
"iya! cewek cantik yang tidak pernah akur sama kalian berdua." jelas Tomy.
"dan kalian tahu, ga? sekarang dia lebih cantik lagi, dan seksi." lanjut Tomy, yang bersemangat menceritakan tentang Clara.
"hemmm...kamu mah apa yang ga cantik. kambing di make-up in aja, akan terlihat cantik di mata keranjang mu itu." cibir Rika.
"eh! sembarangan kalau ngomong, ini beneran, loh. masa Clara dibandingkan dengan kambing." protes Tomy.
"sudah! sudah! ayo Cin, aku antar kamu ke kamar mandi, lalu sarapan, ok?" Rika mendekati Cinta, untuk menuntunnya ke kamar mandi, karena khawatir Cinta masih lemas.
"ga perlu, Ka. aku bisa sendiri." tolak Cinta. lalu bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamar mandi.
keluar dari kamar mandi, Cinta menghampiri Rika untuk mengajaknya sarapan bersama-sama. namun Rika menolaknya, karena ia memang sudah lebih dulu sarapan dirumah.
Rika dan Reno tidak bisa berlama-lama di rumah sakit, Karena mereka harus segera pergi ke kantor. setelah memastikan Cinta memakan buburnya, riak pun pamit untuk segera pergi bekerja.
"thanks ya, Ka." ucap Cinta.
"ish! sok sweet." ledek Rika, lalu mencium kening Cinta, sebelum ia pergi.
"kerja dulu, ya?!" pamit Rika. Cinta tersenyum melambaikan tangannya. seperti anak yang melambaikan tangannya, saat akan ditinggal ibunya.
baru saja Tomy dan Cinta selesai mengisi perutnya, masuk dokter ditemani susternya.
"pagi, Cinta!" sapa dokter. diikuti senyuman ramah dari suster.
"pagi, dok!" sahut Cinta.
"kita periksa dulu, ya." ucap dokter, mendekati Cinta.
"silahkan, dok." ucap Cinta.
"Alhamdulillah...! semuanya sudah bagus, sepertinya, pagi ini Cinta sudah boleh pulang." jelas dokter.
"terima kasih, dok." ucap Cinta.
"Alhamdulillah...!" sahut Tomy, penuh syukur.
"ya sudah, tapi sebelum Cinta pulang, sarapan dulu, ya? nanti biar suster antarkan buburnya." ujar dokter.
"tidak perlu, dok. baru saja Cinta sarapan. dokter kesini, kami berdua baru saja selesai sarapan." jelas Cinta.
"oh... gitu, oke. ya sudah, saya pergi dulu, ya. inget! jaga kesehatan! harus makan!" nasehat dokter, sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan Cinta.
__ADS_1
"pasti, dok! terima kasih!" ucap Cinta seraya menganggukkan kepalanya.
setelah dokter pergi, Tomy pamit keluar untuk mengurus administrasi. sementara itu, Cinta mengemasi barang-barangnya, bersiap untuk pulang.
selesai mengurus administrasi, Tomy menghubungi Clara. "( halo! Clara, maaf....apa boleh, kalau hari ini aku terlambat datang?)" tanya Tomy ditelepon.
"( kamu ga masuk, juga ga apa-apa, Tom. hari ini aku ga kemana-mana, kok. tenang aja, masalah papi, biar nanti aku yang urus, ok?)" jelas Clara.
"( terima kasih, Clara! aku juga ga tega kalau mau ninggalin Cinta sendirian. kecuali nanti, kalau Rika udah pulang, aku bisa mengantarkan mu.)" ujar Tomy.
"( iya, Tom. santai aja.)" ujar Clara.
"( ya sudah, sampai nanti, ya?!)" Tomy menutup teleponnya.
setelah menelepon Clara, Tomy bisa mengurus Cinta dengan tenang, tanpa harus merasa takut akan dipecat oleh boss Jimmy.
Tomy kembali menghampiri Cinta di ruangannya.
"udah selesai, berkemas?" tanya Tomy, yang baru saja masuk.
"udah....
"oke, kita on the way." Tomy meraih tas berisikan baju yang Rika bawa kemarin.
Tomy dan Cinta pun keluar dari ruangan tersebut, menuju ke parkiran. melihat Cinta yang tidak mengenakan jaket, Tomy melepaskan jaketnya, lalu memakaikan ke tubuh Cinta.
