Teman Kakak Ku

Teman Kakak Ku
37. Tidak Bisa Berjauhan


__ADS_3

Gerai kopi minimalis bernuansa coklat kayu dan putih, di setiap sudut ada ukiran dan ornamen seni, menjadi pemandangan yang cukup unik bagi pengunjung sambil menikmati minuman ber-cafein tersebut. Terlihat juga beberapa orang tampak sibuk berbaris untuk mengantri dan memesan kopi yang akan mereka nikmati siang hari ini.


Salah satu meja dekat pintu pembatas balkon, ada 2 orang sedang duduk disana; seorang wanita cantik mengenakan pakaian santai dengan celana bahan panjang berwarna biru laut, serta seorang pria dengan wajah penuh lebam dan terdapat goresan luka di setiap sudut bibir.


Karmila, ia hanya bisa menatap keadaan El dengan tatapan iba bercampur miris. Ia yakin El membiarkan luka tersebut menghiasi wajah kusutnya sejak semalaman. Masih terlihat jelas sisa darah mengering tertempel di area bibir. Lebam di beberapa bagian juga sudah terlihat bengkak.


Karmila mendengus membayangkan bagaimana murkanya Adit memukul El hingga pria di depannya bisa menjadi seperti ini.


Alasan Karmila datang menemui El di gerai kopi tepat di lantai 1 gedung Apartemen –tempat tinggal El – setelah Adit menceritakan semua kejadian semalam, dimana Adit membabi buta memukul El di depan Milly persis. Secara tidak langsung Adit mencemaskan sahabat karibnya meski Karmila tidak menangkap raut penyesalan dari wajah pria tersebut.


Mereka masih terdiam di sofa empuk berwarna coklat muda, sesekali Karmila melirik beberapa pengunjung yang melirik ke arah El. Entah diam-diam mencari tahu seraya memperhatikan wajah El dengan tatapan prihatin.


"gue temenin lo ke rumah sakit ya El, luka lo harus diobati," tatapan Karmila terus meneliti area wajah El. Bibirnya turut meringis ketika masih ada luka yang menganga disana, Karmila takut luka tersebut berubah haluan menjadi infeksi.


Untung hari ini adalah weekend, orang-orang tidak akan menyerbu El dengan beberapa macam pertanyaan jika pria itu nekat pergi ke kantor dalam keadaan wajah seperti itu.


El hanya mengendikkan bahu sesaat. Sedari tadi El hanya terpaku memikirkan Milly seorang, ia mencemaskan keadaan Milly, terakhir yang ia lihat Adit menarik paksa Milly masuk ke dalam kamar dan mengurungnya disana.


Dirinya merutuk kesal sebab tidak bisa berbuat apapun, hanya bisa terbaring lemah di lantai sambil menikmati rasa sengatan panas dan nyeri setelah Adit memukulnya tanpa ampun.


"kalo didiamkan nanti luka lo jadi infeksi, El. Atau gue bantuin obatin luka lo. Gue beli obatnya di luar atau di Apartemen lo ada obat?"


"ada," balas El singkat.


"kalo gitu kita ambil obatnya ke--"


"gue nggak mau dipukul Adit lagi hanya karena lo masuk ke kamar gue,"


Benar apa yang dikatakan El, bermaksud hanya ingin mengobati lukanya justru malah akan memperparah. Bisa-bisa El koit duluan sebelum waktunya. Karmila menghela nafas.


Selain alasan tersebut, El memang tidak pernah membiarkan orang lain mengetahui posisi serta nomor kamar Apartemennya. Jika orang lain ingin datang berkunjung, El akan meminta orang tersebut untuk menemuinya di gerai kopi persis di samping pintu masuk gedung Apartemen.


Hanya beberapa staf Apartemen berkepentingan dan Adit saja yang tahu.


"lantas gimana? Lo aja nggak mau berobat ke rumah sakit,"


"kata siapa gue nggak mau?" timpal El langsung membuat Karmila bungkam. Memang El tidak terlihat menolak namun tidak juga mengiyakan ajakannya.


"ya sudah kalo gitu ayo kita ke rumah sakit sekarang," ajaknya lagi, namun El tidak bergerak untuk beranjak sedikitpun.


"nggak usah. Bentar lagi juga sembuh.."


"..sekarang jelasin gimana Milly? Dia baik-baik aja kan?" tanya El langsung dibalas anggukkan.


