Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
43. El dan Nathan


__ADS_3

Tumpukan kertas dan map menghiasi meja kerja El. Mulai dari pagi pria itu tak henti berkutat pada laptop dan sesekali membaca berkas di sampingnya.


Manik coklatnya terus mendelik menatap laporan data yang ia susun, setelah selesai ia membuat laporan tambahan di sheet yang berbeda.


Penjualan produk yang genjar mereka pasarkan memperoleh jackpot, saat Ferry Irawan Halim turun tangan mengontrol projek beberapa bulan belakang ini. El patut acungi jempol atas hasil kinerja pria tua tersebut.


Iya, pria tua yang kini mulai ia panggil dengan sebutan Papah.


Masih merasa canggung terkadang El masih memanggilnya Om atau panggilan formal seperti Pak, namun di sisi Ferry ia tidak akan memaksakan kehendak El. Ferry sempat mengatakan padanya bahwa ia tidak akan menuntut El untuk memaafkan ataupun menerima kehadirannya. Ferry tahu diri atas semua kesalahan fatal yang telah ia perbuat di masa lalu. Cukup melihat Risma bahagia melihat El memaafkan Risma, Ferry masih sangat amat bersyukur.


Setelah hari dimana El dan Risma berbaikan, Risma masih sering mengunjungi El di Apartemen membawakan makanan setelah El pulang bekerja. Kadang bila El akan menginap di rumah Adit, Risma juga akan mengunjungi rumah Adit dengan membawa satu rantang makanan yang cukup besar agar mereka bisa makan bersama disana.


Beberapa kali juga El memberanikan diri mengunjungi rumah mewah yang ditinggali Risma, disanalah El melihat keseharian Ferry.


Aura kharismatik, bersahaja dan berprinsip keras yang El lihat pada sosok Ferry tidak terlihat ketika beliau berada di rumah.


Ferry adalah penyuka kartun anime Naruto hingga memiliki satu set kostum salah satu tokoh yang ia gemari; sendal berbulu berwarna putih selalu menghiasi kedua kakinya selama di rumah; begitu menghayati bila sedang menyanyikan lagu galau milik Melly Goeslow; doyan roti gandum dengan selai coklat; serta suka heboh sendiri ketika berbicara dengan hewan peliharaannya yang amat ia sayangi, Ikan Arwana yang ia beri nama Kitty.


Mengingat itu El memejamkan mata sambil memijit pangkal hidung. Jangankan El, Nathan yang merupakan anak kandungnya sendiri hanya bisa mengendikkan bahu tak acuh.


Meninggalkan laporan untuk sejenak, El menerima panggilan video dari Ayahnya yang berada di Inggris. Seperti biasa dimulai menanyakan kabar serta kondisi kesehatan masing-masing, lalu percakapan mereka langsung ke inti dimana El sudah bertemu dan berdamai dengan Risma.


Arkana – Ayah El – mengulas senyuman lega.


“syukurlah akhirnya kamu sudah berbaikan dengan Risma. Sekarang kamu harus menjaga sikap mu padanya dan Ayah barumu, bagaimanapun kita sudah menjadi keluarga sekarang.”


El hanya berdeham singkat. Mengiyakan.


“jadi, bagaimana rasanya mempunyai adik? Menyenangkan dong?” tanya Arkana penuh minat, El mengendikkan bahu.


“biasa saja.”


“bersikap baik juga padanya. Siapa namanya tadi, Nathan ya? Kamu dan Nathan harus akur.”


“iya.” El mengangguk pelan.


“jangan iya-iya aja. Didengar dan dilakukan ucapan ku barusan El!”


Kedua manik El berputar jengah mendengar Arkana berkata ketus, “iya Ayah.”


“lalu, bagaimana keadaan Adit dan Milly? Khususnya keadaan calon menantu ku. Kamu tidak berbuat macam-macam kan padanya?”


Kali ini El sedikit gelagapan. Sempat berdeham singkat lalu menyela ucapan Arkana.


“apaan sih, Yah. Pikirannya jelek mulu tentang aku.”


“kamu kan pria brengsek. Awas saja jika kamu macam-macam sama Milly, Ayah aduin ke Adit biar kamu tau rasa!”


Arkana dan Adit bagaikan bapak dan anak sesungguhnya. Memiliki sikap penurut dan menjunjung kesopanan, Adit sangat disayangi oleh Arkana. Bila Adit dan El bertengkar, Arkana akan lebih membela Adit daripada El.


Kalau sudah begini, El hanya bisa membungkam mulutnya sampai Arkana berhenti menjelekkannya.


Setelah melakukan panggilan video, El kembali berkutat pada pekerjaanya sampai senja terlihat menghiasi langit Ibukota.


El segera merapihkan tumpukan dokumen dan peralatan kerja, mematikan laptop, dan berlalu dari ruangannya.


***********************************


Mobil sedan hitam tiba di pekarangan rumah Adit. El turun dari mobilnya dengan wajah yang terlihat kusut. Guratan merah di kedua matanya menunjukkan bahwa El butuh istirahat.


