
Posisi matahari semakin tinggi, sinarnya semakin menyinari penghuni bumi. Rasa panas, lapar dan haus sudah menggerogoti para kerumunan di Lapangan luas SMA Sawarna. Acara akan dilanjutkan setelah jam 1 untuk beristirahat, berbeda dengan dengan stand-stand yang di penuhi oara pengunjung.
Senyum sapa para Sales cantik dan ganteng masih terlihat jelas di wajah mereka. Menandakan mereka masih bersemangat melayani pengunjung, khususnya stand bermerek poca-poca. Stok persediaan minuman mereka mulai menipis, semakin siang para pengunjung tak henti berdatangan ke stand mereka untuk membeli beberapa botol minuman.
Berkat cuaca terik mengeringkan tenggorokan mereka, pengunjung yang kebanyakan perempuan masih gencar mencuri kesempatan melihat wajah rupawan El dengan alih membeli lebih dari 2 botol minum. Karena alasan itu juga El memaksakan dirinya memberikan ulasan senyum kepada mereka, walau jauh di lubuk hati paling dalam ia ingin kabur dari sana. Lelah melayani para perempuan tak malu mengajaknya kenalan di tempat umum.
Karena banyak membicarakan mengenai pria tampan di stand berwarna biru laut tersebut, stand mereka tidak terlihat sepi sama sekali. Bahkan mereka rela mengantre panjang demi membeli minuman tersebut. Dan mencolong kesempatan demi bisa bertegur sapa dengan El.
El sudah tidak kuat, badannya sangat lelah. Tenaganya terkuras habis meladeni para pembeli, hingga ia meminta rekan lain untuk menggantikan dirinya. El duduk berleseh tikar dibelakang teman-temannya, meneguk air mineral di botol kemasan. Pelu keringat di sekitar pelipis ia seka dengan lengannya, lalu ia meraih ponsel di dalam waist bag dan mengetik di layar untuk membalas chat.
"wihh capek banget pak bos.." Adit datang menghampiri El yang terduduk lelah di sana. Adit datang dengan pakaian yang sudah ia ganti persis seperti El kenakan, sembari menenteng makanan yang telah ia beli saat di perjalanan.
Pria itu ikut duduk bersebelahan dengan El sembari tersenyum. Adit yakin wajah asam El tercetak jelas akibat lelahnya melayani pengunjung, baru masuk ke halaman sekolah saja dia sudah mendengar celotehan orang tentang pria tampan di stand poca-poca. Siapa lagi kalau bukan membicarakan El.
"udah liat adik gue belum ?" tanya Adit melihat El meluruskan kaki jenjangnya, badannya tersender kebelakang dengan tumpuan kedua tangan menahan bobot badan.
"belum." balas El menatap lurus ke arah ramainya orang-orang.
Tak lama Adit menyeringai setelah melihat sosok gadis yang sedang mengantre membeli minuman di stand mereka.
"Ruby,"
Gadis itu menoleh ke sumber suara. Ia menarik badannya ke samping agar bisa melihat siapa yang memanggilnya barusan. Ruby tersenyum mendapati Adit tersenyum padanya, namun wajah gadis itu berubah datar setelah melihat El berada di samping Adit.
"iya kak Adit,"
Adit bangkit menghampiri Ruby. Disusul El dibelakang Adit, ikut berdiri.
"Milly mana Rub ? Lagi sibuk ya ?" tanya Adit sembari melihat penampilan Ruby memakain pakaian kostum menarinya. Tak dipungkiri bahwa sahabat adik kesayangannya ini dianugerahkan memiliki paras elok, jika Adit tidak sedang menyukai seorang wanita lain mungkin pria itu akan menyukai gadis di hadapannya ini.
"Milly lagi siap-siap buat naik ke atas panggung. Makanya aku beliin minuman dulu buat dia." jelas Ruby yang dibalas tatapan bingung dari Adit. El hanya menyaksikan obrolan mereka berdua.
__ADS_1
"Milly manggung ? Katanya nggak manggung ?" ingatannya kembali ke perkataan Milly yang tidak manggung. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa Milly memilih tidak manggung, padahal adiknya sangat suka berada di atas panggung.
"iya kak, Milly gantiin teman Ruby jadi drummer, drummer nya mendadak berhalangan hadir." terang Ruby. Sekilas gadis itu melirik ke belakang Adit, melihat mimik wajah pria dingin itu tak berubah sama sekali. Cuek dan terlihat bodo amat. Ruby mendengus sinis.
"kakak ke depan panggung aja liat Milly. Bentar lagi dia tampil kok."
Ruby ingin membayar minumannya, namun dicegah Adit agar tidak perlu membayar. Ruby tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih pada Adit. Dan wajah Ruby kembali berubah ketika melihat El sedang menatapnya dingin. Entahlah, Ruby sendiri tidak mengerti maksud dari tatapan dingin itu.
Milly saja tidak mengerti bagaimana dengan Ruby. Gadis itu melengos pergi meninggalkan mereka.
