
Suara gaduh terdengar dari kelas 3 IPS 1, tidak lain dengan alasan mereka begitu merindukan suasana kelas yang seperti ini; bercanda, mengobrol, ada juga yang tiduran di atas meja, dan ada pula yang bertengger di depan pintu menyaksikan murid lain yang berlalu lalang melewati kelas mereka.
Diantara mereka ada 2 murid sedang asik bercengkrama, betah duduk di kursi mereka sembari menceritakan beberapa hal penting yang belum mereka saling ketahui. Ruby, menatap Milly tidak percaya dengan wajah penuh sumringah. Mendengar cerita Milly barusan bagaikan mimpi indah yang akhirnya terwujud.
“lo serius ? beneran Mil ? Eeecieee.. Congratulation Mil ! semoga hubungan kalian langgeng sampai kakek nenek.”
Seru Ruby dengan ekspresi senang bahwa akhirnya El dan Milly berpacaran. Bahkan manik hitamnya berlinang air mata, sekuat tenaga Ruby menahan agar tidak terjatuh. Ia begitu terharu.
“makasih Rub.” Haru Ruby menular pada Milly. Hingga kini Milly masih tida percaya dengan kenyataan yang ia alami. Jangankan Ruby, pikiran Milly pun juga sama, bagaikan mimpi indah yang telah terwujud.
“kak Adit tau kalian udah pacaran ?”
Kini wajah Milly berubah tertekuk murung, membuat Ruby melayangkan tatapan bingung.
Milly menghela nafas, “belum Rub, kami Backstreet.”
Ruby melotot sempurna dengan bibir yang terbuka setengah.
“hah, serius ? kenapa Backstreet ? ada masalah ?” tanya Ruby tidak percaya.
Milly menggeleng singkat, benaknya juga tidak yakin apakah hubungan El dan Milly akan membawa masalah serius. Wajah tegang El saat itu meminta Milly untuk menutup hubungan mereka sementara memicu praduga yang terus berputar di dalam pikiran Milly.
“sebenarnya nggak ada masalah, cuma kak El minta aku untuk merahasiakannya dulu. Apalagi kak Adit baru menjalin hubungan serius sama kak Mila,”
“apa hubungannya sama hubungan kalian ?” tanya Ruby lagi dengan raut penasaran. Dahinya ikut berkerut ke dalam.
Kepala Milly semakin tertunduk. Teringat malam hari yang dimana hubungannya dengan El sudah dikatakan resmi, ketika Adit dan Karmila tiba di rumah El menunjukkan sikap seperti biasanya. Tampak lebih banyak diam, terkadang ia berdeham singkat atau menggerakkan kepala sebagai tanda membalas ucapan Adit dan Karmila di depan Milly.
Bagaimana dengan sikap Milly saat itu ? hanya tertegun di tempat. Sikap dan perilaku El kembali berubah 180 derajat, seolah tidak ada kejadian apapun sebelum Adit dan Karmila tiba.
Garis senyum senangnya digantikan paksa dengan senyum getir kepedihan.
“aku harap kamu mengerti. Ini tidak akan lama, aku janji.”
Itu bisiknya terakhir ketika mereka akan bersiap untuk pergi tidur.
“kak El ingin menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan hubungan kami sama kak Adit.”
Ruby menimbang ucapan Milly barusan, jika Milly berkata seperti itu artinya El akan mengumumkan hubungan mereka ketika Milly berulang tahun.
Tepat dimana kesepakatan antara 2 pria itu berakhir.
Ruby menilai jika El sedang berlaku ‘curang’ dengan Adit. Ia yakin sebelum hari ulang tahun Milly tiba, El akan terus menyembunyikan hubungan mereka.
“siapa aja yang udah pada tahu lo pacaran sama kak El ?” tanya Ruby lagi.
“baru lo doang, Rub.. ah, tante Risma juga sudah tau.”
“tante Risma ?” ulang Ruby menaikkan alisnya. Milly mengangguk singkat.
“kak El ngasih tau nggak mau sampai kapan kalian Backstreet ?”
Milly berpikir sejenak, matanya menerawang, “pokoknya nunggu waktu yang tepat, sekalian kasih surprise ke kak Adit.”
Akhirnya Ruby mengangguk paham, benaknya mengiyakan atas dugaannya tentang hubungan mereka.
