
Kak El's Calling..
Sedari tadi nama El terus bermunculan di layar ponsel Milly. Bukan sekali saja pria itu menelepon Milly, sudah ke 20 kali ia melakukan panggilan masuk serta mengirim 15 chat, namun belum ada satupun yang Milly respon. Sebenarnya Milly bisa saja untuk merespon atau membalas pesan El, namun Milly mengurungkan niatnya dikarenakan ia sedang menemani Risma berbelanja di Supermarket untuk membeli kebutuhan dapur.
Milly merasa segan saja pada Risma, apalagi Risma selalu mengajak Milly mengobrol tentang hal-hal umum namun cukup menyita perhatian.
Terutama Milly ingin menghindar dari amukan El. Ketika Milly memberitahukan padanya akan menemani Nathan dan Risma pergi ke Mall, tentu saja El tidak mengijinkannya pergi dengan erangan amarah. Namun sudah kepalang janji, Milly bukan tipe orang yang suka mengingkari janji saat hari-H.
Kecuali saat ia ingin pergi menonton bersama teman sekelas, mau tidak mau ia harus mengingkari janjinya sebab situasi kondisi memaksanya untuk melakukan hal tersebut.
Dengan segenak keyakinan yang ada bermodal panjatan doa yang tulus, akhirnya Milly nekat pergi, namun ia tetap mengabari El agar pria itu tidak terlalu khawatir.
Dan inilah dampak kenekatan Milly, El terus meneleponnya tiada henti. Sekilas ia membaca beberapa pesan singkat yang memintanya untuk pulang sekarang juga, hingga ada pesan masuk terakhir dimana El menanyakan posisi Milly. Milly menduga bila El akan menyusul dan menariknya secara paksa untuk pulang bersama.
Hari pertama pacaran saja sudah cari masalah, hebat kamu Milly. Gumam Milly dalam hati. Tidak terbayang jika Milly berhadapan dengan El yang memasang wajah murkanya setelah Milly pergi bersama Nathan, seseorang yang El tidak sukai.
"kenapa nggak diangkat teleponnya, angkat saja sayang," ujar Risma sembari menerima pesanan potongan Ayam dari mas mas pemotong daging. Lalu ia masukkan ke dalam keranjang belanjanya.
Kembali Milly memasukkan ponselnya ke dalam clutch yang tergantung di sisi bahunya, lalu melempar senyuman canggung pada Risma. "nggak apa-apa tante, Milly udah whatsapp kakak kok." Alibinya meyakinkan Risma, takut merasa terganggu mode ponsel Milly telah diganti menjadi sunyi. Hanya untuk sementara waktu saja, setidaknya sampai acara berbelanjanya selesai.
Setelah membeli Ayam, Risma dan Milly pergi menuju teralis khusus bumbu masakan. Kedua mata Risma mengamati label harga, mencari label tertera harga sudah diskon. Awal masih awal Bulan, Risma berusaha untuk berbelanja se-efisien namun produk tetap berkualitas.
"masalah mu dengan kakak mu sudah selesai sayang ?" lanjut Risma lagi, jemarinya mengambil beberapa botol kecap dan saos, kemudian beralih ke bumbu penyedap rasa.
Milly berdeham singkat, "hmm.. udah kok tante,"
"kalo sama pacarmu juga sudah baikan ?" tambahnya, Milly sempat tertegun beberapa detik mendengar pertanyaan Risma.
"kata Nathan kamu juga lagi bertengkar dengan pacarmu,"
Butuh beberapa saat wajah Milly berubah memerah merona ketika Risma menyebutkan kata pacar. Sampai sekarang Milly masih tidak percaya bahwa ia benar berpacaran dengan El.
"udah nggak lagi kok tante,"
"iya, jangan lama lama berantemnya. Nggak bagus juga." Risma mengingatkan. Kemudian mereka kembali berjalan memasuki teralis makanan ringan.
Risma menerawang ingatannya singkat, mengingat bagaimana ekspresi wajah El ketika pria itu sedang berkelahi dengan Nathan di depan rumahnya. Saat itu Risma hanya bisa mengintip dibalik jendela depan rumah dengan tatapan meringis ketakutan.
"kalo boleh tau, nama pacar mu siapa sayang ?"
"ah.. kak El, tante.." balas Milly canggung.