Tomy hanya tersenyum, dan mengacak-acak rambut Cinta. setelah mesin motor menyala, Cinta segera naik ke atas motor, dan merekapun pergi meninggalkan rumah sakit.
Sampai di rumah, Cinta langsung merebahkan tubuhnya, ia masih merasa lemas, dan mual. karena sering terlambat makan, terlebih kemarin seharian penuh Cinta tidak makan sama sekali, dan lambungnya kini menjadi bermasalah.
untuk sementara ini, Cinta tidak boleh makan makanan yang keras, pedas, dan yang pasti, yang bisa menyakiti lambungnya.
Cinta tipe orang yang tidak pernah peduli terhadap kesehatan dirinya sendiri. tapi jika orang-orang disekitarnya yang sakit, Cinta akan super sibuk mengurusi mereka.
bahkan akan lebih cerewet, mengomeli siapa saja yang menganggap remeh kesehatan mereka. kini ia lah yang akan diomeli oleh Tomy, jika ia menolak untuk memakan buburnya.
Setelah memarkirkan motornya, tomy bergegas masuk kedalam rumah. sampai didalam, ia masuk kedalam kamar Cinta, untuk meletakkan tas yang berisikan baju Cinta.
"kamu tidur, Cin?" sapa Tomy, saat baru masuk kamar Cinta, dan mendapati sahabatnya itu sedang berbaring di tempat tidur.
"enggak, aku merasa lemas, dan mual." keluh Cinta.
Tomy mendekati Cinta, dan duduk disebelahnya. ia menatap iba ke sahabatnya itu. lalu ia mengelus perut Cinta pelan-pelan.
__ADS_1
"apa yang kamu lakukan, Tom?" Cinta membuka matanya.
"entahlah, siapa tahu ini bisa mengurangi rasa sakit mu." Jawab Tomy.
Cinta hanya tersenyum melihat tingkah laku Tomy, yang peduli terhadap dirinya.
"mana mungkin! hanya dengan mengelus bisa mengurangi rasa sakitnya." protes Cinta.
"terus, aku harus gimana, dong?" tanya Tomy bingung, karena upaya untuk mengurangi rasa sakit yang Cinta rasakan, sia-sia.
"ga ada yang harus kamu lakukan, Tom. kamu sudah cukup lelah menemaniku di rumah sakit. sekarang, kamu istirahat, sana!" ucap Cinta yang merasa tidak enak hati melihat sahabatnya Tomy, kebingungan.
"dari kemarin aku ga ngapa-ngapain, yang aku lakukan dari kemarin hanyalah, duduk dan tidur. dan sekarang kamu mau aku istirahat? wah...! mau Segede apa badan idealku ini, nanti." Tomy berusaha menghibur Cinta.
"tapi tidurmu kemarin tidak nyaman, kan?" ujar Cinta.
"kata siapa? aku semalam merasa sangat nyaman kok, tidurnya. kan dipeluk sama, kamu." goda Tomy.
"dasar mesum!" cibir Cinta.
"biarin!" sahut Tomy.
"ya sudah, aku istirahat disini aja. supaya, kalau kamu butuh apa-apa aku ada, ok?"
"terserah kamu ajalah, Tom." timpal Cinta, yang sedang malas banyak bicara, karena sedang merasakan sakit di ulu hatinya, dan mual.
Cinta berusaha untuk memejamkan matanya, berharap jika ia tidur, ia tidak akan merasakan sakitnya.
namun justru karena merasakan sakitlah, yang membuatnya Sulit untuk memejamkan matanya. tiba-tiba ponsel Cinta berdering, Cinta mencari-cari keberadaan ponselnya.
Cinta mengikuti arah suara ponselnya, dan akhirnya ia menemukan ponselnya di dalam tas. tapi saat akan diangkat, ponsel Cinta sudah tidak berdering lagi.
mendengar handphone Cinta berdering, Tomy bangun dari rebahan dan melihat Cinta mengambilnya dari dalam tas.
"sejak kapan handphone itu ada suaranya? bukankah kemarin aku silent?" bisiknya dalam hati.
"siapa, Cin?" tanya Tomy penasaran.
"heh?!" Cinta terkejut, saat Tomy bertanya.
"bukan siapa-siapa." jawab Cinta berbohong.
"ga ada namanya?" lanjut Tomy.
__ADS_1
"entahlah...belum aku periksa." jelas Cinta berbohong lagi.
baru saja Cinta selesai bicara, ponselnya kembali berdering.