“ya sudah lo jalanin dengan happy. Perjuangan lo baru dimulai Mil, jangan disia-siakan.”
Mereka terdiam menikmati pikiran masing-masing. Kelas meeting yang diadakan di sekolah SMA Sawarna telah selesai sekitar setengah jam lalu. Biasanya mereka akan bersorak gembira dan melangkah cepat keluar kelas jika jam sekolah telah berakhir, namun berbeda dengan situasi sekarang. Dengan alasan masih rindu kaki mereka masih menginjak lantai ruang kelas dengan riang, hingga akhirnya mereka mengadakan meeting dadakan untuk menyelenggarakan acara perpisahan kelas mereka.
Mereka saling memperingatkan untuk harus ikut serta dalam acara ini, jangan sampai tidak ada yang tidak ikut. Lalu mereka sepakat untuk berlibur di Puncak selama 2 malam, pemesanan Villa dan Transportasi akan diurus oleh Nathan sendiri, sedangkan pengumpulan dana akan dilakukan oleh Brenda sebagai Bendahara kelas.
“Mil, lo ikut kan ?”
Semua mata tertuju memandangi Milly yang baru saja mendongak dari kegiatannya. Selama pembahasan tersebut Milly hanya sibuk mengetuk layar ponselnya, jemarinya mulai pegal membalas semua pesan singkat dari sang kekasih. Terkadang Milly sendiri juga bingung bagaimana bisa El selalu cepat membalas pesan Milly di saat jam kerjanya berlangsung.
Sekarang sudah pukul 2 siang, waktunya belum memasuki coffee break. Adit saja terbilang jarang membalas pesan Milly dengan cepat.
Seperti Deja Vu, Milly menggerakkan kepalanya ke samping, melirik Ruby sambil menaikkan alisnya, menanyakan ‘apa yang sebenarnya terjadi ?’
“kita mau pergi ke puncak, lo ikut kan ?” ucap Ruby dengan suara ditahan. Memastikan bila teman-temannya tidak terlalu mendengarnya.
Milly ber-oh ria singkat.
“hmm.. iya gue ikut Nat.” Serunya kemudian, Nathan membalikkan badannya untuk menuliskan nama Milly di papan tulis. Setelah itu Nathan menyebutkan anggaran biaya yang akan dikeluarkan nanti, tidak lupa perlengkapan apa saja yang harus mereka bawa saat berpergian.
Tangan kanan Milly mencatat apa yang ditulis Nathan disana, terdengar nada tanda pesan masuk membuat pandangannya teralihkan.
Kak El :
Tunggu aku di depan gerbang. I love you..
Segera Milly membalas pesan tersebut.
Milly :
__ADS_1
Iya, i love you too..
Senyum-senyum sendiri setelah membalas pesan El, Ruby yang duduk di samping Milly hanya mencibir gemas melihat sahabatnya sedang fall in love. Namun Ruby hanya bisa memaklumi, namanya juga baru anget-angetnya jadi sepasang kekasih.
Meeting perihal jalan-jalan mereka berakhir, satu per satu para murid mulai keluar dari kelas menuju pulang ke rumah. Milly dan Ruby juga bangkit untuk bersiap-siap.
“Mil, mau pulang bareng ?”
Milly terdiam sejenak, ia bingung cara menolak tawaran Nathan. Tidak mungkin ia mengatakan jika akan dijemput El, Nathan akan menaru curiga dan bisa-bisa hubungannya akan tercium oleh Adit.
“Milly pulang sama gue Nat, mau nemenin gue belanja.” alibi Ruby pada Nathan.
“oh..” Nathan mengangguk. Segera Ruby menarik Milly keluar dari kelas dan segera bersembunyi di pos satpam dekat gerbang sekolah.
Seharusnya mereka tidak perlu bersembunyi, entah kenapa mereka hanya ingin terhindar dari penglihatan Nathan saja. Cari aman.
Setelah mobil Nathan keluar dari halaman sekolah, mereka berdua baru bisa keluar dari persembunyiannya.
“gue balik ya Mil.”
Ruby pamit pulang, melihat mobil Theo sudah terparkir di depan sekolah.
Sekarang Milly sendirian di dekat pos satpam, menunggu El datang menjemputnya.
“Milly,”
Milly membalikkan badan, mendapati sosok laki-laki yang sedang berjalan santai sembari menenteng tas nya secara asal. Penampilannya seolah tidak niat untuk mengenakan seragam sekolah; kancing kemeja terbuka dijadikan sebagai outher, menutupi kaos putih dengan gambar tengkorak disana.
