bisa jelasin ke gue sebenarnya lo punya masalah apa sama kak El?"
Nathan menaikan alis matanya sebelah, lalu ia baru berucap setelah menghabiskan gigitan burger di mulutnya. "masalah apa? Memangnya kami kenapa?"
"nggak mungkin nggak ada masalah kalo kemarin lo dan kak El tiba-tiba pergi,"
Nathan berdecak, "perasaan lo doang kali,"
"Nat, gue lagi ngomong serius."
"gue juga serius sama lo, tapi lo nggak pernah liat keseriusan gue." ujarnya tenang seraya meminum mocca float nya. Ia tak acuh dengan tatapan Milly padanya.
Milly menatap Nathan gamang, lalu menghembuskan nafas lelah. Ia berpikir bahwa Nathan memang sedang menyembunyikan sesuatu antara dia dan El yang berkaitan dengan Risma.
Sejak kejadian di hari ulang tahunnya yang berakhir dimana El mendadak pergi begitu saja setelah bertatap muka dengan Risma -- mamanya Nathan -- lalu Nathan dan Risma pun ikut menyusul pergi dengan ekspresi berbeda.
Risma yang terlihat sedih sedangkan Nathan terlihat dingin.
Sebelumnya Milly sudah menanyakan hal tersebut pada Adit, Milly yakin 100% pasti Adit mengetahuinya. Namun Adit lebih memilih bungkam, dan hanya mengatakan bahwa hanya El yang berhak menceritakan semua ini.
Namun Milly memutuskan mengajak Nathan untuk bertemu terlebih dahulu di salah satu restoran junk food, dan kini mereka sedang duduk berhadapan, sambil menikmati makanan dan minuman yang telah mereka pesan sebelumnya.
Milly menggaruk sebelah alis matanya, lalu kembali menatap Nathan serius.
"sebenarnya apa yang terjadi antara lo sama kak El dan juga tante Risma? Kenapa kak El terlihat marah dan pergi setelah bertemu dengan nyokap lo?"
Nathan masih sibuk meneguk minumannya, setelah itu kembali meletakkan gelasnya ke atas meja.
"lo itu beneran dianggap pacarnya El bukan sih? Masa' lo nggak tau permasalahan yang terjadi dengan pacar lo sendiri dan malah nanya ke gue? Lucu banget," Nathan menggeleng kepala sambil tersenyum sinis, sejenak Milly tak bisa berkata apapun saat Nathan menyudutkannya.
Setelah dipikir-pikir, ucapan Nathan cukup menampar logikanya. Milly merengut kesal ketika baru menyadari kalau ia memang belum tahu apapun tentang El sepenuhnya.
"kalo lo ajak gue kesini cuma buat bahas masalah pacar lo, sorry Mil, lebih baik gue pulang. Buang-buang waktu." ketus Nathan sambil beranjak dan menyampirkan jaket denimnya. Namun Milly langsung menarik lengan Nathan untuk mencegahnya pergi.
"Nat, jangan pergi dulu. Gue belum--"
"kenapa lo nggak nanya langsung sama pacar lo sendiri, kenapa harus ketemu dan nanya-nanya pacar lo sama gue?"
"kok lo ngomong gitu sih Nat?" cicit Milly dan menatap Nathan tak percaya.
"karena gue udah nggak bisa dan nggak mau berbaik hati lagi sama lo!"
Hentakan suara Nathan cukup terdengar oleh beberapa pengunjung disana, melirik mereka berdua dengan tatapan bertanya-tanya. Namun Nathan tak mau ambil pusing, melihat Milly menunduk sedih membuat Nathan bergumam umpatan kesal. Mereka berada di tempat umum, jangan sampai terlalu memancing perhatian.
"maaf Nat, gue nggak tau lagi harus bagaimana. Dari kemarin kak El nggak bisa dihubungi, bahkan kak Adit udah bantu hubungi tapi nggak direspon juga."
Kali ini Nathan yang merasa disudutkan, alasan menghilangnya El membuat Milly mengajaknya bertemu untuk menanyakan masalah ini.
See, lagi-lagi Nathan hanya dijadikan jembatan untuk menghubungkan antara El dan Milly.
