
Semakin malam Finns Beach Club semakin ramai didatangi pengunjung. Bahkan sekarang tempat ini sudah semakin terlihat liar untuk dilihat. Beberapa kali Milly memergoki pasangan sedang berciuman di tempat umum. Mungkin bagi sebagian orang sudah biasa dengan pemandangan tersebut, tapi bagi Milly hal itu masih tabu. Anggap saja Milly sedikit kuper, jadi masih suka kaget kalau melihat sepasang kekasih berciuman di tempat umum.
Milly dan Ruby duduk di table, bersama dengan Edwin dan Wahyu. Ditambah 2 bule cantik. Ternyata keinginan untuk berkenalan dengan bule Eropa benar dilakukan oleh mereka, tak ada yang bisa diungkapkan oleh Ruby dan Milly saat ini selain tertegun memandangi 2 pria itu sedang asik bercakap ria dengan kenalannya.
Selain mengenal asal usul kewarganegaraan, Wahyu dan Edwin turut melayangkan gombalan receh. Ashley dan Bethany, 2 bule berparas seksi itu tak henti tertawa mendengar gombalan mereka, berbeda dengan Ruby dan Milly hanya tertawa hambar karena gombalan nya terdengar garing.
Mengalihkan gurauan receh itu, Milly mengitari pemandangan saat ini. Lautan manusia memenuhi club, dan musik semakin bising untuk didengar.
Kemudian Ruby mengajak Milly menari di bawah DJ, dimana orang-orang juga asik menari disana. Sebelum Milly mengiyakan, ia kembali melihat El di dekat minibar bersama Adit dan Karmila.
Dan yang membuat Milly menggeleng tak percaya, sekarang El sedang bersama seorang bule cantik yang berbeda dari sebelumnya. Namun bule ini jauh lebih seksi, memiliki bentuk tubuh yang ideal serta kaki panjang nan jenjang, kalau bahasa kerennya body goals. Dan predikat itu sesuai untuknya.
Belum dengan bikini yang dikenakannya, hanya menutupi dada dan area sensitif. Dan El dapat menikmati pemandangan itu di depan matanya sendiri, sesuka hati.
Dari kejauhan terlihat bule itu mendekatkan wajahnya ke telinga El, berbisik sesuatu disana, namun El tidak meladeni gadis itu hingga ia menaru kedua lengannya ke leher kokoh El, melingkarinya. Seolah dia sedang merayu El, menatapnya dengan intens, bahkan dia menggigit bibirnya secara sensual di depan El.
Dan Milly lihat El melingkarkan lengan ke pinggang seksi itu, memeluknya.
Sudah merasa pedas di mata dan nyeri di dada, Milly mengiyakan ajakan Ruby dan langsung pamit dengan Wahyu dan Edwin. Lalu mereka menuju tempat lautan manusia menari, di dekat DJ.
Musik semakin kencang ketika mereka telah mendekati posisi DJ bermain, lalu mereka mulai menggerakan badannya saat lagu *EDM dari musisi Calvin Harris dimainkan.
Ruby dan Milly meliukan badannya sesuai irama lagu. Rasa kesal dan marah Milly lenyap begitu saja, hanya dentuman musik yang memenuhinya.
Mereka terus menari disana, bahkan mereka turut menari bersama pengunjung lain, ada yang orang lokal maupun luar negri. Mereka sudah terpengaruh dengan nikmatnya dunia malam. Dan tak sungkan membiarkan pria maupun wanita menjadi teman menari mereka.
Lagu terus berputar, semakin malam udara dingin tak menghalangi mereka terus menari. Belum ada rasa lelah menghinggap, tak berhenti mereka berjingkrakan dan tertawa lepas disana. Terkadang beberapa bule perempuan mengajak Milly dan Ruby duet menari. Dan diakhiri dengan tertawa sebagai tanda awal perkenalan mereka.
Sampai dimana seorang bule pria mendekati Milly, karena sibuk menari Milly tak sadar jika pria bule itu menari dibelakangnya, sambil memperhatikan Milly dari belakang, meneliti dan mencoba untuk menghirup aroma Bunga Moringa yang menyeruak di tubuh Milly.
Secara tak sengaja Milly menginjak kaki seseorang dan langsung membalikan badan ke belakang, mendapati seorang pria bule cukup tampan berdiri di belakangnya. Terlihat wajah pria itu menahan sakit, Milly langsung memohon maaf padanya.
