
"kakak tanya sekali lagi, kamu beneran mau kuliah di Prancis ?"
Belum ada jawaban yang keluar dari bibir Milly. Jemarinya yang terasa panas dingin ia pilin kuat-kuat, sembari mengatur nafasnya serta degup jantung yang terus berdebar kencang merelungi dirinya.
Wajah merah yang tertampak jelas di sana tertangkap oleh manik hitam Adit.
"kok muka kamu merah gitu, kamu sakit dek ?" Adit tampak khawatir, mengamati wajah Milly secara lekat.
Milly menggeleng kaku, "oh.. nggak kak."
"kenapa wajah kamu memerah gitu ?" punggung tangan Adit menyentuh kening Milly. "tapi kamu nggak panas. Badan kamu ada yang sakit ?"
Milly menggeleng lagi dengan wajah menunduk. Wajah memerahnya bukan karena sakit yang diperkirakan Adit, melainkan akibat ulah El yang telah mencumbunya layaknya orang kelaparan. Sehingga Milly hampir kehabisan oksigen selama berciuman dengan El.
Adit dan Milly yang sedang duduk di sisi tempat tidur, tanpa Adit sadari di bawah tempat tidur ada El yang sedang tengkurap sambil mengitari kondisi kamar. Degup jantungnya juga berdebar kencang, hampir saja kegiatan mereka di atas tempat tidur tidak berhasil dipergoki Adit.
El beruntung logikanya masih bekerja sama dengan baik, ketika ia memasuki kamar El menyempatkan diri untuk mengunci pintu.
Merasa terus diperhatikan Milly mendongak kepalanya dan mengalihkan pembicaraan.
"apa kakak mau melarang Milly pergi ?"
Sebagai seorang kakak yang selalu memantau apapun setiap aktifitas Milly, Adit memang begitu berat melepaskan Milly untuk pergi jauh darinya. Bukan bermaksud untuk menghalangi apa yang diimpikan Milly selama ini, Adit sangat tahu bahwa Milly berkeinginan sebagai Komposer Musik dan sudah jauh-jauh hari Milly sesekali bercerita bahwa ia akan berkuliah di luar negeri.
Di Indonesia juga ada Universitas menyediakan fakultas bidang musik, namun fasilitas dan ilmu yang memadai kurang mendukung. Menurutnya.
Akan disayangkan saja jika Milly kuliah di sebuah Universitas yang belum mendukung penuh akan hal-hal tersebut. Mengingat anggaran biaya pun cukup mahal, Milly tidak ingin berapa pun yang sudah ia bayar tidak sesuai dengan ilmu yang ia ambil.
Satu tangan Adit mengelus uraian rambut Milly dengan kasih sayang, sudut ia teringat dengan Milly kecilnya; berpipi chubby dan menggemaskan sudah beranjak dewasa. Sudut bibirnya ia tarik ke atas berbentuk senyuman simpul.
"adik kakak udah besar ya. Kayaknya baru kemarin kamu masih SMP, sekarang kamu udah mau kuliah aja."
Milly tersenyum.
"memang kakak masih berat buat ijinin kamu pergi Mil. Apalagi kamu pergi ke negara yang jauh, bukan ke luar kota. Belum tentu kakak bisa mengunjungi kamu ke sana setiap tahun sekali,"
"kan teknologi udah canggih kak. Kita bisa video call dan mengirim chat di whatsapp. Kalo kakak begini terus sama aku, kapan aku beneran mandiri kak ?" Milly menekuk bibirnya sedih, ia pun sedih juga harus berpisah jauh dengan Adit. Namun keyakinannya untuk kuliah di Prancis sudah mantap. Benaknya cukup lelah meyakinkan Adit dan El, baginya mereka berdua sama-sama memicu semangat Milly menurun.
Adit menghela nafasnya menangkap raut sedih di wajah Milly, "iya kakak tau,"
"pasti El juga kepikiran kamu bakal pergi,"
Milly menaikan alisnya, "kak El ?"
Bimbang. Adit berpikir keras apakah ia sudah harus membicarakan hal tentang El pada Milly. Kebimbingannya menjurus ke arah perasaan takut, tapi Adit penasaran bagaimana ekspresi Milly jika Adit mengatakan hal ini-
"iya. Selama ini El selalu menjadi orang pertama bila kami membahas tentang kamu. Setiap kegiatan mu, keinginan mu, kesehatan mu, El selalu memikirkan itu,"
"kak El.. selama ini perhatian sama aku ?"
Mereka berdua terdiam beberapa lama, sama halnya dengan El yang masih berada di bawah sana. Debaran jantung El berdebar menunggu Adit mengucapkan sesuatu tentangnya.
Hatinya menduga-duga bila Adit akan mengatakan yang sebenarnya perihal perasaan El terhadap Milly selama ini.
