
Elkana
Asap nikotin mengepul di udara, lalu terkikis beberapa detik kemudian. Manik ku memperhatikan awan putih bergerak sesuai arah mata angin, berbentuk abstrak menyelimuti langit biru. Tampak sebuah pesawat kecil sedang melintasi langit disana, tapi aku masih bisa lihat warna sayap pesawat tersebut, berwarna hijau.
Aku kembali menghisap rokok sampai habis lalu mengembuskan asap terakhir melalui bibir dan hidung, benda jahat ini memang berhasil membuat ku melupakan sejenak dari sebuah drama kehidupan yang pelik.
Aku bangkit duduk setelah rebahan diatas rumput hijau yang terawat, menyeret badan ku agar bisa menyenderkan punggung lebarku di pohon besar berdaun rimbun. Halaman rumah Adit adalah tempat terbaik untuk menikmati kesendirian. Pohon besar ini menolong ku ketika cuaca panas menghantar Bumi, sayangnya belum ada buahnya saja.
Saat ini aku sedang menunggu Adit di depan rumahnya. Bentuk rumah ini model rumah Betawi klasik, teras rumah lebar dihias dengan 1 set kursi tamu yang terbuat dari kayu, tanaman gantung di setiap sudut, dan pula dengan lampu gantungnya juga.
Bahkan lantai terasnya masih menggunakan kayu Jati, berasa tinggal di sebuah kampung Betawi yang kental dengan adat istiadat. Padahal keluarga Adit bukan berasal dari keturunan Betawi, namun Adit bercerita jika Almarhum Ayahnya sangat suka dengan rumah model khas adat tersebut. Oleh karena itu beliau membangun rumah ini dan menempatinya di pekarangan perumahan.
Belum lagi dengan dekorasi dalam rumahnya, dinding dari kayu jati begitu mendominasi, namun perabotannya sudah modern.
Kembali lagi dengan diriku yang masih betah duduk di bawah pohon rindang. Kegiatan ku sekarang ini berganti melihat orang-orang berlalu lalang melewati rumah Adit, hingga seorang gadis kecil berjalan masuk ke pekarangan rumah.
Mengenakan seragam sekolah putih biru yang kebesaran, menenggelamkan tubuh kecilnya, bahkan panjang roknya sampai ke betis. Punggungnya memikul tas jinjing berwarna putih.
Langkah kaki ceria itu sedikit tersendat menyusuri tepi jalan menuju pintu rumah, kedua mata yang kecil akibat pipi chubby dan kening ketutupan poni depan melirik keberadaan ku.
Bisa dibilang kami jarang saling menyapa, bahkan hampir tidak pernah jika aku bermain ke rumah Adit, selama berteman dengan Adit setahun ini aku nggak ada ketertarikan untuk sekedar menyapa gadis itu. Dan dia pun juga menunjukan ketidak tertarikannya padaku.
Tidak tahu kenapa kami seolah sengaja menjaga jarak. Dia takut padaku ? Tidak. Kalau takut tidak mungkin dia berani melirik ku tadi. Tidak suka padaku ? Bisa jadi. Tapi aku tidak memikirkan itu. Biarkan saja dia dengan spekulasinya tentang ku, selagi kami tidak saling terganggu sama sekali tidak masalah.
Aku membiarkan dia melangkah masuk ke dalam rumah, bersamaan dengan Adit berjalan menghampiri ku.
***********************************
"tambah lagi nasi nya El, lauk kamu masih banyak di piring." sahut Tante Nina padaku ketika melirik piring ku sudah kosong. Dengan segala hormat kepada sang pemilik rumah aku kembali mengambil nasi di bakul. Tumis cumi asin buatan Tante Nina sangatlah enak, ditemani oleh tumis kangkung apalagi.
For your information, saat ini aku sudah nambah 3 porsi.
Adit menghembusan nafas panjangnya, menatap ku iba seperti nggak makan berhari-hari.
Sebenarnya aku hidup dengan keluarga berkecukupan, sama seperti Adit. Memiliki Ayah dan Ibu lengkap dan tinggal di sebuah rumah besar. Hidupku tak kekurangan finansial, beberapa orang yang tahu akan hal itu iri dengan kehidupan ku.
Tetapi aku tidak. Justru aku iri dengan kehidupan yang Adit miliki. Ayahnya telah meninggal dunia sekitar 2 tahun lalu tak menyulut dirinya untuk terus bersemangat menjalankan hari-harinya, semangat mengejar prestasi, dan Adit begitu menunjukkan jika ia adalah laki-laki kuat yang bisa menjaga Ibu dan adiknya.
