
Elkana
Tahun ke tahun telah berganti. Aku tidak tahu, apakah aku melewatinya dengan kebahagian atau kesedihan, tapi yang aku tahu aku melewati semua ini begitu gelap, kosong dan hampa. Tidak ada yang sorot cahaya masuk ke dalam hidupku. Namun aku tetap menikmati alurnya, menjalani dunia ini dengan kebahagian semu.
Salah satunya dalam hubungan pertemanan ku bersama Adit, kami masih bersahabat baik, walau kami sudah jarang bertemu. Tetapi Adit berusaha meluangkan waktunya untukku, contohnya seperti sekarang ini.
Semenjak Tante Nina meninggal dunia, Adit bekerja paruh waktu tanpa pandang bulu, entah sebagai pegawai resto, SPB, atau kasir di pusat pembelanjaan. Kehidupan pria ini hanya penuh dengan bekerja dan bekerja, membanting tulang demi menghidupi kehidupannya sehari-hari. Akan tetapi semangat untuk memperoleh gelar Sarjananya tidak pudar sedikitpun, melainkan semangatnya begitu menggebu. Berbanding terbalik dengan ku.
Pola kehidupan ku kembali lagi seperti awal, bahkan jauh lebih buruk. Setiap malam waktuku hanya bermabuk-mabukan, masuk keluar hotel bersama beberapa perempuan yang berbeda, dan kuliah makin berantakan.
Saat ini aku baru selesai menikmati dunia malam ku di kelab terkenal daerah Jakarta Selatan bersama seseorang. Dia sibuk memapah tubuh ku setelah meninggalkan kelab, membawa tubuhku yang berat dan limbung ini berkat hangover.
Tenang, dia bukan seorang perempuan penghibur. Dia adalah Adit. Setelah Adit menanyakan posisi ku berada dimana, ia langsung menyusul posisi ku. Melihat ku sudah hangover parah di kelab, dia langsung membawa ku keluar kelab dan masuk ke dalam mobilnya menuju sebuah rumah minimalis bernuansa cat putih serta ada aksen krem.
Sudah 1 tahun berjalan Adit menempati rumah di kawasan cluster elit Jakarta. Rumah lamanya sengaja dijual dengan alasan ingin mencari suasana baru. Rumah tersebut adalah hasil kegigihannya selama ia sudah bekerja sebagai Staf Akunting di Orang Muda Group, perusahaan besar yang terkenal akan fasilitas menjanjikan untuk para karyawannya.
Rumah ini adalah salah satu hasil jerih payahnya Adit.
Kembali lagi dengan keadaan ku, sekarang aku sudah direbahkan di sofa empuk berwarna krem, terdengar nafasnya naik turun. Kelelahan membawa ku.
"Bi, tolong liatin El. Panggil aku kalau dia bertingkah aneh,"
"iya dek Adit."
Sampai sekarang Bi Ana juga masih bekerja di rumah Adit. Namun waktu kerjanya jadi lebih fleksibel karena rumah Adit sekarang dekat dengan rumah Bi Ana, setelah selesai beberes rumah Bi Ana akan pamit pulang ke rumahnya.
Itu juga aku tahu dari cerita Adit.
Kembali lagi dengan ku. Aku memejamkan mata sambil memijit keningku, kepala ku serasa dihantam palu dengan keras, sangat sakit.
Akhirnya aku membiarkan dampak alkohol ini menguasai kepalaku hingga pikiran ku terlintas dengan sebuah momen di beberapa tahun yang lalu, dimana seorang wanita yang dulu ku sebut dengan panggilan Ibu pergi meninggalkan ku bersama Ayah begitu saja. Ketukan palu di atas meja hijau memenuhi permintaan sang pemohon, perceraian mereka dikabulkan.
Sejak peristiwa tersebut kondisi Ayah ku juga ikut memprihatinkan, perusahaan Ayah yang gulung tikar membuat kondisi Ayah semakin drop total. Untuk itu aku meminta beliau untuk tinggal di Inggris sambil melakukan rawat jalan disana.
Ayah juga mengajak ku untuk pindah ke Inggris, meminta ku untuk pergi bersamanya agar kehidupan kami kembali lurus. Memang tidak akan sama seperti dulu, namun akan jauh lebih baik dari sekarang.
Sepertinya usulan Ayah cukup menarik, mungkin memang kami harus berhijrah ke suatu tempat. Mencari kehidupan baru hingga akhir hayat kami.
Aku akan memikirkannya kembali setelah pengaruh alkohol ini habis, aku juga akan meminta pendapat dari Adit, siapa tahu dia punya usulan yang lebih baik. Mungkin mengusulkan negara mana yang cocok untuk dijadikan hunian terakhir ku bersama Ayah.
Membayangkan indahnya kehidupan ku nanti, tumbuh dan hidup bersama orang-orang yang saling membutuhkan. Memiliki keluarga baru disana, dan menanti hari esok.
"kakak kenapa menangis ?"