Semoga dia benar-benar mengatakannya..
"iya, dia itu perhatian banget sama kamu, melebihi aku sebagai seorang kakak.."
"..ya aku mengerti kenapa dia begitu. El sayang sama kamu Mil. Dia sudah menganggap kamu seperti adik kandungnya sendiri.."
"..di depannya saja dia bersikap dingin, tapi sebenarnya dia peduli banget sama kamu. Kakak harap kamu nggak terlalu termakan atas sikap dinginnya,"
Ternyata dugaan El meleset, pria itu masih belum bisa mengatakan yang sebenarnya. El terkekeh hambar di bawah sana, harusnya El tahu bahwa Adit akan terus bungkam sampai hari terakhir kesepakatan mereka tiba. Tanpa Adit sadari juga jika El sudah lebih dulu berjalan ke garis finish dengan cara liciknya.
Di lain hal apa yang El pikirkan sesuai dengan pikiran Adit saat ini, bahwa belum saatnya Milly mengetahui tentang perasaan El yang sesungguhnya. Sampai hari itu tiba, Adit bertahan untuk menutup rapat hal tersebut.
Tinggal 3 minggu lagi kesepakatan mereka akan berakhir.
__ADS_1
Milly menggangguk singkat. Ia berpikir bahwa selama ini Adit salah menilai tentang perasaan El.
Pandangan Adit beralih ke arah ke meja belajar Milly yang dipenuhi tumpukan buku dan lembaran kertas, serta laptop yang masih menyala menunjukkan portal artikel. Adit beranjak dan berjalan ke meja belajar, satu per satu ia membaca sekilas perihal bagaimana gaya hidup dan kebiasaan penduduk di Prancis.
"jadi.. kapan kamu berangkat ?" pandangan Adit masih terpaku melihat tumpukan artikel tersebut.
"2 bulan lagi kak," balas Milly.
Adit berdeham sambil memainkan kepalanya.
"ya sudah, bersiap-siap lah, nanti semua surat-surat kamu biar kakak yang akan urus."
Tak bisa membendung lagi, Milly mengurai senyum senangnya, langsung gadis itu bangkit dan berlari memeluk Adit.
"terima kasih kak," ucap Milly didalam pelukan Adit.
"janji sama kakak, jangan macam-macam disana, bergaul dengan orang yang baik, setiap hari minimal 1x harus video call dan tidak ada alasan untuk tidak segera membalas chat dari kakak."
Milly melepaskan pelukannya, lalu ia bersikap memberi hormat di depan Adit, membuat Adit tersenyum gemas.
"siap bos.."
Malam semakin larut, Adit memutuskan meninggalkan kamar Milly agar mereka bisa beristirahat. Setelah pintu tertutup dan terkunci, barulah El bergegas keluar dari persembunyiannya.
"kakak nggak apa-apa ?" Milly mengulurkan tangannya agar El mudah untuk bangkit, pandangannya serius menatap wajah El yang bernafas lega setelah berlama tengkurap di bawah kasur yang sempit.
"untung perut ku nggak buncit,"
"emang kalo buncit kenapa kak ?" tanya Milly bingung.
"mungkin aku udah terbujur kaku karena sulit bernafas," jati telunjuk El menunjukkan arah kolong tempat tidur, lalu mereka terkekeh bersama.
Satu tangan El mendarat di atas kepala Milly, mengusapnya lembut dengan kasih sayang. Kini pikiran El melayang membayangkan Milly akan pergi jauh meninggalkannya, rasa sesak hingga nyeri mulai melingkupi dada El, walau bagaimanapun ia harus bersikap dewasa.
"aku juga akan bantu Adit buat urus segala keperluan kamu. Kamu hanya tinggal mempersiapkan diri, mulailah menjaga kesehatan."
"terima kasih kak,"
El tersenyum, lalu memeluk Milly dengan erat.
***********************************
Kepulan asap Hot Americano tak berhenti mengudara di sebuah cup berlabel nama gerai kopi. Rasa pahit mengaktifkan saraf di area kerongkongan, membantu indera penglihatan dan indera pendengar tetap aktif pada jam rawan seperti sekarang ini.
Sudah 2 jam lebih setelah makan siang dilakukan, 4 orang yang duduk di gerai minuman masih sibuk mendengarkan seorang pria paruh baya yang tiada henti membicarakan perihal rencana pengeluaran varian rasa minuman terbaru serta mengganti wajah kemasan minuman poca-poca.
Berkali-kali El menyesap Hot Americano nya hingga tandas, meeting melebihi 1 jam adalah hal yang tidak disukai oleh pria berkemeja abu-abu tersebut. Ia jauh lebih suka berdiri panas-panasan atau bolak-balik bertemu client di luar daripada seharian duduk untuk menghadiri meeting yang baginya seperti sedang mendengarkan kisah dongeng kerajaan.
