
Elkana
Sejak Milly mulai sering merawat diri aku pun juga mulai berwas-was diri. Mendelik pasang mata para lelaki yang mencoba melirik Milly baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Aku juga tidak segan melayangkan tatapan tajam menghunus kepada mereka satu per satu.
Aku tidak akan seperti ini jika kedua mata mereka dipergunakan sebagaimana mestinya.
Tapi tetap saja rasanya aku ingin mengurung Milly ke dalam karung goni supaya tidak menjadi bahan tontonan. Aku mulai jengah di saat setiap kami pergi bersama ke Mall atau minimal keluar rumah, ada saja tatapan nakal melayang pada Milly.
Hanya dengan mengenakan hoodie putih panjang selutut menenggelamkan tubuhnya, rambutnya dikuncir asal dan menggunakan kacamata gaya bening yang biasa dipakai anak muda jaman sekarang. Kedua kaki nya tertutup legging hitam serta mengenakan sepatu kets putih. Wajah mungilnya dipoles bedak tipis, bibir ranum berwarna merah pudar berkat lipbalm terbaru yang baru dibelikan Karmila kemarin saat ia tahu Milly mulai suka memakai lipbalm berwarna cerah.
Terlihat simpel, dan aku akui penampilan Milly sekarang terlihat semakin menggemaskan. Dan bukan aku saja yang berkata demikian, tatapan mereka yang memandangi Milly juga berpendapat hal yang sama.
Tetapi aku tetap tidak suka dengan kelakuan mereka.
Saat ini aku menatap gelas kopi ku yang tersisa setengah dengan pikiran bercabang. Membayangkan bagaimana keadaan Milly ketika ia sudah berada di Prancis, lalu bertemu dengan tema-temannya disana dan berkenalan dengan para pria sebaya. Dan setelah berkenalan kemungkinan diantara mereka akan ada yang menyukai Milly.
Apa aku harus menikahi Milly dulu sebelum Milly berangkat?
"kak,"
Aku gelagapan dan menoleh, melihat Milly duduk di samping ku. Aku mengusap wajah ku sekilas, lalu mengitari sekitar. Satu koper besar berwarna putih sudah dikemas rapih oleh Milly, bahkan sudah dililit lapisan plastik bening. Padahal aku sendiri yang berniat untuk melapisi koper tersebut. Aku merutuki kebodohan ku yang terlalu lama duduk berdiam diri hanya melamunkan hal-hal yang tidak jelas.
"kakak kenapa, akhir-akhir ini sering melamun. Kakak kepikiran kepergian ku lagi?"
Aku ingin mengangguk, mengiyakan. Tapi aku tidak bisa, tidak mau bersikap egois. Milly pergi hanya 3 tahun, tidak lebih dan tidak kurang. Milly juga berjanji akan pulang ke Indonesia jika ia mendapat libur panjang.
"tidak, aku kepikiran pekerjaan kantor saja."
Aku bangkit lalu membantu Milly mengemasi sisa barang untuk dimasukkan ke dalam koper kedua. Setelah memeriksa barang bawaan kembali supaya tidak ada yang terlewatkan, aku menutup dan mengunci koper tersebut lalu melapisinya dengan plastik.
Tersisa sebuah boneka Teddy Bear berpita berwarna krem cukup besar yang sengaja ku belikan untuk menemani Milly selama diperjalanan pesawat. Mengingat Milly takut naik pesawat, aku sempat khawatir jika nanti Milly akan mengalami kesulitan.
Ketakutan ku sama dirasakan oleh Adit, untuk itu Adit sudah membawa Milly ke rumah sakit untuk berkonsultasi cara mengurangi rasa takutnya. Hanya diberi arahan dan dukungan mental, serta kiat-kiat mengalihkan kecemasan. Ku pikir lebih baik Milly diberi obat khusus sesuai anjuran resep, tapi ide ku justru akan membuat Milly ketergantungan. Milly tidak mau seperti itu.
