
Karena Cinta tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanya, Susi menghentikan laju motornya, dan menepi.
"kenapa berhenti disini, Sus?" tanya Cinta heran.
"karena lu ga jawab pertanyaan, gue." jawab Susi.
"gue ga mau, nanti gue disalahkan oleh Rika, dan Tomy." jelas Susi.
"ga akan, Sus. mereka ga akan tahu, ntar aku chat Rika, kalau aku minep di tempatmu, ok?" jelas Cinta, mencoba membujuk Susi, agar mau menemaninya minum.
Susi masih belum memberikan jawabannya, ia masih ragu, apakah tidak apa-apa, kalau Cinta minum alkohol? sedangkan kesehatannya baru saja pulih.
"ya sudah, kalau kamu tidak mau menemaniku, aku akan tetap pergi, sendiri. sampai disana ada banyak pria yang datang sendiri. aku akan minta kepada salah satu dari mereka, untuk menemaniku. puas?!" ucap Cinta, ngambek.
"iya-iya! aku pergi!" ujar Susi, menyerah. lebih baik ia menuruti permintaannya, daripada nanti disana Cinta berbuat yang tidak-tidak.
karena Cinta tidak kuat minum alkohol, baru minum satu gelas saja, maka ia akan bertingkah semaunya, atau mabuk.
dan Susi pun pergi menemani Cinta, meski dengan perasaan gelisah. gelisah karena takut terjadi sesuatu, dan ia akan disalahkan oleh Rika, dan Tomy.
setelah menempuh perjalanan seperempat jam, merekapun sampai disebuah bar. Cinta segera turun dari motor, dan bergegas masuk.
"Cin, tunggu!" panggil Susi, berlari mengejar Cinta yang sudah lebih dulu masuk. Cinta terus saja berjalan masuk, tanpa menghiraukan panggilan dari Susi.
tanpa menunggu lama, Cinta langsung memesan minuman kepada bertender/pelayan bar. dan setelah mendapatkan minumannya, tanpa menunggu lagi, Cinta langsung meneguknya hingga habis, dengan ekspresi wajah yang meringis.
karena memang Cinta tidak terbiasa dengan minum-minuman keras.
"huh! belagak mau minum," ejek Susi, yang melihat ekspresi wajah Cinta.
setelah menghabiskan satu botol bir, Cinta pamit kepada Susi untuk pergi ke toilet. awalnya, Susi hendak mengantar Cinta, tapi Cinta menolaknya.
"ga perlu, Sus. aku masih bisa kontrol, kok. cuma minum bir, ini." tolak Cinta. lalu ia berjalan ke arah toilet.
Susi merasa khawatir akan Cinta yang belum kembali dari toilet, ia bergegas untuk pergi memeriksa Cinta.
setelah selesai dari toilet, tanpa disengaja, Cinta melihat Nicholas kekasihnya sedang bersama Maya, sang wanita malam.
Maya sedang bergelayut mesra di pelukan Nicholas. merasa panas akan perilaku Maya, Cinta datang mendekatinya.
mungkin karena sudah dalam pengaruh alkohol, tanpa ragu, Cinta menyiram wajah Maya dengan segelas minuman keras yang ada dimeja mereka.
Maya pun terkejut bukan main, dan spontan berteriak. Nicholas menoleh ke arah Cinta, yang sudah menyiram wajah Maya.
__ADS_1
"Cinta? kenapa ada, disini?" tanya Nicholas, terkejut. yang langsung bertanya kepada Cinta, bukannya mengurusi Maya yang sedang kesal akan ulah Cinta.
"kenapa? menurutmu?" tanya Cinta balik.
"tapi.... bukankah seharusnya, kamu ada di rumah, ya?" tanya Nicholas, lagi.
alih-alih menjawab pertanyaan Nicholas, Cinta malah pergi begitu saja, sembari memegangi kepalanya, yang mulai terasa berat.
"Cinta, tunggu!" panggil Nicholas, mengejar Cinta.
"kenapa kamu ada, disini? kamu kan sedang sakit?" lanjut Nicholas.
Cinta tetap diam, dan terus berjalan kembali ke tempat duduknya. Susi yang baru saja akan memeriksa Cinta karena begitu lama di toilet, berpapasan dengan Cinta, dan Nicholas.
Susi berdiri bengong, menatap keduanya. tak lama setelah Cinta dan Nicholas baru saja melewatinya, datang Maya mengikuti mereka berdua.
Cinta baru saja kembali duduk di kursinya, disusul dengan Nicholas. namun tiba-tiba, Maya datang dan melayangkan tangannya di pipi Cinta.
