Teman Tapi Cinta

Teman Tapi Cinta
43. PERSIAPAN


__ADS_3

Cinta berniat untuk tidak pergi makan siang di luar, ia hanya akan menghabiskan waktu istirahatnya untuk tidur.


Lagipula, Cinta merasa tidak lapar. baru saja ia pergi ke gudang untuk istirahat, tiba-tiba Nicholas datang memanggilnya.


"Cinta, tunggu!" panggil Nicholas.


Cinta menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya. mengetahui Nicholas yang memanggil, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju gudang.


"Cinta!" suara Nicholas semakin dekat, dan kini berdiri tepat di depan Cinta.


"Kamu mau, kemana? Makan siang bareng, yuk?!" ajak Nicholas.


"Maaf....tapi aku tidak, lapar." jawab Cinta, dan melangkah lagi.


"Please, Cinta! maafkan, aku?" rengek Nicholas, seraya memegangi tangan Cinta.


"Sudahlah, Nicho. sudah tidak ada yang perlu di maafkan, antara kita sudah tidak ada apa-apa, lagi." tolak Cinta, halus. dan melepaskan tangan Nicholas.


"Tapi, Cin...." ucap Nicholas sedih, menatap punggung Cinta, yang berlalu meninggalkan dirinya begitu saja.


Namun Cinta tetap pada pendiriannya, untuk tidak lagi percaya kepada pemuda yang sudah berulang kali menyakitinya.

__ADS_1


Sampai di gudang, Cinta mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat.


Pukul setengah dua, Cinta bangun dari tidurnya karena mendengar alarm dari ponsel yang sengaja ia pasang, untuk membangunnya.


Ia segera bergegas menuju dapur kantor, untuk mengambil segelas air putih untuk menghilangkan rasa dahaganya.


Lalu kembali ke depan untuk melayani pengunjung yang datang. Pukul setengah tiga, ia bersiap untuk pulang.


Cinta ingat akan janjinya untuk pergi ke butik yang sudah Clara tentukan. guna memilih baju yang akan ia pakai di acara pertunangan Clara nanti malam.


Dengan penuh semangat, Cinta pergi terburu-buru menuju pintu keluar. Ia khawatir Rika akan melihatnya, dan menanyakan, akan ke mana ia pergi.


Dan Cinta pun berhasil sampai depan, tanpa di lihat oleh Rika. Ia berharap segera mendapatkan taksi, guna menghindari Rika.


"Akhirnya....aku bisa pergi, tanpa Rika harus melihatku." bisiknya dalam hati.


Tak lama kemudian, taksi pun berhenti di depan sebuah butik yang lumayan besar. Cinta pun segera masuk ke dalam butik.


"Ada yang bisa saya bantu, Mba?" sapa pelayan butik, mendekatinya.


"Saya Cinta, dan saya ke sini atas permintaan dari Clara." jelas Cinta, ke pelayan butik.

__ADS_1


"Oh....jadi Anda yang bernama, Cinta?" tanya pelayan itu, meyakinkannya.


"Iya," sahut Cinta.


"Silahkan! Anda pilih, dan coba yang Anda inginkan." ujar pelayan butik, sopan.


"Iya, Mba. makasih!" ucap Cinta, tersenyum manis. lalu mulai melihat-lihat.


"Ini rekomendasi dari Non Clara. siapa tahu, Anda menyukainya." ujar sang pelayan, kembali mendekatinya, seraya membawa beberapa baju.


Cinta meraih baju yang di serahkan oleh pelayan butik, dan mulai mencobanya.


"Pilihan Non Clara memang tepat, Anda terlihat cantik, dan seksi." puji pelayan butik, yang melihat Cinta mengenakan gaun yang di pilihkan Clara untuknya.


"Terima kasih! mba. tapi... kenapa panggil Clara, Non?" tanya Cinta, heran.


"Karena Non Clara anak dari pemilik butik ini, Mba. dan sekarang, Non Clara lah yang mengelolanya." jelas pelayan butik.


"Oh.... begitu." sahut Cinta, manggut-manggut.


"Ya sudah, saya ambil yang ini, saja." lanjut Cinta, merasa puas dengan yang ia pakai.

__ADS_1


Setelah puas dengan pilihannya, Cinta pun pergi dari butik tersebut.


__ADS_2