"tenang, dia baik-baik aja di rumah. Tapi sementara waktu Adit mengurung Milly di dalam kamar untuk beberapa hari ke depan, belum boleh pergi kemanapun dan tidak boleh ditemui siapapun." Jelasnya.


Semalam Karmila memutuskan untuk pergi ke rumah Adit. Menemui Adit yang masih dikuasai amarah dan bertemu dengan Milly yang terus menangis sesegukan.


Saat itu juga Karmila baru mengetahui mengenai hubungan diam-diam El dan Milly. Adit memaksa Milly untuk menceritakan padanya setelah Adit mempergoki mereka berdua sedang berpelukan diatas sofa dalam posisi Milly duduk dipangkuan El.


Sudah tidak perlu dijelaskan lagi setelah Adit mengetahui hal tersebut. Malam itu juga Adit mengusir El dan juga memintanya untuk tidak menemui Milly lagi.


Sampai kapanpun.


Mencoba untuk menelepon Adit namun ponselnya sengaja dinonaktifkan, ketika mencoba menelepon ke ponsel Milly nomornya tidak tersambung. Alias nomor ponsel El diblokir.


El hanya bisa mengerang frustasi. Belum selesai dengan urusannya bersama Risma, kini El harus kembali memikul masalah baru yang belum siap ia terima.


El tidak terima diperlakukan seperti ini.


"lo juga sih nekat banget pacaran sama Milly dibelakang Adit. Habis kan lo. Heran gue sama lo nggak bisa sabaran nunggu," celetuk Karmila judes, namun El masih tidak menanggapi ucapannya. Pikirannya masih berkutat pada Milly, Milly dan Milly.


El mengusap wajahnya lelah, kemudian langsung El lepas ketika rasa sakit dan perih masih begitu terasa, khususnya di area bibir. Sial! Adit tidak tanggung-tanggung memukul wajahnya.


Sekali lagi Karmila membujuk El untuk pergi ke rumah sakit, kali ini El menggeleng kepalanya. Suasana hatinya sedang tidak karuan, ia ingin sendirian di dalam Apartemennya, merenung apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Rasanya kepala El ingin pecah karena terlalu pusing memikirkan permasalahan yang datang tanpa permisi.

__ADS_1


***********************************


Pemandangan yang Milly lihat sekarang hanyalah tembok putih kamarnya. Sudah genap dua hari sejak insiden perkelahian antara Adit dan El di ruang tengah, tepat di depan mata Milly sendiri. Adit sungguh-sungguh menjauhkan Milly dari El, dengan mengurungnya di kamar hampir 48 jam lamanya tanpa alat komunikasi disisinya.


Ponsel dan laptop telah Adit sita, dan pintu kamar Milly sengaja dikunci dari luar. Hari ini Bi Ana sudah 2x masuk ke kamar untuk membawakan sarapan pagi serta makan siang, setelah itu Bi Ana akan mengunci pintu kamar lagi dari luar.


Diperlakukan seperti seorang penjahat yang dikurung dalam bui, namun situasinya ini lebih ngenes sebab dikurung di dalam kamar sendiri. Berpacaran dengan El bisa berakhir seperti ini, Milly tidak habis pikir dengan sikap sang kakak.


Apakah berpacaran dengan El adalah sesuatu yang salah sehingga Milly harus dikurung seperti ini? Bahkan mereka pun sudah tidak diperbolehkan untuk saling bertemu.


Mungkin ini alasannya kenapa El meminta Milly untuk merahasiakan hubungan mereka. Tapi Milly masih bertanya-tanya apa alasan besarnya hingga Adit begitu marah ketika ia tahu El dan Milly berpacaran. Apa salahnya mereka saling mencintai?


Kembali Milly menguraikan air matanya. Mencoba untuk menghapusnya namun hatinya terlalu sakit, bahkan dadanya semakin terasa nyeri ketika Milly memaksakan dirinya untuk tidak menangis.


Sampai Milly tidak sadar bahwa matahari sudah menenggelamkan diri. Sesaat Milly mengatur nafasnya setelah menangis, terdengar suara kunci berputar dan pintu terbuka, menampakkan Adit yang baru pulang dari kantor. Masih mengenakan pakaian kantor lengkap dengan wajah lelah nan kusut.


Adit memperhatikan Milly yang sedang menunduk menatap bedcover, mencoba menutupi wajah sembab sehabis menangis.


