Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
29. Ungkapan Hati


__ADS_3

El tidak henti menuangkan botol minuman berlabel Jack Daniel's ke gelas kaca, lalu langsung ia teguk minuman itu sampai habis. Berulang-ulang hingga minuman di botol tersebut habis tak tersisa.


Sangking terlalu asik menghabiskan minuman seorang diri, El membiarkan musik berdentum keras masuk melalui gendang telinga. Tidak peduli dengan keadaan sekitar kelab, yang El lakukan hanya ingin menyendiri disana, menikmati perasaan melankolis.


Sudah 2 botol minuman ia habiskan, El memesannya lagi dan langsung ia tuangkan kembali sampai penuh, berikutnya El meneguk minuman itu dengan cepat.


Sampai denyutan serasa begitu menghantam kepala El. Bertanda ia sudah terlalu banyak minum. Namun El membiarkan rasa sakit itu menyerang kepala nya, El tidak peduli. Karena rasa sakit di hatinya jauh lebih besar.


Teringat kembali saat Adit meminta Milly untuk memutuskan hubungannya dengan Nathan. El telah mendengar semua percakapan mereka di taman belakang. Sengaja ia bersembunyi disana, karena El tahu Milly akan enggan untuk menatapnya.


El sangat percaya dan yakin jika Milly sama sekali tidak berpacaran dengan Nathan. Hanya alibi belaka. Tapi tetap saja hati El ngilu mendengar pengakuan Nathan sebagai pacar Milly.


Dan hati El lebih pilu ketika ia mendengar pembicaraan Adit dan Milly di rumahnya.


"kalo kakak ingin aku putusin Nathan sekarang, ijinin Milly pergi kuliah ke Prancis."


"Milly mohon.."


Permintaan Milly terus berputar di pikirannya, seperti kaset rusak. Bukan bermaksud tidak menginginkan Milly untuk berkuliah, melainkan lokasi yang Milly pilih, dimana Adit dan El sulit memantau gadis berumur 17 tahun itu.


El menduga ada alasan khusus dibalik kata pergi kuliah disana, El tahu Milly sengaja untuk menjauhinya, berupaya ingin melupakannya.


Tanpa sadar El menggenggam erat gelas minumnya lalu dibanting ke bawah lantai. Suara pecahan kaca memicu beberapa orang menoleh dan memperhatikan El dengan tatapan gamang.


Pria itu benar tidak peduli dengan keadaan sekitar, tidak peduli dengan orang-orang yang menatapnya saat ini. El begitu gusar.


Lalu ia bangkit, mengeluarkan beberapa lembar uang untuk Bartender. Kemudian El melangkah, melewati orang-orang yang sibuk sendiri dalam kegiatan mereka, menghiraukan El yang tertunduk dengan raut wajah begitu kusut, berjalan perlahan dengan pandangan kosong, putus asa.


Hingga El tiba di mobilnya, masih tertunduk lesu didalam mobil, termenung beberapa menit disana.


Semakin lama praduga buruknya terngiang-ngiang di kepala El, terus mengganggunya sampai El memukul kepalanya, hingga ia membenturkan ke roda stir beberapa kali.


El tak berdaya, merasa hidupnya selalu statis, tidak ada perkembangan atau perubahan sedikitpun, justru gerak El malah semakin lambat seperti seekor siput. El sangat membenci dirinya yang tidak bisa menuntut apapun untuk meraih apa yang ia kejar selama ini.


Sama seperti dulu, seolah ia sedang mengejar layang-layangan putus, namun hanya bisa mengejarnya dengan tangan kosong. Sampai layangan tersebut semakin jauh, semakin tinggi dan semakin tidak bisa digapai. Hingga layangan tersebut lenyap dari pandangannya.


Cukup ia gagal menyatukan hati kedua orang tuanya lagi. Sudah cukup ia dikucilkan karena memiliki predikat broken home.


El tidak mau merasakan hal itu lagi. El ingin meraih harapan barunya, ia berfikir untuk bergerak cepat, sebelum Milly berhasil pergi jauh darinya.


El tidak akan biarkan Milly meninggalkannya dan berhasil move on dari El, tidak akan biarkan Milly mencoba membuka hati kepada laki-laki manapun, hanya El yang harus berada di hatinya.


Karena hanya ada Milly di hati El seorang.


***********************************


Walau baru beberapa hari lamanya, Milly merasa beban hidupnya kian berat untuk dijalankan. Orang-orang berpendapat di satu sisi bahwa ia terlihat baik-baik saja. Tapi Milly tidak merasakan hal itu.


