
"Milly ada di dalam, El." sahut Adit menoleh ke samping, melihat sahabatnya dari SMA sedang menghisap rokok dengan sekali tarikan. Lalu kepulan asap menyeruak ke udara melalui mulutnya. Manik coklatnya tak berhenti menatap sebuah rumah mewah 2 lantai.
Setelah mereka berkeliling mencari Milly sampai larut malam akhirnya mobil sedan hitam El terparkir di depan halaman rumah tersebut, berada di kawasan perumahan elit. Sedari tadi mereka mengintip dan mengitari suasana rumah tersebut, hanya ada satpam penjaga rumah berjaga disana.
"lebih baik kita pulang dulu, ini udah jam 1 malam. Tuh pak satpam juga udah dari tadi liatin mobil lo, mulai curiga." Terlihat seorang satpam menaru perhatian pada mobil sedan El. Memastikan apakah di dalam mobil ada orang atau tidak.
"besok kita balik lagi, El." Tambah Adit menepuk tangan El yang masih menatap tajam rumah Nathan.
Suasana hati El meluap panas, benaknya mencari jawaban kenapa harus rumah Nathan yang menjadi tempat singgahan Milly malam ini. El sangat tidak suka akan kedekatan Milly dengan Nathan, apalagi jika Nathan berhasil mengambil perhatian Milly dalam kondisi sekarang, berlagak bagaikan pahlawan di mata Milly.
El masih diam di kursi pengemudi, namun tubuhnya memang sudah berteriak lelah mencari Milly setelah kejadian tadi sore, bahkan kedua mata El sudah nampak guratan merah, butuh tidur.
Mau tidak mau El menuntun tangan dan kakinya untuk menjalankan mesin mobil, lalu mereka pulang menuju rumah Adit.
*****************************************
Suara kicauan burung terdengar dari telinga Milly, membuat manik hitam legamnya menampakkan diri. Lalu bayangan samar sebuah kamar luas menjadi pemandangan pertama yang Milly lihat.
Seketika Milly membangunkan badannya, mengitari ruangan itu dengan pandangan tajam. Lalu Milly menghela nafas lega, sadar jika Milly sedang menginap di rumah Nathan, beberapa detik detak jantungnya berdebar karena ia tidak mengenali ruangan yang ia jadikan tempat beristirahat.
Ruangan itu kosong, tidak ada tanda kehidupan selain dirinya yang masih terduduk di atas kasur. Ruby sudah tidak berada di sampingnya, berarti gadis itu sudah bangun.
Lalu Milly melirik jam dinding, sudah pukul 7 lewat 15 menit. Segera ia beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap, jangan sampai ia dinilai tak beretika oleh sang pemilik rumah karena telat bangun di rumah orang.
Sejak Milly libur setelah ujian nasional, gadis berambut panjang itu memang suka bangun siang. Terkadang bangun jam 8 pagi atau bisa jam 10 jika malamnya Milly maraton menonton drama korea.
Milly bergegas keluar kamar menuju ruang makan, dimana ruang makan sudah dihadiri oleh sang pemilik rumah. Di ujung meja makan terlihat pria paruh bayah yang masih gagah dengan setelan jas kantornya, beliau adalah Ayah Nathan, biasanya Milly memanggilnya Om Ferry.
Sedangkan di samping Om Ferry ada seorang wanita seumuran beliau yang merupakan Ibunya Nathan. Meski sudah berumur namun aura cantiknya masih menguar hingga Milly suka segan menatap beliau. Milly memanggilnya Tante cantik, atau Tante Risma.
"morning My Beautiful Jessie.. Ayo cepet ke sini sayang, kita sarapan bareng," ajak Tante Risma setelah melirik kehadiran Milly. Milly mengangguk dan tersenyum canggung, entah kenapa ia merasa bahwa pujian Tante Risma malah menyudutkannya. Walau sebenarnya Tante Risma tidak bermaksud seperti itu.
