
Cinta menatap wajahnya di cermin dalam toilet. lalu merapikan rambutnya, dan keluar, kembali ke mejanya, bersama Rika dan Viona.
"yuk, pulang!" ajaknya ke Rika.
"ayo!" sahut Rika. dan merekapun berpamitan kepada Viona.
"kamu kenapa, Cinta? aku perhatikan dari tadi, kayak gelisah, gitu." tanya Rika, saat mereka berjalan keluar dari restoran.
"ga ada!" sahut Cinta singkat.
"yakin?" selidik Rika.
"iya, Rika. aku ga apa-apa." sahut Cinta.
"syukurlah! kalau ga ada apa-apa." timpal Rika.
sebenarnya, Cinta bersikap seperti itu, karena melihat Tomy dengan wanita yang tidak ia sukai. tidak masalah jika Tomy dengan wanita lain, asalkan tidak dengan Clara.
tapi Cinta tidak punya cukup alasan untuk melarang Tomy untuk tidak bersama Clara. rasanya tidak adil, jika ia melarangnya dengan tanpa alasan yang jelas.
Cinta sendiri merasa bingung dengan dirinya sendiri. kenapa ia tidak menyukai Clara. masalah mereka di masa lalu tidaklah begitu serius. lagipula, itu hanya masa lalu.
masa dimana mereka masih sama-sama tidak berpikir panjang dalam melakukan segala hal. dalam perjalanan pulang, Cinta lebih banyak diam, dan itu membuat Rika semakin bingung dan penasaran.
ada apa sebenarnya yang telah terjadi dengan sahabatnya itu. tapi ia tidak berani bertanya lebih banyak lagi, Rika hanya bisa diam, dan terus bertanya-tanya didalam hatinya.
sampai di rumah, Cinta langsung masuk kedalam kamarnya. Rika membiarkannya, dan masuk kedalam kamarnya sendiri.
baru sja Cinta merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ada notifikasi pesan masuk dari ponselnya.
Cinta meraih tasnya yang ia letakkan di sebelahnya. dan memeriksa pesan masuk dari siapa.
ternyata pesan gambar dari Nicholas. dengan sangat penasaran, Cinta membuka pesan gambar tersebut.
"maksudnya apa, ini? kenapa Nicholas mengirimiku pesan gambar bersama Maya? apakah aku sudah tidak ada apa-apanya lagi, baginya?" bisik Cinta dalam hati.
Cinta masih bengong sembari menatap gambar yang dikirim dari nomor Nicholas, tiba-tiba ponselnya berdering.
tertera dilayar ponselnya, Nicholas memanggil. dengan tangan gemetar karena menahan emosi, Cinta mengangkat teleponnya.
"(halo!)" suara perempuan dari seberang sana.
"(kamu udah lihat pesan gambar yang aku kirim, kan?)" tanya perempuan yang menelepon dari ponsel Nicholas, yang bukan lain adalah, suara dari Maya.
Cinta tidak menjawab, ia hanya terdiam.
__ADS_1
"(saat ini, Nicholas sedang bersamaku di apartemennya.)" jelas Maya.
merasa tidak kuat lagi mendengar suara pengakuan Maya, Cinta pun mematikan ponselnya.
sejak kemarin, hingga hari ini, Nicholas belum menghubunginya. dan kemarin malam, Maya memberitahu, kalau sedang bersama Nicholas. dan sekarang, Maya memberitahu kebersamaan mereka lagi.
"inikah akhir dari hubunganku dengan, Nicholas? semudah itukah, dia melupakan, aku? hanya karena aku menolak untuk menyerahkan hal yang paling berharga dalam hidupku?" keluh Cinta, dalam hati.
"ya sudahlah.... mungkin dia bukan yang terbaik untukku. tapi....hati ini sakit..." Cinta meneteskan air mata. hatinya terasa pilu, bagai disayat sembilu.
