Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
14. El VS Adit (1)


__ADS_3

Kegaduhan kelas 3 IPS 1 memenuhi seisi kelas karena para guru diminta hadir mengikuti rapat. Sang ketua kelas - Nathan, meminta teman-temannya membungkam mulut mereka masing-masing. Bu Ella selaku wali kelas 3 IPS 1 meminta Nathan menjaga kelas supaya tidak berisik dan tidak ada siswa keluyuran di luar kelas.


Beberapa siswa mulai sibuk sendiri dengan kegiatan masing-masing, ada yang sibuk corat coret papan tulis, ghibahin orang, beberapa ada yang sibuk bermain games di ponsel, ada juga yang sibuk membaca buku, dan ada juga yang sedang menyendiri di kursi panasnya.


Wajahnya tertutup lipatan lengan di atas meja, sembari mendengarkan musik menggunakan earphone.


Dialah Milly. Asik diam menenggelamkan pikirannya yang semeraut.


Sejak pagi mood Milly terbilang buruk. Setelah menyidak 2 pangeran kodok sambil memasang wajah memelas, Adit dan El sadar bahwa perbuatan mereka semalam sudah diluar batas.


Flashbak On


"maafin kakak, Milly. Kakak janji nggak akan kayak gitu lagi," Adit menaikan tangannya menunjukan 2 jari, menandakan tanda peace. Wajah El hanya tertunduk ke bawah, tidak mengatakan apapun tapi Milly tahu pria itu juga merasa bersalah.


Setalah sekian lama Milly tak mengacuhkannya, akhirnya Milly kembali berani menatap El. Langsung ditatap dengan tatapan tajam. Rasa campur aduk memenuhi hati menjalar sampai ke kepala, jadi pening.


"kata kak Wahyu kalian berantem karena perempuan ? Bener ?!" suara Milly datar tapi mendelik tajam. Berhasil membuat bulu kuduk Adit berdiri. Milly ingin sekali meluapkan kemarahannya, namun Adit dan El hanya bisa bungkam.


Seperti kata orang bijak yang pernah mereka dengar, "marahnya orang pendiam melebihi orang pemarah".


Maka dari itu mereka diam, tidak ingin menyulutkan api semakin membara.


"hanya karena kak Karmila, kalian harus berantem ?"


Mendengar itu El langsung mendongak tidak terima, keningnya terlipat hingga menyatukan alis. "maksudnya ?"


"kak Wahyu bilang kalau kalian berantem karena ngomongin kak Karmila. Kalian berdua kalau suka sama kak Karmila harus gentle lah, masa berantem, kakak-kakak ini udah sahabat lama, apa kalian nggak mikir kalau persahabatan kalian jadi taruhannya? Akhirnya Milly meluapkan kekesalan sejak semalam. Walau pada akhirnya dia menjadi tidak enak sendiri, takut jika Milly salah bicara.


"kita nggak berantem karena Karmila. Jangan asal ngomong,"


Nyali Milly sedikit menciut, melihat rahang tegas El mengeras, berusaha menahan amarahnya. Adit mulai menyela pembicaraan, meluruskan apa yang terjadi.


"Mil, kita memang sempat bahas Karmila. Tapi-"


"tapi apa ? Kak Wahyu loh yang bilang begitu, dia denger kalian cekcok pas bahas kak Karmila. Kak Wahyu nggak bohong kan ? Kalian bener berantem karena kak Karmila ?" potong Milly kemudian. Dia kembali mengumpulkan keberaniannya untuk menatap El. Wajah El masih menunjukan menahan amarah.


"kalau kalian ingin bersaingan pakai yang cara sehat. Nggak harus cekcok di kantor,"


El tersenyum remeh mendengar itu, "intinya lo salah paham."


Flashback Off

__ADS_1


Milly menghela nafasnya. Ucapan ketus El terakhir itu berdengung di sekitar telinga, seolah ucapan itu baru saja dilontarkan padanya.


Lagi-lagi gadis itu memikirkan El, dari sekian lama Milly berusaha keras meminimalisir perasaannya. Setelah berdebat tadi pagi pria itu langsung pergi tanpa pamit, tanpa ada menyentuh atau membawa bekal sarapan paginya.


Milly kembali kepikiran apakah El sudah makan atau belum, mengingat semalam pria itu mabuk berat dan paginya belum ada secuil makanan masuk ke dalam perut. Khawatir jika El akan jatuh sakit. Gagal move on lagi dong..


Tak lama Ruby tiba dan duduk di kursi nya setelah pergi ke toilet. Dia melihat Milly kembali dengan kebiasaannya: mengurung wajahnya dibalik lipatan tangan di atas meja. Ruby menduga pasti Milly memikirkan pria dingin itu. Sepertinya Milly memang susah buat move on dari pesona sang es batu.


Harus terdampar dulu ke pulau terpencil, baru bisa kayaknya.