Harusnya Nathan belajar dari pengalaman, Milly memang tidak berniat khusus untuk mengajaknya bertemu tanpa adanya sebuah masalah penting. Bukan sepertinya yang selalu ingin mengajaknya bertemu untuk melepas rindu dan ingin menghabiskan waktu bersama.
Nathan merasa bodoh sendiri, sampai kapanpun Milly akan selalu buta terhadap perasaannya.
Ketidak sukaannya pada El kian menjadi. Namun Nathan sulit untuk membenci Milly, kalaupun ada hanya sebuah rasa kesal sesaat yang menghinggap. Setelah itu lenyap begitu saja.
Selain El, Nathan juga membenci dirinya yang terlalu jatuh dalam harapan cinta yang semu.
__ADS_1
"temui dia lah kalo susah dihubungi, bukan ketemu gue." protesnya.
"gue.." Milly mendongak takut, "..gue nggak tau dimana kak El tinggal,"
"hah??" Nathan tidak mengerti lagi bagaimana bisa Milly tidak tahu dimana El tinggal. Entah karena sudah biasa numpang di rumah Adit jadi El tidak perlu memberitahukannya.
Atau El masih belum mau Milly mengetahuinya.
Nathan tahu kenapa El tidak membiarkan orang lain mengganggu area teritorinya. Namun ini Milly -- kekasihnya -- akan terdengar nyeleneh jika alasan El tidak memberitahu Milly dengan alasan yang sama.
Nathan menghela nafasnya, "kalo gitu, ayo ikut gue."
Nathan menarik lengan Milly untuk keluar dari restoran.
***********************************
Milly menatap ragu pintu kokoh putih yang tertera plakat nomor 2310, lalu pandangannya menyapu area sekitar dimana koridor Apartemen terlihat kosong dan sunyi. Tidak ada orang berlalu lalang atau membuat kegaduhan seperti apa yang dibayangkan. Milly pikir suasana Apartemen akan sama dengan suasana di rumah susun, seperti yang suka ia lihat bila sedang menonton chanel berita di televisi.
Bermodal pesan whatsapp yang dikirim oleh Nathan, menjelaskan nama gedung Apartemen, tower, nomor lantai dan nomor pintu, dimana tempat tinggal El berada. Milly menghela nafas untuk meredamnya debaran jantung sedari ia memasuki gedung lalu mulai mengetuk pintu.
Sudah beberapa kali Milly mengetuk pintu namun sang pemilik Apartemen belum kunjung membukanya. Milly kembali mengetuk, kali ini dengan cukup kencang, hingga Milly tersentak kaget ketika El baru membuka pintu secara kasar.
El dan Milly sama-sama terpaku dan terkesiap beberapa saat.
"k--kak El.." panggil Milly canggung dan El mengerjap bingung, namun tak dipungkiri bila manik coklatnya berbinar melihat Milly mendatanginya ke Apartemen.
Sengaja menghindari Milly untuk sementara waktu namun El sendiri merasa tersiksa dengan perbuatannya sendiri. El begitu merindukan Milly, sangat.
"apa aku boleh masuk?" tanya Milly melihat El masih menatap bingung, namun tak lama El menyingkir dan mempersilahkan Milly masuk.
Selama Milly mengenal El, baru kali ini ia bisa memasuki daerah privasi El. Ruang dapur dilengkap 1 set meja makan menjadi pemandangan pertama yang Milly tangkap saat ini, terlihat bersih dan rapih, bukan karena sang pemilik sering membersihkan saja, namun terlihat juga jika El jarang menyentuh area tersebut. Terlihat juga di meja makan nampak beberapa bungkusan plastik makanan yang telah ia beli dari luar.
Terakhir ada 2 ruangan yang tertutup oleh pintu, Milly tahu jika itu adalah ruang tidur dan kamar mandi.
"apa kamu datang kesini bersama Adit?" tanya El memecahkan pandangan Milly membuat ia menoleh ke belakang, mendapati El yang mulai membuka lemari es, mencari apa yang bisa ia suguhkan untuk Milly.
"a-aku datang sendiri," balasnya, kembali memperhatikan ruangan tengah. Ia baru menyadari meja nakasnya kosong tidak terisi tumpukan majalah atau koran seperti berada di rumahnya. Atau tidak tersedianya beberapa toples snack, kue kering ataupun permen.