"ayo makan dibawah,"


Selain dikurung, Milly juga sedih karena Adit bersikap dingin padanya. Sosok hangat yang biasa Milly temui didiri Adit sirna, seolah Milly baru mengenali watak Adit sebenarnya.


***********************************


Lagi-lagi hanya ada keheningan menyelimuti suasana di ruang makan. Nasi di piring Milly hanya ia aduk-aduk asal, pandangannya mengarah ke kursi yang biasa El duduk ketika mereka makan bersama. Hatinya meluap begitu merindukan El.


Pikirannya terus berputar menanyakan kondisinya sekarang ini; apa El baik-baik saja; sedang apa dia sekarang; apa dia sudah makan; apa dia merindukannya seperti Milly merindukan pria itu.


"El baik-baik aja, nggak usah dipikirin." Celetuk Adit melihat Milly melamun, seolah ia bisa membaca pikiran Milly mengenai El. Milly melirik Adit sekilas lalu kembali melamun.


Adit membuka obrolan setelah ia merapihkan alat makannya, "tanpa kamu dia akan baik-baik aja. Dan tanpa dia kamu pun juga akan baik-baik aja,"


Masih diam tak menanggapi pembicaraan, Adit berdecak kesal.


"dia bukan pria yang pantas buat kamu dek. Dia bukan pria yang baik,"


"dari mana kakak tau kalo kak El bukan pria yang baik?"


"karena dia bukan seorang pria berpegang prinsip. Kalo memang dia seorang pria, dia akan menjalankan visi misinya sampai akhir,"


"memangnya prinsip apa yang kak Adit maksud?"


Adit tampak berpikir keras. Lalu ia hanya menjelaskan garis besarnya, jika seorang pria itu dinilai dari pendirian. Dan dari penilaiannya, El belum bisa membangun pendiriannya yang ia buat sendiri.


Sudah tahu kan bagaimana jawaban Adit?


"kakak melakukan ini semua karena kakak nggak mau kamu disakiti dan dirusak oleh pria yang tidak bertanggung jawab. Kakak nggak mau hal itu terjadi dek," jelas Adit dan Milly langsung menunduk lesu.


Tidak ada harapan lagi untuk mempertahankan hubungannya.


Milly menuju ke kamarnya dengan perasaan hancur.


***********************************


Waktu menunjukkan pukul 1 pagi, namun kedua kelopak mata belum bisa melelapkan Milly ke dalam mimpi.


Sudah dua malam pun juga Milly mendapati mimpi buruk, dimana El pergi dan tidak kembali lagi.


Teringat janjinya dengan El bahwa Milly tidak akan pergi meninggalkannya, tapi kini El menghilang dari pandangan Milly. Ketakutan menggerogotinya, takut bila pikiran buruknya benar-benar terjadi.


Ketika Milly ingin kembali menangis, samar-samar ia mendengar suara timpukan dari arah jendela balkon. Sekali dan dua kali Milly masih terpaku di tempat tidur, menduga bahwa ada seseorang yang memintanya keluar dari jendela.


Dengan langkah was-was Milly mendekati jendela hingga suara timpukan mulai terdengar jelas. Lalu Milly mengamit kain gorden dengan hati-hati dan membuka perlahan, satu matanya mencoba mengitari arah luar, lalu kedua matanya membulat sempurna ketika mendapati seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam.


Wajah orang tersebut juga tertutup oleh masker dengan warna senada, tapi Milly langsung mengenali siapa orang tersebut.


"kak El.."

__ADS_1


Bergegas gadis itu membuka kain dan jendela dengan perlahan, meminimalisir suara sedikitpun, mengingat kamarnya bersebelahan dengan kamar Adit.


Melihat Milly sudah membuka jendela kamar, El langsung bergerak memanjat dengan mudah melalui pagar tanaman rambat yang bertepatan di sisi balkon kamar Milly. Setelah berhasil menapaki kakinya di lantai balkon, El langsung bergerak masuk, melepas penutup kepala serta masker di wajah dan memeluk Milly dengan erat. Milly langsung membalas pelukan tersebut, sama eratnya.


Masih berada di dekapan El, Milly kembali menangis, namun kini ia menangis haru karena ia masih diberi kesempatan untuk melihat dan memeluk El. Aroma tubuhnya juga masih sama, aroma yang menjadi kesukaan Milly sejak ia menyukai El setahun terakhir.