Rambutnya yang memanjang terlihat basah sengaja disisir berantakan.
“lo belum pulang ?” sahutnya lagi dengan sebuah pertanyaan.
Dia adalah Arghya, terkenal Badboy di SMA Sawarna. Walau demikian laki-laki bertubuh tinggi tegap ini dikagumi para siswi setelah Nathan, sama-sama memiliki otak seencer air. Sudah banyak namanya terpajang di piala sekolah, khususnya dalam Olimpiade Sains.
Serta pesonanya tak kalah saing dengan Nathan.
Kata pepatah ‘don’t judge book by the cover’, 1 kalimat tersebut sangat cocok mewakili diri Arghya.
“lagi nunggu dijemput,” balas Milly. Milly tidak terlalu dekat dengan Arghya sebab mereka berbeda kelas. Namun sesekali mereka suka bertegur sapa di area sekolah.
Awal mereka bisa bertegur sapa ketika acara kemah 2 tahun yang lalu, dimana kaki Milly terlilit tanaman merambat di dalam Sungai saat Milly sedang berenang, lalu ditolong oleh Arghya.
“oh gitu..”
“..mau gue temenin ? jemputan lo udah dimana ?” Arghya duduk di pos satpam, ia mengeluarkan bungkus rokok di dalam saku celananya, menyalakan korek gas di ujung putung rokok, kemudian Arghya isap hingga kepulan asap keluar dari mulut.
Mobil sedan hitam muncul di depan gerbang sekolah. Terlihat El keluar dari mobil, menghampiri Milly bersama seseorang yang tengah asik merokok.
El mengamati penampilan laki-laki itu dari atas sampai bawah, kemudian naik lagi ke atas dengan tatapan datar.
Merasa diperhatikan secara rinci, Arghya tersenyum simpul. Lalu ia bangkit sembari menenteng tas punggungnya. Arghya sudah tidak perlu lagi menemani Milly karena jemputannya sudah datang.
“gue balik Mil.”
Pikiran isengnya muncul, Arghya mengelus puncak kepala Milly sekilas. Lalu segera melengos pergi begitu saja, meninggalkan mereka berdiri kaku di tempat.
Ternyata asik juga bikin orang cemburu. Gumam Arghya dalam hati sambil cekikikan.
**********************************
Ruang makan hanya terisi oleh dentingan sendok dan garpu. Belum ada seorangpun yang mengeluarkan sebuah kata untuk memecahkan keheningan. Mereka begitu hikmat menikmati makan malam mereka dengan lauk pauk seadanya.
Dibalik keheningan disana, Milly mencuri pandang ke arah El, ekspresi pria itu masih bertahan memasang wajah datar serta tatapan dingin. Milly sudah terbiasa memandangi raut wajah El seperti itu, menjadi konsumsi Milly sehari-hari sebelum mereka berpacaran.
Berbeda dengan keadaan sekarang, alasan El sengaja memasang wajah seperti sekarang ini bukan atas dasar kebiasaannya, melainkan sejak Arghya mengelus kepala Milly. Setelah kejadian tersebut El hanya membungkam mulutnya sampai saat ini, membalas tatapan Milly saja tidak dilakukan olehnya.
Bibirnya mengerucut kesal, heran kenapa bisa El mendiaminya seperti ini. Pria itu juga tidak acuh saat Milly menjelaskan padanya di mobil bahwa Arghya hnay bersikap jahil padanya.
“kamu kenapa dek ?”
Milly melirik ke arah Adit yang akhirnya memecahkan keheningan. Adit menyeka bibirnya dengan serbet lalu meneguk air hingga tandas. Sepintas Milly menggeleng singkat, lalu ia melanjutkan makannya yang tertunda.
Beberapa lama kemudian Adit kembali mengeluarkan suaranya lagi, berbicara pada Milly.
“kamu jadi ke Prancis dek ?”
Milly terdiam seperdemikian detik. Kedua matanya ingin melirik ke arah El, namun ia urungkan. Milly mengangguk atas ucapan Adit.
“jadi kak,”
El menaikkan pandangannya, menatap Adit dan Milly secara bergantian. Lalu kedua tangannya menurunkan sendok dan garpu di atas piring, mempersiapkan diri untuk mendengarkan percakapan mereka secara seksama.
