
namun karena Cinta tidak menjawab, para pemuda berandal yang sudah di bawah pengaruh alkohol, membuat berandalan itu semakin penasaran, dan mendekati Cinta.
"cantik, kok kamu sombong, sih? Hem?!" ucap salah satu dari berandal itu.
"please! tolong jangan ganggu, saya." ucap Cinta, memelas.
"maunya sih, gitu. tapi karena dari tadi kami tanya kamu tidak menjawab, terpaksa kami harus mendekati mu, cantik." sahut berandalan itu, yang mulai berani mencolek pipi Cinta.
Cinta hanya menunduk gemetar ketakutan. saat tangan salah seorang dari mereka hendak menyentuh Cinta lagi, tiba-tiba datang Tomy, dan menangkap tangan pemuda berandal itu.
"siapa, kamu? jangan berani ikut campur! kalau tidak...." ujar pemuda berandalan itu.
"kalau tidak, apa?" timpal Tomy.
"berani sekali kamu, hah?! udah, jagoan?!" tantang mereka.
"iya! kenapa?!" sahut Tomy.
"kamu, siapa?! pacarnya?!" bentak salah satu dari mereka.
"iya! saya pacarnya!" sahut Tomy.
"sudahlah, jangan ikut campur, pergi sana! sebelum kami marah. karena gadis cantik ini sudah menjadi milik kami, bukan begitu, cantik?" ucap seorang, seraya kembali hendak menyentuh Cinta.
tanpa pikir panjang lagi, Tomy langsung menangkap tangan berandal itu, dan memberinya bogem mentah.
sontak tubuh berandal itu terhuyung ke belakang, dan memegangi wajahnya yang terkena bogem dari Tomy.
"kamu memang benar tidak takut. mati, ya?!" ujar teman berandal itu, dan mengahajar Tomy. namun dengan sigap, Tomy menghindari pukulan itu. dan terjadilah baku hantam diantara mereka.
Cinta hanya bisa duduk ketakutan menyaksikan mereka. sesekali ia menjerit, saat melihat Tomy terkena pukulan dari para berandal itu.
Cinta takut Tomy akan kalah melawan mereka yang lebih dari tiga orang. dan Cinta memilih menutup kedua matanya, karena tidak tega melihat Tomy.
meskipun Tomy di keroyok, tapi ilmu beladirinya lebih baik daripada para berandalan itu. sehingga dengan mudah ia bisa merobohkan mereka satu persatu, meski sempat beberapa kali tidak bisa menghindari pukulan dari mereka.
dan merekapun lari tunggang langgang dibuatnya. Cinta yang masih duduk ketakutan, dan menutup kedua matanya, tidak tahu, kalau perkelahian itu sudah berakhir.
"Cinta, mereka sudah pergi." ucap Tomy, seraya memegang kedua tangan Cinta.
"kamu tidak apa-apa, Tom?" tanya Cinta, membuka kedua matanya, dan memeriksa di setiap tubuh Tomy.
"sudahlah, aku tidak apa-apa." ujar Tomy, tersenyum, seraya memegangi tangan Cinta. lalu Cinta memeluk Tomy, dengan perasaan penuh syukur.
"Mas, ini makanannya." ujar penjual nasi goreng, seraya meletakkan kedua piring di atas meja. "mereka memang sering mengganggu para pelanggan wanita kami yang cantik. dan tak jarang memalak saya, dan pelanggan." jelas bapak penjual nasi goreng.
"mudah-mudahan, dengan kejadian tadi, mereka tidak akan datang ke sini, lagi." ucap penjual nasi goreng, penuh harap.
__ADS_1
"atas rasa terima kasih kami kepada Masnya, makanan ini gratis." lanjut sang penjual.
"tidak perlu seperti itu, Pak. lagipula, aku hanya membela diri." sahut Tomy.
"baiklah, silahkan dinikmati, makanannya." ucap penjual nasi goreng, lalu pergi.
"ayo Cin, di makan. nanti keburu dingin." ujar Tomy, kepada Cinta, yang masih syok.
"Iya," sahut Cinta, lirih. lalu mulai memakan makanannya. namun Cinta, sudah tidak berselera untuk makan, sehingga ia tidak menghabiskan makanannya.
"Aku sudah selesai makan, kita pulang, yuk?" ajak Cinta.
"tapi makanan kamu belum habis, Cin." kata Tomy, yang melihat nasi goreng Cinta masih tersisa banyak.