El berbisik lembut sambil ber-sssttt ria, "udah jangan nangis lagi sayang, aku udah disini." Satu tangannya mengelus rambut panjang Milly, lalu ia kecup puncak kepala Milly dengan penuh kasih sayang.


Mereka mengurai pelukan, jemari El bekerja untuk menghapus air mata Milly yang masih berjatuhan di kedua pipi.


Kemudian mereka duduk di tepi tempat duduk, El masih memandangi Milly menangis, kedua mata gadis itu terlihat bengkak dengan wajah yang memerah. Ia yakin bahwa Milly sudah menangis seharian. Atau mungkin sudah dua hari ini setelah Adit mengusirnya pergi.


El kembali membujuk Milly agar tidak menangis lagi.


"kalo kamu terus menangis, nanti Adit kebangun dan datang kesini."


Milly mengangguk sambil mengusap air matanya.


Mereka terdiam sejenak. Manik Milly memperhatikan bekas lebam dan luka wajah El, juga terdapat goresan luka di setiap sudut bibir -- walau sudah kering namun luka tersebut cukup membuat Milly ngilu -- kedua tangan Milly langsung bergerak menangkup wajah pria itu dengan hati-hati.


"sakit ya kak?" tanyanya sesegukan dengan terdengar pilu. El menggeleng pelan sambil tersenyum simpul.


"lebih sakit lagi kalo aku benar-benar nggak bisa bertemu kamu lagi,"


Dalam keadaan seperti ini El selalu berhasil membuat Milly tersenyum haru.


"kenapa kamu belum tidur di jam segini?" tanya El yang kembali memeluk Milly.


"kalo aku tidur, yang ada kakak nggak bisa masuk ke kamar ku,"


Iya juga ya, celetuk El dalam hati.


"ya sudah sekarang kamu tidur ya," titah El dan langsung dilayangkan gelengan kepala.


"aku masih ingin peluk kakak," cicit Mily memelas dan kembali mengeratkan pelukan.


Iya. El juga masih ingin memeluk gadis itu. Namun melihat Milly kelelahan El juga tidak tega. Untuk itu ia menggendong Milly dan direbahkan ke tempat tidur, bersamanya disisi Milly tanpa melepaskan pelukannya.


Kerinduan yang El alami dua hari ini serta aksi nekat mengunjungi Milly diam-diam terbayar sudah. Perasaannya begitu tenang dan damai setelah melihat keadaan Milly.


"kak, kenapa kak Adit nggak suka sama hubungan kita?" El terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Milly.


"ada sebuah alasan dimana Adit kecewa sama aku,"


Milly mendongak memandangi El penuh tanda tanya.


"kak Adit bilang kakak nggak bisa menjalani prinsip. Maksudnya apa? Apa kalian sudah tidak berteman baik lagi karena aku?"


Pasti orang lain akan berpikir demikian mengenai pertemanan mereka, namun hal tersebut diluar ekspektasi. Seharian di kantor Adit dan El masih berteman seperti biasa; makan, ngobrol, kumpul dan coffee break masih bersama-sama. Hanya saja kedekatan mereka terlihat sedikit canggung, dan diantara mereka tidak ada yang membahas Milly seperti biasa mereka lakukan setiap hari.


El sendiri juga merasa aneh kenapa bisa hubungannya dengan Adit seperti itu. Terlihat lucu.


"kami masih berteman baik. Kamu nggak usah khawatir," ucapnya tenang.


"benarkah? Kakak sama kak Adit beneran baik-baik aja?" ditanyanya lagi untuk memastikan. Milly tidak mau hanya karenanya pertemanan mereka terputus.


"yes, baby.." Balas El seraya membenarkan posisinya. Satu tangannya ia ulur ke bawah kepala Milly untuk dijadikan bantal, lalu satu tangannya menyibakkan selimut menutupi mereka berdua sampai atas dada.


"..pokoknya kamu jangan khawatir. Dan let's go to sleep now,"


Kini Milly mulai memejamkan matanya, sebelum ia terlelap Milly masih bisa merasakan sentuhan El yang sedang menyibakkan beberapa anak rambut ke belakang daun telinganya.


"malam kak El, have a nice dream."


Melihat deru nafas Milly terlihat tenang, El mengecup kening Milly dan mulai memejamkan mata.


"have a nice dream too, Milly."

__ADS_1


***********************************


__ADS_2