
Tadinya suhu ruangan kamar El berhasil membuat Milly merinding kedinginan, tapi sekarang suhu ruangan tersebut tidak bisa lagi memadamkan hawa panas yang bergelanyar bebas di sekujur tubuh Milly.
Juga ada beberapa titik peluh keringat mulai muncul di kening sampai ke area leher. Walau demikian hal tersebut tidak menghambatnya untuk terus membalas pagutan yang semakin lama semakin dalam dan kasar. Bahkan El tak segan menggigit bibir Milly, dan lidahnya pun juga menjadi sasaran gigitan.
Masih terduduk di atas meja kerja, Milly mulai kewalahan akan kerakusan El dalam menghisap, ******* dan menggigit. Tidak ada satu inci pun terlewatkan akan rasa manis di bibir Milly, dahaga tak surut menyerang El, menuntut dan merengut apa yang Milly miliki.
Kedua tangannya pun turut bekerja dibawah sana, sudah menyusup dibalik baju sabrina hitam dan bermain di kedua buah dada Milly secara perlahan. Kemudian El segera melepaskan semua pakaian atas lalu dilempar ke sembarang arah, dan kembali lagi mencium bibir Milly dan memainkan dadanya yang kini semakin bergerak liar.
Memilin bagian ujung, lalu mengusapnya hingga meremasnya cukup kuat hingga Milly tak kuasa mengeluarkan desahan lembut.
Dan desahannya menjadi alat pancing yang berbahaya untuk Milly.
El menggendong Milly mendekati tempat tidur, lalu membaringkan Milly disana setelah menyingkirkan semua barang di tempat tidur. Kembali bermain di area dada, namun El masih belum puas, hingga kedua tangannya bergelanyar turun ke area perut dan mulai membuka kancing dan relsleting celana jeans Milly.
El memperhatikan Milly, terlihat manik nya sudah menggelap oleh kilatan gairah, sama sepertinya. Bahkan ketika El mencoba menarik celana Milly supaya terlepas gadis itu tidak menghalanginya, justru Milly membantu El untuk menaikkan badannya supaya celana tersebut berhasil terlepas di kedua kaki jenjang Milly.
Sekarang Milly benar-benar terlihat polos tanpa sehelai benang pun, bagaikan pahatan patung dewi memancarkan aura kecantikan yang begitu natural. El tersenyum simpul ketika di bagian area sensitif Milly tidak ditumbuhi apapun, kalau pun tumbuh El sama sekali tidak mempermasalahkan.
Tidak mau dibiarkan terlalu lama, satu tangannya mengusap area Milly membuat Milly bergelinjang kaget. Spontan Milly menangkup tangan El dibawah sana.
Kembali El mencium bibir Milly, lembut nan dalam. Tanpa Milly ketahui jika El lakukan itu demi mengalihkannya, saat Milly terbuai lagi segera El mengunci kedua tangan Milly dengan satu tangannya di atas kepala.
Satu tangannya kembali bermain dibawah sana, bibir El masih memagut Milly ditambah belaian tangan El diantara celah membuat gejolak hasrat Milly semakin mendobrak logikanya, kepalanya pening oleh sensasi asing yang memabukkan. Menenggelamkannya menuju sebuah kenikmatan, dan Milly ingin mencapai itu.
Erangan Milly terus memancing El, sehingga pria itu ingin melakukan lebih dari ini, dan sekarang satu jari El mencari celah kecil dan mencoba menerobos masuk ke dalam diri Milly, membuat gadis itu melenguh dengan suara serak desahan yang begitu merdu di telinga El.
"kak El.."
Sangat sempit, basah dan hangat. Itu yang El rasakan ketika ia menggerakan satu jarinya di dalam sana, memaju mundurkan dengan cepat dan dalam, membuat dirinya yang dibawah sana juga ingin merasakan betapa sempit dan hangat ketika masuk dan memenuhi diri Milly.
Mendapatkan pelepasan begitu nikmat untuk pertama kalinya, wajah yang memerah, banjir oleh peluh keringat serta uraian rambut panjang yang berantakan justru terkesan seksi dan panas bagi El. Segera El mencabut jarinya yang dipenuhi cairan Milly, lalu ia turun untuk mencecap kenikmatan dibawah sana.
Hasrat Milly kembali memuncak dimana bibir dan lidah El menghisap dan menjilatinya, hingga Milly melebarkan kakinya lagi sambil menekan kepala El.
Sudah tidak kuat lagi, satu tangannya melepaskan celana trainingnya, mengeluarkan dirinya yang sudah berdiri tegak, berteriak ingin dijamah dan dipuaskan segera.
