Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
45. Epilog - END


__ADS_3

Milly


Manik hitam ku tak henti menatap layar Laptop sambil mendengarkan instrumen lagu yang telah aku mashup. Hasil kompilasi antara lagu That's What I Like by Bruno Mars dengan lagu Talk by Khalid dan Circle by Post Malone, aku menepuk tangan gembira dan tersenyum puas mendengarnya.


Sir Mattew --dosen pengamat musik duduk di belakang ku sambil mengangguk atas mashup ku, sehingga beliau tak ragu memberikan nilai plus padaku.


Teman sekelas ku turut bersorak senang setelah mendengarkan hasil tugas ku, kata pujian juga melayang padaku hingga aku menjadi kepala besar.


Tak berniat untuk menyombongkan diri. Namun siapa sih yang tidak senang jika tugas mu memperoleh nilai terbaik dari dosen yang terkenal galak dan disiplin. Ya, Sir Mattew adalah sosok dosen yang aku bahas barusan, bukan aku saja yang menilai beliau seperti itu, sejak aku menjadi mahasiswi disini aku sudah mendengar bisikan dari teman-teman ku yang sudah mengenalnya lebih dulu bila beliau memang terkenal galak dan disiplin.


Seperti apapun watak Sir Mattew, aku tak kesulitan untuk berkonsultasi dalam hal ilmu dan pengalamannya dalam bermusik. Selagi aku bersikap baik dan sopan padanya. Aku memaklumi beliau memiliki perilaku tersebut, bagiku itu adalah pertahanan dirinya supaya orang lain tidak akan mempergunakan sisi kebaikannya secara sembarangan.


Jika kita ingin dihargai, hargailah orang lain terlebih dahulu. Lakukan secara tulus dan ikhlas, maka bukan orang itu saja yang akan menghargai kita, orang lain pun juga akan ikut menghargai kita. Itulah salah satu nasehat Adit yang terpatri di dalam kepala ku.


Tak hanya memberikan ilmu dan pengalaman musik saja, Sir Mattew juga membantu ku mencarikan sebuah pekerjaan part time. Akhirnya aku bekerja di sebuah coffee shop yang berada di sisi kota, memang letaknya cukup jauh --sekitar 1 jam perjalanan dari Apartemen ku ke sana. Namun realita memaksaku untuk mengais pundi-pundi demi bertahan hidup. Sebesar dan selama apapun jarak yang aku tempuh akan aku lalui.


Uang dari Adit dan El aku simpan untuk biaya maintanance Apartemen dan kuliah ku. Masih cukup untuk keseharian ku, namun demi memenuhi hobi baru ku aku membutuhkan lebih banyak lembaran Euro agar aku bisa menyewa studio musik lengkap dalam sebulan sekali.


Menyewa studio tersebut tentu tidak menyia-nyiakan apa yang telah aku kuras selama ini. Mendapatkan nilai sempurna serta aku memperoleh pencapaian terbesar ku selama 3 tahun berada di Prancis.


2 lagu aransemen ku dibeli oleh musisi terkenal dan menjadi top music chart berdasarkan Billboard Prancis, serta 1 lagu kompilasi EDM ku dilirik dan disukai oleh Marshmellow.


Terkadang mengingat hasil pencapaian ku saja aku masih suka speechless. Antara bingung dan bahagia menjadi satu.


Dan baru-baru ini aku ditawari oleh produser musik untuk bekerja sama membuat projek baru. Tapi untuk hal ini aku masih pikir-pikir dulu. Projek yang ia tawarkan cukup menguras waktu, mengingat aku masih kelabakan mengatur jam kuliah ku sambil bekerja.


Walau yang ditawarkan pun juga menghasilkan uang yang cukup banyak, namun aku lebih nyaman bekerja di coffee shop. Mendapatkan kepala toko dan rekan kerja yang ramah, serta lokasi kedai pun dekat taman bermain dimana semua sumber ide ku diperoleh dari sana --jika lagi senggang atau pekerjaan sudah selesai.


Semakin aku merasa kesulitan disini, pikiran ku juga menjadi terbuka dalam hal-hal positif. Beruntungnya aku bertemu dengan orang-orang yang tak ragu merangkul ku ketika aku sempat terjatuh. Dan aku juga berusaha untuk berbuat hal yang sama ketika ada seseorang membutuh bantuan ku.