Berpura-pura menjadi pacarnya Nathan didepan Adit ternyata cukup merepotkan, cukup menguras tenaga dan emosi. Tidak dipungkiri Nathan selalu berhasil menaikkan mood Milly, jarang membuat Milly keki, dan tidak ada perbedaan dari hubungan mereka sebelumnya. Hanya saja berbeda akan status mereka di mata Adit, walau bagaimanapun Milly tidak bisa meneruskan hubungan kosong ini, Milly merasa ruang geraknya jadi terbatas.


Semenjak kejadian terakhir di rumah Nathan, Milly juga tidak menampaki batang hidung El. Ia tidak tahu bagaimana keadaan pria itu, El bagaikan sesuatu yang tak kasat mata, suka datang tanpa permisi, dan suka menghilang tanpa pamit.


"Mil.."


Lamunan Milly buyar setelah ditepuk bahu oleh Nathan. Nathan sudah duduk di samping Milly, sembari memberikan minuman dingin untuknya. Milly meraih minuman itu dan bergumam terima kasih.


"mau makan dulu di kantin ?" tanya Nathan, manik hitamnya melirik arloji, jarum jam menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit. Sudah masuk jam makan malam. Saat ini Milly sedang duduk di ruang tunggu depan resepsionis tempat khursus musik, menunggu Adit yang katanya akan menjemputnya disana.


Sebelumnya Adit sudah menelepon Milly, mengajak Milly makan diluar karena Adit mendapat tambahan uang saku dari Bos nya. Adit berencana mengajak Milly makan di restoran Junk Food.


Terakhir Adit juga memberikan chat jika Adit menyelesaikan proposal dahulu, setelah itu Adit akan menjemput Milly di tempat khursus.


"kak Adit ngajak makan diluar Nat,"


Nathan ber-oh ria. Lalu pria itu mengajak Milly mengobrol.


"Mil, mau nemenin aku sama mama pergi ke Mall nggak ? mau cari kado buat papa, bentar lagi papa ulang tahun."


"kapan ? emangnya Om Ferry berulang tahun tanggal berapa ?" tanya Milly setelah ia menghabiskan minumannya.


"seminggu lagi. Kalo lo bisa, besok gue jemput ke rumah yah ?"


Milly menimbang ajakan Nathan, kemudian mengangguk paham.


"boleh Nat. Chat gue aja kalo jadi."

__ADS_1


Nathan tersenyum mendengar jawaban Milly.


"Ok Mil. Nanti gue telepon lo aja,"


Kemudian ponsel Milly berdering, tertera nama Adit di layar.


"iya kak, udah sampe ?"


"....."


"hah ?"


"....."


Milly segera bangkit dari duduknya dengan ponsel masih menempel di satu telinga Milly. Kakinya melangkah, satu tangannya membuka pintu lalu mengamati area parkir.


Nathan ikut celingak-celinguk ketika ia berada di belakang Milly. Mencari sesuatu yang dicari Milly.


Di belakang Milly, Nathan berdecak kesal. Ternyata bukan Adit yang menjemput Milly, melainkan El.


Kehadiran El yang tengah berdiri di samping mobilnya membuat beberapa murid khursus memandangi El dengan tatapan kagum. Seolah El adalah seorang aktor tampa yang tidak sengaja datang berkunjung.


Masih berpakaian formal tanpa jas membalut tubuhnya, mengenakan kemeja putih dengan celana panjang berwarna coklat tua. Lengan bajunya digulung sampai siku.


Milly menatap El ragu. Dengan langkah tersendat Milly menghampiri posisi El, wajahnya sedikit tertunduk memperhatikan aspal jalan, sedikit risih karena El terus menatapnya tajam.


Nathan pun ikut berjalan di belakang Milly, mengantar gadis itu. Tatapan sinis Nathan tercipta ketika El terpaku menatap Milly, tak lama pandangan pria itu berubah ke arah Nathan.


El membalas tatapan sinis Nathan yang tidak kalah sinis.


Satu tangan El memegang knop pintu, mempersilahkan Milly masuk ke dalam mobil.


"Adit nggak bisa jemput." Singkat El mengendikkan dagu pada Milly, mengisyaratkannya untuk segera masuk.


Milly terdiam sesaat, merasa Deja Vu. Milly berwas-was diri melihat sikap El yang mendadak menghangat, sama seperti dulu, ketika El selalu tiba-tiba datang padanya, bersikap manis layaknya seorang kekasih, berhasil mengepak-ngepakan hati Milly, sampai pada akhirnya Milly menyerahkan ciuman pertamanya pada El.