Setelah pria itu memaafkannya, Milly kembali membalikan badan dan menjauhi pria itu. Namun pria itu mendekati Milly lagi, berdiri di belakangnya. Dan Milly menyadari jika pria itu sengaja mendekatinya.
Risih dan tidak nyaman, Milly mengajak Ruby untuk menjauh dari sana.
Namun pria itu tiba-tiba menarik tangan Milly cukup kuat, membuat Milly terpelanting ke belakang dan didekap oleh pria itu. Milly terperangah melihat pria itu tersenyum sinis, sejenak Milly tak berkutik didalam pelukannya.
Berontak, Milly mendorong paksa pria itu namun tenaganya tak sekuat tenaga pria itu. Dia mencengkram lengan Milly membuat Milly meringis sakit, namun gadis itu semakin kuat mendorong nya supaya pelukan mereka segera terlepas.
Milly mulai takut dengan pria itu, menduga jika pria itu sedang mabuk dan akan mencelakai Milly. Ruby turun tangan untuk membantu melepaskan pelukan itu, namun seketika Ruby terperangah.
Bule itu menoleh ke belakang ketika bahunya ditarik ke belakang, lalu-
Bugh..
Pria itu mendapatkan jap keras dari El hingga tersungkur. Milly memekik dibalik tangannya yang membekap mulut.
El membungkuk, mendekati pria itu dan menarik kencang kerah kemeja yang ia kenakan. Jap kembali dilayangkan ke pria itu hingga keluar darah di hidung serta sudut bibirnya.
__ADS_1
Milly mematung menyaksikan El memukul pria itu bertubi-tubi, seperti orang kesetanan. El terus memukulnya tanpa peduli dengan keadaan sekitar, bahkan peringatan Adit yang mencoba melerai mereka tidak ia dengar, atau sengaja tidak didengar agar terus memukul pria itu.
Kerumunan orang hanya bisa menyaksikan kemurkaan El, memandangnya ngeri. Tidak ada yang berani mencoba melerai perkelahian itu. Namun terdengar ada orang yang meminta dipanggilkan petugas keamanan.
Edwin dan Wahyu turut membantu Adit melerai perkelahian, Wahyu menjauhkan tubuh bule itu dari jangkauan El, dan Edwin menengahi mereka. El berontak memaksa Adit melepaskan kuncian di bahunya, emosinya meluap-luap bagaikan gunung meletus. El ingin menghabisi pria itu, kalau bisa ia ingin pria itu terkapar kaku kehabisan darah.
Kalau bisa mati sekalian.
"lepas !" desis El tajam pada Adit yang masih bertahan menguatkan kuncian di tubuh El. Adit tidak bisa melepaskan El begitu saja, ia tidak mau sahabatnya menjadi pembunuh.
El mulai mengatur nafasnya yang naik turun. Merasa tenang, Adit mulai melonggarkan kunciannya.
Semua orang menatap ngeri dan iba dengan keadaan bule itu, wajahnya berlebam biru dan bercucuran darah, lalu ia digotong oleh Wahyu dan Edwin untuk menjauhi kerumunan.
Saat ini Milly tidak punya keberanian untuk melihat wajah El. Menyaksikan El memukul pria itu tanpa ampun masih teringat jelas di pikiran Milly. Dia gemetar, ingin menangis.
Merasa kunciannya dilonggarkan, El mendorong Adit cukup keras lalu ia berjalan, mendekati Milly, lalu menarik gadis itu meninggalkan kerumunan yang masih bisu memandangi mereka pergi.
Adit mendesah frustasi sambil menyugarkan rambutnya. Lalu ia meminta Karmila membawa Ruby.
Adit harus menghentikan El sekarang juga.
*********************************
"bagaimana, senang dipeluk pria itu ?"
El membawa Milly ke mobil yang mereka sewa untuk berpergian selama di Bali. Mereka berdua duduk di dalam sana, tepat di pojok belakang, dimana Milly duduk ketika berangkat ke Finns.
Dan Milly hanya bisa menunduk di depan El seraya memilin jemarinya yang dingin. Detak jantungnya tak berhenti berdetak nggak karuan, bukan karena berdekatan dengan El, namun aura intimidasi El menusuk Milly.
Yang bisa Milly lakukan sekarang hanya diam membisu.
Dan ini kali pertama Milly diperlakukan El seperti ini.
Milly takut.
Tapi seharusnya Milly yang bertanya pada El, kenapa jadi dia yang membludak seperti tadi. Apa alasan dia memukul bule itu, harusnya El hanya perlu bantu untuk menjauhinya dan memberi peringatan ke bule itu saja, tidak perlu dipukul sampai berdarah dan tidak sadarkan diri.