Milly yang melihat itu terkesiap, muncul perasaan takut ketika melihat sesuatu yang besar dan panjang. Milly ragu dan tidak yakin apa yang mereka lakukan nanti akan berakhir baik-baik saja.
__ADS_1
"tenang sayang, aku janji rasa sakitnya tidak akan berangsur lama," bisik El lembut setelah mendapati kedua mata Milly yang terpejam karena ketakutan.
Kedua kaki Milly ditekuk dan El bergerak mendekat, lalu ia menyapu celah Milly dengan ujung kepala dibawah sana hingga mereka berdua berdesis nikmat. Setelah El menangkap celah sempitnya, El mempersiapkan diri.
Perlahan El memasukkannya dengan hati-hati, celah yang terlalu sempit sehingga susah dimasukkan dan menjepit ujungnya membuat El mengerang frustasi, perlahan ia mencabut dan memasukkannya lagi dengan hati-hati. Tapi hasilnya sama, masih belum berhasil masuk sempurna seolah ada sesuatu yang menghalanginya masuk.
Kembali El memasukkannya, kali ini El menggunakan sedikit tenaga sambil kembali memainkan kedua dada Milly dan mencium bibirnya, dengan sekali hentakan El berhasil masuk dan memperdalam ciumannya di bibir Milly untuk mengalihkan rasa sakit.
Rasa nikmat tak terhingga berkat pijatan inti Milly mengalahkan rasa perih yang disebabkan cakaran kuku di sepanjang lengan dan pundak El.
Setelah El berhasil menenangkan tangisan Milly, El mulai memainkan dirinya didalam sana. Memaju mundurkan dengan ritme pelan, hingga desahan serta ekspresi wajah Milly yang menikmati permainan El memicu gairahnya semakin berkobar. Kemudian El mempercepat gerakannya, menikmati sensasi yang sudah lama tak lagi dirasakan olehnya. Dan kini ia kembali menikmati bersama Milly, yang dulu hanya El bisa bayangkan dalam angan ketika ia bermain solo.
Milly mencondongkan tubuhnya ketika El ingin meraih dada Milly untuk ia kulum. Tak butuh waktu lama Milly kembali merasakan pelepasannya yang kedua.
Cairan yang keluar cukup banyak dari Milly membuat pompaan El semakin licin dan semakin panas. Tak lama El mengerang dan menghentakkan dirinya sampai dalam, pelepasannya yang membuat kepala El plong. Begitu nikmat.
El dan Milly saling merebut oksigen sebanyak mungkin, dengan hati-hati El melepaskan diri, lalu tampak cairan bening bercampur darah segar disana, bahkan bercaknya sampai menempel di bedcover tempat tidur.
Lalu El segera menggendong Milly menuju kamar mandi.
***********************************
"iya kak, aku lagi nggak subur kok."
El menghela nafas lega lalu memeluk Milly dari belakang. Berbeda dengan Milly, ia menunduk lesu menatap kalender. Namun Milly langsung tersenyum ketika El memandangi wajahnya.
"maafin aku sayang. Maaf." El memperhatikan Milly secara seksama. Merasa amat sangat menyesal. Tapi memang seperti itulah hukum alam yang berjalan, penyesalan akan datang belakangan.
Sudah menerobos tanpa permisi ditambah membuang benihnya ke dalam diri Milly. Bukan bermaksud El tidak ingin bertanggung jawab, menikah dengan Milly adalah salah satu keinginannya. Namun tidak mungkin ia menikahinya dalam waktu dekat, mengingat umur Milly yang masih muda, masih panjang perjalanan hidupnya untuk meniti karir dan menikmati mas muda, dan juga Milly akan berangkat kuliah ke Prancis. El tidak mau menghambat masa depannya.
Serta bagaimana cara El berbicara pada Adit bila mendadak ingin menikahi Milly, bukannya memberi restu justru Adit akan memukulnya lagi, lalu Milly benar-benar akan pergi dari hidupnya.
"nggak kak, untuk apa kakak minta maaf, kakak kan nggak salah apa-apa sama aku." ujarnya kembali menarik bibirnya untuk tersenyum.
"maaf atas semua perbuatan ku, aku nggak mau kamu marah.." cicit El sendu, lalu ia kembali berucap, "..tapi kalo kamu hamil pun, aku pasti akan nikahin kamu. Tapi akan lebih baik kalo kamu belum hamil dulu,"
Milly mengelus kepala El dengan lembut saat El semakin mencondongkan wajahnya ke pundak Milly supaya gadis itu bisa leluasa memainkan rambutnya.
