Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
21. Hari Terakhir di Bali


__ADS_3

Plafon putih menjadi pemandangan hampa yang Milly lakukan sekarang ini. Pukul 7 pagi ia sudah bangun dari tidurnya, tapi Milly belum beranjak, kepalanya masih terasa berat. Ia menyesal karena tertidur sehabis menangis, pasti wajahnya tak bersahabat, bengkak di kedua mata akan terlihat menyedihkan saat ini.


Dia tidak mau Adit melihat wajahnya, khususnya El. Kata penggoda berdengung lagi di telinga Milly, rasanya mau pecah, Milly menghela nafasnya secara kasar.


Kalau perlu seharian dia akan mengurung diri di dalam kamar. Tapi cacing di perut Milly sedang berperang hebat, meminta asupan makanan. Milly lapar.


Berharap setelah mencuci muka, bengkaknya akan menghilang dalam sekejap. Tapi yang Milly lihat sekarang malah tambah menyedihkan, bahkan terlihat pucat. Seperti orang sedang putus cinta tapi nggak punya pacar. Ngenes.


Saat membuka pintu kamar, semua orang tertuju memandangi Milly berdiri di ambang pintu. Posisi ruang makan di Villa mereka memang berdekatan dengan pintu kamar Milly. Antara malu bercampur dengan kelaparan, Milly berjalan tertunduk mendekati meja makan.


Diam adalah pilihan Milly. Gadis itu menatap sebuah piring yang berisi nasi goreng dengan telor ceplok, namun ia belum duduk di kursi nya karena ada 2 kursi kosong: posisinya bersebelahan dan bersebrangan dengan posisi duduk El.


Tak acuh dengan sekitar Milly mengambil makanannya dan segelas susu coklat hangat, lalu ia bawa menuju ruang tengah dan menikmati sarapannya disana.


Semua orang hanya diam memandangi keputusan Milly untuk sarapan di ruang tengah. El menatap makanannya dengan pandangan kosong, lalu ia memejamkan matanya meski rahangnya kembali mengetat. Berusaha meredam emosi.


El mulai memutar otaknya, memikirkan segala cara dan upaya, ia ingin segera meluruskan masalah ini, ia ingin Milly kembali menatapnya penuh harap.


**********************************


"masih sedih ?" tanya Ruby hati-hati sambil menilai mood Milly melalui wajahnya. Milly menoleh ke arah Ruby kemudian ia menggeleng kepala. Mood nya memang sudah membaik, salah satunya berkat Adit yang telah menghiburnya. Tidak susah membuat mood Milly kembali bagus, tinggal belikan 1 kotak es krim coklat kesukaannya.


Ya walau Edwin dan Wahyu ikut nimbrung meminta beberapa suapan es krim dari Milly. Dan Ruby ikut-ikutan.


Serta dibantu dengan menikmati udara sejuk dan pemandangan laut di pantai Kuta.


Tujuan akhir di hari terakhir mereka di Bali adalah pantai Kuta. Mengingat Ruby dan Milly akan ujian besok, para senior mengalah untuk tidak mengeksplor Bali lebih jauh. Demi kesehatan bersama juga.


Para pria sedang asik bermain bola Volly, setelah menimbrung para pengunjung pantai untuk ikut serta. Terlihat mereka bermain sangat kompak, padahal belum begitu mengenal satu sama lain.


Lagi-lagi pemandangan indah memaksa Milly untuk terus memperhatikannya. Siapa lagi kalau bukan El.


Selain El jago bermain bola Volly, fokusnya El bermain bola lempar itu berhasil meluapkan kekesalan Milly padanya, bahkan pria itu terus melayangkan senyum kemenangan setelah beberapa kali berhasil melakukan smash ke lawan mainnya, membuat hati Milly makin berdesir.


Katakan lah Milly memang bucin. Sekesal-kesalnya dengan El ujung-ujungnya Milly akan kembali luluh hanya karena melihat El tersenyum saja.