Sebelumnya Nathan sudah memperkenalkan Milly dengan orang tua Nathan ketika Milly datang berkunjung, saat itu Milly dan beberapa temannya datang ingin mengerjakan tugas kelompok di rumah Nathan. Ketika berkenalan dengan Milly, Om Ferry dan Tante Risma langsung menyukai Milly, khususnya Tante Risma. Baginya Milly seperti tokoh kartun yang ia sukai; Jessie si wanita koboi dalam tokoh kartun Toy Story, terlihat tomboi namun lembut, serta berkharisma.
Dikarenakan Nathan adalah anak tunggal di keluarga itu dan Milly adalah gadis penurut, kedua orang Nathan mulai menganggap Milly sebagai anak perempuan mereka. Namun mereka juga akan sangat senang jika beberapa teman Nathan lainnya datang ke rumah untuk bermain.
Milly duduk disamping Ruby, berhadapan dengan Nathan.
"My Jessie mau sarapan apa ? Roti bakar, roti selai biasa atau nasi goreng ? atau mau dibuatkan mie goreng kornet kayak Nathan ?" tawar Tante Risma sambil memoles selai coklat di lembar roti gandum punya Om Ferry.
Melihat kegiatan Tante Risma, Milly malah tertarik ingin mencoba roti gandum yang dilumuri selai coklat. Nathan suka cerita pada Milly tentang kebiasaan Ayahnya, setiap sarapan ia ingin roti gandum diolesi selai. Beliau tidak suka roti tawar, rasanya aneh. Itu kata Om Ferry.
"Milly makan roti selai aja, Tante." Ucap Milly sambil mengambil selembar roti tawar di atas meja. Kemudian ia mulai mengoles roti dengan selai nanas.
Mereka menikmati sarapan pagi dengan hikmat. Diakhir dengan pertanyaan yang dilayangkan oleh Om Ferry.
Nathan sudah menceritakan masalah Milly kepada orang tuanya, oleh karena itu Om Ferry perlahan membujuk Milly untuk pulang ke rumah agar segera menyelesaikan masalahnya dengan Adit.
"nanti biar Nathan yang antar kalian pulang. Om nggak bisa nemenin karena harus pergi ke Bandung."
"tidak apa-apa Om. Maaf Milly ngerepotin Om dan Tante."
Setelah sarapan selesai, Om Ferry pamit pergi.
*****************************************
Sambil membaca petunjuk di buku resep, tangan Milly mengaduk adonan kue di wadah hijau, lalu memasukan 1 sendok makan ekstra vanili ke dalam adonan tersebut, lalu diaduk lagi.
Ruby sedang sibuk mengoles margarin ke loyang kue, sedangkan Nathan hanya duduk di minibar sembari menonton aksi 2 gadis itu berkutat di dapur.
Mereka sedang membantu Tante Risma membuat Bolu, menunggu Tante Risma pergi ke warung untuk membeli bahan kue yang kurang Ruby dan Milly sibuk di dapur.
Sesekali Milly melirik ke arah Nathan, kedua mata nya sibuk menatap layar dan ibu jarinya sibuk mengetik di layar ponsel, sembarisenyum-senyum sendiri disana. Milly mengernyit bingung.
Nathan sedang chatting-an sama siapa ?
"kok melamun Mil ?" tiba-tiba Tante Risma datang membawa kantong belanjaan, Milly tersentak, kemudian ia menggeleng pelan dan kembali mengaduk adonan.
Setelah mengaduk Tante Risma yang meneruskan kerjaan Milly. Memasukan bahan lainnya lalu menuangkan adonan ke cetakan yang telah Ruby siapkan dan langsung dimasukkan ke dalam Pemanggang.
Sembari menunggu, Ruby memesan beberapa minuman melalui driver online antar makanan untuk dinikmati ketika Bolu sudah siap dihidangkan.
Milly menatap layar gelap pada ponselnya. Sejak kemarin Milly sengaja menonaktifkan ponselnya agar Adit ataupun El tidak mencarinya. Milly tahu perbuatannya akan menimbulkan masalah semakin runyam, namun ia hanya ingin tidak diganggu. Mungkin nanti malam Milly akan mengaktifkan ponselnya.
Atau Milly akan langsung pulang ke rumah sendiri tanpa harus meminta Ruby dan Nathan mengantarnya atau Adit yang menjemputnya.