Risma ber-oh ria, kembali sibuk melihat label harga di teralis, pandangannya sibuk membedakan harga antara produk A dengan produk B.
"lalu bagaimana kalian bisa kenal ?" lanjut Risma lagi.
"dia sahabat kakak ku sejak SMA tante, sering main dan menginap di rumah juga,"
Risma membulatkan bibirnya lagi sambil mengangguk pelan.
Kembali teringat tentang perkelahian itu, Milly menunduk beraut menyesal, "maaf.. tante. Gara gara Milly Nathan jadi-"
"sudah.." sela Risma cepat, satu tangannya melambai lembut, "namanya juga laki-laki, kalo nggak berantem bukan laki-laki namanya." lalu Risma cekikikan.
Sempat tertegun sejenak melihat sikap Risma yang santai, Milly hanya membalas dengan tersenyum canggung. Tidak enak hati karena Milly membawa masalah pribadi ke keluarga Nathan.
Tak lama kemudian Nathan datang sembali membawa beberapa mie instant, setelah ia pergi ke toilet.
Setelah belanjaan sudah lengkap, langkah mereka terhenti dan mengantre diantrian kasir untuk menunggu giliran membayar. Kemudian mereka beralih ke tujuan awal mereka pergi ke Mall; yaitu mengunjungi toko Butik pakaian, dimana Risma dan Nathan akan membelikan 1 set pakaian kerja untuk Ferry sebagai kado ulang tahunnya.
Disaat Risma dan Nathan sedang sibuk melihat-lihat model pakaian, Milly mengamati sebuah menekin yang memajang Blazer Slimfit Casual berwarna hitam. Di bagian saku ada aksen line berwarna gold, model yang minimalis bisa dijadikan pakaian formal ataupun semi-formal.
__ADS_1
Dan Blazer tersebut sangat cocok jika El yang kenakan. Ditambah dengan celana panjang hitam dengan shirt putih di dalam Blazer. Akan sangat pas membalut tubuh El. Memiliki bobot tubuh yang proposional, El akan selalu cocok mengenakan pakaian apapun.
"cocok tuh buat kak Adit," sahut Nathan yang sudah berdiri di belakang Milly. Menunggu Risma yang sedang mengantre di kasir, Nathan menghampiri Milly yang terpaku menatap patung menekin yang terbalut Blazer Slimfit.
Milly menoleh ke belakang, "hah, iya."
Nathan mendekati menekin tersebut, ia amati Blazer itu dengan seksama, jemarinya meraba terkstur bahan serta detail jahitan yang terlihat begitu rapih.
"gue mau beliin buat kak Adit ya," tawar Nathan yang masih mengamati pakaian tersebut, mendengar itu Milly langsung menyergah Nathan.
"nggak usah Nat, kak-"
"gue beneran mau beliin buat kak Adit, nggak ada bermaksud lain kok."
Tanpa menunggu jawaban Milly, Nathan langsung memanggil sales girl untuk membungkus Blazer tersebut, lalu ia menuju kasir untuk membayarnya.
Milly hanya terpaku di tempat, tidak habis pikir kenapa justru Nathan yang membelikan Blazer itu untuk Adit.
***********************************
"ini buat kak Adit, semoga kakak suka."
Nathan menyerahkan sebuah paperbag emas berlabel nama Butik terkenal. Pandangan Adit hanya bergerak ke arah Nathan kemudian menatap paperbag tersebut.
"eh.. terima kasih Nat, harusnya lo nggak perlu repot-repot beliin gue."
Nathan tersenyum simpul, "nggak apa-apa kok kak, lagian itu pilihan Milly kok. Bagus juga kalo kakak yang pakai, jadi aku beliin aja buat kakak."
Nathan dan Adit saling melempar senyum, Adit mengucapkan terima kasih lagi.
Sementara Milly tertunduk lesu, setelah menangkap tatapan El padanya membuat nyali Milly ciut untuk membalas tatapannya. Apa yang ia bayangkan di Supermarket perihal tatapan Murka El benar terjadi, dalam hati Milly berdoa semoga ada malaikat penolong datang menghampirinya.
