Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
34. Jalan-jalan Ke Puncak


__ADS_3

Hai readers..


Selama Idul Fitri 1441 H bagi yang merayakan, mohon maaf lahir dan batin..


Maafkan aku jika aku suka lama update-nya dan chapternya suka sedikit, dan terima kasih karena kalian masih setia nunggu dan suka dengan cerita ku ini.


Aku mau kasih bocoran aja kalau sebentar lagi kita akan masuk ke alur konflik, alurnya tidak berat kok hehe


Happy reading guys


****************************************


Sudah pukul 6 pagi, dimana beberapa orang sudah terlihat berkumpul di sisi mini bus. Wajah mereka terlihat begitu antusias; memakai pakaian rapih dan santai serta tas gendong besar menempel di punggung masing-masing. Terlihat juga beberapa laki-laki menenteng alat musik seperti gitar akustik dan mini drum travel.


Satu per satu, Nathan memanggil nama teman-temannya, memastikan jika nama yang dipanggil sudah hadir berkumpul. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi satu per satu pun juga mulai masuk ke dalam mini bus, sebab sinar matahari mulai terlihat menampaki Bumi. Waktunya mereka harus berangkat, jangan sampai perjalanan mereka terjebak macet.


Sebuah mobil sedan hitam baru tiba, berhenti tak jauh dari posisi mini bus. Milly keluar dari mobil disusul Adit dan El. Mengingat waktu keberangkatan sebentar lagi, Milly segera pamit kepada 2 pria itu.


"hati-hati di jalan ya dek, kabarin kakak kalo kamu udah sampai di Vila."


Milly mengangguk mengiyakan, lalu pandangannya beralih ke arah El yang juga menatapnya dengan lekat. Mengisyarat sama seperti yang Adit lakukan.


Beberapa saat Milly dan El bertatapan, tertangkap penglihatan Adit. Hingga dehaman Adit memutuskan tatapan mereka.


Segera Milly berjalan cepat menghampiri Nathan yang masih berdiri disana, menunggunya untuk berbarengan masuk ke dalam bus. Sekilas pandangan Nathan dan El beradu sengit.


Tak lama bus berangkat dan mulai memasuki area tol. Selama perjalanan Milly hanya menikmati pemandangan luar dari sisi jendela dengan earphone terpasang di kedua telinganya, melihat beberapa kendaraan umum serta mobil besar beroda 6 dan lebih berjalan ke tujuan masing-masing.


"Mil,"


Nathan duduk disamping Milly, lalu ia menyodorkan bungkusan isi roti sobek dan Milly langsung menerima dan memakannya. Milly tidak duduk sendirian sebelumnya, sudah ada Ruby menempati kursi yang Nathan duduki. Namun gadis itu sedang bernyanyi ria bersama teman-temannya di tempat duduk belakang, melantunkan lagu tahun 20-an yang ia hapal, salah satunya lagu Padi berjudul Begitu Indah.


"mau gabung ke belakang ?" tanya Nathan dengan padangan yang ke arah sisa coklat di sudut bibir Milly. Lalu jemarinya mengusap sudut bibirnya, menyekanya lalu ia bersihkan lagi menggunakan tisu. Yang Milly bisa lakukan hanya diam dengan perasaan canggungnya.


Kemudian Milly menggeleng pelan. Ia lebih memilih melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda. Kurang tidur akibat memaksakan diri untuk menonton drama korea secara maraton. Tidak tanggung-tanggung sejak sore Milly tidak berhenti menonton dan ia hanya tidur selama 3 jam saja. Itupun ia dibangun paksa oleh Adit.


Di berbeda tempat Adit meminta El untuk mengantarnya ke Fresh Market di dekat rumahnya. Sebelum berangkat mengantar Milly, Bi Ana sempat meminta tolong pada Adit untuk dibelikan kebutuhan dapur.


Adit memperhatikan buah-buahan segar yang terpajang di keranjang besar, lalu ia mulai memilih buah Jeruk Mandarin dan Apel Fuji.


