Teman Tapi Cinta

Teman Tapi Cinta
29. KESUCIAN


__ADS_3

Nicholas bergegas keluar dari rumah Cinta, ia terus berjalan tanpa menoleh sekalipun kearah Cinta yang berdiri, mengantarnya sampai pintu.


"Nicho!" panggil Cinta. Nicholas menoleh ke arahnya


"hati-hati di jalan!" ucap Cinta. Nicholas tidak menjawab, ia hanya melempar senyum kepada Cinta.


setelah mobil Nicholas menghilang dari pandangannya, iapun menutup pintu, lalu kembali ke kamarnya.


"apakah yang aku lakukan tadi salah? apa seharusnya, aku menyerahkannya? hhhhh....!" bisik Cinta dalam hati.


Cinta membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, pikirannya menerawang jauh kesana. ia masih terus kepikiran akan kekasihnya


Cinta khawatir Nicholas akan marah dengannya.


tapi kenapa Nicholas selalu menuntutnya untuk menyerahkan apa yang menjadi miliknya yang paling berharga?


apakah itu suatu keharusan? tiba-tiba Cinta teringat akan teman kerjanya. ia berniat untuk menelepon teman kerjanya, untuk menanyakan pendapat tentang masalah yang sedang ia alami.


"(halo!)" sapa seseorang dari seberang sana.


"(Susi, kamu sedang apa?)" tanyanya di telepon.


"ada apa, Cinta?" tanya Susi balik.


"apakah kamu, sibuk?" lanjut Cinta.


"ga, kebetulan aku lagi duduk santai, nih! memangnya ada, apa? kapan kamu masuk kerja?" jelas Susi.


"sebenarnya, banyak yang ingin aku tanyakan kepadamu, tapi gimana, ya?" ungkap Cinta.


"ya udah, ngomong aja, Cinta. aku lagi free, kok." ujar Susi.


"rasanya.... kurang enak kalau bicara ditelepon. apakah sepulang kerja, kamu bisa menemui ku? soalnya, saat ini, aku tidak diizinkan oleh Rika untuk keluar rumah dulu." jelas Cinta.


"ya sudah, kita liat nanti, ya? apakah aku bisa, atau .... soalnya, kalau jadi, aku dan mama mau mengunjungi nenek." jelas Susi.


"tapi kalau kami tidak jadi pergi, aku akan kabarin kamu, oke?" ucap Susi, lalu menutup teleponnya.


Cinta masih belum menemukan solusinya, ingin rasanya ia bertanya kepada Rika, yang selalu ada di setiap Cinta membutuhkan.


tapi jika ia menceritakan tentang masalahnya, Cinta khawatir Rika malah akan melarangnya untuk melanjutkan hubungannya dengan Nicholas.


karena sebenarnya, Rika dan Tomy tidak pernah menyetujui hubungannya dengan Nicholas. di mata Rika dan Tomy, Nicholas adalah laki-laki brengsek.


tapi karena Cinta sangat mencintai Nicholas, Rika dan Tomy tidak bisa melarangnya, karena bagi mereka berdua adalah, yang terpenting Cinta merasa bahagia.


kini Cinta hanya bisa menunggu sampai Susi mau datang menemuinya. mungkin karena terlalu lelah berpikir dan tidak menemukan Jawaban dari semua pertanyaannya, Cinta pun akhirnya tertidur.


Pukul 15:15 sore, Susi sudah berada didepan pintu rumah Cinta. tapi karena mengetuk pintu dan tidak ada jawaban, Susi menghubungi Cinta, untuk memberitahu bahwa ia sudah berada didepan pintu rumahnya.


namun tidak ada jawaban dari Cinta. karena Cinta sedang tertidur pulas. merasa kesal dan putus asa, Susi bersandar di pintu hendak duduk. tapi tiba-tiba pintu terbuka.

__ADS_1


semula Susi mengira pintu terbuka karena ada yang membukakan untuknya. tapi ternyata dugaannya salah, pintu terbuka secara tidak sengaja karena sandarannya.


iapun langsung masuk kedalam, dan memanggil Cinta. "Cinta!" panggil Susi seraya masuk kedalam menuju kamar Cinta.


namun masih belum ada Jawaban dari dalam kamar Cinta. Susi langsung saja membuka pintu kamar Cinta, dan masuk.


"Cin, Cinta!" panggil Susi, sambil menggoyangkan tubuh Cinta.


"gimana, sih?! nyuruh orang datang, tapi kamu malah tidur." keluh Susi.


"aahh...!" Cinta menggeliat malas.