Milly tidak tahu bagaimana ke depannya jika El bukanlah jodohnya. Milly hanya berharap jika hati dan pikirannya bisa sinkron jika kenyataan itu terjadi.


Apalagi status El dan Karmila menjadi abu-abu di mata Milly, akhir-akhir ini Milly menangkap Karmila lebih sering nempel ke Adit kayak perangko. Entah di Villa, di Finns kemarin, bahkan sekarang Karmila sedang berdiri di tepi pantai, memperhatikan dan menyoraki nama Adit yang sedang bermain bola Volly disana, memberikan semangat.


Teringat saat El dan Adit hangover bareng pada malam itu, dimana Wahyu menceritakan jika mereka sempat bertengkar setelah membahas Karmila. Milly menduga-duga, apa hasil akhirnya Adit lah yang memenangkan hati Karmila. Tercengang sendiri dengan pemikirannya Milly langsung menepis pikiran jelek, Karmila bukanlah bahan taruhan. 


Namun keingintahuan Milly mulai muncul tentang hubungan mereka bertiga. Milly akan mencari tahu secara diam-diam.


Meski posisi matahari sudah tidak tinggi, namun terik panasnya masih bisa dibilang cukup menyengat. Untung ada angin pantai yang tak berhenti untuk berhembus jadi hawanya tidak terlalu panas. Namun Milly dan Ruby tidak berani berkeliling menyisir pantai.


Mereka memilih untuk duduk di kursi pantai dibawah payung yang telah disediakan. Sambil menikmati pemandangan indah pantai dan pria-pria yang bermain bola Volly.

__ADS_1


Ketika Milly asik memandangi El, El menoleh ke arah Milly. Seketika Milly membuang pandangannya ke arah lain, menghindar kontak mata darinya. Dan ketika pandangannya kembali menatap El, El kembali menatap Milly dan gadis itu kembali buru-buru mengalih pandangannya, geraknya menjadi salah tingkah.


Duh kok gue jadi begini sih. Batin Milly berkecamuk.


Akhirnya Milly memilih berjalan-jalan ke tepi pantai seorang diri, tidak jauh-jauh, ia hanya ingin merendami kakinya dengan air pantai. Nanti dibilang melanggar aturan lagi. Milly mendengus sinis mengingat kejadian semalam.


Kemudian Milly berjongkok, melihat beberapa pecahan tempurung kerang mewarnai pasir pantai itu. Ia pungut lalu ia ceburkan lagi ke air pantai. Sangking asiknya melakukan itu, Milly tidak sadar jika seseorang sudah berdiri di belakangnya.


"Milly,"


Milly menaikan pandangannya ke atas, ia membelalak dan spontan berdiri melihat El berdiri dibelakangnya.


Gadis itu bergerak canggung, gelisahnya menghinggap, jika El akan memarahinya karena dia berjongkok di tepi pantai ia akan memarahinya balik. Tidak peduli kalau El marah dan mulai membencinya.


Meski Milly tidak mau El seperti itu.


Mereka diam beberapa detik, mungkin sudah semenit atau 2 menit. Coba-coba Milly mencuri pandang ke arah El, lalu ia membuang pandangannya ke dada bidang El ketika pria itu hanya diam menatapnya.


Dia mau ngapain sih, batin Milly.


"ka..kakak bukannya main bola Volly ?" takut-takut Milly membuka pertanyaan dengan nada lirih. Pandangannya masih menatap dada El. Pria ini masih diam tak bersuara, Milly makin bingung.


"udah selesai."


Datar, dingin dan ditambah ketus, seperti biasa. Milly nggak heran dengan nada jawabannya.


"kenapa nggak pake topi ? Cuaca lagi panas, kalo tiba-tiba pingsan gimana ? "


Milly membelalak, sedikit terkejut, namun ia langsung menggeleng, masih bertahan tidak mendongak. Masih takut menatap El.


"aku nggak punya topi," singkat Milly.


Suara decakan terdengar di telinga Milly. Kemudian ia menghela nafas, siap-siap El akan memarahinya lagi.


