Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
26. Milly, Adit dan El (18+)


__ADS_3

Milly


Aku menghirup nafas sebanyak mungkin, seolah aku sehabis tenggelam dari dasar lautan, mata ku menatap wajah El yang terangkat ke atas namun masih berdekatan di depan wajah ku yang juga sedang menghirup nafas. Terlihat nafasnya naik turun serta dadanya ikut bergerak. Tapi gerakannya tidak segemuruh seperti ku.


Masih terpampang jelas manik coklatnya memandangi ku dengan tatapan sayu, wajah memerah serta bibir mengkilap akibat ulah ku.


Lalu bibir kami kembali bertemu dan saling memagut lembut, spontan aku mengalungkan kedua tangan ku ke lehernya agar ciuman kami tidak sampai terlepas. Sangking aku begitu terbuai dengan kegiatan kami, aku sampai tidak sadar jika badan ku sedikit terangkat naik, lalu aku merasakan sentuhan tangan El bergerak gelanyar mengelus punggung ku dibalik kemeja kebesaran yang aku pakai. Sentuhannya membuat ku merinding namun aku terlelap aka kenikmatan. Antara rasa takut tersegelintir rasa senang memenuhi hati ku.


Tak sengaja suara desahan ku keluar begitu saja dibalik pagutan bibir kami, dan aku sadar suara ku membangkitkan tenaga El untuk mencium ku semakin dalam. Dan aku membelalak ketika satu tangannya mulai bekerja untuk meremas satu dada ku di dalam sana, yang masih tertutup oleh bra.


Reflek aku menahan tangan itu, menjauhi jangkauannya. Namun El semakin kuat memasukan tangannya ke dalam bra ku dan menangkupnya dengan lembut, diremasnya secara perlahan membuat aku merasa melayang ke atas langit.


Telapak tangan El yang kasar begitu kontras dengan kulit dadaku yang lembut, namun efeknya memberikan rasa ketagihan. Sehingga tangan ku tidak lagi melarangnya untuk menjelajahi dada ku, bahkan sekarang aku berani mengacungkan dadaku agar El lebih leluasa dengan kegiatannya.


Saat aku memejamkan mata menikmati sentuhan itu, terbayang sosok Adit muncul di kepala ku. Spontan aku langsung melepaskan pagutan bibir kami dan menjauhkan tangan El dari dadaku. Tiba-tiba aku takut jika Adit akan memergoki kami dan memaki kami.


"maaf kak. Takut kak Adit datang.." cicit ku memelas dan mengalihkan pandangan ku ke arah lain. Aku tidak berani untuk menatapnya, takut El marah padaku karena aku membuyarkan kegiatan.


Walau seharusnya aku yang pantas marah karena El sudah menyentuh area sensitifku.


Kemudian El bangkit dan duduk di sisi kasur, setelah memandangi ku cukup lama ia mulai mengusap wajahnya dengan kedua tangan lalu menghela nafas gusar.


Posisi ku masih terbaring di tempat tidur, aku yakin jika wajah ku masih memancarkan merah padam, berusaha serileks mungkin mengatur nafas ku yang mulai kembali normal sambil mengamati kegiatan El di samping ku.


Sebelum aku ingin menutup wajah ku karena tidak bisa menahan perasaan malu ini, justru aku malah terpaku melihat El bangkit berdiri dan berjalan menuju meja belajar ku, lalu ia mengamit jas dan dasinya kemudian ia tengger di lengan kirinya. Lalu ia berbalik lagi, kembali mendekati ku.


Kemudian El menurunkan wajahnya untuk kembali mendekati wajah ku, namun kali ini aku merasakan bibir yang begitu hangat mengecup kening ku. Aku masih tidak melakukan apapun selain memandangi perbuatan El padaku barusan.


"minum obat dulu baru tidur. Aku pulang."


Segera dia membuka pintu dan kembali menutupnya setelah ia keluar dari kamar. Meninggalkan ku seorang diri disini dalam keheningan.


Rasanya aku ingin berteriak kencang atau berjingkrakan di atas kasur. Tapi aku masih betah berbaring, belum mau beranjak sedikitpun. Lebih tepatnya sekujur tubuh ku masih lemas tak berdaya karena beberapa menit yang lalu kami telah melakukan hal yang tidak terpikirkan oleh ku.


Ada sesuatu yang merekah di dalam dalam perut ku lalu merambat ke dalam dada ku. Aku tidak mengerti apa arti dari gejolak tersebut, tapi yang aku tahu dan aku rasakan sekarang rambatan tersebut menghantarkan sebuah rasa hingga garis bibir ku terus terangkat penuh.