Milly tidak mau merepotkan Ruby dan Nathan lagi.
__ADS_1
"Mil.."
Milly menoleh ke arah Ruby, wajahnya berubah panik setelah mengambil pesanan dari driver delivery.
"ada kak El sama kak Adit di depan Mil ! Mereka.. di depan !"
Kali ini Milly yang panik sampai langsung berdiri dari duduknya di sofa. Lalu kedua kakinya berjalan cepat menuju depan rumah, melihat El dan Adit benar ada di depan rumah Nathan, mereka berdiri di depan pagar rumah.
Milly dan Ruby speechless melihat El dan Adit sedang berjalan memasuki halaman rumah Nathan. Tidak habis pikir persembunyian mereka bisa cepat diketahui oleh mereka. Milly menduga jika Nathan sengaja memberitahukan Adit jika Milly berada di rumahnya.
Langkah El melebar setelah menangkap kehadiran Milly di ambang pintu, dengan reaksi wajah yang kaget tidak percaya terpampang jelas disana.
El langsung meraih tangan Milly.
"ayo pulang sekarang juga."
El menarik tangan Milly, memaksanya untuk meninggalkan rumah itu. Di dalam kepala pria itu, ia berniat untuk mengurung Milly setelah mereka tiba di rumah.
Namun sebelum El berhasil menyeret Milly, Nathan keluar dari rumah dan langsung menarik tangan Milly untuk menghalanginya pergi.
El menoleh ke belakang ketika tarikannya berlawanan, El menampaki Nathan yang juga menarik tangan Milly.
"lepasin tangan Milly." Pinta Nathan santai namun ada nada penekanan disana, lalu ia semakin menarik Milly untuk mendekatinya.
Merasa ditantang, El kembali menarik tangan Milly, sama sekali tidak mengindahkan permintaan Nathan.
"lepasin Milly kak. Atau aku minta Pak Jono buat usir kakak," ujar Nathan lagi sedikit mengancam, ditariknya lagi tangan Milly bersamaan dengan tatapan sinis pada El.
El membalas tak kalah sinis.
"gue cuma mau bawa Milly pulang." Jawab El sekenanya. El kembali menarik tangan Milly dengan kuat hingga Milly hampir terjelembab.
Mendengar suara rintihan Milly, Nathan melangkah maju dan mendorong tubuh tegap El ke belakang dan langsung melayangkan pukulan ke sisi pipi kiri El hingga pria itu tersungkur.
El menyeringai sambil menyentuh sudut bibirnya yang terluka. El bangkit dengan emosi yang meluap, tangannya terkepal kuat untuk membalas perbuatan Nathan padanya.
Dengan cepat Adit segera menahan bahu El, menghindari terjadinya perkelahian disana. Adit tidak mau perkelahian mereka memancing semua orang rumah dan orang lain menyaksikan hal ini. Baginya masalah mereka bisa dibicarakan baik-baik tanpa harus adu pukul.
El berontak minta untuk dilepaskan, namun Adit menulikan pendengaran, tidak menggubris permintaan El. Bertahan sekuat tenaga mengunci bahu pria itu, dan juga berusaha menjauhkan El dari Nathan. Begitu juga dengan Milly yang membantu menarik tangan Nathan agar menjauh dari El.
Namun hal itu percuma, justru Nathan malah memberikan seringai sinis pada El, tanda bahwa El tidak mampu membalas pukulannya sehingga emosi El semakin membludak. Hingga El berhasil terlepas dari kuncian Adit, berjalan cepat mendekati Nathan dan langsung memberikan pukulan keras di wajahnya.
Milly berteriak dengan suara tertahan melihat Nathan tersungkur menapaki tanah. Tak lama pak Jono (penjaga rumah Nathan) berlari menghampiri mereka, mulai memapah Nathan berdiri dan mengusir El dan Adit untuk segera pergi dari rumah.
Kembali El tidak mengindahkan peringatan pak Jono, pria itu kembali mendekati Nathan agar ia bisa memukulnya lebih dari pukulan yang pertama. Sampai akhirnya Milly turun tangan, ia menghalangi langkah El dengan memeluk pria itu dengan erat sambil menahan diri agar El berhenti melangkah.