********************************
Milly sudah bersiap di sisi panggung, seragam panitia yang Milly pakai sebelumnya telah diganti dengan kaos hitam berlengan pendek. Lalu rambut panjangnya diikat di belakang kepala dan ditutupi oleh topi Baseball. Kedua telinga Milly sudah terpasang earphone, sambil menunggu gilirannya naik ke atas panggung ia mendengarkan lagu yang akan ia bawakan bersama Band teman-temannya yang diberi nama "Turn On".
Milly menoleh ke belakang saat bahunya ditepuk oleh seseorang.
"udah siap Mil ?" tanya Nathan dengan seulas senyum. Milly mengangguk tanda ia siap untuk tampil.
"Mil, gantiin Caesar manggung ya ?" ajak Nathan pada Milly saat itu. Awalnya Milly menggeleng, selain karena tugasnya sebagai panitia ia ingin menghindar dari seseorang. Meski Milly tau walau ia menghindari orang itu, itu akan percuma. Orang itu juga tidak akan peduli.
"kerjaan kamu biar aku yang handle. Waktu kita udah mepet kalau masih sibuk cari orang lagi, cuma lo yang bisa bantu Dion DKK." terang Nathan sedikit memohon. Ia yakin jika gadis itu bisa membantu Dion saat ini. Karena memang waktu mereka sudah menipis, sudah tidak pas untuk mencari orang lain lagi.
"iya Mil. Gue mohon lo gantiin Caesar ya, cuma lo harapan gue dan yang lain Mil." Dion ikut memohon secara tulus. Dengan kedua tangan ditangkup didepan Milly. Diikuti teman yang lain memohon pada Milly.
Mereka sudah tahu dengan kemampuan Milly bermain Drum. Bahkan sebelum Caesar, mereka sudah meminta Milly untuk menjadi Drummer mereka. Namun karena alasan khusus yang tidak bisa dijelaskan Milly menolak secara halus.
Dan sekarang mereka kembali memohon pada Milly. Kalau perlu mereka akan memenuhi keinginan Milly saat ini juga jika gadis itu mau mengganti posisi Caesar.
Milly mendengus pelan. Antara berat dan tidak tega dengan teman-temannya. Bahkan Ruby ikut membujuk Milly ketika Ruby melihat Milly dikerumuni oleh para laki-laki.
Akhirnya Milly mengangguk setuju.
__ADS_1
"tapi gue nggak bawa baju," ujar Milly, menerangkan jika kostum Band Dion bernuansa hitam namun Milly mengenakan seragam panitia acara berwarna putih.
"gue ada baju warna hitam. Lo pake baju gue aja," tawar Ruby dengan wajah sumringah. Ruby bergegas mengambil pakaian baru untuk Milly supaya ia bisa mengganti pakaian. Semua nya menghela napas lega.
Flashback Off
"gue yakin lo bisa Mil," Nathan memberi semangat dengan menggerakan tangan terkepal kuat ke atas. Milly tersenyum pada Nathan.
"iya Nat, makasih."
"selanjutnya kita saksikan penampilan Band dari kelas 3 IPS 1. Turn On !"
Riuh tepuk tangan mewarnai langkah Milly serta kawan Bandnya naik ke atas panggung.
***********************************
Adit dan El tiba di depan panggung, tidak persis didepannya namun mereka dapat melihat Milly sudah duduk di bangku nya. Adit memandangi Milly memakai pakaian kaos hitam dengan celana jeans berwarna biru terang. Wajah manisnya sedikit tertutup oleh topi. Entah siapa pemiliknya, yang jelas Adit tau jika Milly tidak memiliki asesoris kepala tersebut.
"Milly !"
Adit meneriaki nama Milly dengan kedua tangan melengkung di sisi sudut bibirnya. Sorak para penonton menenggelamkan panggilan Adit sehingga Milly tidak mendengar panggilan dari sang kakak. Terlihat Milly sedang mengatur earphone di telinganya dan membenarkan posisi duduk ternyaman.
Sang vokalis memberi salam sambutan, memperkenalkan Band mereka dan menjelaskan lagu yang akan mereka bawakan.
Lagu pertama dimulai dengan permainan Milly mengetuk drum nya dengan 2 tongkat dengan kedua kaki memainkan hit-hat dan bass drum. Lalu disusul iringan melodi gitar rock. Para penonton yang menyaksikan Band tersebut bersorak takjub, membuat mereka kembali bersemangat dan ikut bernyanyi bersama sang vokalis.
Di lain tempat El hanya bergeming menyaksikan Milly bersemangat memukul drum dengan kepala naik turun mengikuti ayunan tangan di tengah panggung. Tatapannya hanya tertuju kepada Milly seorang, tanpa sadar ia menarik garis bibirnya sedikit terangkat. Bahkan garisnya hampir seperti tidak menunjukan bahwa dia sedang tersenyum.
Tidak peduli jika Adit atau orang lain melihatnya seperti itu, karena orang lainpun tidak akan beranggapan jika sebuah senyuman itu benar terbit di bibir ranum El.
***********************************
__ADS_1