
Cinta dan Clara pun pergi meninggalkan swalayan tersebut, menuju restoran pilihan Clara, untuk makan siang.
dari kejauhan, Nicholas memperhatikan Cinta, hingga pergi dengan Clara. tadinya Nicholas hendak menghampiri Cinta, tapi karena ada Clara, ia mengurungkan niatnya, dan memilih hanya memperhatikan dari jauh saja.
"kalau boleh tau, kenapa kamu berada diparkiran, tadi?" tanya Cinta.
"aku baru saja bertemu dengan calon suamiku." jelas Clara.
"calon suami?!" tanya Cinta, kaget.
"iya! kenapa? kok kaget, gitu?" tanya Clara, balik.
"maksud kamu, Tomy?" tanya Cinta, lagi.
alih-alih menjawab pertanyaan Cinta, Clara malah tertawa cekikikan.
"tentu saja bukanlah, Cin." jawab Clara, setelah menghentikan tawanya.
"kenapa, bukan? bukankah, kalian menjalin hubungan, ya?" lanjut, Cinta.
"aku memang punya hubungan dengan Tomy, tapi tidak untuk menikah, lah." ungkap Clara.
"loh! bukankah kita menjalani suatu hubungan, pada akhirnya, berharap berakhir di pernikahan, ya?" ujar Cinta.
"itu kan bagi kalian, yang hanya gadis biasa. tapi tidak untuk saya. saya bisa memilih, dan menentukan siapa yang akan menjadi pasangan hidupku, nanti." jelas Clara, menyombongkan diri. dan sifat inilah, yang sedari dulu tidak Cinta sukai.
"jadi maksudmu, Tomy hanya mainan, bagimu?" tanya Cinta, lagi.
Clara tidak menjawab, ia hanya tersenyum, menunjukkan keangkuhannya. rasanya Cinta ingin turun dari mobil Clara, pada saat itu juga.
Cinta tidak tahan, jika harus satu mobil dengan wanita jahat, yang sudah tega mempermainkan perasaan sahabat karibnya.
tapi Cinta mencoba menahannya, ia berusaha mengendalikan dirinya, untuk tetap diam, dan mengikuti kemauan Clara.
ia masih penasaran, sebenarnya apa tujuan Clara, mengajaknya makan siang bersama. Mobil Mercedez Benz berwarna merah muda milik Clara, berhenti didepan disebuah kafe.
"yuk?!" ajak Clara, menggandeng tangan Cinta, dan masuk.
sampai didalam, Clara celingukan mencari tempat untuk mereka berdua. "kita duduk disana aja, yuk?!" tunjuk Clara, ke arah meja di pojok ruangan.
Cinta tidak menjawab, ia hanya mengangguk, dan segera menuju meja yang Clara maksud. setelah duduk, Clara memanggil waiters untuk memesan makanan.
sang waiters pun datang menghampiri Cinta, dan Clara, lalu menyodorkan buku menu. setelah melihat dan memilih, merekapun membuat pesanan.
__ADS_1
tak lama kemudian, makanan dan minuman yang mereka pesan pun datang. "silahkan, Cin!" ucap Clara.
"iya!" sahut Cinta, lalu menikmati makanan yang telah mereka pesan.
"Clara! aku masih penasaran, kenapa tiba-tiba, kamu mengajakku makan, bahkan mentraktirku." tanya Cinta, sembari menikmati makanannya.
"sebenarnya, aku ga ada niat, sih. pas ketemu kamu, aku langsung kepikiran aja, ngajak makan. selain karena aku tidak punya teman untuk di ajak makan, aku sedang membutuhkan bantuan seseorang." jelas Clara.
"bantuan? apa, itu?" tanya Cinta, penasaran.
"Minggu malam nanti, aku akan mengadakan acara tunangan. aku dan calonku berniat akan mengadakan acara yang sangat meriah, karena kami akan mangundang para rekan bisnis, kami.
dan aku meminta pembawa acara kondang untuk memandu acara kami. tapi...." Clara tidak melanjutkan kalimatnya.
"tapi apa, Clara?" tanya Cinta, semakin penasaran.
"pembawa acara kondang yang saya minta untuk memandu acara ku, berhalangan hadir, dan aku bingung, sedangkan acaranya hanya tinggal dua hari, lagi." ungkap Clara, sedih.
"oh ya, Cin. bukankah dulu cita-cita mu ingin menjadi pembawa acara, terkenal?" tanya Clara, bersemangat.
"iya, lalu? apa hubungannya, denganku?" tanya Cinta.