"kak jangan pukul Nathan lagi," cicit Milly di dalam pelukan El.
"Milly mau pulang sama kakak, tapi jangan pukul Nathan lagi. Tolong,"
Setelah Milly mencoba memohon, ia mulai merasakan jika emosi El sedikit mereda. Di satu sisi El berubah menjadi melankolis setelah dipeluk Milly, sesaat ia memandangi puncak kepala Milly yang berusaha menenggelamkan diri di dekapannya.
Perlahan satu tangan El naik, ingin membalas pelukan Milly.
Namun sebelum El berhasil melakukannya, segera Nathan mendekati Milly dan menarik tangannya, ingin menjauhkan gadis itu dari El.
"Kak Adit sama kak El pulang duluan aja. Aku yang akan antarin Milly pulang menggunakan mobil ku sendiri."
"kenapa begitu ?" Adit mulai mengeluarkan komentarnya, dahinya berkerut bingung dengan ucapan Nathan.
"karena Milly pacarku."
Seketika Adit dan El membelalak, termasuk Ruby dan Milly.
"pacar-ku ? ka-kamu sama Milly, pacaran ?" tanya Adit lagi, memastikan jika laki-laki itu sedang bergurau.
"iya, kami pacaran." ucap Nathan dengan tegas. Lalu ia mengaitkan jemarinya ke jemari Milly, bergandengan tangan.
"sekarang Milly pacarku. Kami sudah resmi berpacaran setelah ujian berakhir."
Membisu, mereka tercengang mendengar penuturan Nathan barusan. Termasuk Milly yang berada di sampingnya.
Bahkan gadis itu gemetaran takut, melihat reaksi El menatap sinis padanya.
"Milly, beneran kalian pacaran ?" tanya Adit menoleh ke samping sambil menunjuk ke arah Nathan. Menunggu Milly yang diam terpaku untuk segera menjawab.
Saat ini Milly tidak tahu apa yang harusnya ia katakan. Tapi keterdiaman Milly memancing Nathan untuk kembali berbicara.
__ADS_1
"awalnya kami belum berani kasih tau ke kakak, jadi kami backstreet dulu. Cuma karena aku udah liat kak El bertindak kasar sama pacarku di depan mata ku sendiri, aku nggak terima.."
"..dan seharusnya kak Adit yang berhak menarik tangan Milly untuk pulang, bukan kak El. Lantas kenapa juga kak El repot-repot datang ke sini dan marah-marah nggak jelas ? harusnya kak Adit yang lebih pantas marah, bukan kak El."
Adit dan El membeku di tempat. El hanya bisa mengepalkan kedua tangannya, berjuang menahan diri agar tidak lagi memukul Nathan.
Adit melirik El melalui ekor matanya, melihat El sedang geram mengontrol emosi. Adit menghela nafas.
Adit mulai membalas penyataan Nathan, sembari mengamit tangan Milly. "kalo gitu, biar aku aja yang bawa Milly pulang ke rumah sekarang, terima kasih-"
"tidak. Aku ingin antar Milly pulang kak." potong Nathan sambil mencekal pergerakan Adit agar tidak menyentuh Milly.
"kamu bisa antar Ruby pulang saja-"
"aku cuma mau mengantar pacarku pulang kak." tekan Nathan lagi.
"Aku akan minta tolong supir mama buat antar Ruby pulang sekarang juga. Tenang aja, aku nggak akan bawa Milly pergi. Kakak tahu nomor ponsel ku dan juga rumah ku, jadi jangan kuatir."
Adit menghela nafas, mengalah, lalu ia membalikkan badan dan menepuk bahu El, meninggalkan Milly dan Nathan menatap punggung Adit. El dan Nathan sempat melayangkan tatapan tajam, kemudian El membalikkan badan dan menyusul Adit menuju mobil.
Nathan langsung memanggil supir untuk mengantar Ruby pulang, bersamaan dengan Nathan yang juga akan mengantar Milly pulang ke rumahnya.
