
Sinar matahari menyorot bebas ke arah Villa luas minimalis yang menjadi hunian Adit DKK. Villa bertingkat 2 dengan fasilitas cukup mewah, sudah dipastikan jika harga sewa permalam saja pasti sangat sesuai dengan adanya fasilitas tersebut.
Aktifitas pagi ini dimulai dengan sibuknya para petugas Villa menyiapkan sarapan pagi di meja makan, lalu menyapa penghuni Villa dengan senyuman hangat.
Masing-masing Adit DKK menarik kursi, mendudukan diri dan menatap sarapan pagi yang ditata cantik di atas meja. Bahkan Ruby tidak tega memakan sarapannya sangking cantiknya. Hingga ia berkali-kali memotret menu sarapan itu lalu mengunggah ke media sosial.
Mereka mulai menikmati sarapan dengan hikmat.
"Milly mana Rub ?" tanya Adit pada Ruby yang sedang mengunyah roti bakarnya. Ruby segera menyeka bibirnya dengan serbet.
"Milly masih tiduran kak. Katanya bentar lagi dia bangun,"
Adit hanya mengangguk. Sesampainya mereka di Villa tengah malam, Milly memang belum tidur sejak di pesawat. Dia memaklumi jika Milly belum beranjak setelah menghadapi rasa takutnya dalam perjalanan.
"ayo kita berangkat."
El menyeka bibirnya dengan serbet setelah meneguk juas buah. Disusul oleh Karmila dan Adit mengikuti langkah El yang sudah dulu melangkah. Seperti rencana awal mereka setelah tiba di Bali, El dan Karmila harus menyelesaikan urusan pekerjaannya dahulu, menghadiri pertemuan meeting di salah satu ballroom terkenal di Seminyak.
Pertemuan tersebut akan selesai pukul 3 sore, sambil menunggu Wahyu, Edwin, Ruby dan Milly akan menetap di Villa. Entah mereka akan bermalas-malasan di Villa atau melakukan kegiatan masing-masing.
Setelah 3 orang itu pamit pergi, Wahyu dan Edwin memutuskan untuk berkeliling sebentar di luar Villa. Sekalian cari makan siang untuk mereka berempat makan nanti.
Dan Ruby memilih untuk berenang di private pool.
***********************************
Menikmati udara sore di tepi kolam renang begitu menenangkan untuk Milly. Swimsuit berwarna salem yang dikenakannya membiarkan pundak mulus Milly terbuka, dan dibagian depan berbentuk V-Neck memanjang. Rambut panjangnya sengaja dikuncir kuda, hingga bentuk tubuh Milly bagian belakang terekspos sempurna.
Ruby yang telah berganti pakaiannya membawa sebuah kain panjang berwarna putih. Lalu kain itu diberikan kepada Milly.
"pake nih, nanti kakak lo mencak-mencak liat lo cuma pake itu," ujar Ruby sambil mengendikan dagu ke arah pakaian Milly. Milly yang mendengar itu mendengus geli, lalu meraih kainnya.
"kan lo yang beliin. Salah lo lah," Milly mendengus geli lagi. Ruby balas dengan gerutu kesal.
"tapi pilihan gue bagus kan ? Cocok juga kalo lo yang pakai," ucap Ruby percaya diri. Kalau memilih pakaian Ruby memang jagonya.
Milly hanya mengangguk-angguk saja, kembali menikmati udara sore.
"Mil, lo jadi move on dari kak El ?" Ruby membuka pertanyaan baru. Mendengar nada pertanyaan itu Milly menautkan alisnya.
"kenapa nanya gitu ?" Milly bertanya balik.
"nanya aja," Ruby mengendikan bahu.
"kalo iya kenapa, kalo nggak kenapa ?"
Ruby berdeham beberapa detik.
"lo nggak mau usaha lagi buat deketin kak El ?"
Milly mengerjap beberapa kali melihat Ruby, dan memasang wajah tak percaya.
"lo baik-baik aja Rub ?"