Sosok Tante Nina adalah bukti nyata seorang single-parent tangguh, berusaha keras membagi waktunya untuk mengurus kedua anak serta bekerja banting tulang demi kelangsungan hidup. Selalu merasa bersyukur dan saling kompak satu sama lain selalu senantiasa di rumah ini, tidak ada kecacatan sedikitpun.
Sedangkan aku berbeda, cinta itu sudah lama tidak aku rasakan lagi di rumah ku sendiri. Awal dimana Ibu ku sudah sibuk dengan meniti karir sebagai seorang Chef, ditunjuk sebagai Senior Chef di sebuah restoran ternama, sejak itu Ayah mulai mengomentari jadwal Ibu yang super padat. Hingga Ibu beberapa kali tidak pulang dengan alasan banyak schedule acara, membuat Ayah semakin naik pitam.
__ADS_1
Ayah adalah seorang teknisi listrik. Kepadatan pekerjaannya juga berpengaruh dalam setiap konflik rumah tangga mereka. Konflik kecil pun sengaja dibesar-besarkan, setiap hari rumah besar itu akan merekam kemarahan mereka, seolah amarah itu tidak pernah menyulut mereka. Dan secara terang-terangan di depan ku mereka mulai bertindak sesuka hati, tidak melihat posisi ku yang sudah tertekan.
Hingga aku menjadi seperti ini. Seseorang yang tidak terarah, sering minum dan merokok saja mereka tidak peduli, menanyakan aku yang nggak pulang ke rumah saja sudah hampir tidak pernah. Ya, aku seperti gelandangan namun berprawakan terawat.
Lalu aku mulai berteman dengan Adit. Pertama kali dia menemukan ku bolos di rental warnet, saat itu dia mendapatkan ijin keluar sekolah untuk pergiĀ menyetak tugas sekolah. Nasib ku ketiban apes, tiba-tiba ada aparat melakukan razia dan aku sempat ketangkap karena bermain games online di warnet. Tapi Adit menghalau aparat yang membawa ku pergi, dengan gamblang Adit mengatakan kalau aku adalah teman kelompoknya, memberi alasan kalau kami diperbolehkan keluar sekolah untuk mengerjakan tugas. Setelah melihat surat ijin dari sekolah itu aparat mulai percaya.
Sejak saat itu hubungan pertemanan kami semakin dekat. Berbeda kelas di sekolah tak menghalangi kami untuk bertegur sapa, bahkan kalau aku ketahuan membolos, Adit memberikan semua buku catatannya agar aku bisa belajar di luar sekolah. Dia tidak melarang apapun yang aku lakukan, tapi sikapnya membuat pikiran ku terbuka.
Selamanya gue nggak bisa kayak gini.
Aku mulai merubah kebiasaan ku, tidak lagi membolos, mengerjakan semua tugas yang diberikan guru, datang ke sekolah tepat waktu, sampai dimana aku bisa melihat angka tinggi di buku rapot ku. Salah satu kelebihan ku adalah memiliki otak yang cerdas, aku sangat bersyukur akan hal itu.
Namun semua prestasi yang aku miliki ini tidak merubah suasana rumah layaknya neraka. Bahkan sekarang Bi Elis sebagai ART di rumah ku melapor padaku bila Ayah dan Ibu jarang pulang ke rumah.
Dan lagi-lagi Adit mengulurkan tangannya padaku, dia mengajak ku untuk mengenalkan ku pada Ibunya, Tante Nina. Serta adik perempuan yang masih duduk di bangku SMP, Milly.
Dan beginilah keadaan hidupku yang sekarang, menginap di rumah Adit sudah menjadi kebiasaan baru ku. Kamar tamunya saja sudah disulap menjadi sebuah kamar laki-laki, menjadi kamar ku pribadi.
Rumah kecil tak sebesar rumah ku jauh lebih hangat dari yang ku kira. Semua yang berada disini merengkuh dan memelukku, membantuku untuk bangkit menyalami kenyataan.
Aku tidak akan menyia-nyiakan kebaikan mereka.
***********************************
Tak lama aku melirik melihat Milly meminta Adit diajarkan soal rumus dan ejaan Tense, ia kesulitan dalam mengerjakan tugas Bahasa Inggris. Sejenak aku menyelesaikan beberapa soal, pandangan ku beralih kembali menatap dan meneliti wajah kecil Milly, pipi chubby bergumpal penuh, rambut panjang sebahu, bentuk hidung yang tidak terlalu kecil namun tidak mancung juga, bibir kecil yang basah sedang bergumam sesuatu, ditambah poni depan menutupi kening selebar lapangan bola.