Sedangkan Karmila sedang berjuang keras untuk bersikap seolah tidak melihat atau tidak terjadi apapun di sekitarnya. Berkali-kali Karmila menyembunyikan senyuman geli dibalik majalah fashion. Majalah ia jadikan sebagai alat menyembunyikan kegiatannya untuk menyaksikan ekspresi wajah El yang dingin dengan tatapan kilat yang ingin membunuh yang tidak disadari oleh Nathan sendiri.
Bisa-bisa Karmila akan ditimpuk bantal sofa oleh El.
Kemudian Nathan pamit pulangdan setelah itu suasana rumah menjadi awkward.
"Nathan baik banget ya, beliin gue Blazer." Adit mengucapkan itu sembari melirik ke arah El. Entah Adit sengaja mengejek atau memang sedang memuji.
"widihh bagus juga nih Blazer. Ntar gue pake kalo ada acara kondangan ah.."
Kemudian Milly bergegas menaiki tangga, masih menundukkan wajahnya tanpa menoleh kemana pun. Saat ini Milly butuh tempat berlindung, dan kamar adalah pilihan yang sangat tepat. Demi meloloskan diri dari tatapan buas El yang siap memangsanya kapan saja.
Beberapa menit Milly berada di dalam kamarnya, mulai terdengar suara gaduh dari arah taman belakang. Milly mengintip dibalik jendela balkon, menonton aksi El dan Adit sedang berlatih Kick Boxing disana. Biasanya mereka akan berlatih olahraga beladiri tersebut di sebuah tempat Gym langganan mereka, mungkin saja baik El dan Adit ingin berlatih di rumah saja.
Milly melihat posisi El sedang menekuk kedua tangannya, gerakan mempertahankan diri, lalu satu tangannya mengarahkan left hook disusul satu kakinya memberi low kick, posisi Adit sebagai pelatih El menahan semua pukulan nya dengan kedua tangan yang sudah mengenakan Punch Mitt. Suara membal Punch Mitt begitu nyaring di telinga Milly.
Sudah setengah jam Milly menonton 2 pria itu, situasi yang terlihat kembali aman Milly kembali turun menuju dapur. Ia membuka pintu Lemari Es dan mengeluarkan botol sirup serta air mineral, satu tangannya menarik laci dan mengambil gelas bersih serta sendok. Setelah itu Milly mengaduk campuran air serta sirup dan meneguknya langsung hingga tak bersisa.
Walah waktu sudah menunjukkan sore hari, udara panas masih menyengat di sekujur tubuhnya, tenggorokannya masih terasa kering walau sudah diredam dengan air dirup dingin.
Milly membuatnya lagi, namun ia tambahkan beberapa es batu dari freezer. Kemudian Milly kembali meneguk minumannya.
Mendapati ada sebuah lilitan di pinggangnya membuat Milly tersedak minuman, maniknya menangkap ada 2 tangan melingkar disana, serta sesuatu yang berat berada di bahunya. Hal itu membuat jantung Milly berdebar tidak karuan, dan Milly juga tidak bisa bergerak bebas sebab posisi kedua kakinya juga sudah dikunci agar tidak berhasil lolos.
"belum sehari pacaran kamu udah berani membantah."
Debaran jantungnya semakin bertalu kuat, sekujur tubuhnya juga merinding ketika El mengecup dan mengendus area bahu dan leher Milly yang terbuka lebar, memancing hasrat El untuk mencicipi kulit lembutnya.
"a-aku nggak bermaksud begitu kak, aku-"
__ADS_1
"aku sudah bilang jangan dekati Nathan lagi. Kenapa kamu masih nggak nurut ?"
"tunggu aku marah dulu baru kamu nurut ?" keluh El lagi, kedua tangannya bergerak semakin mengeratkan di pinggang Milly.
"kemarin aku udah terlanjur janji sama Nathan buat nemenin dia pergi. Maaf kak.."
"..pas kakak telepon, aku juga lagi nemenin mamanya Nathan belanja." Lanjutnya kemudian. Milly menekuk wajahnya menyesal, sama sekali tidak berniat untuk memancing kemarahan El.
"maaf kak El.." lirihnya lagi.
El belum ada membalas ucapan Milly, masih sibuk menikmati aroma Bunga Moringa di tubuh Milly yang menyeruak ke indera penciumannya. Kulit Milly yang begitu lembut saat bersentuhan dengan kulit wajah El membuat kepala El pening akan hasrat gairah yang sudah sekian lama El pendam. Pikirannya sudah melalang buana jauh, bagaimana caranya El bisa menikmatinya lebih lama lagi.