"sejak kapan kamu, datang?" tanya Cinta.


"sejak kemarin!" jawab Susi ketus.


"mana mungkin!" sahut Cinta malas, dan masih belum membuka matanya.


"kalau kamu belum juga membuka matamu, aku pulang aja, dech!" ancam Susi kesal.


"iya....aku bangun, ni." sahut Cinta. lalu duduk dan mengucek matanya.


"maaf....tadi aku merasa sangat mengantuk." jelas Cinta.


"tadi ada banyak yang ingin kamu tanyakan, ayo katakan! apa itu?" desak Susi, tidak sabar.


"oh....iya," sahut Cinta, malas.


"yang serius dong....aku pulang, ni." ancam Susi lagi.


"cuci muka, sana! biar segar." perintah Susi.


"iya, bawel!." gerutu Cinta, bangun dari tidurnya, menuju kamar mandi.


"sebenarnya, apa sih, yang mau lu ceritain ke gua?" tanya Susi, melihat Cinta keluar dari kamar mandi.


"ga ada..." jawab Cinta, seraya menyeka sisa air diwajahnya.


"terus, maksud lu tadi? ada banyak yang akan lu tanyakan, dan ga bisa dibicarakan lewat telepon.?" lanjut Susi.


alih-alih menjawab pertanyaan Susi, Cinta malah tersenyum mendekati Susi, dan duduk disebelahnya.


"lu cuma kesepian, kan? makanya lu nyuruh gua kesini?" tanya Susi lagi.


"kamu buru-buru amat, mau kemana, sih? santai lah dulu, aku buatkan minum, ya?" ujar Cinta.


"boleh, yang dingin aja, ya?" tawar Susi.


"oke! tunggu sebentar, ya?" Cinta bergegas ke dapur, untuk membuatkan Susi minuman dingin, seperti yang Susi pesan.


tak lama kemudian, Cinta datang dengan membawa dua gelas minuman kedalam kamarnya.

__ADS_1


"nih! minuman Dingin buat kamu." ucap Cinta menyodorkan segelas sirup.


"thank you!" ucap Susi, sambil meraih gelas dari tangan Cinta.


"kamu punya pacar, bukan?" tanya Cinta ke Susi.


"emangnya, kenapa?" tanya Susi balik.


Cinta tidak langsung menjawab, sepertinya ia bingung, bagaimana cara untuk menanyakannya kepada Susi.


"woi! ditanya malah bengong." ujar Susi, mengagetkan Cinta.


"seperti apa gaya kalian berpacaran?" tanya Cinta, mendekatkan wajahnya, ke Susi, setengah berbisik.


"maksud, Lo?!" tanya Susi bingung.


"saat kalian menghabiskan waktu bersama, apa saja yang kalian lakukan?" jelas Cinta.


"nonton bareng film kesukaan, makan....tapi kenapa lu nanyain masalah apa yang kami lakukan?" tanya Susi penasaran.


"ya, aku pengen tau, aja. siapa tau, aku bisa ngikutin cara kamu." jelas Cinta.


"hemmm...." Susi mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sus, apakah kamu pernah melakukannya?" tanya Cinta, setengah berbisik.


"melakukan apa?" tanya Susi.


"itu...," Cinta tidak melanjutkan kalimatnya.


"itu apa?" lanjut Susi, yang tidak mengerti maksud Cinta.


"berhubungan intim." bisik Cinta ditelinga Susi.


Susi tidak menjawab, ia malah tertawa cekikikan.


"jaman sekarang, kalau pacaran tidak melakukan hal itu, wuih....! aku acungkan jempol untuk orang itu." ujar Susi.


"memangnya, kenapa?" tanya Cinta.


"ya tandanya itu orang imannya kuat, yang jelas hebat lah!" jelas Susi.


"yess! berarti, aku hebat!" gumam Cinta lirih.


"apa?! kamu belum pernah melakukannya?" tanya Susi, yang mendengar Cinta.


"apa...aku..." Cinta tidak menyelesaikan kalimatnya.


"kamu memang wanita hebat, Cin. pertahankan, selagi kamu bisa. memang sudah seharusnya kita menjaga mahkota kita yang sangat berharga." ungkap Susi.


"seandainya saja waktu itu aku bisa mengendalikan diriku, mungkin saat ini aku bisa melangkah kedepan dengan bangga." sesal Susi.

__ADS_1


"kamu pernah melakukannya, Sus?" tanya Cinta.


Susi menunduk, dan..."itulah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan dalam hidupku." ungkap Susi, menyesali.


__ADS_2