"sekarang lo udah mulai terang-terangan memandangi Milly kayak tadi ya," Adit melirik El dengan ekspresi wajah datarnya, pria itu bergeming sesaat lalu mendengus sinis.


"berarti mata gue masih berfungsi dengan baik," El ikut memilihkan Apel Fuji, meneliti tekstur kulit pada buah tersebut lalu ia taruh ke dalam keranjang Adit.

__ADS_1


"masalahnya bukan itu, makin kesini gue liat diantara kalian udah berani menunjukkan diri kalian masing-masing. Bahkan Milly udah nggak canggung lagi buat ngeliat lo—kayak tadi,"


"lantas lo mau apa, mau butain mata Milly biar dia nggak bisa liat gue lagi ?"


Adit terkekeh hambar, baginya El-lah yang lebih pantas untuk dicolok matanya agar pandangannya tidak jelalatan pada Milly.


"gue tau pikiran lo, lo pengen colok mata gue kan biar gue nggak jelalatan liat Milly. Ketebak otak busuk lo,"


Kali ini Adit sungguh terkekeh geli.


Setelah membayar semua belanjaan, Adit dan El keluar menuju parkiran mobil. Melihat El terpaku di tempatnya, Adit mengarahkan pandangannya ke arah pandangan El saat ini, seorang wanita yang Adit kenal sebagai Ibunya El berdiri tidak jauh dari posisi mereka.


Wanita berumur setengah abad mengenakan baju terusan yang membuatnya terlihat anggun dan cantik, sejak dulu ketika semasa SMA Adit memang selalu takjub akan paras cantiknya sang Ibunda El. Umpamanya beliau bagaikan seperti sosok Kate Middleton versi Indonesia.


Tapi yang menyita perhatian Adit untuk sekarang ini, melihat Ibu El menenteng kantung plastik belanjaan dari tempat mereka berbelanja juga, tentu saja tempat tinggal beliau sekarang tidak mungkin jauh dari area sekitar sini. Itu sudah pasti.


Bagi Adit tidak akan masuk akal bila ada orang rela pergi jauh hanya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, kecuali Fresh Market disana dibuat besar seperti Supermarket di Mall besar ternama. Adit akan memahami hal tersebut.


Tak lama seorang pria bertubuh tinggi tegap mendekati wanita tersebut lalu mengikuti pandangannya ke arah El, terlihat rambutnya mulai memutih akibat bertambah umur, walau demikian pria tersebut masih terlihat gagah, masih belum pantas dipanggil pria tua dedengkot.


Adit yakin pria itu adalah Ayah tirinya El.


"El,"


Buru-buru El masuk ke dalam mobil dan menyalakan starter, disusul Adit setelah ia berpamitan dengan 2 orang tersebut. El menjalankan mobilnya penuh emosi, hingga decitan roda mobil terdengar Adit. Adit hanya duduk pasrah di dalam mobil, membiarkan sahabatnya menyetir mobil seperti orang gila.


***********************************


Berkali-kali Milly menatap layar ponselnya dengan wajah tertekuk kesal. Menunggu notifikasi dari seseorang yang sedari tadi ia tunggu kabarnya, namun pria itu belum juga membalas pesan Whatsapp-nya.


Tidak mungkin jika Milly menanyakan keadaan El pada Adit, yang ada Adit akan bertanya-tanya layaknya seorang detektif yang sedang memecahkan masalah kasus pembunuhan berantai.


Tak lama Ruby menyusul Milly dan duduk di sofa empuk yang berada di ruang keluarga. Vila yang mereka tempati memiliki fasilitas yang cukup worth it; ada kolam pribadi, taman depan dan belakang yang luas bisa dijadikan acara Barbeque walau mereka tidak memiliki agenda acara tersebut, terutama Vila tersebut begitu cozy bagi sang penghuni. Sama sekali tidak merasa rugi mengeluarkan anggaran yang cukup tinggi untuk menyewa Vila tersebut. Dalam hal ini Nathan memang jago memilih tempat.


Ruby mengamati Milly yang terus mendengus kesal menatap layar ponsel, gadis itu yakin siapa lagi kalau bukan El yang membuat Milly seperti ini.