Hingga Milly meyakinkan kami berdua bila ia akan baik-baik saja, dan akhirnya kami hanya bisa mengandalkan kepercayaan.
Setelah selesai packing, Milly mengajak ku duduk di tempat tidur. Kemudian Milly duduk dipangkuan ku dan membelakangi ku, lalu ia menagih janji ku untuk bercerita mengenai persoalan ku dengan Risma, sebab sebelum mengemas koper aku sempat mengatakan jika aku akan membahas hal tersebut.
Aku mulai menceritakan semuanya, kisah kelam ku ketika duduk di bangku SMA. Dimana Ayah dan Risma sering bertengkar di rumah, jarang pulang, hingga hubungan mereka berakhir dalam perceraian dan aku ditinggalkan begitu saja olehnya. Selama aku bercerita Milly hanya menyimak mendengarkan ku sambil memasang ekspresi wajah yang berbeda-beda; terkejut, sedih, marah, dan iba. Iya, cerita ku memang seperti drama ftv. Percaya tidak percaya aku mengalaminya sendiri.
Itulah alasan ku kenapa aku pergi di hari ulang tahun Milly. Selain bertemu dengan Risma, yang membuat ku tercengang adalah Nathan yang merupakan rival ku naik pangkat menjadi adik tiri ku.
Mengingat itu lagi aku kembali mendengus speechless. Banyaknya makhluk bumi di dunia ini, kenapa harus Nathan yang menjadi adik tiriku?
Semakin keras masa lalu ku menghantui hidup ku kini Adit pun juga sering berpesan padaku, mungkin memang sudah saatnya aku mulai membuka diri untuk berdamai dengan masa lalu. Tapi entah lah, ego ku masih terlalu tinggi untuk menerima Risma dan mengakui Ferry dan Nathan sebagai keluarga.
Dan Risma semakin sering menungguku di lobby Apartemen, dan sialnya Risma bisa seharian menungguku sehingga nama ku menjadi bahan gosip paling booming seisi Apartemen. Dan yang membuat ku semakin menggelengkan kepala, mereka menganggap Risma adalah kekasih gelap ku yang sengaja aku tinggalkan demi perempuan yang lebih muda.
Kampret memang tuh mulut manusia! Dikira aku pria berhidung belang?!
Setelah aku menuangkan semua cerita ku pada Milly, Milly menghela nafasnya. Dengan hati-hati ia memberikan masukan padaku. Masukan yang sama persis dengan apa yang Adit katakan, meminta ku untuk berdamai dengan masa lalu. Memaafkan Risma dan menerima kehadiran Ferry dan Nathan ke dalam kehidupan ku.
Mereka tahu hal itu masih sangat sulit untuk ku terima secara pribadi. Iya itu memang benar. Khususnya terhadap Risma. Luka di hati ku terlalu membekas, bahkan akan semakin perih ketika aku kembali teringat dimana Ayah sampai jatuh sakit setelah gugatan perceraian mereka.
__ADS_1
Tapi lucunya Ayah tak henti menguatkan ku dan mendukung ku di sini, yang harusnya aku lah yang menguatkan dan menemaninya disana. Kata wejangan pun tak pernah luput di setiap pesan yang ia kirimkan padaku. Mengingatkan diriku bahwa aku harus selalu melihat ke bawah ketika aku berada di atas. Serta tak lupa untuk selalu mengucap syukur atas apa yang aku miliki saat ini.
Mengingat Ayah, aku akan mengabarinya melalui panggilan video.
Waktu sudah menjelang malam, aku memilih pulang ke Apartemen.
Ketika langkah ku sudah sampai di lobby, kembali aku menampaki Risma sedang duduk sambil memangku sebuah rantang makanan di ruang tunggu sudut lobby. Risma bangkit dengan wajah berbinar setelah ia melihat ku memandanginya.
Kata-kata Milly dan Adit kembali terngiang di dalam kepala ku, berputar dalam 1 haluan.
Berdamai? Apakah aku bisa?