Ruby berdecak, padahal dia serius bertanya pada gadis itu. "gue serius Milly !"
"gue juga serius kok." sergah Milly enteng.
__ADS_1
Ruby menghela nafas. Akhir-akhir ini Milly susah diajak bicara serius.
"ya udah lupain aja deh. Terserah lo aja Mil, yang jalanin lo bukan gue."
"tapi sekarang apapun yang lo lakuin, gue dukung. Kalo lo mau balik lagi sama kak El, gue nggak maksa. Gue juga udah nggak maksa buat nyomblangin lo sama Nathan."
Sedikit curiga Milly menatap wajah Ruby baik-baik. Firasatnya berkata kalau Ruby sedang kesambet. Namun tidak lama kemudian Milly tersenyum.
"iya Rub. Makasih ya. Lo dukung gue aja gue udah seneng kok."
Ruby cuma mengangguk dan ikut tersenyum.
***********************************
Suasana makan malam berisik dengan aduan sendok dan garpu. Menu seafood menjadi menu makan malam mereka. Semua orang sibuk menghabiskan makan malam mereka, kecuali Milly.
Semakin kesini rasa canggungnya kian membesar. Setelah sempat berpapasan dengan El tadi sore sehabis kerja, pria itu tak henti untuk menatap Milly cukup tajam. Seolah sewaktu-waktu Milly akan kabur menjauh darinya. Dia ingin bertanya kepada El tapi Milly nggak punya keberanian. Membalas tatapannya saja membuat nyalinya langsung redup. Milly jadi gelisah sendiri.
Dan sekarang ini El masih memperhatikan Milly melahap kerang yang telah dipilih oleh Adit. Meski tangan dan bibirnya sibuk dengan kegiatan makan, namun mata El tak beralih kemana pun.
Apa karena Milly memakai swimsuit jadinya El terus menatapnya ? Apa ada yang aneh jika Milly mengenakan pakaian ini ? Padahal Ruby dan Karmila juga mengenakan swimsuit seperti Milly, bahkan lebih terbuka ketimbang swimsuit-nya.
"Mi..lly.."
Semua orang menengok ke Edwin, orang yang memanggil nama Milly dengan suara dilebih-lebihkan. Terlihat Wahyu mendekati kursi duduknya ke kursi Edwin, begitu antusias dengan apa yang akan Edwin lakukan. Sepertinya sahabat kembarnya akan melakukan aksinya.
"iya.. Kak Edwin,"
"kamu tau nggak kenapa hari ini tuh cepet banget, tau-tau udah malam aja ?"
"ya karena udah jam 7 kak, udah malam."
"salah.."
Edwin memberi jeda sesaat.
"karena mataharinya ada disini, lagi gue pandangin."
Wahyu dan Ruby tertawa mendengar jawaban Edwin. Romantisnya nggak dapat tapi malah garing, jadi lucu.
Sementara Karmila baru bisa tertawa setelah ia menghabiskan makanan di mulutnya, takut tersedak. Sedangkan Adit hanya menggeleng kepala pelan. Membiarkan adiknya digombali oleh sang pangeran kodok bertotol.
Milly hanya tertawa hambar, tapi gombalan Edwin cukup menghibur.
Iya, selain supel dan ceria Edwin dikenal suka merayu dengan kata-kata gombalnya. Bukan karena rayuan maut yang bisa membuat para perempuan klepek-klepek jatuh cinta, justru rasa garing di setiap rayuannya membuat para perempuan tertawa hingga tak sadar jika mereka sudah merasa dibuat nyaman dengan Edwin.
Itulah salah satu kelebihan doi.
Dan sekarang Milly menjadi sasaran Edwin. Edwin ingin sedikit bermain-main dengan gadis itu.
Biar nggak kaku saja.
"kamu tau nggak Mil, bedanya kamu sama aroma terapi ?"
Gadis itu langsung menggeleng kepalanya.
"aroma terapi itu harus dihidupkan dengan saklar baru bisa menghirup aroma yang menenangkan. Kalo kamu nggak perlu dihirup, dipandang aja udah bikin hati abang tenang."
