
Keputusan Milly benar mutlak.
Menjauhkan diri dari El beberapa hari ini adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.
Gadis itu berhasil menjaga jarak dari El: mula dari dia berhenti melirik diam-diam kepada pria itu, tidak mengacuhkan kehadiran El saat pria itu singgah di rumahnya, bahkan kebiasaan baru Milly sekarang ini adalah mendekap di dalam kamar dan menghabiskan waktu dengan membaca buku Novel yang baru ia beli di toko buku, terkadang bermain gitar, atau kembali melatih pikirannya dengan mengerjakan soal-soal try out yang sempat dikerjakan di sekolah.
Kegigihannya untuk bisa meluapkan perasaan nya membawa hal yang menguntungkan, salah satunya perolehan nilai Milly di sekolah yang langsung meningkat, tidak signifikan namun cukup membanggakan. Bahkan nilai try out yang gadis itu dapatkan terakhir masuk ke dalam 3 besar di kelasnya, yang masih diungguli oleh Nathan di posisi nomor 1.
Tidak hanya di sekolah saja namun dampak tersebut berimbas di tempat khursusnya. Yang seharusnya kelas khursus hanya ditempuh selama 2 jam, Milly akan meminta guru pembimbingnya menambahkan jam kelas atau meminta ijin masuk ke kelas lain. Sebelum jam 6 sore tiba, Milly akan menghabiskan waktunya disana baik bermain alat musik atau sekedar mengobrol bersama teman-temannya.
Jika sudah di rumah, dia akan makan malam sebentar di ruang makan dan langsung masuk ke dalam kamar. Bila Adit pulang bersama sahabatnya, gadis itu tidak akan turun ke bawah lagi dengan alasan sudah tertidur.
Dan kebiasaan tersebut benar berhasil dia lakukan beberapa hari ini.
Saat ini Milly telah menyelesaikan soal latihan yang telah guru berikan padanya, dia menggeliat di kursi dengan menarik badannya ke atas, meregangkan otot agar rasa lelah dan pegalnya hilang dari tubuh kecil itu. Beberapa menit Milly memainkan ponselnya untuk melihat IG dan kembali mengerjakan soal di buku lainnya.
Untuk sosial media sendiri Milly juga sudah memblokir semua media sosial El, baik instagram, facebook, dan twitter. Dan fake account yang dia buat untuk kepoin El juga telah dinonaktifkan, jadi tidak ada alasan untuk diam-diam mengetahui kegiatan El lagi.
Meski hatinya berat tapi Milly memaksakan dirinya, demi kebaikan dirinya dan juga demi kebaikan orang lain.
El adalah cinta pertama Milly, pria pertama yang tak sengaja Milly sukai karena merasa tertantang untuk mencoba menyukai seseorang.
Awal mulanya ketika Ruby sedang kasmaran dengan seorang laki-laki yang terkenal badboy di salah satu sekolah swasta ternama di Jakarta. Laki-laki itu sering kumpul bersama siswa-siswa di sekolah SMA Sawarna, namanya Theo.
Dan Theo mengajak Ruby berkenalan karena predikat nama The Princess of SMA Sawarna jatuh pada Ruby. Saat itu Ruby tidak menyukai Theo karena gadis itu juga tahu siapa Theo di sekolahnya, terkenal Badboy dan lingkungan pertemanannya buruk. Namun laki-laki itu melakukan segala cara agar Ruby bisa melihat kehadirannya.
Seperti benteng kuat yang telah runtuh akan pertahanannya, perjuangan Theo untuk mendapatkan hati Ruby membuahkan hasil. Akhirnya hati Ruby berlabuh pada Theo. Dan saat itulah Ruby berbicara pada Milly, mencoba membuka pikiran gadis berambut panjang itu, mendoktrin pikirannya dimana gadis itu belum mengenal apa artinya cinta.
"cobalah untuk suka sama cowok, buka hati lo !"
"tapi.. Gimana caranya ? Gue nggak ngerti ?"
"coba aja lo perhatiin seseorang secara dekat. Liat kebiasaannya, liat apa yang dia suka, dan sering-sering tatap matanya."