Sejenak ia memperhatikan ada sebuah mobil yang juga terparkir di pekarangan rumah. Mobil itu bukanlah mobil Adit, mengingat Adit sedang mengantar Karmila pulang ke rumahnya yang berjarak cukup jauh.


Segera El melangkah memasuki rumah, lalu pandangannya menangkap Risma sedang mengobrol dengan Milly di ruang tengah.

__ADS_1


Dan ada Nathan juga disana, sibuk mengetik laptop diatas pangkuannya.


“kak El,”


Milly bangkit menghampiri El yang masih berdiri di dekat pintu, lalu ia menarik El untuk duduk di sofa. 


El yang terlihat lelah membuat Risma bangkit dan segera menyiapkan makanan yang sudah ia bawa dari rumah. Nathan masih betah duduk di sofa hanya memperhatikan El di depannya. Pria itu memang terlihat lelah, bahkan ia merebahkan tubuhnya di sofa tanpa melepaskan dasi dan jas hitam yang membaluti tubuhnya terlebih dahulu.


“makan dulu!” sahut Nathan sambil menepuk bahu El untuk membangunkannya. El berdeham kesal sebab tidak berhasil terlelap oleh panggilan Nathan.


“nyokap udah bawain banyak makanan. Habis makan terserah lo, mau jungkir balik atau mau ngapain gue nggak peduli.”


Terpaksa El membangunkan badannya, setelah membuka mata ia berdecak kesal melihat Nathan kembali duduk dan berkutat pada laptopnya lagi.


Teringat dimana pembicaraan Milly yang mengatakan ketika ia mengetahui nomor Apartemennya dari Nathan, El berucap:


“lo tau Apartemen gue dari mana?”


Nathan tidak menjawab karena ia tidak sadar bila El sedang mengajaknya berbicara. Hingga El berdeham keras membuat Nathan mendongak padanya.


“lo atau Apartemen gue sampai nomor kamar gue dari mana?” tanya El lagi.


Ada jeda sebelum Nathan membalas.


“kepo lo!”


El tertegun sesaat sebelum ia membalas ucapan Nathan.


“nggak ada yang tau gue tinggal dimana kecuali Adit dan orang tertentu saja...”


Sebelum mengatakan lagi El memicingkan mata sengit.


“...kecuali lo diem-diem ngikutin gue selama ini, jangan-jangan lo phsyco gitu yak?”


“iya gue pshyco, lo tau selama ini gue pengen banget cekik leher lo sampai putus. Puas?! Makan sana!” omel Nathan lalu ia berlalu ke luar rumah.


***********************************


Selesai berkutat pada laptop, Nathan bernafas lega. Tak terasa ia sudah di luar rumah hampir satu jam, sampai Adit terus membujuknya untuk masuk ke dalam rumah namun Nathan masih bertahan duduk di depan teras.


Pendaftaran kuliah di luar negri memang cukup sulit baginya. ia heran, Milly saja cukup mudah saat melakukan pendaftaran kenapa Nathan lebih banyak perintilan yang harus ia lengkapi bahkan harus diselesai dalam kurun waktu 3 hari.


Untung saja Nathan bergerak cepat, sehingga Nathan lolos dalam tahap seleksi. Tinggal mengikuti tes yang akan diselenggarakan minggu depan.


“lo ngapain sih lama-lama diluar? Udah tau banyak nyamuk diluar,” El datang menghampiri Nathan yang sedang menutup laptop lalu ia masukkan ke dalam tas.


“iya, lo nyamuknya!” Ketus Nathan dibalas tatapan delik El.


Sebelum Nathan berhasil masuk ke dalam, El mencegah Nathan untuk melanjutkan obrolan yang sempat tertunda tadi.


“pertanyaan gue belum lo jawab, lo tau nomor Apartemen gue dari mana?”


“penasaran banget ya?” sebelah alis Nathan terangkat penuh.


“susah banget sih tinggal jawab doang!” keluh El sambil berkacak pinggang.


“dari orang.” Akhirnya Nathan menjawab pertanyaan El walau jawabannya butuh ditanya ulang.


“siapa orangnya?”


“lo nggak kenal. Gue minta dia buat nyari tau tentang lo.”


“lo, serius?” tanya El membelalak kedua mata, tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

__ADS_1


Nathan berdecak, “iya.”


“kenapa?”


“usaha gue buat nyari tau lo nggak sia-sia bukan? Lo sama Bunda bisa berbaikan karena gue kasih tau tempat tinggal lo ke Bunda. Dan masalah lo sama Milly nggak akan kelar cepat kalo gue nggak kasih tau Apartemen lo ke Milly.” Jelas Nathan panjang lebar.


El terdiam, tampak berpikir. Bisa dibilang ada benarnya juga apa yang disampaikan Nathan.


Nathan kembali duduk di kursi teras. Pandangannya ke sembarang arah dengan sorot hampa.