Berkat mereka pun semangat ku terus bangkit ketika kata menyerah mulai terlintas di dalam kepala ku. Aku juga tidak bisa terus menerus bergantung pada kiriman uang dari Adit dan El, aku juga tidak mau menambah beban mereka.


Apalagi Adit sudah menikah dengan Karmila, dan sebentar lagi aku akan memiliki keponakan yang lucu. Sudah pasti Adit juga harus banyak menabung untuk mempersiapkan kebutuhan Karmila dan calon anaknya nanti.


Sedangkan El, posesifnya menjadi-jadi saat ia tahu aku bekerja. Tak segan mengomeli ku jika aku pulang larut malam, selalu mengingatkan aku makan karena aku kian terlihat kurus, dan tak henti mengingatkan pada semua janji kami. Terkadang aku merasa gemas sendiri, harusnya aku yang mengingatkannya ketimbang aku.


Setelah El naik jabatan menjadi Head Marketing Associate Division --serta sosoknya semakin terkenal saat media meliput El sebagai anak tiri dari Ferry Irawan Halim, pengikut, ribuan komen dan likes di media sosial El dibanjiri akun perempuan cantik.


Ditambah El semakin terlihat tampan di umurnya yang sudah memasuki 28 tahun. Aku semakin tidak percaya diri, seakan aku merasa kalah telak. Entahlah, melihat perempuan Prancis yang jauh lebih cantik otomatis aku langsung minder. Juga melihat profil pengagum El di Indonesia satu per satu yang terlihat cantik rasa minder ku pun juga menjadi-jadi.


Dih niat banget sih cek akun satu-satu?


Don't worry. Aku cek satu-satu bukan untuk aku hantui. Tangan ku gatal saja ingin membuka profil mereka. Hanya buka saja kok, ditambah sedikit hawa panas menjalar dari dada hingga ke kepala. Lengkap dah.


"hei Miss Andreansyah, apa yang kamu pikirkan?"


Aku tersentak dan menoleh ke belakang. Aku tersenyum melihat Joshua --si Kepala Toko-- berdiri dibelakang ku yang juga sedang tersenyum padaku. Joshua memang suka memanggil nama belakang ketimbang nama depan ku, padahal rekan lainnya sudah leluasa memanggilku Milly, katanya nama belakang ku terdengar menggemaskan.


Aku sudah berada di coffee shop, tadinya aku sibuk mengelap gelas kaca dengan serbet bersih namun aku malah melamun memikirkan El.


Sedang apa pria itu sekarang: apa tidurnya cukup: apa dia sedang memikirkan aku seperti sekarang. Tapi aku belum berani menanyakannya secara langsung, sudah dua hari ini kami bertengkar hebat karena kesalahan ku.


Kesalahpahaman yang aku perbuat memancing kemarahan El. Diawal aku sudah berjanji padanya jika aku tidak boleh membiarkan pria lain mengetahui sampai masuk ke dalam Apartemen ku. Namun kemarin aku jatuh sakit, terhuyung tidak kuat saat membuatkan pesanan pelanggan hingga Joshua menawari ku untuk ke Rumah Sakit. Namun aku tidak ingin ke Rumah Sakit dan memintanya untuk membopong ku ke Apartemen saja.


Akhirnya Joshua mengantarkan ku ke Apartemen ku dan juga membawa ku masuk ke dalam. Aku tidak bisa berpikir apapun selain ingin segera merebahkan diri ke tempat tidur. Bahkan ada suara telepon masuk pun aku tidak respon sama sekali.


Melihat telepon ku terus berdering, Joshua berinisiatif untuk mengangkat teleponnya. Joshua pikir telepon tersebut bersifat penting dan segera, namun tak lama aku mendengar percakapan Joshua mulai bernada tinggi menggunakan bahasa inggris, aku kaget dan mencoba meraih ponsel ku.


Ternyata Joshua mengangkat telepon dari El dan tanpa berniat mendengarkan alasan ku El terus memarahi ku setelah membiarkan Joshua masuk ke Apartemen.


Dari situ El sama sekali tidak merespon pesan ku dan telepon ku. Pesan ku saja tidak dibaca sampai sekarang. Aku menghela nafas gusar mengingat pertengkaran kami.