__ADS_1
Dan pada akhirnya Milly ingin mencoba melakukan hal itu seperti yang diarahkan Ruby. Tapi Milly bingung siapa orang yang pas untuk dia jadikan percobaan, dia merasa diantara teman sekelasnya tidak ada yang pas untuk dia lakukan.
Sampai pada akhirnya Milly mencoba pada El. Karena pria itu jarang berinteraksi dengan Milly, bagi Milly El sangat pas untuk dijadikan percobaan pertamanya. Lagian Milly dan El tidak dekat, hanya sering menatap pria itu dan melihat apa kebiasaannya, mudah bagi gadis itu.
Dan akhirnya usaha yang telah dia lakukan, mengikuti semua cara yang Ruby sarankan, berhasil.
Tapi keberhasilan tersebut berdampak sebuah penyesalan. Menyesal kenapa harus El yang dijadikan kelinci percobaannya, menyesal karena telah membuka hati kepada pria itu, menyesal karena kenyataannya pria itu tidak menyukainya, dan fakta yang harus Milly ketahui bahwa El menyukai wanita seumurannya bernama Karmila. Wanita anggun dan dewasa, cerdas, sederhana dan lembut.
Tidak seperti Milly: masih dibawah umur, jauh dari kata anggun, cuek bebek, tampang biasa saja.
Kalau mereka dekat, itupun karena ada Adit diantara mereka. Bukan karena keinginan kedua belah pihak, oh ralat-hanya 1 pihak yang berharap lebih. Dan pihak itu adalah Milly sendiri.
Ketukan pintu terdengar membuat Milly melirik. Lalu dia beranjak dan menarik tuas pintu. Melihat Bi Ana berada di depan pintu yang sudah rapih untuk pulang ke rumah.
"dek Milly, Bi Ana pulang ya." pamit Bi Ana. Jarak rumah Milly dengan Bi Ana hanya 10 menit menggunakan sepeda motor, jadi jika urusan rumah sudah selesai Bi Ana akan pulang ke rumahnya.
"iya Bi, hati-hati." sahut Milly.
Bi Ana meninggalkan Milly, membiarkan gadis itu masih diam di tempat memikirkan Adit yang belum pulang dari kantor. Jam sudah menunjukan pukul 9 malam namun Adit belum ada memberi kabar.
**********************************
Drrt.. Drrt..
Ponsel bergetar di atas meja nakas, membangunkan Milly yang terlelap tidur. Pukul 1 pagi ada orang tidak jelas meneleponnya. Milly membiarkan ponsel tersebut terus bergetar dan dia kembali melanjutkan tidur.
Namun ponsel kembali bergetar, dan kini si penelepon gigih menghubungi Milly agar panggilannya direspon. Keluh kesal keluar dari bibir ranumnya, dengan terpaksa Milly bangun dan mengambil ponsel itu. Tak peduli siapa yang menelponnya, Milly memaki orang itu karena mengganggu jam tidur.
"Milly, ini gue abang Edwin. Gue di depan pintu rumah lo nih, cepet bukain pintunya !" teriak seseorang di ponsel itu, menghiraukan makian Milly karena dia sendiri juga tahu kalau dia sedang menganggu orang tidur. Apalagi di jam 1 pagi.
"Edwin, Edwin siapa ya?" Milly memastikan kembali, takut orang tersebut berniat jahat padanya. Untung gadis itu sudah mulai tersadar, dan dia juga mulai bersiaga jika lawan bicaranya seorang penjahat.
"Milly yang paling cantik, yang paling abang Edwin suka. Bukain pintu sekarang ! Gue sama Wahyu keberatan gendong Adit dan El, ya Allah gue lebih pilih ngangkat karung beras ketimbang mereka."
__ADS_1
"Kak Edwin?" tanya Milly lagi masih tidak percaya. Meski Milly tahu jika dari suara itu memanglah Edwin.
