
Dengan penuh harap, ia menunggu Nicholas mengangkat teleponnya. dan di dering ke-tiga,
"( halo, Cin?! kenapa tidak angkat telepon, ku?)" sapa Nicholas dari seberang sana.
"( maaf...tadi aku ada di kamar mandi, pas mau angkat, udah mati. tapi, kamu sendiri kemana aja? dari tadi pagi aku telepon, ga diangkat.)" keluh Cinta ditelepon.
"( oh...tadi aku sedang ada masalah dengan keluargaku, yang tidak bisa aku jelaskan.)" jelas Nicholas.
"( oh....)" jawab Cinta.
"( kamu bagaimana keadaannya?)" tanya Nicholas.
"( Alhamdulillah....aku udah mendingan.)" jelas Cinta.
"( pengen ke rumah kamu, tapi males ribut sama Tomy.)" ungkap Nicholas.
"( Tomy sedang tidak ada di rumah, kok.)" jelas Cinta.
"( oh, ya?! ya sudah, aku kesana, ya?)" ujar Nicholas, dan mengakhiri panggilannya.
wajah Cinta berubah drastis, dari yang sedih dan murung, menjadi ceria, dan tersenyum-senyum sendiri.
rasanya ia sudah tidak sabar menunggu kekasihnya itu datang menemuinya. ia bergegas ke kamar mandi, mencuci wajahnya, lalu memoles sedikit.
Cinta masih berdiri didepan cermin, melihat apa yang perlu dirapikan. setelah menyadari baju yang ia kenakan terlihat kusut, Cinta segera menuju lemari baju, dan memilih baju mana yang akan ia pakai.
saat sedang asyik memilih baju, Rika masuk kedalam kamarnya.
"loh, aku pikir, kamu tidur, Cin?" sapa Rika, yang baru masuk kamarnya.
"aku ga ngantuk." jawab Cinta, tanpa menoleh, dan masih asyik memilih baju.
hingga akhirnya, ia menemukan baju yang menurutnya cocok.
"mau kemana sih, kok kayaknya rapih bange" selidik Rika.
"enggak kemana-mana." jawab Cinta singkat.
"oh....terus, kenapa kau terlihat cantik, dan rapi?" lanjut Rika.
"bukannya dari dulu ya, aku cantik?" sahut Cinta, tersenyum.
"iya aku tahu, kalau kamu itu dari dulu cantik. tapi...ga biasanya kamu tapi gini kalau di rumah." ungkap Rika.
"hehe... baiklah, akan akau jelaskan!" ujar Cinta, sembari mendekati Rika, dan duduk disebelahnya.
__ADS_1
"tadi Nicholas telepon, dia bilang, dia akan datang kesini, jadi.... walaupun aku sakit, aku tidak mau terlihat pucat, dan jelek." jelas Cinta.
"sudah kuduga! ya udahlah, yang penting, jangan pergi kemana-mana, dulu" timpal Rika.
"aku lelah, ngantuk juga, aku tidur dulu, ya? tapi ingat! jangan kemana-mana." pesan Rika, lalu keluar dari kamar Cinta.
"siap boss!" sahut Cinta, seraya memberi hormat kepada Rika, layaknya prajurit memberi hormat kepada komandannya.
tak lama setelah Rika pergi dari kamar Cinta, terdengar dari luar suara klakson mobil. cepat-cepat Cinta pergi keluar kamar, dan menyambar payung yang terletak dibelakang pintu.
Cinta bergegas keluar rumah hendak menjemput Nicholas dengan payungnya. namun sebelum ia melangkah keluar dari teras rumahnya, Nicholas menyadari itu, dan berteriak melarangnya.
"stop! aku sudah membawa payung, kamu tidak perlu menjemput ku." teriak Nicholas, seraya melangkah mendekatinya.
"kamu sedang sakit, bukan? kenapa keluar di hari hujan, begini?" keluh Nicholas.
"aku hanya ingin menyambutmu, aku khawatir kamu kehujanan." ujar Cinta.
"enggaklah, aku selalu sedia payung kok, di mobil." jelas Nicholas.
"yuk, masuk!" ajak Cinta.
"tunggu sebentar, biar aku buatkan minum, untuk menghangatkan tubuhmu." lanjut Cinta, hendak pergi ke dapur.
"enggak usah! berikan saja senyumanmu itu, itu cukup menghangatkan ku." goda Nicholas, seraya menarik lengan Cinta, melarangnya untuk pergi.
jantung Cinta berdegup kencang, terlebih, saat kedua tangan Nicholas memegang kepalanya. perlahan Cinta memejamkan matanya, pasrah.