***********************************


Orang Muda Grup


Sebuah perusahaan besar berdiri di jantung kota Jakarta. Gedung tinggi berlantai 38 ini dilapisi oleh kaca silver, dan tertera nama perusahaan di halaman depan gedung dan juga tertera di tanaman hias yang sengaja dibuat apik.


Tepat di lantai 11, sebuah ruangan minimalis yang tercantum nama Marketing Suvervisor. Ruangan padat yang dihalang oleh partisi kaca, ruang tersebut penuh dengan para karyawan yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Termasuk dengan salah satu ruangan kerja yang tertulis plakat Junior Marketing Suvervisor, Elkana Bramawan.


Jemari pria itu sibuk memainkan bulpoint hitam, namun pandangannya kosong karena memikirkan seseorang yang sedari tadi menghambat pekerjaannya.


Bahkan sampai tidak sadar jika Karmila sudah duduk di depan meja kerja El, menatap El lurus dengan melipat kedua tangan di depan dada.


Pekik Karmila membuat El tersentak dari kursinya. Pria itu membenarkan posisi duduknya dan berdeham. Lalu dia menatap wajah kesal Karmila.


"El, kita harus bicara serius." tegas Karmila. El hanya mengangguk nurut.


"gue juga udah kabarin Adit buat dateng ke sini. Biar kita kelarin masalah ini cepet-cepet."


El kembali mengangguk. Saat ini mood nya kurang bagus. Rasa lapar yang mendera perut kalah dengan rasa khawatir El terhadap seseorang.


Tak lama Adit mengetuk pintu dan memasuki ruangan El. Ruangan El terpisah dengan staf lain, mengingat status jabatan El sudah naik pangkat sehingga mendapatkan ruangan tersendiri, sama seperti atasannya.


"bagus kita udah kumpul. Jadi ayo kita bahas bareng-bareng."


Karmila menepuk kursi disebelahnya, menyuruh Adit duduk disana. Adit menurut dan menduduki dirinya disana.


Suasana ruangan menjadi tegang. Karmila buru-buru memecahkan ketegangan ini.


"jadi mau sampai kapan masalah ini bisa selesai ? Kesalah pahaman ini sudah menjalar nggak jelas, Wahyu dan Edwin juga udah cerita ke gue semuanya. Masalah pribadi kalian malah jadi semeraut."


Mereka hanya membungkam tak bersuara. Rasanya Karmila ingin menjambak rambut 2 pria itu, gemas.

__ADS_1


Lalu Karmila merubah posisi duduknya menghadap ke Adit, "Dit, semua akar masalah ini dari lo. Kapan lo bener-bener bisa kasih kepercayaan ke El ?"


"kata siapa gue nggak percaya sama dia ?" akhirnya Adit membalas ucapan Karmila, sedikit dingin. Sekilas El dan Adit saling melirik.


"trus kalian kemarin berantem karena apa kalo bukan karena lo? Lo tau nggak sih kalo Wahyu dan Edwin beranggapan kalian berantem karena gue."


"lo nggak usah pikirin Mil," El membuka suaranya. Singkat.


"nggak usah kepikiran gimana ? Gue pasti kepikiran lah, lo gila yah ?! Anak-anak udah mikir yang aneh-aneh tentang kita, tapi kalian berdua malah cuek bebek begini."


"ya Allah kenapa gue harus ada diantara kalian sih ?"


"kok lo ngomong gitu Mil ?" sela Adit tidak terima.


"masalah pribadi kalian udah nyeret gue terus-terusan Dit. Gimana gue nggak pusing ?!"


"jadi kapan kalian menyelesaikan permasalahan ini ? Gue juga nggak mau Milly akan beranggapan aneh-aneh tentang gue."


"minta dia tarik semua aturannya ke gue. Gue juga pengen kerja cepet," sudut El sambil mengendikan dagu ke arah Adit.


"maksudnya ?" tanya Karmila bingung.


"iya, lo bilang ke dia suruh tarik semua aturan nya. Gue udah capek nurutin kemauan dia lagi,"


"lo mau apa sih El ?" Adit mulai curiga dengan El. Dia memicingkan matanya.


"gue udah cukup sabar sama lo Dit, dan mulai sekarang gue udah nggak mau peduli sama aturan lo lagi. Gue capek,"


"tapi gue-"


"iya, gue tau Dit. Lo tenang aja, gue akan bergerak sewajarnya, cuma gue akan nunjukin diri gue yang sebenarnya. Gue udah nggak mau muna lagi,"


El menghela nafasnya, "gue udah nggak peduli lo larang gue lagi. Makin kesini gue makin frustasi."


"ijinin gue bergerak duluan sebelum waktunya. Gue nggak akan ngecewain lo."


Sekarang Karmila hanya bisa menatap Adit dan El secara bergantian. Lalu wanita berambut panjang itu menghela nafasnya.


Urusan kedua pria ini sangat membingungkan.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2