Tidak, aku sedang tidak menangis. Aku.. Hanya rindu dimana aku bisa kembali tertawa lepas, aku rindu dicintai, aku rindu akan rasa hangat dan rindu menjadi diriku sendiri.
"kakak jangan menangis,"
Tidak, sudah ku bilang aku tidak menangis. Aku cuma rindu, bolehkan aku rindu dengan kehidupan seperti dulu ? Seperti orang-orang kebanyakan ?
Lalu aku merasakan sesuatu yang hangat menyentuh kulit wajahku. Sentuhan itu menyeka sesuatu yang basah, seperti ada bulir air mata yang turun membasahi tulang hidungku. Ternyata aku benar-benar menangis, dalam hati aku memaki diriku yang cengeng.
Tersadar aku mulai membuka mata perlahan, melihat sesosok gadis remaja berwajah polos sedang menatap ku dalam diam.
Manik ku bergerak mengamati wajahnya, menduga-duga di dalam kepala ku, belum pernah aku melihat gadis ini. Apa mungkin dia pacar baru Adit ? Tidak. Adit bukanlah tipe orang yang suka perempuan berumur jauh dibawahnya.
Sekali lagi aku memperhatikannya baik-baik, manik hitam legam yang gelap namun menawan, memiliki poni depan yang memanjang dibentuk menjadi belah tengah, hidung yang cukup mancung, serta bibir ranum terpoles lipgloss.
__ADS_1
"kak El udah bangun ?"
Aku mengerjap setelah dia menyebutkan nama ku. Dia tahu aku, tapi aku masih belum tahu siapa dia. Oh, mungkin aku sedang berhalusinasi seolah aku sedang melihat boneka lucu yang hidup layaknya pinokio.
"kak El mabuk lagi ? Nanti aku bilangin kak Adit loh,"
"Milly.."
Terdengar suara Adit memanggil sebuah nama yang begitu familiar di telinga ku, dan gadis ini mendongak menatap Adit. Menyapa panggilan Adit.
Tunggu, apa barusan Adit memanggilnya Milly ?
Milly ? Milly adiknya Adit ?
Milly si pipi chubby berambut hitam sebahu dengan poni depan menutupi kening lebarnya ?
Kedua mata ku melebar sempurna menatap gadis yang masih memperhatikan ku, setelah kedua mata ku mendeklik tajam menelitinya aku membenarkan dugaan jika dia sungguh si gadis kecil itu. Milly adiknya Adit.
Melihat perubahan Milly sampai 180 derajat membuat bibir ku kelu karena takjub. Pipi chubby itu sudah tidak ada, yang ada pipi itu menjadi tirus hingga tulang pipi dan garis rahangnya menonjol disana. Rambut hitamnya sudah memanjang sampai punggung, kedua matanya tidak sipit seperti dulu, ternyata dia memiliki mata lebar yang menampilkan manik hitam legam yang.. Cantik.
Hanya bentuk bibirnya saja yang tidak berubah, tetap ranum.
Milly berubah menjadi seorang gadis manis, dan imut.
"jangan deket-deket El dek. Dia lagi mabuk," titah Adit meminta Milly menjauh, tapi gadis itu kembali menatap ku yang masih menatapnya. Belum bergerak menjauhiku.
Kurang lebih sudah berjalan 2 tahun aku belum bertemu dengannya lagi, dan sekalinya ketemua lagi perbahan gadis itu bisa secepat ini. Bahkan perubahannya cukup mencolok, apalagi di bagian bobot tubuh yang menjadi sintal seperti sekarang.
Jangan ditanya kenapa aku bisa sekaget ini bertemu dengannya. Aku hanya selalu sibuk dengan urusan pelik ku, sampai aku tidak pernah mampir lagi untuk bermain ke rumah Adit. Selalu Adit yang menghampiri ku, entah di kelab, tempat nongkrong atau tempat keramaian lainnya yang sengaja kami jadikan untuk bertemu.
Ya kalian benar, aku adalah pria brengsek.
"kakak, lagi berantem sama kak El ?" tanya Milly ketika Adit mendekati posisi kami.
"nggak kok. Kakak cuma minta kamu jangan deket-deket dia dulu, nanti bau alkoholnya nempel ke badan kamu."
Milly mengangguk, getaran pipi yang biasa aku lihat di pipinya sudah tak terlihat lagi. Aku jadi merindukan pipi gembul itu. "tadi kak El ngigau manggil Ibunya kak. Kayaknya kak El lagi kangen sama Ibunya,”
Aku yakin gadis kecil ini salah dengar atau bergurau semata. Aku tidak pernah menyebut nama wanita itu lagi di bibir ku meski keadaan ku hangover. Aku yakin 100%, dia pasti berbohong.
"bantu liatin El ya dek, kakak buatin dia minuman pereda mabuk dulu. Dilarang disentuh, dia suka menggigit."