Inilah salah satu cobaan LDR terbesar ku, salah paham memang bikin kepala pusing.


"apa kamu memikirkan kekasih mu di Indonesia? Aku benar-benar merasa tidak enak padamu," ujar Joshua merasa bersalah, namun aku memyergahnya kemudian. Disini Joshua sama sekali tidak bersalah, tanpa bantuannya mungkin aku akan kesulitan pulang ke Apartemen.


Tapi disini aku juga tidak bisa menyalahkan El. Aku sudah berjanji padanya untuk tidak membawa pria lain ke Apartemen ku, tapi aku mengingkarinya. Aku tidak akan membela diri, bukan berarti aku membiarkan El terus mendiami ku, jika kondisi sudah memungkinkan aku akan menghubunginya lagi dan meminta maaf padanya. Aku akan menjelaskan bahwa Joshua hanya mengantarkan ku saja, bahkan setelah aku ribut dengan El melalui ponsel Joshua langsung pamit agar aku bisa menenangkan diri.


"kamu tidak bersalah, Joshua. Justru aku sangat berterima kasih padamu. Kamu tidak perlu memikirkan masalah ku."

__ADS_1


Aku kembali membersihkan gelas, melihat pengunjung semakin ramai aku mempercepat gerakan ku dan segera membantu rekan ku yang terlihat mulai kewalahan.


Beberapa table sudah aku datangi dan mencatat apapun yang mereka pesan. Lalu satu teman ku berbisik padaku bahwa salah satu pelanggan ingin aku yang melayaninya.


Segera aku menghampiri pelanggan yang duduk di bagian pojok, wajahnya tertutup buku pesanan sehingga aku tidak tahu pelanggan setia mana yang meminta ku untuk melayaninya.


Sudah biasa beberapa pelanggan setia meminta aku untuk melayani mereka, berdasarkan curhatan hati mereka lebih nyaman berinteraksi padaku. Katanya aku memiliki senyuman yang manis dan aku lebih ramah ketimbang rekan ku yang lain.


Kata mereka, bukan kata ku.


"selamat datang Tuan. Anda ingin memesan minuman atau makanan apa?" tanya ku dengan kedua tangan ku sudah siap mencatat pesanannya.


"Milly..."


Aku mengangkat wajahku dengan kedua mata yang membulat. Butuh beberapa saat aku memandanginya dan segera aku menghambur padanya, memeluknya erat dan menghirup aroma yang selama ini sangat aku rindukan.


El turut membalas pelukan ku. Pelukan ini jadi lebih hangat ketika satu tangannya bergerak mengelus punggung ku.


Mengingat aku masih berada di coffee shop, aku melepaskan pelukan ku dan mengitari pandangan dimana hampir semua orang menatap penuh minat pada kami.


Aku kembali memandangi El yang saling melayangkan binaran rindu. Bibirku tak henti menarik keatas, melihat El benar-benar sedang berdiri di depan ku. Dia benar-benar ke Prancis untuk menemui ku.


Lalu aku meminta El menunggu ku sebentar, aku balik ke dalam pantri dan berpamitan pada Joshua bila El datang menjemputku. Aku langsung menarik El keluar dari kafe dan mengajaknya pergi ke taman.


"balik ke Apartemen kamu aja ya, aku lelah baru tiba langsung kesini."


Ya ampun aku lupa. Sangking senangnya aku lupa menanyakan sejak kapan El tiba disini. Aku mengangguk setuju dan El membawa ku langsung pulang menggunakan mobil yang ia sewa selama disini.


***********************************


Aku mendengus kesal. Harusnya rencana ku untuk mengajaknya pergi jalan-jalan keliling kota Prancis jadi batal.


Niatnya aku membiarkan El berada di Apartemen ku untuk beristirahat dulu, sebab wajahnya sudah terlihat kusut dan memang ia butuh istirahat. Namun istirahat yang dimaksud bukanlah merebahkan tubuhnya di tempat tidur lalu melelapkan kedua matanya hingga ia terbangun lagi.


Yang ada sesampainya di Apartemen aku diterjang bagaikan santapan enak bagi seekor Singa yang sedang kelaparan.


Berkali-kali aku memindahkan satu tangan El ke atas perut ku ketika tangannya bergerak ke bawah. Sampai aku mengerang kesal karena El menjilat daun telinga ku membuat ku kegelian, ia masih berusaha merayu ku padahal aku sudah memberikan jatahnya sebanyak tiga kali.