**************************************
Sekujur tubuh Milly panas dingin, jemarinya saling memilin gelisah. Mobil Nathan sudah terparkir di halaman rumah Milly, namun mereka belum meninggalkan tempat duduknya. Milly gundah, mengingat reaksi El begitu menakutkan setelah Nathan mengakui dirinya sebagai pacar Milly.
Nathan mengamati kegelisahan Milly sedari perjalanan mereka. Gadis di sebelahnya hanya diam menikmati pikiran dan perasaan nya sendiri.
"ayo turun. Aku temenin kamu masuk ke dalam."
Nathan mulai keluar dari mobil, lalu melangkah menuju sisi pintu mobil dan membukakan pintu, memudahkan Milly agar segera turun.
Perlahan Milly turun, jantungnya terus berdebar tidak karuan. Ia belum siap menghadapi 2 pria itu.
Mereka mulai melangkah masuk ke dalam rumah, Nathan tak berhenti menggengam erat jemari Milly. Menguatkan gadis itu bahwa ia akan baik-baik saja.
Sebelum langkah mereka memasuki pintu, Nathan berhenti sejenak membuat Milly ikut berhenti. Nathan menatap wajah tegang Milly.
"Mil, gue minta maaf karena tadi ngaku-ngaku sebagai pacar lo. Gue bener-bener nggak terima liat El narik tangan lo kayak tadi. Gue nggak suka,"
Milly menunduk pasrah, tidak enak hati dengan Nathan. Nathan terlalu baik buat Milly, merasa dirinya tidak pantas disukai oleh Nathan. Nathan jauh lebih cocok dengan perempuan yang lebih darinya, kalau bisa harus setara dengan Ruby.
Atau melebihi Ruby sekalipun.
Rasanya Milly sangat malu mengucapkan kata maaf untuk Nathan, dan juga merasa kalau ucapan terima kasih tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikan Nathan.
Dasar perempuan nggak tahu diri, umpat Milly dalam hati.
Mereka masuk ke dalam rumah, melihat Adit sedang duduk di minibar dapur. Ketika mendengar ada langkah kaki masuk ke dalam rumah, Adit menoleh ke belakang, lalu berjalan mendekati pintu dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada Nathan karena telah mengantar Milly pulang.
Walau berat Nathan membiarkan Adit membawa Milly masuk ke dalam rumah, kemudian Nathan melangkah pergi.
Adit membawa Milly duduk di ruang tengah. Tak lama Adit meminta Bi Ana untuk membawakan minuman.
Milly mengitari rumahnya, tidak ada tanda-tanda kehadiran El. Milly berfikir apa pria itu pergi dan tidak ikut pulang bersama Adit.
Tidak mau ambil pusing, Milly meneguk air sampai habis setelah dibawakan oleh Bi Ana, lalu ia beranjak dan memijaki anak tangga menuju kamarnya.
"Mil, duduk lagi disana." Titah Adit sambil menunjuk sofa di ruang tengah. Milly tidak menoleh, Milly sedang tidak ingin menatap wajah kakaknya.
Namun Milly mengangguk pasrah sebagai jawaban. Dengan gontai Milly menuruni anak tangga, kembali duduk di sofa ruang tengah.
"kakak ingin bicara sama kamu, mau meluruskan masalah." Adit langsung membuka obrolan tanpa basa-basi setelah Milly duduk di depannya.
"kakak punya masalah sama aku ? setau ku tidak," ketus Milly.
"aku serius Mil.." suara Adit meninggi, rahang pria itu mengetat, tanda ia memang sedang serius.
Milly bergeming, pandangannya kosong menatap meja di depannya, tidak ingin menatap wajah Adit.
"maaf kakak nggak kasih tau kamu kalo kakak udah pacaran sama Karmila. Dan kakak juga minta maaf sama kamu, kakak ingin kamu tau kalo kakak nggak suka kamu pacaran sama Nathan."
Milly menaikan maniknya mengamati Adit. Benaknya bertanya apa maksud dari ucapan Adit.
"kakak ingin kamu putusin Nathan sekarang juga."
***********************************
__ADS_1