Namun hatiku berceletuk, sekilas aku melihat dia memasang wajah kesal dan berkata umpatan lirih keluar dari bibirnya ketika ia berjalan mengambil jas dan dasinya.


Aku pikir dia akan meminta maaf padaku dan berkata bahwa dia begitu menyesal atas perbuatannya, nyatanya aku malah dihadiahi sebuah ciuman di kening ku. Bukan ciuman panas seperti dia mencium bibirku sebelumnya, namun ciuman tersebut membawa kehangatan mengelilingi diriku.


Pikiran ku mulai bercabang tak menentu akan beberapa pertanyaan yang muncul di dalam kepala ku. Namun dari semua pertanyaan yang muncul hanya 1 yang menyita perhatian, setelah kejadian ini apakah hubungan ku dengan El bisa dikatakan lebih seperti sepasang kekasih ?


Jika memang benar demikian, berarti El sungguh menyukai ku seperti aku begitu menyukainya ? Secara tidak langsung ciuman itu menandakan jika itu adalah awal mula dari hubungan kami ?


Senyuman ku berubah menjadi cekikikan tidak jelas. Lalu aku mengguling-gulingkan tubuhku di atas kasur saat aku mengingat kembali rasa bibir El yang begitu manis mencecap bibir ku dengan rakus. Dan sentuhan lembutnya memberikan efek yang begitu memabukan untukku.


Rasanya aku tidak sabar untuk bertemu dengan Ruby, aku akan menceritakan semua hal ini padanya.


***********************************


"lo yakin Mil ? Lo serius sama omongan lo barusan ?" tanya Ruby menatap ku tidak percaya. Wajahnya kaku dengan bibir yang sedikit terbuka, ingin berbicara lagi namun ia bingung mengeluarkan kata-kata untuk ku.


Saat ini kami berada di kantin tempat khursus musik, aku sengaja mengajak Ruby menemani ku disini, sekalian aku ingin curhat tentang kejadian semalam dan meminta pendapatnya tentang kejadian itu. Aku ingin tahu bagaimana penilaian Ruby tentang El mencium bibirku, apa dia sependapat dengan ku atau tidak.

__ADS_1


Namun aku belum berani menceritakan pada Ruby kalau El sudah menyentuh dadaku. Aku masih belum siap.


Sedari tadi gadis yang mengenakan crop tee putih dibalut dengan jaket hitam dan mengenakan ripped jeans putih ini tak berhenti menatap ku, berusaha mencari celah dari wajah ku jika aku sedang berkata asal padanya.


Sedari tadi aku senyum senyum sendiri tidak jelas masih dianggap membual ?


Sambil menunggu Ruby berfikir aku segera menghabiskan minuman es teh di dalam botol kemasan. Setelah habis aku remukan botol tersebut lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Mil, lo nggak mau coba liat beberapa hari lagi gitu ? Biar lo tambah yakin kalo kak El beneran suka sama lo ?" tambah Ruby kemudian. Aku menerawang pikiran ku, dari semua perbuatan El padaku aku yakin jika pria itu juga menyukai ku seperti aku menyukainya.


"Rub, nggak mungkin kan kak El tiba-tiba cium gue tanpa adanya perasaan sama gue ?" sergah ku kurang suka dengan pemahaman Ruby.


"iya gue tau.." timpalnya, "tapi lo nggak mau tanya dulu apa alasannya kak El nyium lo secara tiba-tiba ? Kita belum tau loh tentang perasaan kak El sama lo sebenarnya ?"


Posisi duduk ku semakin mendekat ke Ruby, agar aku bisa berbisik padanya. Semakin kesini kantin mulai terlihat ramai, takut percakapan kami terdengar oleh mereka.


"coba deh lo ingat ingat lagi pas kejadian di Bali, dimana kak El memukul pria bule karena udah berani peluk gue sembarangan, bukannya dia kayak gitu karena cemburu Rub ? Dan gue juga sering cerita sama lo kalo kak El suka kasih perhatian kecil saat di rumah, bahkan gue pernah tunjukin chat terakhir dari kak El tentang gombalan dia ke gue saat dia minum kopi di depan gue. Jadi apa menurut lo kak El kayak gitu bukan karena dia suka sama gue Rub ?" ucap ku panjang lebar. Ruby masih terdiam menatap ku. Terlihat dia semakin berfikir keras.