"kak, lepas. Nanti orang lain bisa liat kita." Perlahan Milly mencoba menggerakkan bahunya, agar El segra melepaskan pelukannya dimana posisi mereka bukanlah tempat yang aman. Milly bukan bermaksud hal lain, posisi mereka memang berbahaya jika Adit, Karmila atau Bi Ana menangkap kegiatan mereka dan akan berpikir macam-macam.
Namun El menghiraukan peringatan Milly, justru kecupan El berubah menjadi hisapan kuat hingga bercak merah berbecak disana. Melihat perbuatannya di kulit putih Milly memancing kilatan gairah di manik coklat El hingga ia merasakan sesak di bagian celananya.
Shit !
Tak lama kemudian suara Karmila mulai terdengar yang seperti akan memasuki rumah dari arah taman belakang. Milly mulai panik, Karmila tidak boleh menangkap mereka sedang berpelukan di dapur. Bahaya.
"kak El, lepas. kak Karmila mau ke sini.."
Bukannya dilepas, justru El mengerang. Tanpa gadis itu sadari gerakan pinggul Milly tepat mengenai adiknya di bawah sana, membuat pikiran El kalang kabut oleh gairah.
"kiss me first, baby," bisik El dengan suara serak.
Milly menoleh ke samping dengan tatapan tidak suka, lagi saat begini sempat-sempatnya El meminta Milly menciumnya.
"kak jangan sekarang. Kak Karmila mau ke sini,"
"kiss me first, aku akan lepasin kamu."
Tanpa membuang waktu lebih banyak Milly segera mencium sekilas di wajah El, dan ciuman Milly mengenai hidung mancung El.
"udah ya kak, sekarang lepasin aku." Pinta Milly lagi tak sabar.
"not on my nose baby, on my lips." El memajukan wajahnya agar Milly bisa mencium tepat di bibirnya. Sesaat Milly menghela nafas dan langsung mencium bibir El selama beberapa detik.
"udah kak lepas, nanti kak Karmila liat kita." Mohon Milly lagi, dengan tatapan sendu. Milly tidak membayangkan bagaimana nanti nasib mereka jika beneran tertangkap oelh Karmila dan Adit.
El nurut dan langsung melepaskan pelukannya, namun satu tangan El meraih dagu Milly dan langsung mencium bibir Milly dan mengulumnya lembut. Berusaha semaksimal mungkin El segera melepaskan ciumannya, lalu pindah ke hidung lalu ke kening Milly.
Ia harus segera ke kamar mandi sebelum pikirannya mendoktrin untuk menerkam Milly di dampur.
"mulai sekarang kamu harus nurut sama aku, paham ?"
Milly segera mengangguk walau ia masih terkejut dengan sikap El barusan, kemudian El mengelus puncak kepala Milly dan berbalik pergi.
Tak lama sosok Karmila muncul pintu, ia berpapasan dengan El lalu berjalan mendekati Milly di dapur.
"kenapa Mil ?" tanya Karmila polos sambil memperhatikan wajah Milly yang bersemu merah. Satu tangan Karmila membuka laci untuk mengeluarkan piring, garpu dan pisau. Lalu ia tutup lagi menggunakan pinggulnya. kemudian Karmila membuka Lemari Es, mengeluarkan beberapa buah Apel.
Milly membalas pertanyaan Karmila hanya menggeleng sekilas, ia kembali meneguk minumannya yang sempat tertunda. Berulang-ulang ia teguk sampai habis.
"haus banget ya Mil." Ternyata Karmila masih memperhatikan Milly menghabiskan minumannya sedari tadi. Tersadar wajah Milly terlihat sedikit pucat.
"kamu sakit dek ?" Milly langsung menggeleng cepat. Justru ia merasa begitu lega setelah berhasil lolos dari berbagai kemungkinan buruk.
"mau jajan es krim nggak ? kalo mau pesan go-food yuk."
Mendengar kata es krim Milly langsung mengangguk, menyetujui tawaran Karmila. Lalu mereka berdua berpindah tempat ke ruang tengah, memesan es krim serta tambahan makanan untuk mengganjal perut. Lalu mereka mengobrol disana sambil menunggu driver datang membawakan pesanan mereka.
__ADS_1
***********************************