Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
12. Seandainya..


__ADS_3

Cuaca cerah di hari minggu sangat cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, atau menonton film yang sedang tayang di Bioskop, atau berdiam diri di rumah sambil memanjakan diri sepanjang hari. Dan yang pasti semua orang akan menghabiskan waktu akhir pekan dengan sebaik mungkin, berbeda dengan Milly.


Wajahnya tertekuk karena lelah berkeliling ke 3 Mall besar di kota Jakarta. Sejak jam 10 pagi hingga jam 4 sore, kedua kakinya tak berhenti melangkah menemani sahabat tersayang dan terkasih untuk melakukan ritual bulanannya. Di setiap awal weekend Milly harus menyiapkan waktu untuk menemani Ruby belanja bulanan.


Bukan membeli bahan makanan, atau membeli kebutuhan sehari-hari. Gadis itu harus menemani Ruby untuk membeli semua kebutuhan dirinya sendiri, baik dari baju sehari-hari, dress, sepatu, asssoris hingga parfum.


Itulah ritual Ruby dan Milly diawal bulan. Bagaimana dengan kamu ?


Tubuhnya merosot ke sofa empuk berwarna krem, posisi Milly saat ini tidak bisa diganggu alias pewe. Sampai Bi Ana tak tega dan langsung membuatkan segelas jus mangga segar lalu ditaruh di atas meja agar Milly minum, tapi Milly belum ada tanda-tanda beranjak dari posisi nya.


2 paperbag berdiri tepat di samping Milly, bisa dibilang itu adalah hadiah sebagai jasa Milly menemani Ruby. Setiap Ruby berbelanja pasti Milly juga akan membawa paperbag, dan isi paperbag itu tidak Milly ketahui. Jujur saja, hampir setengah barang yang dimiliki gadis manis itu adalah pemberian dari sahabatnya. Bukan berarti Milly memanfaatkan kebaikan Ruby, jika Milly menolak pemberiannya maka Milly harus bersiap diri untuk didiamkan olehnya selama seminggu.


Nggak akan di chat, nggak akan disapa, nggak akan diajak kemanapun, itu yang akan Milly hadapi.


Daripada mendapatkan masalah, Milly mengalah lagi. Tapi bagaimana pun Milly selalu suka dengan apa yang Ruby berikan.


Gadis itu masih menunjukan wajah lesu. Jus Mangga yang menggugah selera mulai meningkatkan keinginan Milly untuk meraihnya.


"udah pulang dek ?"


Adit datang menghampiri Milly, badannya sedikit membungkuk, lalu tangannya meraih jus mangga itu dan meminumnya. Tanpa ada jeda Adit langsung menghabiskannya. Milly berkedip lalu memutarkan matanya, menahan diri untuk tidak kesal.


Untung aku sayang sama kak Adit. Batinnya berkicau.


"ahhh, enak banget nih jus. Pas banget habis olahraga minum jus," cengiran Adit dibalas tatapan sinis dari Milly. Namun Adit tidak sadar.


"kamu dibeliin apa lagi sama Ruby dek ?"


Adit mulai menyampirkan paperbag dan melihat isinya. Begitu hafal dengan ritual 2 gadis itu pasti Adit akan mengecek apa yang adiknya dapatkan. Penasaran.


Sebuah swimsuit berwarna salem keluar di paperbag pertama. Keduanya mengernyit menatap pakaian tipis itu.


"kak, sini !" bentak Milly sambil mengambil paksa pakaian kurang bahan itu di genggaman Adit. Bukan Adit saja tapi Milly juga kaget. Ternyata Ruby membelikan swimsuit untuknya. Melihat ini bisa-bisa Adit akan berfikiran aneh-aneh. Gawat !


"itu- bikini bukan dek ?" tanya Adit sedikit gagap. Masih tidak percaya dengan apa yang barusan telah dia pegang, apalagi pakaian itu akan dipakai Milly. Mata Adit langsung memicing.


Milly berdeham, geraknya jadi canggung menutupi pakaian itu, "i..iya kak."


"emang kamu mau pakai ke mana sampai Ruby beliin itu ?" tunjuk Adit ke arah benda itu dibalik paperbag. "kamu jangan macem-macem ya dek! Kamu masih belum pantas pakai itu!" tegur Adit.

__ADS_1


"nggak kak. Aku nggak akan pakai..kok" ucap Milly meyakinkan Adit, namun terselip ragu. Mengingat sebelum ujian Milly akan diajak pergi ke Bali bersama teman sekelas, swimsuit ini cocok untuk dia pakai saat pergi ke pantai.


Kan sayang ke Bali tapi nggak ke pantai. Bonus ketemu Bule ganteng. Tidak akan Milly sia-sia kan itu.


Tak lama sosok pria lain datang berjalan menuju dapur. Seketika Milly meneguk ludah, melihat El bertelanjang dada sambil membuka pintu kulkas dan meminum air dingin.


Punggung tegap dan kokoh mewarnai pemandangan Milly, apalagi ketika pria itu sibuk menghabiskan air mineral dari botol, dari tengkuk hingga leher menghipnotis Milly untuk terus memandanginya, bahkan Milly tak melewatkan jakun yang naik turun menelan air.