"ya Allah Milly ku sayang.. Ini beneran abang Edwin Wirawan yang paling ganteng udah nggak kuat ini gendong si El. Cepetan bukain pintu rumahnya yah," pinta Edwin sekali lagi. Kali ini suaranya bergetar lemah karena menahan sesuatu yang berat.
Milly langsung beranjak menuju pintu rumah. Milly terkejut melihat Edwin menggendong El sedangkan Wahyu menggendong Adit. Wajah kedua orang itu sudah pucat menahan bobot berat badan 2 teman mereka. Milly langsung menyuruh mereka masuk dan membawa 2 orang itu ke kamar tamu di lantai 1, yang biasa dipakai El tidur jika pria itu menginap.
Wahyu dan Edwin bernafas lega setelah menjatuhkan mereka di atas kasur, lalu segera memiringkan badan mereka karena saat ini 2 orang itu sedang hangover.
"kok mereka bisa kayak gini sih ?" keluh Milly menatap 2 pria tertidur diatas kasur. Sepertinya mereka benar-benar hangover, terlihat bahwa mereka tidak merasa terganggu saat tubuh mereka digerakkan paksa untuk menghadap ke samping. Milly juga sudah membawa air mineral untuk Wahyu dan Edwin. Milly merasa iba melihat betapa pucatnya wajah Edwin dan Wahyu yang lelah membawa 2 temannya, 2 pria itu duduk selonjoran di lantai. Benar-benar terlihat lelah.
"gue nggak paham sama mereka. Kata Wahyu mereka sempet cekcok pas ngomongin cewek," sahut Edwin, nafas pria itu masih naik turun. Karena sudah lama juga Edwin tidak berolahraga jadinya mudah lelah.
Milly hanya menatap kaget setelah mendengar ucapan Edwin. Khususnya kepada Adit. Milly tidak habis pikir jika kakaknya mabuk berat hanya karena seorang wanita. Itu bukanlah Adit yang Milly kenal.
"cewek ? Siapa ?"
"Karmila," ceplos Wahyu. Wajah pria itu sudah tidak pucat lagi, dia bangkit lalu menatap 2 temannya itu.
"gue denger mereka bahas Karmila. Lumayan lama mereka adu bacotnya di kantor, eh tau-taunya mereka mabok bareng di kelab." jelas Wahyu sambil menggeleng. Wahyu sendiri masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia harap mereka berdua tidak ada masalah serius.
"lo yakin mereka beneran adu mulut pas bahas Karmila ?"
Wahyu mengangguk meyakinkan Edwin. Dia memang dengar jika Adit dan El sedang membicarakan Karmila, tapi selebihnya pria itu nggak tahu lagi hingga Wahyu dihubungi Adit untuk menjemput mereka di kelab. Pas tiba di sana bersama Edwin, Adit dan El sudah teler di meja minibar.
Edwin dan Wahyu pamit pulang, mereka menolak tawaran Milly untuk menginap. Mengingat Milly seorang gadis yang tinggal sendirian disini, mereka hanya nggak mau mendengar cemooh yang aneh-aneh dari para tetangga.
Setelah mengantar Edwin dan Wahyu ke depan rumah, Milly kembali memasuki kamar dan melihat 2 pria itu. Saat ini alasan mereka mabuk berat terus berputar di dalam kepala Milly, masih tidak percaya jika karena Karmila mereka jadi seperti ini.
Milly mendekati Adit, menatap wajah tenang Adit mirip seperti mendiang Ayahnya yang telah lama meninggal dunia. Milly tidak kaget jika Adit meminum minuman keras, lingkungan kerja yang high class memaksakan Adit untuk mengenal hal semacam itu, salah satunya minum alkohol. Tapi Milly masih tak percaya jika Adit mabuk karena seorang wanita, dan wanita itu Karmila.
Lalu tatapan Milly ke arah punggung El, kepalanya memaksa untuk berfikir dan menyambungkan masalah mereka berkaitan dengan Karmila. Hasil pemikiran Milly membuat dirinya tercengang sendiri.
"apa jangan-jangan mereka sama-sama suka sama kak Karmila ?"
__ADS_1
**********************************