"Adit yang menyuruh mu datang kesini?"
"tidak." Milly menggeleng cepat.
"Adit yang kasih tau kamu alamat tinggal ku?"
"bukan, tapi Nathan yang memberitahu ku."
Seketika El berhenti dari kegiatannya menyusun kaleng minuman ke dalam lemari es. Seperdemikian detik ia termenung memandangi Milly yang juga memandanginya lurus.
Selama ini El kira Adit lah yang memberitahu Risma dimana El tinggal, sehingga Risma mulai sering datang dan menunggunya di lobby. Ternyata laki-laki yang harus El akui sebagai adik tirinya adalah dalang dibalik semua ini. Tidak menyangka bahwa Nathan sudah bergerak jauh untuk mencari tahu tentangnya dalam segala hal. Dan dia turut memberitahu alamat tinggalnya pada Milly.
Mengetahui itu El merasa ridak enak hati, ia tidak maksud untuk menyembunyikan alamatnya. Hanya saja--
"kak El, kok melamun?" El mengerjap pelan ketika Milly sudah berdiri dihadapannya. Ia sampai tidak sadar karena kelamaan melamun. El memdengus sampai akan masalahnya akan cepat berakhir.
"kenapa kamu datang sendirian kesini?" tanya El kemudian.
"aku khawatir sama kakak. Setelah kakak pergi, kakak nggak bisa dihubungi, bahkan kakak nggak ada hubungi aku sampai sekarang.."
__ADS_1
"..apa yang terjadi kak? Aku merasa menjadi orang bodoh sendirian, aku pacar kakak tapi aku nggak tahu sama sekali kalo kakak sedang ada masalah."
"aku hanya nggak mau buat kamu khawatir." balas El lirih.
"tapi kakak buat aku khawatir sekarang." keluh Milly dengan wajah tertekuk.
El terdiam sesaat, antara ia ingin bercerita namun ia takut dengan reaksi Milly setelah mendengar apa yang terjadi dalam hidupnya selama ini. Pria yang Milly cintai ini tidak sempurna apa yang Milly pikirkan, hanya tampan dan berduit, tapi kehidupan pribadinya gelap bagaikan kedalaman samudera. El takut jika Milly akan pergi menjauhinya, sama seperti Risma.
El tidak bisa membayangkan jika itu akan terjadi.
Melihat raut kekhawatiran El, Milly meraih tangan El dan menangkupnya lembut. Kemudian ia mengarahkan tangan El untuk mengelus sisi pipi Milly.
"jangan berpikir kalo aku akan menjauhi kakak. Aku nggak mau kakak hanya membagi kebahagian kakak padaku saja, aku juga ingin kakak membagikan kesedihan, dan apapun yang terjadi pada kakak."
El cukup tersentuh, namun lidahnya kelu untuk menceritakannya. Lebih tepatnya El belum siap. Tapi El berjanji pada Milly bahwa ia akan menceritakannya walau tidak sekarang, dan Milly bersedia untuk menunggu El siap.
Terlalu banyak berpikir dan El memutuskan untuk mandi, ia ingin kepala serta seluruh tubuhnya segera diguyur air dingin. Memang sejak dari pagi El juga belum mandi, buru-buru ia membawa Milly ke kamarnya dan meminta untuk menunggunya disana.
Setelah El berlalu ke kamar mandi, Milly memperhatikan ruangan kamar El. Masih dengan cat berwarna krem pastel dan minim dekorasi. Hanya ada 1 kasur berukuran Queen, lemari pakaian, meja nakas di setiap sisi kasur dan kerja, serta ada sebuah gitar akustik yang El letakkan diatas kasur. Kemungkinan El sempat memainkan gitar tersebut sebelum Milly datang.
Sebelum Milly berhasil meraih gitar, pandangan Milly menangkap ada hiasan foto di dinding di atas meja kerja El. Kakinya segera melangkah lalu memperhatikan setiap foto yang tertempel. Milly tertegun jika semua foto tersebut adalah foto dirinya yang disusun berantakan disana. Lebih tertegun lagi ketika El juga menempelkan fotonya saat ia masih kecil, dimulai dari fotonya memakai celana kodok saat ia berumur 5 tahun dan juga ketika memakai seragam putih biru.