Hingga akhirnya meeting diselesaikan di beberapa menit kemudian. Pak Dwi—selaku atasan El memintanya untuk memonitoring semua pekerjaan serta memperhatikan setiap progres jalan kerja yang dilakukan oleh para staf. El segera menganggukkan kepalanya, desahan lega keluar setelah terbebas dari meeting membosankan tersebut.
Mereka berbondong-bondong bangkit untuk meninggalkan tempat, sebelum keluar El meminta Karmila untuk mencatat semua agendanya sampai minggu depan. Kemungkinan besar El akan bekerja lembur lagi di kantor, dan waktunya bersama Milly akan kembali terbatas. Dengan cekatan Karmila mencatat semua hal yang El sampaikan, dan hebatnya mereka sibuk membahas hal tersebut sembari berjalan sampai El tidak sengaja menabrak seorang wanita paruh baya cantik yang menenteng beberapa kantong belanjaan hingga terjatuh.
Spontan El membungkuk dan membantu merapihkan perintilan belanjaan wanita tersebut sambil melontarkan permohonan maaf.
Sampai pada dimana tubuh El mendadak kaku setelah pandangannya bertemu dengan pandangan wanita itu, begitupun sebaliknya.
"El,"
Wajahnya yang berbinar tidak mengurangi paras cantiknya meski sudah berumur, dengan garis mata yang sayu berpendar disana menatap El yang sedang menatapnya nyalang.
El bangkit berdiri dan langkahnya berjalan cepat meninggalkan wanita itu dan Karmila yang tertegun dengan sikap El barusan. Setelah Karmila membantu sisanya dan pamit pergi, Karmila menyusul langkah El di parkiran mobil.
"lo kenapa El ?"
Tidak ada jawaban darinya, selain diam menyetir mobil dengan kecepatan penuh. Karmila gamang melihat perubahan El saat ini.
Sesampainya El di ruang kerjanya, emosinya tak kunjung mereda. Amarahnya menguras pikiran hingga ia sulit berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Hingga sore hari tiba, El tidak bisa melakukan apapun selain meremas rambut nya kuat-kuat, menahan rasa sakit akan luka lama yang berhasil ia pendam selama ini.
"El, lo baik-baik aja ?" Adit memasuki ruangan El lalu mendekati pria itu yang sudah terlihat kacau. Setelah Karmila menceritakan apa yang terjadi ketika mereka di gerai kopi, Adit langsung menghampiri El tanpa berpikir panjang.
El belum menjawab, namun menangkap raut kebencian El disana menimbulkan perasaan khawatir.
"Karmila cerita sama gue, lo abis ketemu seseorang. Apa dia-"
"iya." Putus El memotong pembicaraan.
"kenapa gue harus bertemu wanita itu lagi ?" ucapnya menahan geram akan rasa amarah dan benci. Adit tampak berpikir, lalu menghembuskan nafas.
"mungkin Tuhan ingin lo.. dan nyokap lo bertemu agar kalian berbaikan."
El terkekeh hambar mendengar alasan tersebut, "baikan, seenak jidat dia pergi ninggalin gue dan Ayah lalu gue harus maafin dia dengan mudahnya ? jangan harap !"
"Karmila bilang dia sempat liat ekspresi nyokap lo, terlihat sedih gitu. Lo nggak mau coba ketemu beliau lagi ? gue bakal minta tolong orang buat nyari alamat nyokap lo,"
"buat apa ?"
"kalian harus bertemu El. udah lama juga kan kalian nggak bertemu, gue percaya nyokap lo pasti kangen sama lo."
El terkekeh sinis, membayangkan sosok wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu kandungnya, yang telah lama meninggalkannya lalu kembali datang menemui El dan mengucapkan kata rindu.
Membayangkannya saja membuat perut El mendadak mual.
"untuk apa gue bersusah payah mencarinya lagi padahal dia sendiri yang memilih pergi dari gue ? gue nggak minta lo cari wanita itu, buang-buang waktu." tegas El bernada ketus.
Senja sore menampakkan diri, El bangkit dari kursi kerjanya sambil menarik jas kerjanya yang bertengger di punggung kursi. Dengan langkah lebar ia pergi meninggalkan Adit yang masih bertahan berdiri memandangi punggung tegap El disana.
**********************************
Elkana
Aku menghempaskan badan ku di sofa bed yang empuk, jemari ku bekerja keras memijit area kening yang terus berdenyut nyeri. Hari ini terasa begitu panjang membuat sekujur tubuh ku berteriak lelah.
Mandi dengan air hangat menjadi pilihan yang tepat untuk meluapkan rasa lelah ku, tidak berlama-lama aku menanggalkan semua pakaian ku menuju kamar mandi. Kran air berputar memancurkan air hangat melalui kepala ku dan bergelanyar memanjakan semua tubuhku.