"sebelum Papah menikahi Bunda, yang gue tahu Bunda adalah seorang Janda yang ditinggal sendirian hingga bertemu dengan Papah. Setelah mereka menikah gue sangat happy. Kebahagian mereka benar-benar terasa, hari-hari gue pun juga terasa sempurna ketika Bunda menyayangi gue seperti anak kandungnya sendiri. Hingga gue menemukan Bunda menangis dipelukan Papah, saat itu gue mau menemui Papah di ruang kerjanya namun gue mendengar Bunda menangis disana. Di sela ia menangis, Bunda mengatakan jika ia merindukan anak laki-laki yang telah ia tinggalkan beberapa tahun. Setelah mendengar itu mendadak pikiran gue kosong dan terkaku seakan tersambar petir. Mulai dari situ gue mogok bicara sama Bunda karena gue pikir Bunda sudah tega membohongi Papah. Tapi nyatanya gue sendiri yang tidak tau apapun..."


"...sampai gue nekat cari alamat rumah lama Bunda, gue pengen tau siapa anak Bunda yang sengaja Bunda tinggalkan. Taunya rumah lama itu sudah dijual dan sudah dihuni oleh penghuni baru. Barulah gue nekat nyewa orang khusus buat mencari tau segala hal tentang masa lalu Bunda serta anak laki-lakinya. Hingga beberapa bulan kemudian orang gue ngasih tumpukan data, dari situ gue tau kesalahan terbesar Papah dan Bunda dan gue nemuin data pribadi lo..."


"...gue nggak sia-sia buat bayar orang. Semua data lo gue pelajari secara cermat: bagaimana kehidupan lo setelah Bunda ninggalin lo, keberadaan bokap lo di Inggris, pendidikan serta pekerjaan dengan jabatan tinggi, alamat Apartemen lo dan orang-orang terdekat lo. Sampai dimana gue tau lo ada hubungan dengan Milly, perempuan yang gue sukai. Tapi gue nggak bertindak karena gue tau lo benci sama Bunda dan lo memang sengaja menjauhi Milly karena kesepakatan lo sama Adit..."


"...tapi saat Milly mulai sering tangisin orang kayak lo, gue gondok. Dan saat Bunda sudah tahu lo berhubungan dengan Milly dan Papah membantu Bunda untuk mendekati lo, gue makin nggak suka sama lo..."


"...sampai gue mulai mengalah ketika pesan Milly terus berputar di kepala gue,"


"Milly bilang apa sama lo?" tanya El yang sudah duduk di kursi teras satunya, sedari tadi El hanya terus menyimak pembicaraan Nathan tanpa niat untuk menyela sedikitpun.


"selama di perjalanan ke Apartemen lo buat anterin Milly, gue menceritakan semuanya pada Milly tentang kondisi kita, dimana gue dan Milky kaget pas gue memanggil lo dengan sebutan kakak tiri. Milly kira gue bohong sampai gue nunjukin foto lo sama Risma di masa lalu barulah Milly percaya sama omongan gue. Disitu Milly mengatakan bahwa semua hal terjadi bukanlah sebuah kebetulan semata. Memang sudah jalan dari Tuhan, kehadiran gue membantu Bunda untuk memperbaiki hubungan kalian, walau nantinya gue nggak tau bagaimana hubungan lo dengan Bunda kedepan. Ternyata gue nggak salah ambil langkah untuk memberitahukan Apartemen lo sama Bunda. Papah dan Bunda pun juga sudah meminta maaf atas kesalahan yang mereka perbuat. Mereka tidak akan memaksakan kita untuk memaafkannya."


Nathan kembali berucap, "sorry kalo gue iri sama lo selama ini. Dan selama gue pergi lo harus jagain Bunda."


"hah? Emang lo mau kemana?"


"gue mau kuliah diluar negri," balas Nathan santai.


El terkejut, "kemana?"


"Prancis," ucap Nathan dengan nada usil, mencoba menggodai pria yang lagi mengetatkan rahangnya.


"hah? Lo bercanda kan? Milly nggak kasih tau gue kalo lo juga mau kuliah di Prancis."


"kalo dikasih tau, yang ada lo bakal marah bro.." kekeh Nathan langsung disambut tarikan kuat di kerah kaos polonya.


"easy man gue bercanda. Gue nggak ke Prancis, gue ke Aussie."


"hah??"


"duh.. Hah.. Hah.. Lo kira gue keong apa?" erang Nathan lalu El melepaskan cengkramannya.


"kenapa lo nggak ngomong kalo mau kuliah ke Aussie?"


"barusan gue udah ngomong kan,"


El memutar manik coklatnya, jengah.


"lo mendadak bilangnya. Kenapa baru sekarang pas gue baru mau deketin lo?"


"jangan deketin gue! Gue masih normal, masih suka perempuan."


Lebih baik El bungkam daripada membalas ucapan Nathan yang mulai ngawur.


Satu tangan El mendarat di sisi bahu Nathan, menepuk pelan sambil memberikan kata wejangan selama Nathan di Aussie.


"gue kan perginya baru Bulan depan bukan sekarang. Nasehatnya nanti aja pas gue mau berangkat, ntar gue lupa."


El benar-benar membungkam mulutnya rapat-rapat, lalu meninggalkan Nathan yang menertawakannya di teras.


***********************************

__ADS_1


__ADS_2