Rasanya Cinta tidak sanggup memikul beban ini sendirian, ia pergi ke kamar Rika, berniat untuk menceritakan perihal kesedihannya. menangis dalam pelukan Rika.
tapi saat ia membuka kamar Rika, sahabatnya itu sudah terlelap dalam tidurnya. mungkin Rika lelah setelah bekerja seharian.
dan Cinta tidak sampai hati, jika harus membangunkan Rika hanya untuk demi mendengarkan keluh-kesahnya.
dan Cinta pun kembali ke kamarnya. ia duduk termenung, lalu bangkit dari duduknya, dan berniat mencari kesibukan agar bisa melupakan rasa sakitnya, walau hanya sejenak.
tapi apa? apa yang bisa ia lakukan? Cinta bingung harus berbuat apa. diraihnya jaket yang tergantung di belakang pintu kamarnya.
lalu ia bergegas keluar rumah, berniat untuk mencari angin segar, siapa tahu dengan menghirup udara segar, bisa menjernihkan pikirannya.
seandainya saja Tomy ada di rumah, mungkin ia tidak perlu keluar rumah. Cinta bisa bercerita tentang kesedihannya dengan Tomy.
tapi Tomy belum pulang, ia masih bersama Clara. mungkin mereka sedang menghabiskan waktu bersama. karena mereka berdua sedang di mabuk asmara.
sampai di jembatan plyover Cinta berhenti karena merasa lelah. ia berdiri menatap luas pemandangan kota di malam hari.
tiba-tiba Cinta teringat akan teman kerjanya, Susi. lalu ia menghubunginya.
"(halo! Sus, lagi ngapain, kamu?)" sapanya ditelepon.
"(biasa lah.... ngapain lagi, kalau ga nonton Drakor.)" jelas Susi.
"(kesini, dong....)" pinta Cinta.
"(ngapain?)" tanya Susi.
"(aku lagi di plyover, nih!" jelas Cinta.
"(ngapain Lo, disitu?" tanya Susi heran.
"(jangan bilang, kalau lu mau bunuh diri.)" goda Susi.
"(makanya itu, kalau ga mau aku bunuh diri, cepat kesini!)" pinta Cinta.
__ADS_1
"(ogah, ah! kalau mau bunuh diri, bunuh diri, aja! jangan ragu-ragu.)" goda Susi, lagi.
"(kamu jahat, Sus! aku benar-benar sedang membutuhkan seorang teman.)" terang Cinta, sedih.
"(kamu kenapa lagi, Cinta?)" tanya Susi mulai serius.
"(ya makanya kesini, geh!)" bujuk Cinta, lagi.
"(oke! oke! gue kalah! tunggu sebentar, gue ganti baju dulu, ya? jangan kemana-mana." pinta Susi, lalu menutup teleponnya.
setelah mengganti pakaiannya, Susi segera bergegas menuju dimana Cinta sedang menunggunya.
jarak rumah kost Susi dan jembatan plyover, memang tidaklah jauh. sehingga, hanya butuh waktu sepuluh menit, Susi pun sampai di depan Cinta.
"lu ngapain malam-malam begini disini?" tanya Susi turun dari motor.
"syukurlah, kalau kamu bawa motor." ujar Cinta.
"syukurlah! syukurlah! gua tanya kenapa lu malam-malam begini disini?" tanya Susi tegas.
"aku lagi ada masalah, Sus. aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya, tapi tetap tidak bisa," jelas Cinta, menatap kosong kedepan.
"masalah apalagi sih, Cin?" tanya Susi, lagi.
"temenin aku minum, yuk?" ajak Cinta.
"ada apa dulu?!" desak Susi.
"nanti aku ceritakan di sana." sahut Cinta, lalu mengambil alih kemudi motor yang Susi bawa.
"minggir! biar aku yang bawa, motornya." ujar Cinta.
"eh! eh! ga bisa! gua masih belum mau mati!" timpal Susi, dan mengambil alih kembali kemudi motornya.
"aku juga belum mau mati, Susi!" sahut Cinta.
"ya tapi, lu kan lagi ada masalah, ntar ga fokus, terus kecelakaan, dan gua mampus!" ketus Susi.
"ayo naik!" ujar Susi, yang sudah menyalakan motornya.
Cinta pun segera naik ke atas motor, dan mereka berdua pun pergi ke sebuah bar, untuk minum-minuman keras.
"lu pikir, dengan minum alkohol, lu bisa ngelupain masalah, Lo?! yang ada, lu nambah masalah baru." pesan Susi.
"bagaimana dengan, Rika? apakah dia tahu, kalau lu berada diluar rumah, bahkan mau minum alkohol?" selidik Susi.
__ADS_1
"apakah kesehatan lu udah benar-benar, pulih?" lanjut Susi.