"tapi aku memang tidak lapar, Tom." sahut Cinta.
"Ya sudah, aku bayar dulu, ya?" kata Tomy, lalu pergi menemui sang penjual nasi goreng.
saat Tomy sedang menemui sang penjual nasi goreng, Clara menelepon Cinta. segera Cinta mengangkat teleponnya, sebelum Tomy kembali, dan mendengar percakapan mereka.
"ada apa, Clara?" tanya Cinta, di telepon.
"Aku hanya menanyakan prihal tawaran ku, waktu itu." jawab Clara.
"Oke! beri aku waktu untuk berpikir malam ini, besok pagi aku beritahu keputusan ku." ucap Cinta.
"Baiklah, aku tunggu besok pagi, ya?" ujar Clara, lalu menutup teleponnya.
"Susi, dia tanya kita di mana?" jelas Cinta, berbohong.
"Ya sudah, yuk?!" ajak Tomy. dan merekapun pergi. di sepanjang perjalanan pulang, Cinta terus memeluk Tomy. dan Tomy merasakan tubuh Cinta masih gemetar, ketakutan.
Di depan sebuah warung, Tomy menepikan motornya.
"Ada apa, Tom?" tanya Cinta.
"Tunggu sebentar, ada yang hendak aku beli." jelas Tomy. Dan Cinta pun menuruti perintah Tomy, untuk menunggunya di motor.
Tak lama kemudian, Tomy kembali dengan plastik hitam di tangannya.
"Kamu beli apa, Tom?" tanya Cinta.
"alkohol." jawab Tomy. lalu kembali menyalakan sepeda motornya, dan menuju ke rumah kost mereka.
"Keadaan sudah aman, Cin. Kamu tidak perlu takut, lagi. lagipula kan, ada aku." ujar Tomy.
"Ish! siapa juga yang, takut?" sahut Cinta.
__ADS_1
"la itu, buktinya, Kamu memelukku dengan erat." ujar Tomy, yang membuat Cinta malu.
"Ya sudah, kalau ga boleh. Aku kan, hanya takut jatuh, makanya meluk Kamu." jelas Cinta.
"Ya udah....kalau takut jatuh, peluk lagi aja." ujar Tomy.
"Ga jadi!" sahut Cinta.
"Gitu aja, marah." keluh Tomy.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, merekapun sampai di rumah. Cinta segera turun, untuk membukakan pintu gerbang.
"Kalian dari, mana?" tanya Rika, yang menyambut mereka di depan pintu.
"Hanya cari makan." jawab Cinta. lalu nyelonong masuk ke dalam, dan langsung masuk ke kamarnya.
"Kamu apakan, Cinta? koq wajahnya terlihat murung, dan tak bersemangat gitu." selidik Rika.
"Mungkin dia masih syok dengan kejadian, tadi." jelas Tomy.
"Memangnya, apa yang sudah, terjadi?" tanya Rika, semakin penasaran.
"Saat sedang makan nasi goreng, ada beberapa berandalan yang mengganggunya," jelas Tomy.
"Sebaiknya Kamu obati luka di wajahmu, itu." ujar Rika, yang langsung paham apa yang sudah terjadi, dan pergi ke kamar Cinta.
"Cinta!" panggil Rika, di depan pintu kamar Cinta.
"Masuk!" sahut Cinta, dari dalam kamarnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rika, duduk di tepi tempat tidur Cinta, memeriksa keadaannya.
"Enggak!" jawab Cinta, singkat.
"Syukurlah! lalu....kenapa Kamu terlihat, sedih?" lanjut Rika.
"Aku hanya masih syok, aja." sahut Cinta.
"Ya sudah, Kamu istirahat, ya?! Aku udah ngantuk, nih!" ujar Rika, lalu pergi keluar dari kamar Cinta.
"Bagaimana, keadaannya?" tanya Tomy, yang berpapasan dengan Rika, di depan kamar Cinta.
"Enggak, apa-apa. Dia hanya syok, aja." jelas Rika, dan pergi ke kamarnya.
Sedangkan Tomy masuk ke dalam kamar Cinta.
"Cin, Kamu kenapa?" tanya Tomy, setelah masuk ke dalam kamar Cinta.
__ADS_1
"Aku gak, apa-apa, kenapa kalian begitu mengkhawatirkan keadaan, ku?" tanya Cinta, balik.
"Bagaimana tidak, kalau Kamu tiba-tiba diam, dan langsung masuk ke kamar, mu." ungkap Tomy.