Tanpa diduga El melepaskan tanktop hitamnya didepan Milly, berhasil membuat Milly menatap El dengan wajah tercengang. Lalu El memasang tanktop-nya di kepala Milly, lalu ujungnya ia ikat dibawah dagunya. 


Yang Milly bisa lakukan hanya melongo bukan main, bahkan ia meneguk ludah nya ketika roti sobek memenuhi pandangannya.


"tahan sebentar sama baunya, kamu pakai itu dulu sampai kamu udah di dalam mobil. Habis itu baru bisa kamu lepas."


Nafas Milly tersendat sambil berusaha menghirup oksigen sebaik mungkin. Bukan soal bau di tanktop itu, apa yang El lakukan adalah ketiba-tibaan. Rasanya ia ingin berteriak nggak karuan, wajahnya semakin memerah, tersipu malu. Milly berharap El lupa sama tanktop-nya. Biar jadi hak milik.


"i-ya.. Makasih kak." batin Milly berdoa semoga El tidak menyadari kalau Milly sedang berusaha serileks mungkin.


Dari kejauhan, 5 orang sedang mengintip dibalik gerobak es krim, mengintip kegiatan El dan Milly di tepi pantai. Ketika El membuka tanktop dan mengikatnya di atas kepala Milly, mereka berusaha untuk tidak berteriak disana agar acara mengintip mereka tidak diketahui oleh 2 orang itu.


Seolah-olah mereka sedang menonton drakor romantis. Melihat El dan Milly seperti Song Jong Ki dan Song Hye Kyo.

__ADS_1


Adit berniat ingin menghampiri El dan Milly disana, namun langsung dihalangi oleh 4 temannya yang terpengaruh sama adegan romatis secara live.


"Dit, jangan ganggu orang dulu kenapa ? Tunggu disini aja," Karmila menarik satu tangan Adit agar kembali bersembunyi, sedangkan Edwin ber-sssttt ria agar Karmila dan Adit tidak merusak suasana.


"Dit, anteng-anteng dulu napa," ujar Edwin tak sabar.


"tapi..."


"ssssttttttt..." Adit mengerjap dan tertegun melihat 4 orang itu kompak menghalanginya. Ia menghela nafas, lalu kembali menyaksikan tontonan di depan mata sembari mendengarkan El untuk mengatakan permohonan maafnya sama Milly.


Milly mencoba mengalihkan detak jantungnya dengan menengok ke kiri dan ke kanan. Posisi yang berhadapan dengan telanjang dada El membuat suasana menjadi awkward.


Dan panas.


"Mil,"


Sebisa mungkin Milly menatap wajah El sembari menahan gejolaknya untuk tidak melting, ia menangkap raut sendu El di manik coklatnya.


"maaf soal kemarin."


"....."


"aku salah. Maaf. Aku benar-benar minta maaf."


Sesuatu yang hangat merambat di relung hatinya. Milly tak kuasa untuk tersenyum di depan pria itu. Tak lama Milly mengangguk, memaafkan El.


Memang gue udah kelewat bucin. Batin Milly lagi.


"aku..juga minta maaf."


El menarik sudut bibirnya ke atas. Senang karena Milly mau memaafkannya. "jadi, kita baikan ?"


Milly mengangguk lagi. Lalu tersenyum.


Adit yang melihat mereka saling melempar senyum sedikit cemburu. Tapi Adit lega jika mereka sudah menyelesaikan masalahnya.


Tinggal masalahnya dengan El dalam hubungan mereka nanti. Adit memang harus menyiapkan diri, dimana akhir kesepakatan itu akan tiba.


Edwin, Wahyu, Karmila dan Ruby mendesah lega setelah El dan Milly berbaikan.


"mas, mba, ngumpetnya udah selesai belom ? Saya mau pulang nih,"


Spontan mereka berlima berdiri sambil bermanggut-mangut kata maaf dan terima kasih.


Kemudian mereka buru-buru berlari agar keberadaan mereka tidak terlihat oleh El dan Milly.


***********************************

__ADS_1


__ADS_2