Untung dia lagi pakai baju panjang selutut berwarna putih, bukan pakai kaos ungu sama celana pendek orange.
Milly sangat fokus mendengarkan penjelasan dari sang kakak, tangannya tak berhenti menulis, sesekali gadis itu menggunakan karet penghapus untuk merubah tulisannya.
Aku kembali mengerjakan sisa soal. Setelah selesai aku kembali memperhatikan kakak beradik yang masih sibuk mengerjakan tugas mereka.
Terkadang aku penasaran bagaimana rasanya memiliki seorang adik. Bagaimana rasanya memiliki adik laki-laki atau adik perempuan, jika aku punya apa cara memperlakukannya juga akan sama, apa benar memiliki adik laki-laki itu mengesalkan seperti diceritakan oleh teman sekelas ku, dan apa benar memiliki adik perempuan suka rebutan kasih sayang orang tua.
Tapi aku lihat Adit dan Milly tidak seperti di cerita teman-teman ku. Mereka kompak, baik-baik saja dan tidak ada rasa iri satu sama lain.
Kemudian aku mengangkat wajahku setelah Adit memanggil.
"El, gue ke warung dulu bentar,"
Adit beranjak pergi setelah aku mengangguk. Aku kembali memperhatikan Milly yang masih berkutat dengan tugasnya.
__ADS_1
Beberapa lama aku memandanginya, Milly mengangkat wajahnya, merasa sedari tadi aku menatapnya. Sepersekian detik pandangan kami bertemu, kemudian kedua matanya memicing malas.
"kenapa kakak liatin aku begitu ?"
Aku mengerjap pelan, sekalinya dia membuka suara padaku malah bernada ketus. Lucu juga nih anak.
"nggak kenapa-kenapa," balas ku enteng sambil mengendikan bahu.
Badan kecil itu ia tegakkan, kedua tangannya disila kedepan. Saat ini aku seperti sedang menatap adik kelas yang sok-sok'an pasang muka judes. Kenapa nih anak gayanya jadi tengil gini ?
"kakak dapat salam,"
Aku terdiam sembari mengernyit heran, "salam ?"
Terlihat pipi chubby itu bergetar pelan ketika kepalanya mengangguk 2 kali. "tadi Sasha temen sekelas Milly bilang kakak ganteng, Sasha nanya besok kakak ikut kak Adit jemput Milly lagi nggak ?"
Aku tak kuasa menahan sudut bibirku ke atas setelah mendengar celotehan dia. Begitu polos dan lugu, seolah kami sedang berbasa basi biasa. Kemarin aku memang ikut Adit menjemput Milly di sekolah, saat itu Milly sedang berkumpul bersama beberapa temannya di gerbang sekolah menunggu Adit. Mungkin salah satu di antara mereka ada yang bernama Sasha.
Sudah biasa kalau aku dibilang ganteng sama kaum hawa, jadi aku nggak terlalu kaget.
Apalagi sama anak SMP.
"lantas kalo aku ikut Adit jemput kamu lagi, temen kamu mau ngapain kalo ketemu aku ?" tantang ku, kali ini aku penasaran. Bukan tentang temannya, tapi tentang jawaban apa yang gadis kecil ini lontarkan.
"kayaknya dia mau ngasih kakak coklat. Soalnya aku dengar dia mau beliin coklat buat seseorang. Aku yakin pasti itu buat kakak," jelas Milly dengan tampang polosnya dan sedikit sok tahu. Sekilas aku kembali tersenyum renyah.
"kalo beneran iya, bilang aja coklatnya kasih ke kamu. Tapi kamu nggak usah kasih ke aku, kamu makan sendiri aja."
"kan coklatnya buat kakak, bukan buat aku. Kenapa aku yang makan ?" sela Milly tidak terima, tapi aku bisa melihat manik hitamnya berbinar. Gadis ini memang sangat suka sama hal-hal berbau coklat. Adit suka membelikan beberapa batang coklat untuknya.
"iya nggak apa-apa, buat kamu aja. Aku nggak suka makan coklat."
"nggak suka makan coklat, tapi kakak lagi makan biskuit coklat. Yang bener yang mana ?"
Aku melirik sisa biskuit di tangan ku yang ada krim coklatnya. Sial, ketauan deh kalau aku bohong.
"kalau mau bohong pinteran dikit napa kak,"
Apes banget diledek bocah SMP. Tapi ini kali pertamanya aku dan Milly mengobrol cukup panjang. Dan aku cukup terhibur karena Milly nggak segan untuk menunjukan wajah ketusnya padaku.
Aku mendengus geli, ternyata gadis ini benar-benar menggemaskan.
__ADS_1
***********************************