Milly mendengus geli lalu mengangguk lagi, kemudia dia kembali menatap ku, sekarang gadis ini mendudukan dirinya di lantai persis didepan ku. Dia benar-benar menuruti perintah El, kedua tangannya ia kalungkan di lipatan kakinya, sedikit memundurkan duduknya untuk memberi jarak padaku, seolah aku adalah hewan buas kelaparan siap menerkam siapapun yang berani mendekatiku.
"kak El kangen sama Ibu kakak ? Milly juga kangen sama Ibu. Setiap malam Milly selalu mimpiin Ibu, di mimpi Ibu suka ngajak Milly mengobrol, sesekali Ibu juga menanyakan keadaan kak El."
Aku hanya terdiam memperhatikan Milly asik mengobrol sendirian, tapi aku mendengarkannya secara seksama. Sekarang gadis ini sudah tidak berkata ketus lagi, tutur katanya mulai sopan, dia begitu asik mengajak ku berbicara panjang lebar meski aku tidak membalasnya sedikitpun.
"kata kak Adit, kak El udah sibuk sama kuliah. Rumah jadi sepi karena kak El jarang main. Sekalinya datang ke sini malah mabuk." ucapnya sendu.
"kalo kak El lagi sedih, main ke rumah aja. Milly kadang kesepian kalo kak Adit sibuk kerja sama kuliah, Milly nggak ada temennya."
"sekarang yang Milly punya cuma kak Adit, kak El, Bi Ana sama Ruby."
"kak El jangan nangis lagi. Kalo nangis jangan sendirian, nanti Milly temenin deh."
"tapi kalo Milly nangis, kak El nggak boleh liat. Milly nggak mau dianggap gadis cengeng."
__ADS_1
Sudut bibirku terangkat mendengar penuturan Milly. Memang sih dia sudah tidak ketus lagi, malah makin kesini dia seperti perempuan pada umumnya, sangat bawel. Aku jadi lebih suka dia berbicara padaku menggunakan nada ketusnya.
Tapi mendengar dia mengatakan itu padaku, sekarang aku jadi malu sendiri berkat seorang gadis kecil ini. Harusnya aku yang mengatakan kata-kata semangat padanya, bukan dia.
"makin kesini makin bawel." ucapku bernada ketus kemudian. Bukan sengaja begitu namun aku masih begitu berat mengeluarkan suara ku akibat pengaruh Alkohol masih menguasaiku. Kemudian aku mendengus geli, tapi mendadak aku menjadi diam ketika kepalanya tertunduk sambil menggigit bibirnya. Ternyata dia menanggapi ucapan ku dengan serius.
"maaf," lirihnya padaku, masih bertahan menundukan kepala.
Oh bibir sialan, aku tidak bermaksud menyinggung perasaannya.
Tak lama Adit datang membawakan cangkir besar. Aku memaksakan diri untuk bangkit dan langsung meraih cangkir itu.
Minuman itu langsung aku habiskan. Pusing dan mual ku mulai mereda sedikit demi sedikit.
Milly bangkit setelah Adit memintanya segera masuk ke dalam kamar karena waktu sudah hampir tengah malam, sebelum melangkah menaiki anak tangga Milly kembali menatap ku. Dia menatap manik coklat ku secara lekat, lalu ia memberikan seulas senyuman dan berucap padaku.
"good night, kak El.."
*Badump..
Badump*..
"..sampai ketemu besok.."
*Badump..
Badump*..
"..semangat kak El."
*Badump..
Badump*..
Gadis itu membalikkan badan dan bergegas menaiki tangga. Aku hanya diam terpaku menikmati sensasi asing di dalam tubuhku.
*Badump..
Badump*..
Mendadak ucapan selamat malam dan kata semangat lembut dari Milly menganggu pikiran ku, aku merasakan ada sesuatu yang merambat di rongga dada, sedikit sesak tapi bukan bertanda aku sedang sakit.
"lo kenapa El ?"
Pertanyaan Adit aku hiraukan, masih sibuk mengenali sensasi asing ini. Bahkan sekarang detak jantung ku berdetak lebih cepat. Aku yakin ini bukanlah efek dari kebanyakan minum alkohol.
Namun dari situlah aku tahu akan sesuatu. Seolah ruang hidup ku yang dipenuhi kegelapan timbul sebuah secelah cahaya kecil memaksa masuk menyilaukan diriku. Dan semakin lama cahaya tersebut mendorong lapisan kegelapan itu dengan kuat, hingga cahaya itu berhasil menyorot diriku sepenuhnya untuk keluar dari sana.
Dan cahaya itu adalah Milly. Bahkan dia berhasil membangunkan secerca harapan yang pernah aku kubur dalam-dalam.
Harapan yang aku pikir tidak akan pernah berhasil aku raih, seolah datang menghampiriku dan meminta ku untuk diperjuangkan lagi. Kali ini harapan tersebut menjaminkan padaku jika aku akan berhasil meraihnya.
Aku mendengus sambil menarik sudut bibir ku, mulai detik ini juga aku menginginkan gadis kecil itu di dalam hidupku.
Sampai akhir hayat.
***********************************
__ADS_1