“kamu.. beneran mau kuliah ke Prancis ? nggak di sini aja ?” tanya Adit lagi. Wajahnya menunjukkan sedikit resah. Jarak antara Indonesia-Prancis tidak hanya sekedar 1 sampai dengan 10 kilometer, apalagi Milly bukan termasuk gadis yang terlalu mandiri dan ia akan tinggal di negara asing. Terutama lingkungan sosial disana begitu bebas, berbeda dengan di Indonesia.
Milly tetap berkeinginan untuk berkuliah ke Prancis, menjadi Komposer Musik adalah impian Milly sejak kecil. Dan hanya satu di Universitas sana yang mendukung semua fasilitas serta ilmu yang ia akan dapatkan sebagai Komposer Musik.
__ADS_1
Milly juga sudah melakukan pendaftaran dan tes masuk melalui online, hasilnya Milly diterima menjadi salah satu mahasiswi disana. hanya saja Milly belum sempat memberitahukan hal ini pada Adit, termasuk El.
“aku udah mendapat surat undangan dari sana kak. 2 bulan lagi Milly akan berangkat. “
Adit tampak menimbang sambil sesekali melirik ke arah El. Reaksi wajah pria itu juga sudah berubah, terlihat gundah dan gusar.
El masih belum bisa terima jika Milly pergi ke Prancis dalam kurun beberapa tahun. Ia sudah cukup lelah menunggu Milly selama 2 tahun lebih, El tidak yakin apakah ia masih bisa menunggunya lagi untuk beberapa tahun ke depan. Ditambah dengan jarak yang akan menjadi rintangan baru El, terselip perasaan takut dan khawatir mulai menggebu di dalam dirinya.
Katakanlah El egois, ia tidak menampik. Jika diminta jujur ia ingin meluapkan perasaannya, ingin mengatakan ‘aku nggak mau kamu pergi jauh, Mil’, walau alasan itu untuk masa depan Milly.
“nanti kita bahas lagi dek,” sahut Adit sebelum ia bangkit merapihkan alat makannya.
***********************************
Manik Milly bergerak dengan teliti di depan layar laptopnya, membaca hal-hal tentang Universitas yang akan Milly singgahin untuk menuntut ilmu. Disebalahnya juga tertumpuk beberapa artikel dan buku tentang seperti apa kehidupan dan perkuliahan di Prancis, bagaimana gaya hidup disana, serta biaya hidup yang kemungkinan akan Milly jalani nantinya.
Hal-hal yang dianggap penting Milly blok lalu ia memainkan mouse nya untuk dipindahkan ke dokumen word-nya yang sudah diberikan judul. Terus ia lakukan ke beberapa artikel online yang Milly termukan.
Tak lama ia mendengar nada getar dari ponselnya, melihat nama El muncul di layar ponsel. Gadis itu tampak bingung melihat ponselnya, kenapa El meneleponnya padahal mereka berada di 1 atap yang sama.
Sebelum getaran pertamanya berhenti, Milly segera menjawab panggilan El.
“iya kak,”
“aku di depan pintu kamar mu,”
Milly membalikkan kepala, menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
“kok kakak disitu, mau ngapain ?”
“buka, atau aku dobrak,”
Terbirit-birit Milly membuka pintu, menampaki El yang sudah berdiri di hadapannya. Tanpa permisi El mendorong tubuh Milly agar ia bisa masuk ke dalam kamar sebelum Adit mempergoki mereka.
Sebelum Milly mencecar El dengan kata protes, El menutup mulut Milly dengan jemari telunjuknya. Kemudian El menarik tangan Milly menuju tempat tidur dan duduk disana, satu tangan El menepuk satu pahanya agar Milly duduk di atas pangkuannya.
Ragu, Milly masih bertahan berdiri memandangi El, tapi perlahan Milly mendudukkan dirinya di atas paha El. Dengan sigap El langsung memeluk gadis itu dari belakang, lalu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Milly.
“kenapa kamu beneran mau pergi ?”
Harusnya El tidak merungut sedih, harusnya El memberikan dukungan atas keputusan Milly untuk pergi kuliah disana. Bahkan sebelum memasuki kamar Milly, El sudah meyakinkan diri bahwa ia akan mengijinkan Milly pergi, tapi hatinya berat.