Aku langsung memasuki kamar mandi dan melakukan ritual mandi ku. Setelah selesai aku keluar, lalu menampaki El yang sudah mengenakan celana pendek melihat-melihat seisi Apartemen ku.


Mulai dari peralatan dapur, lalu melihat seisi kulkas, kemudian pandangannya pindah ke meja makan. Pandangannya bergerak kembali ke meja belajar ku, sebenarnya itu bukanlah meja belajar melainkan meja home recording.


Laptop, Microphone, Audio Mixer, Audio Interface, DAW Software, dan perintilan lainnya yang tak bisa aku jelasin satu-satu. Terlalu banyak.


Diatas meja tersebut ada tergantung foto-foto piagam ku, foto ku bertemu dengan Marshmellow, dan juga foto bersama musisi terkenal dimana lagu ku dibeli sebagai aransemen lagu mereka. Bahkan aku juga memajang sertifikat dari Billboard Prancis.


Setelah aku mengenakan pakaian ku, aku menghampiri El yang masih terpaku memandangi foto-foto itu. Lalu ia menoleh ketika aku memeluknya dari samping.


"kenapa nggak tidur? Kamu kan capek!"


Kata capek sengaja aku tekankan memancing tawanya. Sekilas ia mengecup kening ku lalu mengacak rambut ku yang masih basah.


"aku mau memastikan foto-foto yang kamu kirim ternyata beneran ada."


Aku mencibir bibir ku sambil mendeliknya kesal. Kemudian El menggeser bangku mendekati piano yang berada di samping meja, lalu jemarinya memainkan piano, melantunkan lagu yang ia ketahui.


Tenang, Apartemen ku sudah dipasang pengedap suara.


Aku menikmati alunan lagu sambil memeluknya dari belakang. Lagu You and I by One Direction memenuhi pendengaran ku, hingga aku ikut bernyanyi dengannya sampai ketukan piano berakhir.


Kembali aku memintanya untuk beristirahat setelah aku melirik ke arah jam menunjukan waktu sudah pukul 1 dini hari. Aku pun juga sudah lelah, jangan sampai besok aku telat pergi ke kampus.


Sebelum aku berhasil merebahkan tubuhku, El menarik ku untuk duduk dipangkuannya. Dan El menyela ucapan ku sebelum aku berkomat kamit memarahinya.


"maaf atas kelakuan ku kemarin. Mendengar ada suara pria lain mengangkat telepon ku, pikiran ku langsung tertutup oleh amarah. Maafin aku sayang."


Aku membuang nafas ku pelan lalu tersenyum.


"iya, aku juga minta maaf karena aku telah melanggar janjiku."

__ADS_1


"tidak," El menggeleng, "aku yang salah disini. Kalau tidak ada teman mu yang mengantarkan kamu pulang saat kamu sakit, pasti kamu kesusahan. Nanti ajak aku bertemu dengan teman mu, aku akan menyampaikan rasa bersalah ku dan terima kasih ku padanya."


Kembali aku tersenyum lalu mengangguk. Kemudian tangan ku memainkan rambutnya yang memanjang, berpindah mengelus rahangnya yang telah ditumbuhi bulu halus, tidak lebat dan terlihat seksi. Serta kumis yang juga mulai tumbuh malu-malu, memancing ku ingin mengecup bibirnya.


Tak lama El menarik satu tangan ku, ia memperhatikan sela jari ku yang masih mengenakan cincin yang ia beri padaku 3 tahun yang lalu. Masih aku kenakan dan tak pernah aku lepaskan walau aku sedang mandi.


Itu adalah salah satu janji ku yang tidak boleh dilanggar: tidak boleh melepaskan cincin pemberian darinya. Benar-benar aku jaga dan aku rawat dengan baik.


"terakhir cincin ini muat sama kamu. Tapi lihat, cincinnya jadi longgar karena kamu menjadi kurus."


"tapi cincin ini tak pernah terlepas dari jariku." sanggah ku segera menambahkan ucapannya.


Sesaat pandangan kami bertemu. Lalu ia kembali berucap,


"sekarang coba kamu lepas."


"untuk apa?" tanya ku.


"iya lepas dulu, aku mau lihat."