Cinta merasakan ada benda lunak dan hangat, yang menyentuh bibirnya, dan ********** dengan lembut.
kini dua insan yang sedang dimabuk kepayang, hanyut dalam buaian cinta, dan gairah muda yang membara.
keduanya semakin terlena, tiba-tiba tangan Nicholas meraba dada Cinta, dan hendak melepaskan baju yang Cinta kenakan.
Cinta hampir terlena, dan terbuai dalam cumbuan kekasihnya. namun seketika ia sadar, dan melepaskan diri dari degapan gairah Nicholas.
ia bangkit dari pangkuan Nicholas, Cinta sadar, bahwa yang mereka lakukan tidak seharusnya dilanjutkan.
"kenapa, Cinta?" tanya Nicholas dengan suara berat karena menahan hasrat seksualnya.
Cinta tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya. dengan ekspresi wajah ketakutan.
"apakah kamu tidak benar-benar mencintaiku?" tanya Nicholas lagi.
"bukan seperti itu, Nicho. tapi..." Cinta tidak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"tapi apa?!" terdengar suara Nicholas kesal.
"aku buatkan minum dulu, ya?" ujar Cinta, pergi ke dapur.
Cinta seperti sengaja pergi menghindari pertanyaan Nicholas yang bertubi-tubi. ia tidak sanggup melihat ekspresi kecewa dari kekasih hatinya.
tapi Cinta juga tidak mau menuruti nafsu syetan, yang bisa menghancurkan dirinya. Cinta berpikir, jika kesuciannya ia serahkan sekarang, lalu apa yang akan ia persembahkan untuk suaminya kelak di malam pengantin?.
dan belum tentu juga kekasihnya saat inilah yang akan menjadi suaminya kelak. bagaimana jika ia tidak berjodoh dengan Nicholas?
betapa kecewa suaminya kelak di malam pengantin. mendapati istrinya sudah tidak suci lagi. pikiran seperti itu terus berkecamuk di dalam pikirannya.
"astaghfirullah! kenapa aku malah melamun disini?" gumam Cinta, yang menyadari sudah terlalu lama ia di dapur.
Cinta kembali ke ruang tamu dengan segelas teh hangat di tangannya. ia mengumpulkan keberanian untuk kembali ke Nicholas, yang duduk termenung menahan hasratnya.
"maaf....aku lama, ya?" sapa Cinta, sampai di ruang tamu.
Nicholas tidak menjawab, ia hanya terdiam tanpa menoleh sedikitpun ke arah Cinta. bukan hanya sekali ini saja Cinta menolaknya.
bahkan sudah beberapa kali, Nicholas mencoba melakukannya terhadap Cinta, tapi gadis yang ia cintai tidak pernah mau menuruti kemauannya.
gaya hidup Cinta dan Nicholas memang berbeda. Cinta yang memegang prinsip bahwa kesucian seorang wanita harus dijaga untuk suaminya. tapi tidak bagi Nicholas.
meskipun berbeda pendapat, tapi Nicholas selama ini bersabar demi wanita yang ia cintai. tapi kali ini sepertinya pemuda yang menjadi atasannya di tempatnya Bekerja ini, sudah tidak bisa mengerti.
Nicholas marah, karena selalu ditolak karena oleh Cinta. Nicholas merasa tidak punya harga diri dihadapan Cinta. ia merasa seperti diremehkan.
kamu marah, ya?" tanya Cinta, mendekati Nicholas, dan meraih tangannya.
"sudahlah, sebaiknya kamu istirahat aja, aku juga lelah dan ingin pulang." ucap Nicholas, lalu bangkit dari duduknya.
"Nicho! please.... maafkan aku...." rengek Cinta memeluk Nicholas dari belakang.
"tidak ada yang perlu dimaafkan, aku lelah dan ingin segera pulang." lanjut Nicholas.
"tapi kamu ga marah, kan?" tanya Cinta lagi, dan memutar tubuhnya menghadap ke depan Nicholas.
"enggak....
"sungguh?
"iya...
"ya sudah, kamu masuk sana! beristirahatlah, kamu masih belum pulih benar," ujar Nicholas.
__ADS_1
Cinta hanya mengangguk pelan, ia merasa tidak enak, karena sudah mengecewakan kekasihnya untuk kesekian kalinya.