Selebihnya foto Milly ketika sudah duduk di bangku SMA, foto candid dimana Milly masih terlihat cupu dengan penampilan seadanya. Bahkan El memiliki fotonya ketika ia memiliki poni depan yang terlalu pendek, disebabkan karena Adit sengaja menyenggol tangan kanan Milly yang sedang fokus untuk menggunting rambut panjangnya untuk dijadikan poni. Dan ternyata rambut tersebut berhasil terpotong miring dan Milly ngambek selama seminggu.
Mendengus kesal, Milly menyentil fotonya sendiri karena teringat momen menyebalkan itu. Lalu pandangan Milly juga menangkap sekilas kilauan dari arah ordner di meja El, maniknya mencari sumber kilauan tersebut dan menemukan sebuah buku bersampul hologram disana.
Milly terkejut bukan main dengan bibir membulat sempurna, buku tersebut adalah buku diary nya yang sudah lama ia buang, sudah beberapa bulan yang lalu ia buang ke tempat sampah di dalam kamar. Dengan cepat ia membuka buku tersebut, dan benar isi buku tersebut berisi tulisan tangannya tentang keseharian El selama pria itu berada di rumahnya.
Jika buku ini sudah lama berada di kamar El, sudah pasti pria itu telah membaca semua tulisannya.
"kamu lagi liat apa?"
Milly langsung membalikkan badan sambil menutupi buku diary nya di punggung, berharap ia juga bisa menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Namun Milly tidak bisa, justru wajahnya menjadi merah padam sebab El sedang berdiri di depannya hanya menggunakan celana training panjang berwarna abu-abu, dan tubuh atasnya tidak terbaluti apapun, rambut yang masih setengah basah menambah pesonanya, membuat kedua mata Milly bergerak gelisah.
"kakak pakai baju dulu sana!" ketus Milly lalu mencoba menghindari El, tapi lagi-lagi Milly gagal, El merentangkan kedua tangannya ke sisi meja, mengurung Milly supaya gadisnya tidak pergi.
"aku gerah sayang,"
Alibi. AC ruangan kamar El masih menyala bahkan Milly cukup kedinginan. Baru juga El selesai mandi, tidak mungkin juga langsung merasa gerah.
Kembali Milly meminta El berpakaian, namun El masih betah berdiri didepannya, tak beranjak menuju lemari pakaian, justru El menatap Milly begitu lekat dan dalam seolah ingin menembus Milly sampai dasar.
Milly ikut terpaku memandangi El, lalu Milly melipat kedua tangannya di dada ketika El merengkuh pinggang Milly dengan kuat dan mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja. Buku diary yang Milly sembunyikan terjatuh ke lantai, namun diantara mereka tidak ada yang berniat memungutnya, melainkan El semakin mendekatkan dirinya pada Milly yang terus mencoba beringsut mundur namun terhalangi oleh benda-benda di atas meja.
Lalu satu tangannya terangkat dan merapihkan anak rambut Milly ke belakang daun telinga.
"ralat. Aku tidak gerah, tapi aku kedinginan. Sangat kedinginan." ucap El dengan suara serak nan dalam. Alarm di tubuh Milly sudah memberikan tanda bahwa akan ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.
"ya-ya sudah.. Ka-kakak pakai bajunya cepat," balas Milly cangung, ditambah ia semakin gelagapan karena wajah El semakin mendekat ke depan wajahnya.
Inilah alasan kenapa El belum mau memberitahu Milly atau mengajaknya ke Apartemen.
Sebagai kaum Adam yang memiliki gejolak hasrat yang cukup tinggi, dan terbilang sudah cukup lama El berpuasa, membiarkan dirinya berduaan dengan Milly bagaikan orang tersesat sedang mencari arah di persimpangan jalan: antara kesenangan duniawi sesaat dan kebahagiaan dunia akhirat.
Dan kali ini El memilih persimpangan jalan ke dalam kesenangan duniawi sesaat.
"aku mau kamu Milly, sekarang."
__ADS_1
***********************************