Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
36. Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

18+


.


.


.


Satu per satu lembar foto tersusun apik di papan kayu, setiap sisi kayu dihias cantik dari berbagai macam bentuk pita dan bunga kertas. Beberapa foto lainnya masih Milly potong secara terpisah, lalu kembali ia tautkan dengan foto lain yang sudah tertempel. Setelah selesai ia satukan dengan sisi bingkai yang ada kacanya, kemudian ia tekuk sisi besi sebagai penyanggah di belakang bingkai.


Jadilah hasil karya foto-foto liburan di Puncak kemarin. Melihat lagi hasil jepretan yang rata-rata diambil secara candid, keseruan kemarin masih terbayang jelas di bayangan Milly. Milly tidak akan melupakan semua momen terbaik bersama teman-temannya. 


Tak lama Milly mendengar ada seseorang masuk ke dalam rumah setelah ia gantungkan bingkai ke dinding. Gadis itu berjalan keluar kamar dan melihat keadaan rumah dari atas, baru saja Adit tiba sambil memapah El yang terlihat tertidur, lalu Adit menghempaskan tubuhnya ke sofa dan menghela nafas lega setelah El dibaringkan di sofa samping, dengan posisi miring.


Merasa cemas, Milly melangkah turun menghampiri Adit dan El. Adit mendongak menatap kedatangan Milly menuruni tangga dengan cepat.


Bergantian Milly memperhatikan Adit dan El di ruang tengah.


"El mabuk, jangan dekat dekat dulu. Nanti bau alkoholnya nempel ke badan kamu,"


Adit mencegah Milly mendekati El yang tertidur pulas akibat mabuk berat, sangking cemasnya gadis itu suka tidak sadar mendadak mendekati El dan menatap El secara dekat. Adit khawatir dengan kebiasaan Milly seperti itu.


Milly melotot beberapa saat.


"kak El kenapa kak ?" lirihnya dengan wajah sendu. Adit memgendikkan bahu dan kembali menghela nafasnya, menggendong El barusan bagaikan ia mengangkat barbel puluhan kilogram. Semua tulang terasa remuk dan otot langsung ketarik tegang, inilah akibatnya jika Adit mulai jarang berolahraga, meraup oksigen saja terasa sulit. Bagaimana nanti jika Adit benar mengalami kesulitan bernafas, ia tidak tahu lagi nasibnya nanti.


"tunggu disini. Bantu liatin El. Kakak cari obat dulu buat dia. Teriak kalo El udah bangun,"


Adit beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian dan mencari obat yang Adit maksud. Milly hanya mengangguk dan ia duduk di sofa, bersebelahan dengan sofa yang ditempati El tidur. Pria itu tertidur dengan wajah yang tenang, dengan seksama Milly memperhatikan El yang tidak bergerak sedikitpun, terkecuali gerakan dada yang sedang menghirup dan membuang nafas.


Sejak pulang dari Puncak, Milly merasa suasana hati El terlihat berubah 180 derajat. Padahal El merengek padanya untuk segera balik, namun El jadi lebih banyak diam ketika menjemput Milly, meski ada Adit bersama mereka tapi Milly tahu ada sesuatu hal yang dialami pria tersebut, bahkan seharian ini El tidak mengabari atau membalas semua chat dan telepon dari Milly sama sekali.

__ADS_1


Terdengar suara serak keluar dari bibir El, pria tersebut menggerakkan badannya lalu bergumam tidak jelas. Dibuat penasaran, ia mulai mendekatkan dirinya, memajukan wajahnya hingga daun telinganya berdekatan dengan bibir El.


Beberapa detik Milly menunggu pria itu bergumam lagi, namun ia langsung beranjak berdiri sebab kedua kakinya mulai terasa kebas kelamaan jongkok jinjit.


Terdengar kembali El mengeluh pelan. Milly memantau El, masih bertahan dalam posisi berdirinya, akhirnya terdengar lagi suara samar namun tertangkap oleh pendengarannya.


"Ibu.."


Milly terpaku dan mengerjap matanya berkali-kali. Memastikan bahwa ia tidak salah dengar, ia kembali berjongkok dan mengamati wajah El yang mulai menampilkan guratan saat El mengernyit.


"Ibu.."


"Ibu.."


"kak," Milly memanggilnya lembut. Tetapi El tidak merespon panggilannya, justru ia melanjutkan gumamannya, dan tak lama El membuka mata, samar- samar menangkap sosok Milly tengah berada di hadapannya.


Gadis itu memandangnya bingung tercampur perasaan cemas. Dampak pengaruh alkohol membuat El tidak bisa berpikir jernih, satu tangannya merengkuh pundak Milly lalu menariknya dan menciumnya bertubi-tubi di area wajah Milly: pipi, hidung, tulang pipi dan rahang, lalu berakhir tepat di bibirnya, dan El tidak berniat untuk melepaskan ciuman tersebut.