Tanpa adanya sebuah status yang jelas. Hingga pria itu kembali berhasil mematahkan hatinya.


Lagi-lagi menelan kebahagiaan semu, dan itu berlaku hanya untuk Milly sendiri.


Tidak dengan El.


Milly membuka pikirannya, menyadarkan diri untuk belajar dari kejadian masa lalu. Milly tidak bisa terus-terusan berhati lembek lagi.


Milly lelah menangisinya terus.


Kemudian Milly masuk ke dalam mobil. Setelah menutup pintu mobil, langkah El terhenti ketika Nathan mengatakan sesuatu padanya.


"titip pacar ku." Nathan mengatakan kalimat tersebut dengan percaya diri. Menekankan bahwa El akan mengantarkan pacarnya pulang ke rumah. El melirik Nathan, melihat pria itu tersenyum sinis padanya.


Manik El mengamati Nathan dari atas sampai bawah, lalu menarik sudut bibirnya ke atas.


Didalam mobil, Milly mengamati kegiatan El dan Nathan. Terlihat Nathan mengucapkan sesuatu pada El, meski tidak terdengar olehnya.


Namun garis senyuman di wajah Nathan lenyap begitu saja. Lalu Milly melihat El kembali berjalan dan memasuki mobil. Ia nyalakan starter mobil dan mulai berjalan meninggalkan Nathan yang masih berdiri dengan wajah masam.


Selama di perjalanan sesekali Milly melirik ke arah El, terlihat pria itu sedang tersenyum simpul. Terlihat sedang senang.


Namun Milly enggan menggerakkan bibirnya untuk bertanya pada El. Saat ini Milly ingin segera pulang ke rumah.


"pesan makanan di Mc Donald's dulu, baru pulang."


Milly hanya berdeham singkat. Dikarenakan pekerjaan Adit masih belum selesai di kantor, terpaksa janjian mereka untuk makan di luar diundur.


Untuk itu Adit meminta El menjemput Milly, sekalian meminta El membelikan makanan melalui drive thru. Adit tetap membelikan makanan untuk dimakan bersama di rumah saja.


Setelah El memesan makanan, mereka kembali menikmati perjalanan menuju rumah.


"kalian belum putus juga ?"


Milly melirik El melalui ekor mata, terlihat pria itu masih sibuk menyetir dan mengamati area jalan raya yang padat kendaraan umum.


Sudah Milly duga kalau Adit sudah menceritakan semuanya pada El. El dan Adit memang jarang menyembunyikan rahasia mereka satu sama lain. Tidak heran baik El maupun Adit akan selalu tahu tentang permasalahan yang sedang terjadi diantara mereka.


Milly menghembuskan nafas lelah, ia malas membicarakan hubungannya dengan Nathan.

__ADS_1


Biar El tahu sendiri melalui Adit, lagipula hubungannya dengan Nathan bukan menjadi urusan pribadinya. Pastinya tidak terlalu penting untuk dipikirkan pria macam dia, bukan ?


Tak lama Milly mendengar kekehan El, membuat gadis itu mengernyit bingung.


"kalian sangat lucu. Bilangnya pacaran tapi nggak pacaran sama sekali. Apa sih untungnya berpura-pura seperti itu ?"


Milly mengalihkan wajahnya ke samping, mengarah ke kaca pintu, menutupi reaksi keterkejutannya.


Jemarinya bertaut gelisah dipangkuan Milly. Pikirannya bercabang untuk mencari jawaban bagaimana pria itu bisa tahu. Apakah Adit juga tahu akan hal ini ?


"daripada kamu ketauan bohong sama Adit, mending jujur aja. Percuma kalo kalian lama-lama bohong, buang-buang waktu."


Milly masih bertahan membungkam mulutnya. Masih berfikir keras dengan praduganya tentang El. Milly sangat yakin kalau Adit begitu percaya pada hubungan palsunya. Dan tidak mungkin jika El bersusah payah mencari tahu tentang semua ini.


Dia cenayang kali yak ?


Mobil telah berhenti di depan rumah, Milly keluar memasuki rumah, kemudian El menyusul keluar dari mobil, berjalan memasuki rumah sambil menenteng plastik makanan.


Sambil menunggu Milly berganti pakaian di kamar, El mulai menyiapkan beberapa piring kosong dan gelas diletakkan di atas meja makan, setelah mencuci tangan di Sink El mengeluarkan box makanan.