Aku meresapi jalannya air membasahi kulit ku serta hangatnya meresap melalui pori-pori kulit. Berharap kehangatan ini meredam perasaan melankolis yang tidak pernah aku harapkan lagi, tapi percuma saja, takdir menginginkan ku menderita dengan perasaan berkecamuk.
Luka lama ku yang sudah ku sembuhkan susah payah kini kembali terbuka lebar sejak aku bertemu dengannya lagi, seorang wanita anggun masih terlihat sama seperti dulu, tidak ada perubahan padanya selain rambut hitam yang semakin terurai panjang.
Melihatnya kembali mengembalikan penggalan ingatan kelam ku di beberapa tahun yang lalu. Dimana ia dengan Ayah bertengkar hebat, kemarahan mereka begitu menggebu-gebu sampai mereka tidak mempedulikan perasaan ku yang begitu terluka menyaksikan mereka saling melempar kata caci maki yang seharusnya tidak ingin aku dengar.
Saat itu aku tidak bisa melakukan apapun selain menunggu mereka berhenti, berharap bahwa mereka akan melihat ku tengah berdiri tak jauh dari posisi mereka.
Namun kehadiran ku disana tidak meredam pertengkaran mereka, terdengar Ayah memohon pada wanita itu untuk berhenti membentak karena Ayah menangkap kehadiran ku disana, tapi ucapan Ayah dihiraukan, justru amarahnya semakin menjadi-jadi.
Hingga sebuah kata perceraian keluar dari bibir wanita itu, dan seketika suasana menjadi hening. Sekali lagi wanita itu mengucapkan kata perpisahan pada Ayah, mengatakan jika ia sudah tidak sanggup hidup bersama Ayah.
Lalu wanita itu melihat ke arah ku, wajah yang penuh guratan amarah masih tercetak jelas di sana. Menatap ku dengan kobaran emosi. Lalu ia berjalan, menaiki tangga, melewati ku menuju ke kamar. Tak lama terdengar lagi langkah kakinya yang gusar menuruni anak tangga dengan sebuah koper besar yang ia gerek, kembali melewati ku tanpa mengeluarkan satu kata pun, lalu melangkah menuju pintu untuk keluar dari rumah besar ini.
Aku masih terdiam berdiri disini, dengan pandangan kosong, lidah ku kelu tidak bisa mencegahnya pergi. Kedua kaki ku yang sempat lemas tak bertenaga, aku paksakan bergerak untuk berlari menuju pintu saat mendengar deru mobil yang menyala dan berjalan pergi meninggalkan rumah hingga bayangan mobil tersebut tidak tertangkap lagi.
Dia pergi tanpa seijin ku, dia pergi tanpa mengucapkan sesuatu padaku, dia pergi tanpa menoleh padaku dan meninggalkan ku dengan perasaan hancur dan berkeping-keping.
Tapi aku masih menunggunya disini, ku pikir dia hanya marah dan pergi sementara waktu untuk menenangkan diri. Tapi sosoknya tidak lagi muncul di hadapan ku, sama sekali ia tidak menemui ku untuk menanyakan kabar padaku, menelepon ku juga tidak hingga akhirnya aku yang berusaha mencarinya, meneleponnya berkali-kali. Tapi hasilnya nihil, bahkan nomor telepon ku sengaja diblokir.
Sampai kami dipertemukan lagi di pengadilan agama, ketukan palu sang hakim memenuhi permintaan sang tergugat, perceraian mereka dikabulkan.
Aku masih berharap dia akan menghampiri ku, memeluk ku dan menanyakan kabar ku. Tapi yang aku dapatkan ia pergi bersama seorang pria yang seumuran dengan Ayah. Bergandengan tangan tanpa menoleh ke arah ku sedikitpun. Terang-terangan aku menatapnya dengan lekat, memancarkan perasaan rindu yang amat kuat padanya, berharap kehadiran ku masih diinginkan olehnya.
Lagi-lagi perasaan ku hancur ketika ia membalas tatapan ku begitu dingin, seolah aku adalah orang asing yang menganggu kehidupannya. Untuk terakhir kalinya aku memanggilnya, menyeru panggilan Ibu padanya, dan terakhir kalinya pula ia tidak merespon panggilan ku dan menjadi momen terakhir dimana aku tidak bertemu dengannya lagi.
Dan nyatanya Tuhan mempertemukan kami lagi.
Aku tidak tahu apa rencana-Nya pada ku yang sengaja mempertemukan kami, yang aku tahu sekarang aku tidak ingin lagi memikirkannya. Karena bagiku dia hanyalah parasit di masa lalu ku, dan tidak akan aku biarkan dia kembali masuk menjadi parasit di kehidupan ku yang baru.
__ADS_1
***********************************