
"Milly !"
Gadis manis yang sedang duduk di kursi panjang kantin sekolah menengok ke seorang gadis cantik, gadis yang terkenal dengan Princess of School SMA Sawarna memanggil Milly dengan wajah gusar. Ia berjalan menghampiri Milly dengan membawa selembar kertas di tangan kanannya, lalu menyodorkan pada Milly ketika Ruby tepat didepannya.
"kok nama lo nggak ada disini ? Lo kenapa nggak manggung ? Bukannya Band Dion minta lo jadi Drummer nya ? Tapi kenapa pas gue tanya Dion yang jadi Drummer nya Caesar bukan lo ?" cerca Ruby dengan setarik napas. Mendengar itu Milly lah yang menghela napas panjang.
"gue ngga mau Rub. 'kan yang bisa main Drum, banyak. Bukan gue aja yang bisa," ungkap Milly enteng.
"kenapa lo nggak mau ?"
Milly menggeleng singkat, "nggak apa-apa."
"pasti ada alasan kenapa lo nggak mau tampil di panggung," tebak Ruby. Gadis itu mendelik wajah Milly agar tebakannya terjawab.
Ide di kepala Ruby muncul, dia melihat selembar kertas itu untuk mencari jawaban. Gadis cantik itu meneliti setiap nama yang tertulis disana dari atas sampai bawah, dan Ruby menyadari setelah ia melihat ada logo merek minuman dibawah lembar kertas tersebut sebagai sponsor acara.
"apa lo nggak mau tampil karena nanti kak El dateng ke sekolah ?"
Milly melotot seketika.
"kok lo-"
"poca-poca jadi sponsor acara pensi kita, ini merek minuman nya tempat kerja kak Adit dan kak El kan ?"
__ADS_1
Milly hanya terdiam. Secara tidak langsung ia membenarkan ucapan Ruby.
"jadi lo beneran nggak tampil karena nanti ada kak El, Mil ? Kenapa ? Lo malu diliat kak El kalau lo tampil ? Emang udah pasti dia bakal dateng kesini ?"
"bukan gitu Rub," elak Milly.
"terus kenapa ?" tanya Ruby dengan nada yang mulai meninggi. Dia tidak habis pikir hanya karena seorang pria bernama El, Milly tidak mau manggung. Di sekolahnya sendiri, area kekuasaan mereka.
"justru gue yang nggak mau liat dia."
Ruby mengerutkan dahinya, menerka alasan Milly yang belum masuk diakal.
"Gue berjaga-jaga, kalau bener dia kesini gue nggak sia-sia nggak manggung. Gue mau menghindar dari dia. Gue akan lakuin cara apapun, kalau disuruh ngumpet-ngumpet akan gue lakukan.
"mending lo nggak usah dateng aja ke pensi sekalian," sudut Ruby kesal. Bagi Ruby alasan Milly terbilang abu-abu. Gimana caranya mereka tak saling bertemu saat acara berlangsung nanti ? Apalagi Milly ditunjuk sebagai panitia pengurus pengisi acara, setidaknya Milly akan berpapasan dengan pria itu di sekolah.
"yaudah deh, terserah lo aja." sahut Ruby pasrah.
**********************************
Suasana sunyi dengan temaram lampu menyelimuti kegiatan Milly di dalam kamarnya. PR yang menumpuk memaksa Milly untuk harus dikerjakan malam ini juga, mengingat Bu Mona adalah guru Sejarah yang galak dan tak kenal ampun bila siswanya lalai mengerjakan PR. Dan Bu Mona kebagian mengajar kelas Milly di jam pagi.
"hoamh.."
__ADS_1
Milly meregangkan badannya setelah PR sudah selesai dikerjakan. Ia melirik ke jam dinding bila waktu menunjukan pukul 10 malam.
Tak lama Milly bangkit dari kursi menuju jendela kamar, pandangannya beralih menatap ribuan Bintang yang berkelip diatas awan hitam, bersama sinar bulan yang selalu menemani Bintang-bintang itu.
Ciptaan Tuhan tersebut memang selalu serasi di dalam kegelapan. Seperti El dan Karmila, ibarat kemilau Bintang seperti cantiknya Karmila dan sinar rembulan Bulan seperti kharisma El. Paras mereka begitu menyatu dan tak terelakkan.
Gadis itu tersenyum getir. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada selembar foto dibalik case ponselnya. Ia meraih ponsel dan membuka case tersebut, lalu mengambil foto tersebut dan ditatapnya dalam, dia kembali memandangi 2 orang pria disana, tersenyum bahagia memakai jubah hitam dan topi toga.
Milly kembali mendudukan dirinya di kursi meja belajar, masih bertahan menatap foto itu. Yang biasanya selalu tersenyum saat memandangi wajah tampan El disana, namun nyatanya sekarang hati Milly pilu.
Milly kembali mengumpulkan tekadnya, ingin meluapkan perasaannya yang tak terbalaskan pada pria dingin itu. Dia memutuskan untuk merobek foto tersebut sedikit-sedikit menjadi potongan kecil diatas meja belajarnya. Setelah itu Milly mengambil sebuah buku kecil namun tebal terbungkus sampul hologram perak, terlihat seperti buku catatan yang ia buat menjadi buku diary.
Buku itu dibuka setelah diletakkan diatas meja, ia membalikkan lembar pertama ke lembar berikutnya, sekilas ia membaca buku tersebut perihal sosok pria yang ia sukai selama 1 tahun ini. Di lembar tersebut diberi tanggal di sudut pojok kanan atas, dimana tulisan itu menceritakan tentang keseharian El di tanggal tersebut. Dan di bagian belakang buku tertulis juga mengenai kepribadian El, apa yang pria itu sukai dan tidak sukai, kebiasaan El saat di rumah bersama Adit, bahkan Milly menulis keinginan El di masa depan saat ia tidak sengaja mendengar El mengatakan itu pada Adit.
Salah satunya Milly menulis bahwa El ingin segera mempertemukan tambatan hatinya kepada Ayahnya yang berada di Inggris.
Milly menghela napas. Membaca kembali salah satu keinginan El untuk mempertemukan Ayahnya dengan wanita yang ia sukai, pikiran gadis itu membayangkan El mempertemukan Karmila dengan Ayahnya. Lalu mereka menikah disana dan akan hidup bahagia.
Milly menutup buku itu dengan bendungan air mata di kedua matanya, siap untuk tumpah kapanpun. Jemarinya mengumpulkan potongan kecil foto tersebut lalu ditaruh diatas buku, kemudian ia masukan ke dalam tempat sampah di kolong meja Milly. Membuangnya.
Milly beranjak menuju tempat tidurnya dengan langkah lunglai, segera ingin menidurkan tubuhnya agar dapat melanjutkan aktifitasnya di esok hari.
***********************************
__ADS_1