"bukankah ini kesempatanmu untuk menunjukkan bahwa, kamu layak menjadi presenter yang banyak dikenal, orang?" tawar Clara.
tiba-tiba, Cinta tersedak, saat ia sedang minum. "maksud, kamu?" tanya Cinta, kurang yakin.
"mana mungkin. aku tidak yakin aku bisa." sahut Cinta, ragu.
"kenapa tidak, Cin? ayolah! selain kamu membantuku, kamu bisa menunjukkan bakat tersembunyi mu, itu." bujuk Clara.
Cinta masih ragu, ia terdiam. didalam hatinya, apa yang dikatakan Clara, ada benarnya, juga. tapi disisi lain, Cinta tidak enak hati dengan Tomy. Cinta tahu, Tomy sangat mencintai Clara. bagaimana mungkin, ia membantu Clara untuk mengkhianati sahabatnya.
"kalau kamu setuju, segala sesuatu kebutuhan kamu sebagai presenter, akan aku tanggung. dari gaun, makeup, sampai sepatu." jelas Clara.
"kasih aku waktu untuk berpikir," sahut Cinta.
"oke! tapi jangan lama-lama, ya?!" pinta Clara.
"jam makan siangku hampir habis, aku pergi dulu, ya?" pamit Cinta.
"aku antar!" sahut Clara, dan segera memanggil waiters, untuk membayar biaya makan mereka.
Cinta dan Clara pun pergi meninggalkan kafe, menuju ke swalayan tempat Cinta bekerja. setelah tiba di swalayan, Cinta turun, dan Clara pergi meninggalkan Cinta.
__ADS_1
sejak pulang dari kafe, Cinta jadi banyak diam. Cinta terus memikirkan tawaran dari Clara, yang menurutnya sangat menggiurkan. sudah lama ia menunggu kesempatan itu.
"kamu dari mana aja sih, Cin?" tanya Rika, mendekatinya.
"makan siang, lah!" jawab Cinta.
"iya aku tahu, maksudku, makan dimana, sama, siapa?" lanjut Rika.
Cinta tidak menjawab pertanyaan Rika, ia hanya diam, dan berpikir. "apa perlu l, aku ceritakan semuanya sama, Rika? tapi, bagaimana kalau dia melarangku?" gumam Cinta, bingung.
"woi! ditanya, kok malah, bengong?!" ucap Rika.
"enggak, aku ga bengong. kenapa? ada, apa?" tanya Cinta, gugup.
"jangan-jangan, kamu pergi sama Nicholas lagi, ya?" selidik, Rika.
"enggaklah! aku tadi....ah! udahlah! bukan urusanmu!" sahut Cinta, berlalu meninggalkan Rika.
"hei, Cinta! kamu belum menjelaskan!" panggil Rika, yang tidak terima ditinggal Cinta begitu saja, tanpa mendapatkan penjelasan dari Cinta.
namun Cinta tetap saja pergi, tanpa memperdulikan panggilan dari Rika, yang masih penasaran, kemana Cinta pergi makan siang. dan dengan siapa dia pergi.
disaat Rika yang masih penasaran dengan siapa Cinta pergi, Cinta malah sibuk melayani pelanggannya.
Rika tidak bisa berbuat banyak, untuk memaksa Cinta menjelaskan, kemana dia pergi. Rika hanya bisa memperhatikan gerak-gerik Cinta dari kejauhan.
pukul lima belas, jam kerja Cinta dan Rika telah berakhir. kini mereka berdua sama-sama bersiap untuk pulang.
"Susi! pulang bareng, yuk?!" ajak Cinta, menghampiri Susi.
"duluan, Cin. gua masih ada urusan." sahut Susi.
"oh... gitu. ok, kami duluan, ya?" pamit Cinta, dan berlalu meninggalkan Susi yang masih terlihat sibuk.
saat Rika, dan Cinta berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba ponsel Rika berdering.
"(halo! ada apa, Ren?)" tanya Rika ditelepon, yang ternyata Reno kekasihnya yang menelepon.
"(ok! aku on the way, kesana.)" ujar Rika, dan menutup teleponnya.
"ada apa, Ka?" tanya Cinta.
"Reno, meminta bantuanku, untuk ke restoran, sekarang." jelas Rika.
__ADS_1
"ya udah, pergi sana!" ucap Cinta.
"aku duluan, ya?" pamit Rika, berjalan terburu-buru, keluar. dan Cinta pun pulang ke rumah seorang diri.