***********************************
Pintu Apartemen telah ku buka lebar. Aku melangkah masuk disusul Risma dibelakang ku. Aku melihat dia menyapu pandangannya pada dekorasi Apartemen yang jauh dari kata simpel. Bisa dibilang sangat sepi, sebab aku lebih sering di rumah Adit. Apartemen hanya sesekali aku tinggali, dan akan aku jadikan sebagai tempat kencan terbaik untukku bersama Milly kedepan.
Aku mempersilahkan Risma untuk masuk, dan aku meninggalkannya sebentar untuk berganti pakaian. Ketika aku kembali ia masih berdiri di sisi meja makan, masih memandangi Apartemen ku dengan tatapan menilai.
Aku berjalan melewatinya menuju lemari es, lalu aku mengeluarkan minuman kaleng dan aku letakkan di atas meja.
Melirik jam dinding di atas LED, sepertinya aku belum bisa melakukan panggilan video pada Ayah.
"duduklah." pinta ku dan ia takut-takut menatap ku, seakan ia tidak berani duduk sebelum aku memberikan ijin padanya. Setelah aku memintanya, dia menarik kursi lalu duduk dengan gerakan kaku.
Beberapa detik kami terdiam, sibuk berpikir di dalam kepala masing-masing. Merasa semakin awkward, aku mulai membuka obrolan.
"tidak bosan setiap hari datang kesini?" tanya ku kemudian. Risma masih terdiam, lalu ia berdeham pelan lalu membalas pertanyaan ku.
"tidak, Ibu senang kalo harus datang setiap hari buat ketemu kamu."
"kamu hanya membuang-buang waktu." ucap ku sedatar mungkin, lalu aku kembali beranjak mengambil peralatan makan. Rantang makanan yang Risma bawa sudah pasti untuk aku akan makan malam ini. Perut ku juga sudah mulai keroncongan.
Saat aku ingin membawa peralatan makan, Risma berdiri di sisi ku dan merebut peralatan makan tersebut lalu ia letakkan di atas meja.
Segera ia membuka rantang yang ia bawa, terlihat lauk pauk sederhana menyeruakkan aroma yang berhasil mengocok perut ku; cumi asin dengan cah kangkung, tak lupa nasi masih hangat sebagai pelengkap. Ternyata dia masih ingat makanan kesukaan ku.
Lalu kami duduk kembali, Risma menyendokkan nasi dan lauk ke piring ku. Lalu ia hanya memperhatikan ku ketika aku mulai menyuap makanan ke dalam mulut.
Sedikit risih diperhatikan seperti itu. Tapi aku biarkan saja. Kali ini aku akan mengikuti apa yang dia ingin lakukan saja.
Tak lama Risma menanyakan rasa masakannya padaku, apakah masakannya masih cocok dilidah ku atau tidak. Aku mengangguk, bermaksud bila masakannya masih terasa lezat di lidahku.
Aku bersendawa pelan setelah menghabiskan makanan ku hingga tak tersisa, lalu Risma meletakkan piring kotor ke Sink dan segera ia cuci. Masih aku biarkan dia melakukan kemauannya sendiri.
Setelah ia selesai, barulah aku mengajaknya berbicara lagi.
"aku sudah memakan masakan mu. Lebih baik kamu pulang."
Aku masih sengaja berkata dingin padanya. Supaya hatiku masih sadar dan tahu diri bahwa hubungan kami tidak akan sama lagi seperti dulu.
Aku tidak ingin kembali terjatuh ke dalam harapan kosong.
"bolehkah Ibu sering datang kesini, menjenguk mu dan membawakan mu makanan?"
__ADS_1
Aku menghela nafas kasar dan berucap, "aku sudah besar. Tidak perlu dijenguk atau repot-repot dibawakan makanan. Aku bisa beli diluar jika aku lapar, jaman sekarang serba mudah dengan satu handphone."
Terlihat Risma menunduk sedih dan bibirnya memaksa untuk tersenyum.