"cepak!" Maya menampar pipi Cinta.
Cinta memegangi pipinya yang memerah, akibat tamparan keras dari Maya.
namun tidak disangka-sangka, Nicholas balik menampar Maya, dan berkata,: "apa-apaan ini, Maya?!" bentak Nicholas.
"tapi hanya menyiram, kan? bukan menampar?" tanya Nicholas, marah.
"hanya kamu bilang?! dia sudah mempermalukan ku di depan umum, Nicholas!" Maya balik membentak Nicholas.
"ah! sudahlah! pergi, sana!" usir Nicholas, kesal.
"kamu mengusir, ku?!" tanya Maya.
"iya! kenapa? ada masalah?" ujar Nicholas.
"tidak perlu! biar aku saja yang akan, pergi." sahut Cinta, lalu beranjak dari tempat duduknya.
"syukurlah, kalau kamu sadar diri." timpal Maya.
"Cinta! tunggu!" Nicholas kembali mengejar Cinta, yang sudah berjalan menuju pintu keluar.
Susi yang semula hanya diam, bergegas ikut mengejar Cinta, dibelakang Nicholas.
"Cinta, please.... dengarkan aku dulu." ucap Nicholas.
__ADS_1
"Cinta!" panggil Nicholas, seraya menarik lengan Cinta, berusaha menghentikan langkahnya.
"tolong lepaskan tangan, saya!" ketus, Cinta.
"tolong dengarkan dulu penjelasan ku, Cinta." pinta Nicholas.
"tidak ada yang perlu dijelaskan, lagi." sahut Cinta, berusaha melepaskan cengkraman tangan Nicholas.
"aku bertemu Maya disini, dan dia terus menggodaku." jelas Nicholas.
"apakah aku menanyakan kamu pergi kesini dengan, siapa? terserah! kamu mau pergi sama siapa, tidur dengan, siapa. aku ga peduli!" jelas Cinta, ketus.
"kenapa, Cin? ada apa, denganmu? kenapa kamu, berubah?" tanya Nicholas.
"kenapa? setelah semua yang kamu lakukan, kamu tanya, kenapa?" tanya Cinta, dengan nada tinggi.
"memangnya, apa yang sudah saya lakukan, Cinta?" sahut Nicholas.
"sudahlah....aku sedang tidak ingin membahasnya." timpal Cinta.
"bagaimana aku bisa tahu, kalau kamu tidak mau menjelaskan apa yang membuatmu seperti ini." lanjut Nicholas.
"baiklah...." Cinta mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. dan menunjukkan video syur Nicholas dan Maya, yang telah Maya kirim kepadanya.
"apa-apaan, ini? siapa yang telah melakukan ini, semua?" tanya Nicholas, kesal.
Cinta merampas ponselnya dari tangan Nicholas, dan berlalu meninggalkan kekasih yang telah tega mengkhianatinya.
"Cinta, tunggu!" panggil Nicholas, kembali mengejar Cinta.
"siapa yang telah mengirimkannya kepada, mu? ini Rekaya, Cinta. percayalah!" Nicholas berusaha membuat alasan, agar Cinta mau menerimanya, kembali.
namun Cinta tetap tidak mau menghentikan langkahnya, ia terus berjalan dengan langkah yang sedikit sempoyongan, dan berusaha mengendalikan dirinya, agar tidak ambruk.
dan Nicholas pun tak mau berhenti, dan terus tetap berusaha mengejar Cinta.
"sudahlah, Pak! tidak usah dikejar, Cinta sedang dalam keadaan kalut, makanya dia minta untuk ditemani minum." jelas Susi.
"maaf sebelumnya, tapi kenapa bapak tega mengkhianati, Cinta? padahal, dia sangat mencintai, Bapak." lanjut Susi.
Nicholas tidak menjawab pertanyaan dari Susi. ia hanya duduk pasrah dengan perasaan sedih, dan penuh penyesalan.
"saya permisi mau mengejar Cinta ya, Pak? takutnya, terjadi apa-apa dengannya. sebelumnya, Cinta tidak pernah sesedih ini. dan Cinta tidak terbiasa minum alkohol, sedangkan, dia sudah menghabiskan satu botol." jelas Susi, kepada Nicholas, yang masih atasannya di kantor.
__ADS_1
Susi mencari kemana perginya Cinta. sembari mengendarai motornya pelan, Susi terus menoleh ke kiri, dan kanan. namun belum juga melihat Cinta.