"oke deh kalo lo berfikir kayak gitu.. Lantas kalo kak El beneran ada perasaan sama lo, lo maunya gimana ?" tanya Ruby lagi.


"jangan bilang kalo lo mau nembak kak El duluan ?" tambahnya lagi sambil mendelik tajam padaku. Aku langsung menggeleng kepala, mana ada aku punya keberanian buat nembak El duluan. Belum mengatakan apa-apa saja mungkin aku sudah pingsan duluan.


"gue nggak bakal berani nembak kak El duluan Rub. Gue akan nunggu kak El buat ngungkapin perasaannya ke gue."


Ruby menghela nafasnya, ingin menyudahi pembahasan kami. "ya sudah tungguin aja. Jangan bertindak duluan sebelum dia yang memulai. Ayo pergi."


Aku mengangguk lagi atas ucapannya.


***********************************


Aku berjalan memasuki pekarangan rumah bersama Ruby, beberapa mobil pribadi terparkir di sekitar rumah ku. Sudah ku pastikan akan ada banyak tamu yang merupakan teman kerja Adit sedang berkumpul di dalam sana. Sepertinya hari ini adalah jadwal berkumpul mereka, tapi melihat beberapa mobil terparkir aku merasa bahwa cukup banyak yang datang, mungkin sekitar 10 orang.


Aku mencoba mengintip di balik pintu utama, melihat ruang tengah yang kosong, menandakan jika mereka sedang berkumpul ria di taman belakang. Aku tidak mau kejadian yang lalu terulang lagi, dimana aku berjalan mengendap ke pintu belakang yang ternyata malah ketahuan oleh Adit sendiri.


Aku dan Ruby melangkah perlahan, tidak tahu kenapa tiba-tiba aku meminta Ruby ikut melakukan seperti apa yang aku lakukan, aku hanya malas jika mereka menangkap kedatangan kami lalu kami diminta untuk ikut bergabung dengan mereka. Terkadang Adit suka mengajak ku ikut bergabung jika dia melihat ku dalam keadaan nganggur.


Dengan hati-hati tanpa bersuara kami menaiki anak tangga menuju kamar ku. Aku berniat untuk pergi lagi dengan Ruby menuju Mall ternama, teman kelas ku mengajak pergi menonton film yang sedang showing dan reviewnya menjadi trending topic di media sosial. Setelah memasuki kamar aku bergegas ke kamar mandi dan berganti baju. Ruby ikut membersihkan dirinya juga setelah aku, dia juga sudah membawa pakaian baru untuk dia ganti.


Setelah beres, kami kembali melangkah menuruni anak tangga. Namun langkah ku terhenti ketika aku mendengar seseorang mengucapkan kata selamat kepada Adit.


Aku meminta Ruby menunggu sebentar di belakang ku, aku mulai mengintip kegiatan mereka di taman belakang melalui pintu kaca yang tertutup kain gordyn. Sedikit aku menarik gordyn itu agar kedua mata ku puas melihat mereka sedang tertawa bahagia disana.


"congrast for both of you.. Ya walau kalian udah lama jadiannya gue tetep ngucapin lagi semoga hubungan kalian langgeng yah.. Dan makasih loh sudah ajak kita buat makan-makan disini."


Hatiku mencelos setelah mendengar sebuah ucapan itu. Aku seperti seorang perempuan yang memergoki pacar ku sendiri sedang selingkuh dengan wanita lain. Aku menganga tidak percaya jika Adit tidak menceritakan hal ini padaku tentang hubungannya.


Dan juga aku merasa bahwa disini hanya aku yang sama sekali tidak tahu dengan status hubungan mereka, padahal aku adalah adik perempuannya Adit, satu-satunya keluarga yang Adit miliki. Memang aku pernah berencana untuk mencari tahu tentang hubungan mereka, tapi aku tidak terima jika aku mengetahui hal ini dari orang lain. Bahkan aku tahu ini secara tidak sengaja terdengar oleh ku.


Apa aku memiliki kesalahan yang besar sehingga aku tidak tahu akan hubungan Adit bersama Karmila ? Aku tidak akan merestui mereka ? Tentu aku tidak akan seperti itu. Aku akan bahagia jika Adit bahagia. Adit bagaikan jantung di dalam diriku untuk bertahan hidup, aku tidak akan mungkin melarangnya, yang ada aku akan memberikan dia dukungan penuh jika Adit menyayangi Karmila.


Tapi tunggu, berarti selama ini dugaan ku salah mengenai hubungan El dan Karmila. Jadi selama ini Karmila bukanlah pacarnya El, melainkan Adit ?