"ya sudah. Kalau gitu Ibu pulang dulu. Terima kasih kamu sudah kasih Ibu kesempatan untuk bertemu kamu...
"...jaga kesehatan mu, El."
Aku terdiam dan membuang muka ketika Risma beranjak dan pergi dari Apartemen. Bukannya aku senang justru hatiku berdenyut nyeri dan dada ku sangat sesak.
Bertemu dengan Risma memang membuka kembali rasa sakit yang telah sekian lama sudah sembuh oleh waktu, namun melihat kegigihannya untuk menemui ku, rasa takut ini malah gencar menghantui dan menggerogoti diriku.
Aku takut jika aku kembali berbuat baik dia kembali tidak mempedulikan ku.
Aku juga takut jika aku kembali berharap padanya dia juga akan kembali pergi.
Dan aku jauh lebih takut jika aku kembali memohon padanya untuk tidak pergi lagi, dia akan semakin menghilang dan aku pun tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.
Hidupku akan jauh lebih buruk melebihi sebelumnya. Dan aku tidak mau lagi mengalami itu.
Aku teringat kembali dengan kata-kata Milly dan Adit padaku.
Berdamai.
Satu kata yang membuat ku menjadi ketakutan saat ini.
Apabila aku mau berdamai apakah aku tidak akan ditinggalkan lagi?
Apabila aku mau berdamai apakah aku tidak akan kesakitan lagi?
Apabila aku mau berdamai apakah aku akan bahagia?
Hatiku terketuk ketika kata bahagia terlintas di dalam benakku. Bagiku, aku masih belum tahu bagaimana rasanya bahagia itu. Apakah aku tidak akan mengalami rasa takut lagi jika aku sudah bahagia?
"Lo berhak bahagia El. Sudah cukup lo nyakitin diri lo sendiri. Maafkan diri lo sendiri dan juga maafkan masa lalu lo, memang sulit tapi cobalah untuk membuka hati lo supaya lo tau apa yang hati lo inginkan. Kalo sakit tahan sedikit, gue jamin itu tidak akan lama."
"Aku memang belum memahami sampai mana rasa sakit itu menyerang dan menghinggap di diri kakak. Tapi cobalah untuk bertemu dengan tante Risma dan ajaklah berbicara. Jika hati kakak tetap sakit ketika bersama tante Risma, pergilah perlahan. Namun jika tidak, ikuti keinginan hati kakak maunya seperti apa. "
Iya, aku masih memiliki keinginan hati yang sengaja aku pendam dalam rasa takut ku selama ini.
Aku buru-buru beranjak, membuka pintu dan berlari menuju pintu lift. Aku mendesah lega ketika Risma masih berdiri disitu menunggu pintu lift terbuka.
Tak butuh berpikir panjang, aku segera menariknya dan memeluknya dengan erat. Semakin aku mempererat pelukan ku, air mata ku turun tanpa permisi, dan tubuh ku gemetar hebat.
Setelah sekian lama aku menahan diri, kini aku mengijinkan hati ku mengontrol diriku sepenuhnya. Aku ingin memeluknya, mendekapnya dengan kuat dan meminta untuk tidak pergi lagi dari hidupku.
Jika aku harus melakukan apapun, asalkan ia tidak pergi akan aku lakukan.
Aku ingin Risma sering menemuiku, aku ingin Risma memasakkan makanan kesukaan ku lagi, aku ingin Risma memperhatikan ku lagi, aku ingin Risma kembali disisi ku, terus menemani ku hingga akhir hayat kami dan aku akan melakukan hal yang sama padanya.
Pada Risma, pada Ibu ku. Ibu yang masih sangat aku cintai.
Tangisan ku semakin dalam ketika Risma membalas pelukan ku sama eratnya, ikut menangis sesegukan bahkan tubuhnya jauh lebih gemetar dariku. Hingga kami sama-sama terperosok ke lantai dan menikmati momen malam ini dengan penuh derai air mata.
__ADS_1
***********************************