Teman Tapi Cinta

Teman Tapi Cinta
38. MENCOBA MELUPAKANNYA


__ADS_3

Cinta kembali masuk kedalam kamarnya, berdiri sejenak dicermin, memakai sepatunya, lalu meraih tas kerjanya, dan keluar dari kamar.


ia kembali menghampiri Rika di dapur, namun Rika sudah tidak ada di dapur, mungkin Rika sedang bersiap-siap di kamarnya.


setelah menghabiskan segelas susu yang sudah Rika buatkan untuknya, Cinta pergi ke kamar Rika.


"Rika! mau pergi bareng, atau sama Reno?" tanya Cinta, didepan kamar Rika.


"tunggu! aku sebentar lagi, selesai. kita pergi bareng." ujar Rika, dari dalam kamarnya.


"aku tunggu didepan, ya?!" sahut Cinta, lalu bergegas kedepan.


baru saja Cinta duduk didepan rumah, Rika sudah datang menghampirinya. "yuk!?" ajak Rika.


dan mereka berdua pun pergi kejalan mencari taksi yang melintas.


"naik taksi online aja, yuk? lama, nih!" ajak Cinta.


"terserah kamu, aja!" sahut Rika.


"eh! taksi, tuh! taksi!" teriak Rika, sembari melambaikan tangan ke arah taksi.


Cinta yang baru saja membuka ponselnya, kembali memasukkannya kedalam tas. dan berlari mengikuti Rika.


taksi pun berhenti, dan mereka segera masuk kedalamnya.


"kenapa kamu ga bareng, Reno?" tanya Cinta, didalam taksi.


"Reno hari ini cuti," jelas Rika.


"kenapa?" lanjut Cinta.


"ada urusan di restorannya. bagaimana denganmu? apa kamu sanggup bertemu, Nicholas?" tanya Rika, balik.


"memangnya, kenapa?" tanya Cinta, balik.


"bukankah semalam kamu melihatnya bersama wanita, lain?"


"semalam, Susi cerita banyak." lanjut Rika. Cinta tidak menjawab, ia hanya diam.


"sudahlah, pria macam dia tak usah kau pikirkan, masih banyak pria baik yang siap menyayangimu." ujar Rika, memberi semangat.


pembicaraan mereka terhenti, karena taksi sudah berhenti didepan swalayan tempat mereka bekerja. setelah membayar ongkos taksi, Rika dan Cinta pun turun dari taksi, berjalan menuju pintu masuk utama, swalayan tersebut.


"hai, Cinta! kamu udah, sembuh?" sapa rekan kerja, Cinta.


"Alhamdulillah!" sahut Cinta, tersenyum.


"syukur, dech!" ucap rekan kerja Cinta. dan mereka berjalan masuk bersama.


hari itu, Cinta terlihat lebih segar, dan bersemangat. pukul sepuluh pagi, Cinta baru saja selesai melayani pelanggannya, saat ia sedang merapikan pakaian yang baru saja di lihat-lihat pelanggan, Nicholas datang menghampirinya.

__ADS_1


"hai!" sapa Nicholas. namun Cinta tidak menjawab, ia tetap saja sibuk dengan pekerjaannya, dan seolah tidak ada orang yang menyapanya.


"Cinta, bisa kita bicara, sebentar?" pinta Nicholas.


namun Cinta masih tetap diam, dan terus sibuk dengan pekerjaannya.


hingga akhirnya, Nicholas menarik lengan Cinta, sampai Cinta berbalik badan menghadap kearah Nicholas.


"please! kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." pinta Nicholas, lagi.


"sudahlah, tidak ada yang perlu dijelaskan, lagi. kamu ga liat, aku sedang, bekerja?" ujar Cinta.


"iya, aku tahu. bagaimana, kalau nanti pas jam makan, siang?" lanjut Nicholas.


alih-alih menjawab ajakan Nicholas, Cinta malah melepaskan cengkraman tangan Nicholas padanya.


"Cinta, please! jika kamu tidak meng-iyakan ajakan ku, aku tidak akan pergi dari sini." ancam Nicholas.


Cinta masih tetap diam, ia malah pergi ke dapur, untuk menghindari Nicholas. namun kekasih yang sudah menyakitinya itu, tidak mau menyerah begitu saja,


Nicholas mengikuti Cinta sampai di dapur. dan untungnya, Rika yang tau situasinya membuat alasan agar Nicholas pergi dari dekat Cinta.


"Pak! tadi ada yang mencari, Anda." ucap Rika, beralasan.


"siapa?" tanya Nicholas.


