
Senang bercampur sedih.
El memandangi punggung mulus Milly dengan kilatan hampa. Lalu El mendekat dan memeluk Milly yang sedang tertidur memunggunginya, membiarkan kulit lembut itu memanjakan El yang sedang gundah gulana. Lalu El menaru kepala di ceruk leher, menghirup aroma menenangkan nan menyeruak, semakin dalam El hirup semakin terasa sesak di rongga dada.
Tiga hari lagi Milly akan berangkat ke Prancis, dan sisa tiga hari lagi El menghabiskan kebersamaan mereka sampai Milly akan meninggalkannya selama 3 tahun. Sebagian besar orang mengatakan jika 3 tahun bukanlah waktu yang lama, namun bagi El sebaliknya --menunggu Milly selama 3 tahun bagaikan memiliki sepatu yang hanya untuk satu kakinya saja.
Bibirnya saja yang pintar berkata tegar di depan orang. Namun hatinya berjerit merintih.
El melepaskan pelukannya perlahan lalu menutupi tubuh polos Milly dengan selimut hingga leher.
Kemudian El duduk di tepi tempat tidur, membuka laci meja nakas dan mengeluarkan 1 kotak kecil bludru berwarna hitam. Terlihat sebuah cincin solitaire dengan satu mata berlian putih, akan terlihat cantik jika cincin tersebut berhasil disematkan di jari manis Milly.
Memikirkan kapan El akan menyematkan cincinnya, apakah tepat jika El mengajak Milly dinner di sebuah restoran di Hotel bintang 5? Atau membawa Milly ke tempat romantis? Atau El akan memberikannya saat mereka di Bandara, lalu--
"cincinnya bagus kak."
Spontan El menoleh ke belakang lalu segera menyembunyikan cincin itu di laci. Tapi terlambat, Milly sudah melihatnya dibalik punggung El sejak beberapa menit yang lalu karena El tidak menggubris panggilannya.
"apa cincin itu untukku kak?" tanya Milly tanpa basa-basi. Wajahnya berubah berseri ketika El mengangguk kaku.
Satu tangan Milly terulur ke arah El, sengaja Milly menggerakan jemarinya seakan memohon untuk segera disematkan oleh cincin yang ia lihat tadi.
"apa kakak mau kasih cincin itu sekarang?" Milly semakin antusias.
"se-sekarang?" El terbata-bata, matanya bergerak bergantian ke jari dan wajah Milly.
"emang kakak mau kasihnya kapan? Pas aku balik ke Indonesia?"
Tidak. Itu terlalu lama. Kalaupun mau kasih ketika Milly sudah kembali, bukan cincin seperti tadi yang akan El berikan.
"maksudku-- aku-- harusnya aku--"
__ADS_1
El berniat ingin menyiapkan sesuatu yang tak akan Milly sangka-sangka, dan menjadikan momen tersebut tak akan terlupakan oleh mereka. El ingin menjadi sosok kekasih yang romantis, baginya El sendiri merasa ia kurang begitu romantis memperlakukan Milly. Yang hanya El bisa lakukan bagaimana caranya agar Milly terhindar dari pria yang berusaha mendekatinya.
"nanti malam kita dinner diluar ya? Aku reserve tempatnya dulu,"
Milly mengulas senyum. Ada perasaan haru saat tahu El ingin berusaha membuat sebuah momen penting untuk mereka berdua.
Milly mensejajarkan posisinya untuk duduk di samping El. Merangkak seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos. Dengan lamat Milly mengamati wajah El yang mulai berubah karena adanya semburat merah disana. Melihat El grogi terlihat menggemaskan.
"daripada dinner diluar bagaimana kalo besok temui aku di rumah jam 7 malam. Pakai pakaian rapih ya. Jangan lupa!"
"mau ngapain?"
"kakak datang aja besok. Mumpung kak Adit pergi sama kak Karmila. Okay?"
Beberapa saat El terdiam memandangi Milly, akhirnya El mengangguk setuju.
***********************************
Setelah sampai, El bergegas melangkah dengan degupan jantung yang bertalu kuat. El sama sekali tidak tahu rencana Milly untuknya malam ini, hingga El melihat Milly yang sudah berdiri disamping meja makan yang telah didekor cantik layaknya candle light dinner. Di atas meja sudah tertata 2 piring dengan Main Course daging Steak yang pastinya Milly pesan dari restoran ternama. Ada juga makanan lainnya yang tersaji di atas meja, gelas yang sudah terisi minuman, serta 2 lilin menyala dipadu dengan beberapa tangkai bunga berbagai macam warna.