Aku melongo sesaat.

__ADS_1


Kemudian pandanganku begitu tajam melihat Adit merangkul pinggang Karmila begitu mesra, dan Karmila melayangkan tatapan dalam kepada Adit. Aku tidak tahu reaksi wajah Adit karena posisinya Adit membelakangi ku.


Tak lama manik ku bergerak ke arah lain, melihat ini aku tambah tak bisa berucap apa-apa. El sedang duduk bersebelahan dengan seorang perempuan cantik, sangat anggun dan dewasa melebihi paras anggun Karmila. Dan dia sedang mengamati kegiatan El yang sedang serius memainkan ponselnya, aku yakin tatapan perempuan itu menandakan jika ia begitu menyukai El.


Bisa dibilang aku sudah belajar dari Ruby bagaimana caranya aku mengetahui tanda-tanda seseorang sedang melayangkan tatapan penuh minat kepada seseorang yang disukainya. Dan aku langsung menemukan contohnya setelah aku menangkap pandangan seorang perempuan melayang tatapan damba pada El.


Aku sering melihatnya saat acara kumpul mereka, salah satunya sekarang ini. Atau terkadang saat aku mampir ke kantor Adit dan melihat puluhan contoh tatapan tersebut ditujukan pada El.


Jangan tanya padaku, aku pun juga suka demikian ketika menatap El diam-diam.


Hiruk tertawa memenuhi telinga ku, mendengar mereka sedang membujuk El agar berpacaran dengan perempuan di sebelahnya, ah.. Mereka menyerukan nama perempuan itu, Cecilia. Nama yang cantik.


Kemudian beberapa pertanyaan dilayangkan pada Adit, salah satunya menanyakan keberadaan ku.


"Milly mana Dit ? Nggak keliatan dari tadi.."


Adit menjawab singkat jika aku sedang khursus musik.


"eh gue boleh deketin Milly nggak Dit ? Milly cakep banget pas lo upload foto IG bareng dia di Bali. Gue boleh pendekatan nggak, minta nomor hp nya dong. Kali aja gue berjodoh sama adik lo."


Adit hanya mengendikan bahunya tak acuh. Pria berkemeja biru itu lantas mengadu dengan El.


"atau gue minta nomor hp nya sama lo aja deh El. Masa gue nggak boleh deketin Milly sama kakaknya sendiri, temen lo nggak asik," adunya dengan wajah dilebih-lebihkan.


Aku melihat El mendongak menatap pria itu, jantungku berdebar bagaimana reaksinya kepada pria itu. Apa pria itu akan marah jika temannya ingin mencoba mendekati ku ? Aku tidak sabar ingin melihat reaksinya.


"minta sendiri sama orangnya, bentar lagi juga nongol."


"yaaa pelit banget lo El. Atau jangan-jangan lo juga suka sama Milly ya El ?"


Beberapa detik mereka terdiam memandangi El curiga, kemudian El mulai membalas pertanyaan pria itu.


"tidak." timpalnya cepat.


"ya sudah gue minta nomornya dong ?"


"gue nggak punya, minta sendiri aja."


Hatiku kembali mencelos namun ini lebih menyakitkan, tidak tahu lagi aku harus bagaimana, intinya aku hanya membisu mendengar El mengatakan hal seperti itu pada temannya. Pikiran ku juga berkecamuk mendengar tentang perasaannya ku. Begitu mantap ia mengatakannya dengan lancar jika dia tidak memiliki perasaan lebih terhadapku.


Teringat lagi akan kejadian semalam bahwa dia telah berhasil mencium ku namun faktanya El tidak menyukai ku.


Jadi maksud dari semua perbuatannya padaku apa ? Apa El sedang mencoba untuk memainkan perasaan ku ?


"Mil, lo baik-baik aja ?" bisik Ruby di belakang ku. Aku hanya terdiam, aku bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan Ruby. Belum lama aku melayang bebas di udara oleh perbuatannya, dan sekarang aku pun terpelanting jatuh akibat perbuatannya juga.


Aku berusaha untuk menahan air mata ku supaya tidak terjatuh. Berusaha menahan diri ku dari rasa sakit yang menyayati hati begitu dalam.


"loh dek Milly udah pulang. Kok duduk disitu ?"


Aku dan Ruby langsung berdiri tegak karena ketahuan oleh Bi Ana. Dan tak lama kemudian Adit muncul bersama Karmila, disusul kehadiran El dengan wajah yang berubah terkesiap.


***********************************

__ADS_1


__ADS_2