Pertama El menyajikan makanan untuk Milly; 1 potongan Ayam krispy bagian paha atas ukuran besar, 1 kepal nasi, fried fries dan ice lemon tea.


Tak lama Milly datang, pakaiannya telah diganti dengan piyama satin bergambar tokoh kartun Bintang Laut berwarna Pink. Milly mendekati El yang masih sibuk mengeluarkan box makanan untuk disajikan ke atas piring, spontan Milly membuka box dan mengeluarkan beberapa potongan Ayam. Milly sempat terkejut, ternyata El begitu banyak membelikan makanan.


Saat itu Milly tidak terlalu memperhatikan El memesankan makanan.


"nanti Karmila datang ke sini, ikut makan bareng."


El menjawab wajah bingung Milly melihat begitu banyak makanan yang ia beli. El berjalan ke lemari es untuk mengeluarkan botol kaleng minuman soda.


Milly termenung, sejak kejadian dimana Milly pergi ke rumah Nathan, Milly belum bertemu lagi dengan Karmila. Sepertinya Adit akan mengajak Karmila untuk mengenalkan pada Milly secara resmi.


Mungkin sejak saat itu Karmila jadi segan untuk mampir ke rumah, merasa sungkan pada Milly. Memang Milly terkejut, karena gadis itu hanya tahu El dan Karmila saling suka setelah ia mendengar El nembak Karmila di taman belakang.


Mengingat kejadian tersebut, Milly mengerutkan dahinya. Benaknya menyeru jika El memang tidak menyukai Karmila selama ini, kenapa saat itu El nembak Karmila ?


"Milly.."


Tersentak, Milly berjingit dan memalingkan wajah ke samping. Mendapati wajah El turun tepat di depan wajah Milly yang terkejut. Posisi El berdiri di belakang Milly dengan kedua tangannya direntangkan di sisi badan gadis itu, menumpunya di sisi meja. El sengaja mengurung Milly agar gadis itu tidak memiliki ruang untuk bergerak, posisinya juga terhimpit oleh meja, sehingga Milly tidak bisa melengos pergi.


Milly mendadak membeku, karena El memajukan badannya, hingga Milly merasakan dada bidang El menyentuh pundak Milly.


"apa yang kamu pikirkan ?"


Kepala Milly juga mendadak mandet, bingung harus menjawab pertanyaannya. Tidak mungkin Milly berkata jujur jika ia sedang memikirkan pria di belakangnya ini. Secara tidak langsung, posisi Milly seolah sedang dipeluk oleh El dari belakang.


Debaran jantung Milly makin tidak karuan memenuhi rongga dadanya.


"boleh aku mengatakan sesuatu ?"


Sempat terdiam sejenak, Milly memberanikan diri untuk membalikkan badan dan menatap wajah lelah El, manik coklatnya menatap Milly begitu teduh, menyiratkan sesuatu hal yang ingin ia katakan pada Milly.


"ma-mau.. ngomong apa ?"


Bahkan bibir Milly pun berat bergumamkan sesuatu, terpaku mengamati El, yang semakin lama wajah pria itu semakin dekat dengannya. Sesekali manik El bergerak, mengamati wajah Milly yang Milly yakini sudah memerah padam karena jarak mereka semakin dekat.


Semestinya Milly segera mendorong tubuh kokoh itu untuk menjauhinya. Atau memaksa tubuhnya mendorong tubuh El dengan kuat lalu segera pergi meninggalkan pria itu. Namun sebaliknya, ia membiarkan El terus menghimpit tubuhnya, tidak ada perlawanan dari Milly sama sekali.


"jauhi Nathan.."


"..dan jangan pergi ke Prancis."


Kedua mata Milly melotot sempurna, kepalanya berusaha mencerna kalimat yang telah El ucapkan barusan.


"ke-kenapa ?"


Ada jeda sebelum El kembali berucap.


"aku benci liat kamu bersama Nathan, dan aku nggak mau kamu pergi jauh dari sini.."


Satu tangan El menangkup pipi Milly, mengusap pipi lembut itu dengan ibu jarinya, lalu ia tatap mata Milly secara lekat hingga dalam, menembus dasar maniknya.


Sudah saatnya Milly tahu bahwa apa yang akan ia ucapkan merupakan bentuk ungkapan hati yang sesungguhnya.


El tidak peduli lagi dengan kesepakatan itu.

__ADS_1


"..karena kamu milik ku, Milly."


**********************************


__ADS_2