Juga penampilan Milly terlihat cantik dengan dress sepanjang lutut berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil. Rambut hitam panjangnya tergerai indah tanpa asesoris.
El kembali berjalan mendekati Milly, lalu satu tangannya merangkul bahunya dan mengecup kening Milly cukup lama.
Setelah El memberikan buket bunganya, mereka berdua duduk di kursi masing-masing. Walau bersebrangan namun tetap terasa saling berdekatan.
Setelah mereka menghabiskan makan malam, Milly menyalakan musik melalui ponsel melantunkan instrumen ketukan piano yang merdu. Nada dan irama nan lembut memancing mereka untuk berdansa dengan gerakan yang mereka bisa, meliukkan tubuh mereka ke kiri dan ke kanan, lalu berputar dan berakhir dengan mengeratkan pelukan satu sama lain seakan mereka tidak ingin saling melepaskan.
Lantunan lagu sudah berhenti beberapa menit, namun mereka belum mau untuk saling melepaskan. Sampai dimana Milly duluan yang mengurai lalu ia mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku dress.
Sebuah gelang prusik berwarna hitam dengan charm emas berbentuk huruf E kapital. Sesuai inisial nama El.
__ADS_1
Milly meraih tangan kanan El lalu ia pasangkan gelang tersebut. Milly tersenyum puas, gelang yang ia beli sangat cocok dipergelangan tangan El.
"bagus banget di tangan kakak." puji Milly ketika manik mereka bertemu.
"jadi kalo begini, charm nya jadi bentuk E. Kalo diputar jadi bentuk M, M untuk Milly." ucapnya lagi sembari memutarkan charm tersebut.
Tak kuasa El tersenyum haru melihat gelang yang sudah menghiasi pergelangan tangannya. Gelang yang terlihat simpel tapi sangat berkesan untuk El sendiri.
Tak lama kemudian El juga mengeluarkan kotak bludru berwarna hitam. Satu tangannya membuka kotak tersebut lalu mengambil cincin tersebut, satu tangannya lagi meraih tangan Milly dan segera ia sematkan cincin ke jari manisnya.
"dimanapun kamu berada cincin ini adalah tanda bahwa kamu sudah dimiliki seseorang. Setelah bersusah payah menunggu mu selama 3 tahun mendatang aku akan mengganti cincin ini dengan cincin yang baru, cincin yang menandakan bahwa kamu benar-benar menjadi milik ku selamanya, Milly."
Meski Milly sudah melihat cincinnya namun tetap saja cincin tersebut berhasil membuat tangisannya pecah setelah sekuat tenaga ia tahan. Sejenak Milly menatap cincin di jarinya, Milly segera memeluk El dengan erat, begitu pula dengan El.
Malam ini adalah malam yang tak akan pernah mereka lupakan, setiap doa dan janji mereka terus dirapalkan.
Hingga di Bandara pun El tak henti mengingatkan Milly akan semua hal tersebut.
2 jam lagi sebelum check in, El tak luput melepaskan pelukannya. Harusnya saat ini Milly lah yang ketar-ketir menjelang keberangkatan mengingat perjalanannya akan ditempuh melebihi 15 jam. Namun disini El lah yang tampak begitu gelisah, hingga kedua tangannya terasa panas dingin memikirkan bagaimana Milly nanti selama di perjalanan dan tinggal di Prancis.
Adit pun juga tak henti memberi nasehat pada Milly sebelum check in: selalu menjaga kesehatan, tak lupa mengabarinya setiap hari minimal 1 hari 1x video call, bergaul dengan orang baik, dan tidak meneguk atau menyentuh alkohol disana.
Waktunya Milly harus check in, kembali ia berpamitan pada Adit dan Karmila, lalu Ruby yang ikut datang menemani Milly di Bandara, Risma dan Ferry pun hadir tanpa Nathan --yang masih sibuk bolak balik ke sekolah untuk mengurus semua keperluan menjelang kuliah di Aussie, dan terakhir peluk hangat dan aroma maskulin El yang akan Milly rindukan selama di Prancis.
"i love you, Milly."
"i love you too, kak El."
Setelah puas memeluk El, akhirnya Milly bergegas masuk sembari mendorong troli koper lalu mengantre pengecekan tiket. Setelah itu Milly melangkah masuk hingga sosoknya tak terlihat lagi oleh pandangan El dan yang lainnya.
***********************************
__ADS_1