"ditunggu aja, nanti doi juga bales kok," sahut Ruby sambil menyenggol bahu Milly dengan lengannya.


"gue yakin kak El lagi sibuk sama kak Adit, makanya dia belum bisa bales WA lo." Tambahnya lagi.


"nggak kok, belum lama dia ada teleponin gue nanyain gue udah dimana. Pas gue kabarin malah ngilang," dengus Milly. Lalu ia melempar ponselnya di sampingnya, tapi ia kembali mengambil ponsel dan kembali mendengus kesal karena belum ada notifikasi masuk dari El.


"ya sudah sabar aja. Mending kita ke taman, anak-anak pada ngumpul disana."

__ADS_1


Ruby bangkit dan kembali ia mengajak Milly ikut bersamanya. Namun Milly memilih untuk duduk di ruang tengah, menunggu kabar El. setelah itu ia akan menyusul.


Mendengar hal itu Ruby benar meninggalkan Milly sendirian, masih berkutat memandangi layar ponsel dengan foto El dijadikan backgound wallpaper-nya.


Tring..


Bergegas Milly melihat notifikasi masuk, ia tersenyum senang karena El membalas pesannya.


Kak El :


Ya sudah, have fun baby. Jangan sampai kelelahan. I love you..


Membaca pesan tersebut entah kenapa Milly merasa tidak puas ataupun lega. Milly kembali mengirinkannya pesan namun pesannya hanya tercentang 1, ia mencoba untuk menelepon El namun nomornya tidak aktif.


Mendadak Milly jadi khawatir.


"Milly.."


Milly membalikkan badan, melihat Nathan tengah berdiri di belakangnya sambil memegang minuman kaleng soda.


"habis telepon siapa ?"


Ponselnya segera diredupkan oleh Milly.


"kak Adit," balas Milly dengan senyuman canggung. Nathan hanya mengangguk dengan bibir membentuk bulat.


"lo nggak happy ya jalan-jalan ke sini ?" tanya Nathan yang sedari tadi ia perhatikan Milly tidak terlalu antusias dengan acara ini. Milly hanya sibuk dengan kegiatannya sendiri, berkali-kali Nathan menangkap Milly yang terus memperhatikan ponselnya sejak mereka sampai di Vila.


"kok lo ngomongnya gitu ?" sergah Milly cepat, buru-buru ia bangkit dan memelas dengan wajah bersalah.


"gue happy kok jalan-jalan ke sini. Dari tadi.. gue emang sibuk kasih kabar ke kak Adit. Sekarang udah selesai kok, ini mau nyusul ke belakang."


Nathan kembali mengangguk dan langsung menyusul langkah Milly menuju taman belakang.


Tapi Nathan tahu, penjelasan Milly barusan adalah alibi belaka. Bukan Adit yang Milly hubungi sedari tadi. Secara tidak sengaja Nathan melihat pesan masuk di layar ponselnya ketika Milly sedang tertidur di bus, dan pesan tersebut merupakan pesan dari El.


Yang membuat Nathan tersenyum pilu adalah; Nathan membaca di akhir kalimat pesan El yang mengucap kata 'I love you', serta foto El juga dijadikan sebagai wallpaper di layar home.


Nathan pikir usahanya untuk menggantikan El di posisi hati Milly akan berjalan baik walau progresnya cukup lambat. Ternyata ia harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa mendepak El dari hidup Milly.


Sebab tujuan Nathan saat ini bukan hanya untuk mengalahkan El saja, sekaligus ia ingin menghancurkan pria tersebut dan menjatuhkannya ke jurang kehidupan yang begitu dalam dan gelap sehingga El tidak akan bisa menggapai secerca cahaya yang ia sebut sebagai sebuah harapan baru.


Sebab baginya, sejak dulu sampai kini El akan selalu menjadi rival dalam kehidupannya. Dan Nathan tidak akan biarkan pria itu memenangkan apa yang sudah Nathan genggam kuat selama ini.

__ADS_1


***********************************


__ADS_2