Kalaupun marah, harusnya Adit lah yang marah dan memukul pria itu. Dan harusnya Adit lah yang membawa dan memarahinya saat ini.
Bukan El.
"mentang-mentang Adit memperbolehkan kamu masuk ke club bukan berarti kamu seenaknya disana. Adit sudah bilang jangan pergi tanpa pengawasan, kenapa melanggar ?!"
"aku.."
"jangan katakan "lupa" sebagai alasan, itu tidak logis."
"tapi.."
__ADS_1
"bagaimana kalo ******** itu bawa kamu pergi dan kamu dijebak ? Apa kamu nggak bisa mikir kesana ?!"
"kak.."
"atau sebenarnya kamu sengaja ya supaya bisa leluasa godain bule disini ?! Kalo iya, selamat, kamu berhasil."
"....."
"kenapa diam aja ?! Seneng kan kamu ada bule yang suka sama kamu sampai kalian bisa berpelukan kayak tadi ?! Kenapa, kamu nggak suka aku mukul dia sampai pingsan ?! Mau godain bule lain lagi abis ini karena kamu gagal godain tadi ?! Gitu mau kamu ?!"
"....."
"masih kecil udah pintar jadi penggoda ya ?! Siapa yang ngajarin kamu kayak gitu ?! Oohh.. Jangan-jangan korban kamu sudah banyak ya sampai.."
"CUKUP !"
Amarah mengebul di kepala Milly. Wajahnya memerah menahan gejolak emosi. Sudah cukup Milly mendengar ocehan El yang berhasil menyayat hatinya.
Milly tidak menyangka jika El bisa berfikiran tentangnya seperti itu. Dia sama sekali tidak mempunyai niat untuk melanggar aturan Adit, kepikiran saja tidak terlintas. Apalagi berniat menggoda pria bule disana.
Milly hanya ingin menikmati malam minggunya, tertawa dan berjingkrakan bersama Ruby dan teman barunya, menikmati bagaimana rasanya night club yang sering dibicarakan orang-orang, menikmati musik yang berdentum kencang, dan dia ingin menikmati itu tanpa ada gangguan, tanpa ada mengganggu orang lain, dan dia ingin menikmati malam ini agar rasa cemburunya melihat El bersama bule cantik tadi meredam cepat.
Tapi malam ini yang ia dapatkan hanyalah kata-kata menohok yang sebenarnya Milly tidak lakukan. Dan itu dia dapatkan dari mulut El sendiri.
"aku nggak seperti yang kakak bilang. Aku nggak melanggar. Aku nggak lupa dengan aturan yang kak Adit buat. Aku nggak suka dipeluk pria itu. Dan aku bukan seorang penggoda yang kakak bilang. Jangan sama kan aku kayak kakak yang suka ganti perempuan bule dan peluk sesuka hati !"
"kamu.."
"aku ingin kakak pergi."
"tapi.."
"PERGI KAK. AKU MAU KAKAK PERGI, SEKARANG !!"
Puas, Milly puas meluapkan amarahnya pada El. Dan tetesan air mata jatuh ke pipi Milly berhasil membungkam mulut El. Pria itu terpaku menatap Milly yang bergerak memojokkan badannya, menjauhinya, lalu gadis itu meraih mantel yang ia letakkan di senderan kursi dan menutupi diri serta wajahnya. Lalu Milly diam tak bergerak lagi.
El masih terpaku ditempatnya, melihat Milly yang sudah menutup diri dengan mantel. Seolah Milly tidak ingin berdekatan dan disentuh oleh El.
Kemudian El segera keluar dari mobil, dan hening pun menguasai suasana. Milly meringkukkan badannya, lalu menangis sesegukan kemudian, perkataan El terngiang-ngiang begitu saja, membuat tangisannya semakin menjadi-jadi.
Perubahan drastis El sama sekali membuat Milly tidak mengerti apa maksud dari sikap El padanya. Dari dingin, lalu menjadi manis, kemudian menghangat, dan sekarang berubah menakutkan dan menyakitkan.
Rasa lelah merambat di hati Milly. Ia lelah dengan pria itu.
Namun semakin Milly merasa lelah, Milly masih belum bisa menyadari akan suatu hal. Dimana pria itu tidak akan membiarkan Milly lelah padanya.
*EDM : Electrik Dance Music
***********************************
__ADS_1