Lagi-lagi Milly melihatnya tanpa berkedip dengan salah satu ciptaaan Tuhan yang indah.


Segera Milly menyadarkan diri sebelum dia menjatuhkan air liurnya.


Melihat pandangan Milly terkontaminasi, Adit teriak pada El.


"El, pakai bajunya ! Jangan kotorin pandangan adik gue !"


El langsung membalikkan badan, melihat Adit berdengus sinis sedangkan Milly buru-buru mengarahkan kedua matanya ke arah lain. Apapun yang dia lihat asalkan tidak melihat El. Sebuah imajinasi liar tiba-tiba muncul dipikiran membuat wajah Milly berubah merah semu. Pikirannya benar-benar mulai terkontaminasi.


"sana pakai bajunya !" tegur Adit lagi.


Tanpa dibalas El langsung pergi menuju taman belakang.


**********************************


Seseorang turun dari lantai 2 menuju dapur. Milly dengan piyama bergambar ulat kuning berjalan antara sadar dan tak sadar untuk mengisi gelas kosong yang sebelumnya telah diminum. Karena tenggorokannya masih terasa kering, dengan langkah sempoyongan Milly turun ke bawah untuk mengisinya lagi.


Tangannya menaruh gelas di dispenser, kemudian ia menghabiskan airnya dan kembali diisi lagi. Lalu diminum lagi sampai habis.


Tak lama Milly merasakan sesuatu yang dingin melewati belakang lehernya, spontan gadis itu mengelus disana. Seingatnya tadi tidak ada apa-apa, justru hal itu yang membuat Milly sedikit bergidik.


Sebelum tidur Milly sempat menonton youtube "video penampakan yang terekam di iklan TV". Mengingat itu Milly jadi membayangkan hal-hal yang aneh. Dan saat ini merasakan jika ada sesuatu di belakangnya.


"Milly,"


Prank..


Bunyi pecahan gelas yang jatuh dari tangan Milly mengagetkan 2 orang yang berada di dapur itu. Mereka sempat terdiam sesaat, pandangan Milly ke arah gelas yang sudah pecah lalu melihat El berdiri di depannya dengan wajah yang juga menampakan terkejutannya. Dengan segara Milly berjongkok untuk membersihkan kecerobohannya.


Tapi sebelum Milly berhasil meraih belingan itu, tangannya ditarik ke atas agar tidak menyentuhnya.

__ADS_1


"jangan Mil, bahaya ! Menjauh,"


"tapi kak-"


"menjauh," titahnya lagi.


Milly patuh dan langsung berdiri, lalu El berjongkok dibawah kakinya dan mulai memungut pecahan gelas itu. Tak tega melihat El sendirian dibawah sana, Milly nekat membantu El.


"aauu,"


El berdecak kesal, ini akibatnya jika Milly tak nurut. Jari telunjuknya berdarah karena tertusuk beling. Perhatian El langsung tertuju dengan jari Milly, jarinya langsung dihisap oleh El. Dan perbuatannya itu sukses membuat jantung Milly berdegup kencang.


Wajah dingin itu berubah menjadi sayu, auranya berubah menghangat, dan ada sengatan aneh menjalar di tubuh Milly saat lidah El menggerayangi jari itu lalu menghisapnya.


Lalu Milly dan El bangkit, jarinya diarahkan ke wastafel lalu segera dicuci oleh El dengan air mengalir. Sembari ia membuang saliva bekas darah Milly kesana. Mata El fokus melihat irisan luka itu, setelah bersih El membuka laci dan mencari kotak P3. Dia ingat dimana letak posisi kotak itu, bisa dibilang El sudah hafal tata letak rumah sahabatnya ini.


"aduh, kak.."


Gadis itu mengelus keningnya di bekas sentilan El. Tidak kencang tapi cukup mengagetkan Milly, padahal kaget karena pecahan gelas dan sikap lembut El belum hilang tapi sudah ditambah kelakuannya barusan.


"itu hukuman karena kamu nggak nurut," singkatnya, menjelaskan alasan dia menyentil kening Milly. Gadis itu tertunduk dengan bibir sedikit maju, ia kesal.


"balik ke kamar, liat langkah mu, jangan sampai keinjak beling !"


Sekali lagi Milly menatap wajah El. Dia masih tidak percaya dengan sikap El dengannya saat ini. Padahal tidak ada hujan ataupun badai.


"kenapa masih diam ?"


Milly tersentak dari lamunannya. Lagi kayak gini sempat-sempatnya melamun El.


"i-iya kak, aku naik ke kamar."


Milly melangkah diawali dengan langkah yang lebar, matanya menatap lantai memastikan jika dia tidak menginjak pecahan beling. Setelah itu ia kembali berjalan seperti biasa. Sebelum menaiki tangga, Milly menoleh ke belakang, El kembali berjongkok dan kembali memungut beling.


"seandainya kakak sering perhatian seperti itu,"


"seandainya kakak nggak suka sama kak Karmila,"


Dengan sadar Milly mengerjap, kepalanya berbalik melihat kegiatan El masih memungut beling. Sepertinya pria itu tidak mendengar gumaman Milly barusan. Sebelum El melihatnya masih betah berdiri di anak tangga, dia segera naik menuju kamar.

__ADS_1


***********************************


__ADS_2