Sudah banyak cerita yang telah El dengarkan dari teman dan klien kerjanya mengenai hubungan jarak jauh jarang berakhir bahagia. Saat itu El hanya menghiraukannya, karena dia pikir El tidak akan pernah mengalaminya.
Tapi sekarang El kembali membuka ingatannya perihal tentang cerita dan pengalaman tersebut. Hubungan jarak jauh yang berakhir bahagia hanya terjadi di dalam sebuah cerita fiksi atau drama korea kebanyakan, dalam kenyataan yang terjadi berhasil menjalin hubungan jarak jauh hanya memiliki persentase kecil.
Teringat akan salah satu cerita teman kerjanya yang sempat melakukan hubungan jarak jauh, berakhir dengan sang kekasih selingkuh dengan orang lain, beralasan mereka jarang bertemu dan selalu sibuk dengan kesibukan masing-masing sehingga sulit membagi waktu.
El tidak mau hal itu terjadi pada hubungannya.
“maaf kak El, aku ingin kuliah disana. Tapi aku janji cuma pergi 3 tahun aja. Kalo aku libur, aku akan usahain pulang.”
“..tidak bisa cari kampus di dekat sini aja ? aku akan bantu kamu cari sampai dapat, kalo tetap mau di luar negri kita cari yang dekat. Singapur misalnya, atau di Aussie ?”
Jujur saja hati Milly sedih ketika El membicarakan kepergiaannya dengan nada begitu getir. Benaknya berharap jika El akan jauh lebih mendukung keputusannya, mendukung apa yang Milly cita-citakan selama ini.
Mendapati wajah Milly berubah murung, El semakin mengeratkan pelukannya. Tangannya menggeser tubuh Milly agar posisi duduknya menjadi menyamping, sehingga El dapat memandangi wajah Milly secara dekat dan lekat.
Manik mereka bertemu, sama-sama memancarkan kesedihan. Sebisa mungkin El melempar senyum, sembari menautkan keningnya dengan kening Milly.
“maaf atas keegoisan ku. Aku hanya takut kamu beneran pergi dan nggak pulang menemui ku, tidak bermaksud untuk mencegah mu meraih impian mu. Belum ada 1 minggu kita bersama, aku..” sejenak El menghela nafasnya gundah, “..maaf Mil..”
Terenyuh, Milly menangkup wajah lesu El, dengan lembut Milly mengelus rahang kerasnya yang mulai ditumbuhi rambut halus. Mungkin El lupa mencukurnya, tetapi pesona El tetap berhasil menghipnotisnya.
“aku janji nggak akan lama ninggalin kakak. Tapi aku senang kalo kakak khawatir sama aku, itu tandanya kakak beneran sayang sama aku,” Milly tersenyum.
“apa aku terlihat tidak serius dengan mu ?” tanya El dengan nada jahil. Milly memajukan bibirnya sambil menggeleng pelan.
“aku tidak berpikir seperti itu,” sergah Milly. Lalu ia merasakan El mendekapnya semakin mendekat padanya, tidak membiarkan ada sedikit jarak diantara mereka.
Milly terpaku dengan posisinya sekarang, merasa tidak ada lagi jarak yang tersisa diantara mereka berdua. Kedua tangan Milly juga sudah dikalungkan ke leher kokoh El, hingga mereka berdua dapat merasakan deru nafas mereka masing-masing.
Tak butuh waktu yang lama bibir mereka menempel dan berpagut lembut disana. Hisapan dan gigitan kecil beradu, sampai akhirnya Milly kalah untuk menahan desahan yang keluar dari bibirnya.
Suara desahan Milly begitu merdu di telinga El, meningkatkan hasratnya untuk semakin gencar mencium Milly dengan rakus dan dalam. Sampai Milly tidak sadar posisi nya sudah terbaring di atas kasur, El sudah berada di atasnya, menindihnya.
Lidah mereka ikut beradu di dalam sana dan semakin dalam, meliuk begitu liar, saling merampas oksigen. Logika El dibutakan oleh hasratnya, maniknya menangkap wajah merah Milly karena sulit bernafas, justru ciuman El semakin diperdalam, ia hisap bergantian antara bibir dan lidah Milly dengan kuat.
Rasa manis di bibir Milly menghanyutkan El, hingga kilatan gairah itu berhasil menggelapkan manik coklatnya.
Kemudian..
Tok.. tok.. tok..
“dek, udah tidur belum ?”
__ADS_1
***********************************