__ADS_1
Milly akhirnya tertawa pelan hingga wajahnya berubah merah merona. Cukup tersipu dengan ulah pria itu. Edwin kembali memberi gombalan berikutnya.
"tapi kamu kok bisa sama dengan samudera sih ?"
"sama ?"
"iya, sama-sama bisa menenggelamkan diriku ke dasar cintamu.."
Wahyu tidak bisa menahan teriakannya lagi. Sahabat kembarnya emang paling jago dalam hal rayuan. Yang lain hanya ikut tertawa menikmati suasana.
Namun..
Brak..
Semua orang langsung menoleh dan tertegun melihat El berdiri dengan wajah masam.
Seketika suasana sedikit mencekam, tidak ada yang berani mengeluarkan suara sedikitpun. Mau nafas saja takut-takut.
"gue ke mobil duluan."
El pergi membiarkan teman-temannya melongo memandangi punggung El.
Mereka saling berpandangan sebentar sampai mereka mulai menyusul El ke luar dari Villa. Malam ini mereka akan menuju ke suatu tempat dimana mereka akan menikmati malam minggu pertama di Bali.
***********************************
Finns Beach Club adalah tempat pertama disinggah oleh Adit DKK. Ketika mereka sampai ditempat tujuan, terlihat ribuan orang sedang menikmati musik DJ mengelilingi kolam renang, disana juga banyak yang berendam sambil menikmati minuman yang tersedia.
Sebelum mereka memasuki club tersebut, Adit memberikan arahan kepada 2 gadis yang masih dibawah umur.
"kalian boleh berendam dan menari disana, tidak boleh memesan minuman alkohol, dan jangan jauh-jauh dari pandangan kami."
Milly dan Ruby mengangguk paham. Lalu mulai berlari mendekati kolam renang.
Dentuman musik menggendangkan telinga Milly dan Ruby yang sudah memasuki diri mereka di kolam renang. Mereka menari ria bersama beberapa pengunjung yang juga menari, tak jauh dari posisi mereka Adit memperhatikan Milly dan Ruby dari minibar.
"Adit," panggil Karmila mendekati Adit. Lalu memasang wajah puppy eyes yang bikin Adit gemas dibuatnya.
"wanna dance with me ?" ajak Karmila sambil mengulurkan tangannya untuk Adit raih. Adit menatap telapak tangan Karmila, kemudian beralih ke wajah Karmila.
Sejenak pria itu tersenyum, lalu meraih tangan Karmila. Menerima ajakannya.
Dilain tempat Milly mengernyit bingung memandangi Adit dan Karmila sedang menari bersama di tepi kolam. Terlihat mereka sangat asik menikmati musik yang DJ bawakan.
Melihat Adit dan Karmila asik berduaan disana, kedua matanya mengitari club. Mencari seseorang.
Tak lama kedua mata Milly berhenti menatap ke arah El yang sedang mengobrol dengan seorang Bule cantik, dari jauh El dan wanita itu mengobrol begitu akrab, bahkan mereka merokok dan minum bareng disana.
Gelak sinis tercipta di bibir Milly, perubahan El yang begitu signifikan berhasil mengeraskan kepala Milly. Ternyata pria aneh itu sedang bermain-main dengannya. Pantas Karmila mengajak Adit menari, ternyata pria itu sedang sibuk menggodai Bule cantik.
Rasa kesal membuncah hati Milly dan menjalar ke kepalanya. Rasanya ingin meledak. Melihat bule berambut blonde itu mengalungkan lengannya ke lengan kokoh El, dari kejauhan terlihat bule itu sedang bergelayut manja kepada El. Dan pria itu tak sungkan untuk tersenyum.
Dengan wajah kesal Milly mendekati Ruby untuk mengajaknya pergi, kemana pun entah ikut Edwin dan Wahyu ke table atau ke tempat lain.
Intinya ingin segera menjauh dari sana, menjauh dari pemandangan nyeri untuk Milly lihat.
***********************************
__ADS_1