"entahlah, Pak. aku tidak sempat menanyakannya." sahut Rika.


"tadi dia menunggu di ruang tunggu, Pak." jelas Rika, berbohong.


dan Nicholas pun pergi, dari dapur meninggalkan Cinta. "yes!" ucap Rika, senang. karena usahanya berhasil, mengelabui Nicholas.


"siapa yang mencari, dia?" tanya Cinta, penasaran. Cinta punya pikiran, bahwa orang yang mencari Nicholas adalah, Maya.


"ga ada, Cin. aku hanya beralasan, agar dia pergi, dan kamu terbebas dari pria brengsek, itu." jelas Rika, tersenyum puas.


lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak. merasa puas, sudah mengerjai dan membohongi Nicholas.


"thanks, ya! kamu memang my best friend forever!" ucap Cinta, seraya mencium pipi Rika.


"hemmm.... giliran gini aja, my best friend." ujar Rika, seraya tersenyum sinis, menggoda, Cinta.


"ya udah, aku mau kembali ke depan, ntar di marah, boss." ujar Cinta, lalu pergi meninggalkan Rika, yang sedang menyeduh kopi untuknya.


sampai didepan, Cinta kembali mendapatkan pelanggan. kali ini, seorang pria muda tampan, dan terlihat elegan.


"ada yang bisa saya, bantu?" tanya Cinta, ke pelanggan tersebut.


"maaf, saya tidak tahu, kalau pelayan bagian pakaian dalam secantik, kamu." puji sang pelanggan.


"terima kasih! atas pujiannya." ucap Cinta, tersenyum manis.

__ADS_1


"Anda sedang mencari, apa?" tanya Cinta, ramah.


"hemmm....saya jadi, malu." sahut pria, tersebut.


"tidak usah malu, Pak. anggap saja saya, pria." ujar Cinta.


"mana mungkin, gadis secantik kamu dianggap, pria." goda sang pelanggan, lagi.


"tadi apa kamu, bilang? bapak? yang benar saja. apakah saya sudah terlihat, tua?" ujar pria itu.


"enggak juga sih, Pak. eh! maaf!" ucap Cinta, seraya menutup mulutnya.


lalu pelanggan pria tampan itupun, dengan malu-malu, menanyakan pakaian dalam yang sedang ia butuhkan.


setelah menerima bungkusan dari Cinta, pria itupun pergi ke arah kasir. dan tidak terasa, jam kerja Cinta pun berakhir.


Cinta segera pergi ke ruang ganti, dan bersiap untuk pergi makan siang. ia pergi dengan terburu-buru, agar tidak bertemu dengan Nicholas, untuk menghindarinya.


sebelum pergi, Cinta menyempatkan untuk mengirim pesan singkat, kepada Rika. untuk sekedar memberitahu, bahwa ia sudah pergi lebih dulu.


sampai di parkiran, Cinta melihat seorang gadis cantik, yang sepertinya tidak asing baginya. ia pun menghampiri gadis tersebut.


Cinta terus memperhatikan gadis tersebut, hingga akhirnya, ia ingat siapa gadis itu. ternyata gadis yang sejak tadi ia perhatikan dari jauh, tidak lain dan tidak bukan adalah, Clara.


menyadari sejak tadi ada yang memperhatikannya, Clara datang menghampiri Cinta.


"hai, Cin!" sapa Clara.


"hai!" sahut Cinta.


"sedang, apa?" tanya Clara.


"ini, aku baru saja mau pergi makan, siang. kok sendiri, aja? Tomy mana?" tanya Cinta, balik.


"owh...aku sedang tidak bersama, dia. kebetulan papi aku butuh bodyguard lebih, untuk mengawalnya." jelas Clara.


"owh...." sahut Cinta.


"kamu bilang tadi, mau pergi makan siang, ya?" tanya Clara.


"iya, kenapa?"


"makan siang bareng, yuk?" ajak Clara.


"kamu yakin, mau makan siang sama, aku?" tanya Cinta, kurang percaya. karena menurut Cinta, gadis kaya secantik Clara, rasanya tidak pantas untuk makan bersamanya.


"iyalah! memangnya, kenapa?" tanya Clara.


"ga apa-apa, sih." sahut Cinta.


"ya udah, tunggu apa, lagi? yuk?!" ajak Clara, dan langsung menggandeng tangan Cinta, menuju mobil Clara yang terparkir.

__ADS_1


Cinta merasa aneh, dengan kebaikan, dan keramahan Clara, terhadapnya. tapi ia hanya bisa bertanya-tanya didalam hatinya.


__ADS_2