Aku melepaskan cincin ku lalu ia ambil. Kemudian El menunjukan sebuah cincin lain dengan 3 mata berlian yang sangat indah. Aku mengerjapkan kedua mata ku dengan mulut yang terbuka beberapa detik, cukup lama aku terkesiap memandangi cincin yang aku tidak tahu sejak kapan El menyimpan cincin itu. Sedari tadi aku tidak menangkap ia sibuk menyembunyikan sesuatu dari ku.


"Milly, from all my heart, will you marry me?"


Tangis tawa ku pecah seketika. Dikala seseorang terlihat serius mengajak pasangannya untuk menjadi teman hidupnya, sehidup semati -- tak butuh menyewa tempat untuk makan malam di restoran bintang 5, atau tempat lainnya yang dijadikan seseorang untuk melamar pasangannya -- malam ini di Apartemen ku duduk diatas pangkuannya aku menganggukan kepala ku sambil menyeka air mata yang turun membasahi pipiku.


Tak lama El menarik tangan ku untuk ia pasangkan cincin itu ke jari manis ku. Cincin yang benar-benar pas di jari ku, tidak longgar dan tidak sempit.


"kamu suka cincinnya sayang?"


Tentu saja aku suka. Bagaimanapun aku adalah perempuan normal yang begitu bahagia ketika pasangannya memberikan sebuah kejutan amat sangat manis, terlihat sangat romantis.


Kami berpelukan erat, menyalurkan perasaan bahagia yang meluap di diri kami.


Aku teringat kembali ketika melewati hari-hari ku yang cukup panjang, menyukai El yang sekian lama terasa tersiksa untukku. Begitu dinginnya sikap El padaku hingga aku berpikir bahwa aku harus memudarkan perasaan ku, mencari cara supaya hatiku tak teriris ketika melihat nya dekat dengan Karmila.


Sedikit demi sedikit ia menunjukan sikap hangatnya padaku, namun aku terlena hingga aku kembali merasakan sakit. Perubahan sikapnya padaku membuat ku merasa jengah hingga aku benar-benar menyerah pada perasaan ku.


Sampai dimana El menyatakan perasaannya padaku dan aku menjadi miliknya. Banyaknya kesalahpahaman antara kami hingga aku tahu peliknya kehidupan El di masa lalu.


Hingga aku sudah berada di sebuah taman yang telah didekor sangat indah. Beberapa kursi kayu panjang berjejer rapih, dihiasi bunga serba berwarna putih, juga ada hiasan langit-langit yang berada diatas ku sekarang.


Aku pun demikian, dibaluti gaun putih memanjang, rambutku tergerai dengan sentuhan headband serta bunga yang telah aku genggam erat berwarna putih.


Sampai detik ini senyumku tak henti memudar sedikitpun, tak henti menatap El yang telah dibaluti Tuxedo berwarna putih, ia sudah berdiri di dekat penghulu disana.


Aku berjalan, menggandeng tangan Adit yang juga mengenakan Tuxedo berwarna hitam. Disini bukan aku saja yang merasa gugup, Adit pun juga terlihat gugup membawa ku melewati para tamu undangan yang menyoraki kecantikan ku dengan raut kebahagiaan.


Kini aku sudah berdiri, berhadapan dengan El yang sudah menggengam kedua tangan ku. Lalu kami mengucapkan janji pernikahan kami, dan diakhiri sebuah ciuman dimana kami sudah sah menjadi suami istri.


Ini bukanlah akhir dari hubungan ku dengan El, melainkan ini adalah babak awal untuk kehidupan baru kami. Apapun yang akan terjadi pada kami, bersama-sama kami akan melewatinya.


Untuk selamanya.


-Tamat-


***********************************


Hai kalian semua..


akhirnya aku bisa menyelesaikan cerita ini sampai chapter 45.


Rasanya senang sekali bisa menyelesaikan cerita ini.


untuk kalian yang menyukai cerita ini, aku sangat berterima kasih. Like serta komen kalian membangunkan ku untuk terus semangat menulis.


Dan disini aku mau minta maaf kepada kalian yang merasa cerita ini kurang berkenan di hati kalian.


Baiklah sekian dulu dari ku. Sekali lagi terima kasih telah meluangkan waktu kalian untuk membaca cerita ku. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan.

__ADS_1


See you ..


__ADS_2