Sisa minuman alkohol dari bibir El memaksa masuk ke dalam mulut Milly, rasa panas dan pahit terasa ketika memasuki tenggorokannya. Serta bau nya pun membuat pandangan Milly berkunang-kunang. Merasa ia tidak kuat menahan bobot tubuhnya, Milly memeluk El dan mendekapnya kuat. Berharap ia tidak akan terjatuh dimana badannya sedikit terangkat.


Namun hal tersebut memicu pikiran kotor El menguasai dirinya, segera ia bangkit dan menarik Milly untuk duduk di atas pangkuannya dan memeluknya begitu erat, lalu El melanjutkan ciuman tersebut dengan kedua tangan yang mulai bekerja sesuai keinginannya.


Satu tangan El melesat masuk ke dalam piyama satin yang Milly kenakan, pertama ia mengelus punggung lembut Milly, setiap inci kulit lembutnya tidak ada yang El lewatkan sedikitpun. Suatu kebahagian yang El rasakan saat ini, gadisnya tidak memakai bra sebagai pelindung untuk 2 buah dadanya. Otomatis tangan El langsung bergerak cepat ke depan dan membelai dan meremasnya lembut di salah satu dada Milly.


Efek belaian El membuat pikiran Milly melayang ke udara, seolah semua saraf di dalam kepalanya redup total dan hasrat gairah menguasai diri Milly.


Satu tangannya lagi bekerja meremas bulatan bokong Milly, dan perlahan menyusup masuk ke dalam celana dan kembali meremasnya kuat. Erangan Milly memicu kobaran gairah El semakin tinggi, membuat kedua tangan El semakin lincah bermain di dalam sana.


Setelah puas, El melepaskan ciumannya dan juga mengeluarkan kedua tangannya dan melepaskan kancing baju Milly satu per satu. El memandangi wajah merah Milly dengan kilatan gairah, begitu pun Milly demikian, yang seharusnya Milly mencegah dan menghentikan El melainkan gadis itu hanya berdiam pasrah ketika satu per satu kancingnya berhasil dibuka.


Ada perasaan kebanggaan tersendiri sekaligus tersipu malu ketika El memandangi kagum pada 2 bukit kembarnya yang membusung indah di depan El.

__ADS_1


"indah," pujinya dengan suara serak nan dalam.


Tidak ingin dibiarkan begitu saja El kembali memainkan satu buah dada Milly dengan remasan kuat, ibu jarinya bekerja memainkan ****** bergantian memilin ujungnya dengan lembut.


Satu buah dada Milly El tangkup dengan bibir, ia hisap dan juga memainkan ******-nya menggunakan lidah dengan gerakan lincah. Perlakuan El melambungkan perasaan Milly semakin tinggi, desahan demi desahan lolos satu sama lain.


Kembali memorinya menyalakan logikanya, El segera melepaskan pagutannya dari buah dada Milly dan segera menutup kembali pakaiannya. Setelah itu El memeluk Milly erat dengan nafas yang tersendat.


Sambil mengatur nafas, ingatannya bertemu dengan Risma dan peristiwa silam ketika Risma meninggalkannya terbayang dan berputar di dalam kepala El.


"bisakah kamu berjanji untuk tidak meninggalkan aku sendirian lagi ?"


Milly tertegun bukan main, ia menjauhkan badannya meski El masih mempererat pelukannya. Ia menatap wajah yang masih terlihat memerah ditambah kilatan mata yang berubah sendu. Terlihat juga genangan air tampak menghiasi kedua mata El.


Pasti ada sesuatu hal yang belum Milly ketahui. Sangat jarang El bersikap seperti ini, terlihat rapuh.


"kakak kenapa, ada masalah apa ?" Milly berbisik lembut.


"berjanji padaku, Milly. Katakan kalo kamu nggak akan ninggalin aku. Aku nggak mau ditinggal sendirian lagi," tuntut El parau. Pelukannya semakin ia eratkan, dengan kepala menopang ke bahu Milly.


Milly membalas pelukan El.


"iya kak, aku janji." Milly mengucapkan janjinya disertai kecupan singkat. Milly tidak paham dengan situasi saat ini, namun ia masih bertahan menunggu El menceritakan keresahan hatinya.


Lama terdiam dalam sebuah pelukan, El mulai merasa tenang lagi dari segala semeraut peristiwa yang telah ia alami belakangan ini. Coba saja El bisa menghentikan waktu dimana ia bisa seperti ini terus, bersama Milly disisi nya dan sudah dipastikan El akan jauh lebih--


"El lepasin Milly sekarang juga !"


Tidak. Sepertinya Tuhan masih belum mengijinkannya untuk merasakan ketenangan, sebab ia harus kembali menjalani drama baru malam ini.


"oh shit!"

__ADS_1


***********************************


__ADS_2