__ADS_1
"kakak nggak usah khawatir dan jangan merasa tidak enak juga. Aku tidak menuntut kakak untuk nikahin aku kok. Aku pastiin kalo aku lagi nggak subur, jadi kakak nggak perlu cemas."
Milly mencium pipi El lalu bangkit, langkahnya yang masih tertatih menuju pintu untuk keluar. Berniat untuk menyiapkan makanan sebab hari sudah malam. El tercenung memandangi punggung Milly dengan kaos putih oblong kebesaran yang ia kenakan.
Iya, tidak ada yang perlu El cemaskan disini. Mau sampai kapanpun Milly akan selalu menjadi miliknya. Miliknya Elkana Bramawan.
Sesuai dengan perhitungan Milly, di bulan berikutnya Milly datang bulan. El benar-benar bernafas lega, namun El malah terlihat khawatir bahkan ketar-ketir nggak karuan. Sebab akhir-akhir ini Milly terlihat berubah. Bukan berubah pada beberapa bagian tubuh Milly, atau berubah dalam sikap dan perilakunya, melainkan gadis itu mulai merubah dalam penampilan sehari-harinya.
Tidak berubah sampai 180 derajat, namun cukup terlihat hingga beberapa pasang mata -- khususnya para laki-laki muda -- terpancing memandangi Milly dengan tatapan kagum.
Semakin sering ia bertemu dengan Ruby saat mereka sedang sibuk memasuki dunia kampus, Milly memintanya untuk mengajari cara ber-grooming dengan baik, alasannya Milly hanya ingin memperbaiki penampilan saja, hanya ingin lebih mengenal bagimana cara berdandan namun tetap terlihat simpel. Apalagi Milly akan bertolak ke negara Prancis, negara yang terkenal fashionable.
Untungnya belajar grooming dengan Ruby tidak mengharuskannya untuk berbelanja barang branded atau memoles wajahnya dengan make up mahal. Memadupadankan sesuai kondisi dan budget, apapun yang dikenakannya menjadi enak dipandang.
Dimulai ketika El dan Milly pergi kencan ke Mall saat weekend, beberapa laki-laki disana mencuri pandang ke arah Milly, padahal El persis disampingnya. Tatapan penilaian hingga berbinar kagum membuat El muak, rasanya ia ingin mencolok mata mereka satu per satu.
Da tak tanggung-tanggung Milly juga mendapatkan cukup banyak perhatian dari teman-teman sekolahnya setelah Milly meng-upload foto selfie di media sosial setelah didandani oleh Ruby. Notabene yang memenuhi kolom komentar adalah para laki-laki.
Nathan pun turut serta mengomentari foto Milly disana,
"wih pacar gue cantik juga ya.."
Rasanya El ingin mematahkan tulang Nathan saat ini juga.
Sampai dengan hari ini, dimana Milly datang mengunjungi Adit ke kantor untuk memberikan surprise ulang tahun dan juga membawakan makanan untuk dibagikan ke para staf akunting dan beberapa rekan kerja lainnya. Termasuk divisi El.
Kekhawatirannya semakin menjadi ketika El mendengar obrolan rekan 1 divisinya, begitu asik membicarakan seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Milly. Mereka -- yang mayoritas anak magang berumur belasan tahun -- begitu antusias mengagumi Milly hingga mereka membandingkan dengan foto-fotonya di media sosial. Rasanya kepala El terlalu panas dan ingin meledak.
Tidak bermaksud ingin menutupi hubungannya setelah Adit merestui, El memang tidak suka hubungan pribadinya diumbar-umbar. Dia bukanlah seorang aktor terkenal atau orang penting yang harus mengumbar sisi kehidupan pribadinya, disini El berhak untuk bebas menentukan alur apakah ia ingin semua orang tahu atau tidak. Termasuk dalam hubungan percintaan.
Namun sepertinya El akan mempertimbangkan ulang. Buru-buru El menyelesaikan pekerjaannya walau tidak fokus. Lalu segera menghampiri divisi akunting dan melihat beberapa pria magang divisi akunting terang-terangan mendekati Milly dan mengajaknya mengobrol. Bahkan mereka tak segan meminta akun sosial media Milly serta bertukar nomor ponsel.
Sontak El bergegas berjalan mendekati Milly dan merangkul pinggangnya dengan erat, membuat beberapa orang yang menandangi mereka disana terkesiap dengan sikap El yang tiba-tiba melengket kayak slime.
"sayang, aku mau diambilin fettucini sama salad buah aja. Tapi kamu suapin aku ya."
El posesif? Iya itu benar, dan El tidak peduli dengan pandangan melotot mereka yang tertuju padanya saat ini.
__ADS_1
***********************************